Janji Anissa

Janji Anissa
Jamblang.


__ADS_3

Kini Zahira dan Dewi sudah menaiki angkot menuju ke pasar.


" Ira, kau beneran tidak apa apa ikut ke pasar?" tanya Dewi.


" Tidak apa apa ka Dewi, tadi kan aku sudah bilang kalau aku mendadak sembuh" jawab Zahira.


" Aku hanya sedikit takut kau tiba tiba di pasar pingsan. Nanti merepotkanku. Aku sudah berat membawa badanku sendiri, nanti tambah berat lagi karna harus menggendongmu" tutur Dewi. Zahira hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya.


Sesampainya di pasar. Zahira dan Dewi pun turun dari mobil angkot. Mereka berdua mulai memasuki pasar yang mulai ramai.


" Ka Dewi, kepalaku pusing" ucap Zahira sambil memegangi kepalanya. Dewi yang melihat pun langsung terkejut dan kebingungan.


" Kepalamu sakit Ira?, tuh kan aku kan sudah melarangmu tadi" tanya Dewi panik.


" Duuh bahaya ini, kalau terjadi apa apa sama Zahira, aku bisa diomelin si berondong sama si Aisyah" batin Dewi.


" Ira, kepalamu beneran sakit?, ayo sekarang kita pergi ke klinik terdekat" ucap Dewi cemas.


" Kepalaku sakit, tapi bo' oooong, he he he" ucap Zahira sambil cengengesan hingga Dewi menggeram kesal.


" Bisa bisanya kau mengerjaiku. Kau mau kumakan hidup hidup" gerutu Dewi.


" Maaf ka Dewi, aku kan hanya bercanda" ucap Zahira sambil cengengesan.


" Sekali lagi kau mengerjaiku, kutinggalkan kau di pasar" gerutu Dewi kembali.


" Iya iya iya" ucap Zahira sambil mengangguk ngangguk.


Setelah masuk ke area pasar, Zahira hanya mengikuti. Dewi sudah berbelanja beberapa kebutuhan dapur dan kebutuhan kantinnya bi Ratna. Tiba tiba hp nya Dewi bergetar. Dilihatnya Riziq yang menghubunginya. Dewi nampak ketakutan sambil menatap Zahira.


" Kenapa?, siapa yang menelpon?" tanya Zahira.


" Si berondong" ucap Dewi. Zahira pun sedikit takut, tapi iya selalu dibawa santai.


" Biarkan saja, dia pasti marah padaku. Itumah hal biasa, sudah tradisi" ucap Zahira.


Meski sedikit takut, Dewi pun menerima sambungan telpon itu.


" Asalamualaikum ustad Riziq"


" Waalaikum salam, ka Dewi boleh aku tanya sesuatu?"


" Ya ada apa ustad Riziq, kau mau menanyakan soal apa?" tanya Dewi.


"Aku hanya ingin tanya, apa Zahira ikut ke pasar bersamamu?" tanya Riziq.


Dewi sudah kebingungan harus menjawab Apa.


" Ka Dewi aku tanya, apa Zahira ikut bersamamu ke pasar, kata ustad Ibrahim, Zahira ikut ke pasar bersamamu" tutur Riziq.


" I, iya ustad Riziq, Zahira sedang bersamaku sekarang di pasar" jawab Dewi.


" Boleh berikan hp nya pada Zahira, aku ingin bicara padanya" pinta Riziq.


Dewi pun langsung memberikan hp nya pada Zahira.


" Dia ingin bicara padamu" ucap Dewi memberitau.


" Pasti dia mau ngomel ngomel tak jelas, sudah pasti itu" batin Zahira


Zahira pun langsung menerima hp itu dari tangannya Dewi.


" Asalamualaikum ka" Zahira mengucap salam pada Riziq.


" Waalaikum salam, eh bocah semprul, sekarang kau ada di mana?" tanya Riziq. Zahira sudah tersenyum getir.


" Aku ikut ka Dewi ke pasar" jawab Zahira.


" Kenapa kau ikut ke paaasar, katanya tadi kau sakit" gerutu Riziq.


" Iya aku sedang sakit, tapi kan itu tadi, dan sekarang sudah sembuh" jawab Zahira.


" Lalu kenapa kau ikut ke pasar. Seharusnya kau itu istirahat" gerutu Riziq kembali.


" Sstthh, jangan marah marah terus, nanti manisnya ilang loh. Lagi pula aku ikut ke pasar, mau membantu ustad Ibrahim si calon om ku itu untuk mencarikan buah jamblang" tutur Zahira. Riziq pun langsung mengernyitkan keningnya.


" Untuk apa kau mencari buah jamblang?"


" Ka Anisa lagi ngidam pengen buah jamblang" jawab Zahira. Riziq pun terdiam, apa mau dikata lagi, Zahira memang sudah ada di pasar bersama Dewi, tentu tidak mungkin iya menyuruh Zahira untuk pulang sendirian.


" Ya sudah, setelah pulang dari pasar, kau harus segera istirahat" pinta Riziq.


" Ok ka"


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Setelah menutup sambungan telponnya, Zahira pun memberikan hp itu pada Dewi.


" Makasih ka"


" Sudah kubilang kan, si berondong pasti marah"


" Kalau tidak marah, bukan ka Riziq namanya" ucap Zahira.


Mereka pun kini mencari buah jamblang di lapak lapak pedagang buah buahan, namun tidak ada satu pun yang menjual buah jamblang.


" Permisi pak, ada buah jamblang tidak?" tanya Dewi pada pedagang buah di pasar.


" Tidak ada neng lagi kosong" jawab si pedagang itu. Zahira hanya mengernyitkan keningnya saat si bapak itu memanggil Dewi dengan sebutan neng.


" Pak, bapak tidak salah manggil ka Dewi dengan sebutan neng" ucap Zahira sedikit protes.


" Tidak usah protes, kau mingkem saja" gerutu Dewi. Zahira hanya mengerucutkan bibirnya.


" Menggelikan, ka Dewi yang badannya sebesar itu dipanggil Neng, heeeei apa kabar dengan diriku, masa aku di panggil ade bayi, ha ha ha" batin Zahira.


"Kira kira yang ada buah seperti itu dimana ya tempatnya?" tanya Dewi kembali.


" Mungkin di kairo ada" jawab si bapak pedagang itu hingga Dewi menganga dibuatnya.


" Jauh amat pak kairo?"


Zahira malah tertawa tawa.


" Ha ha ha ha"


Dewi langsung memicingkan matanya.


" Eh selebor kenapa kau tertawa?" tanya Dewi.


" Gak apa apa, aku cuma mau bilang si bapaknya menggemaskan" jawab Zahira.


Mereka pun sudah berkeliling keliling pasar untuk mencari buah jamblang, namun buah itu tidak ada.


" Ka Kita beli buah semangka saja" ucap Zahira.


" Tapi mba Nisa maunya buah jamblang"


" Kita kasih nama saja di semangkanya, kasih tulisan buah jamblang" Zahira mberi ide hingga Dewi mengernyitkan keningnya.


" Kau fikir mba Anisa itu Adam sama Hawa yang masih bisa untuk dibodohi" gerutu Dewi. Zahira hanya tersenyum getir.


" Terus sekarang kita mau kemana?" tanya Zahira.


" Pulang"


" Terus buah jamblangnya gimana? tanya Zahira kembali.


" Bilang saja buahnya tidak ada"


Dewi dan Zahira pun pergi dari pasar, dan kembali ke pesantren.

__ADS_1


Sesampainya di pesantren. Zahira sudah berjalan bersama Dewi. Dilihatnya Riziq sedang berjalan bersama ustad Soleh dan Ibra. Zahira sedikit ketakutan.


" Duuh ada ka Riziq. Ka Dewi aku duluan ya, asalamualaikum" Zahira langsung berlari agar tidak bertemu Riziq dan diomeli.


" Waalaikum salam"


Dewi pun menghampiri Ibra, Riziq dan ustad Soleh.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ka Dewi, Ira nya mana?" tanya Riziq.


" Zahira sudah lari kabur" jawab Dewi hingga Riziq sedikit kesal.


" Maaf ustad Ibrahim, buah jamblangnya tidak ada, lagi kosong" ucap Dewi. Ibra pun terdiam, iya sedikit bingung harus mencari buah jamblang di mana.


" Untuk apa mencari buah jamblang?" tanya ustad Soleh.


" Istriku ngidam buah jambalang" ucap Ibra.


" Benarkah?"


" Hmmm"


" Kebetulan di ujung perkebunan ada pohon jamblang, di pinggir sungai. Cari saja ke sana, siapa tau sedang berbuah" ucap ustad Soleh.


" Benarkah?" tanya Ibra.


" Hmmm"


" Ya sudah, kalau di izinkan saya dan Yusuf nanti akan mencari ke sana" ucap Ibra.


" Ya tidak apa apa, itu masih termasuk punya abi ku, ambil saja kalau memang berbuah" ucap ustad Soleh kembali. Ibra pun mengangguk.


" Terima kasih ustad"


- - - - - - - - - - -


Sore pun tiba. Ibra dan Yusuf sudah berjalan pergi ke ujung perkebunan untuk mencari pohon jamblang. Mereka sempat bertemu ustad Soleh dan ustad Usman di perkebunan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ustad, saya izin untuk mencari pohon jamblang" ucap Ibra.


" Oh silahkan ustad"


" Untuk apa buah jamblang?" tanya ustad Usman.


" Istriku ngidam buah jamblang" jawab Ibra. Ustad Usman pun langsung mengernyit.


" Si Ani ngidam buah jamblang?" tanya ustad Usman memastikan.


" Hmmm"


" Kufikir si Ani bakalan ngidam pengen gitarnya ROMA IRAMA" ucap ustad Usman hingga Ibra memicingkan matanya.


" Maaf ustad Ibrahim aku hanya bercanda, tidak usah mengeluarkan tatapan cerulit seperti itu, jiwa ketakutanku tiba tiba meronta ronta" ucap ustad Usman sedikit takut.


" Ya sudah, kami permisi. Asalamualaikum" Ibra dan Yusuf pamit.


" Waalaikum salam"


" Hati hati di sana banyak dedemit" ucap ustad Usman bercanda.


" Usmaaaaan" ucap ustad Soleh sambil memicingkan matanya.


" Maaf ka aku hanya bercanda, jadi tidak usah memberikan tatapan cangkul begitu" ucap ustad Usman, ada nada mengejek dalam kalimatnya.


Sesampainya Ibra dan Yusuf di ujung perkebunan. Mereka pun mencari cari pohon jamblang. Di sana terlihat banyak pepohonan yang tinggi tinggi di pinggir sungai. Ini pertama kalinya mereka menginjakan kakinya di ujung perkebunan, karna lokasinya sangat jauh dari permukiman.


" Belum om" jawab Yusuf.


Mereka terus mencari hingga akhirnya melihat pohon itu.


" Itu om pohonnya" ucap Yusuf sambil menunjuk pohon jamblang. Ibra pun tersenyum. Mereka pun mendekati pohon itu di lihatnya buah jamblang itu hanya ada sedikit buahnya, itu pun kebanyakan buahnya masih berwarna merah, pohonnya pun menyondong ke sungai dan lumayan tinggi.


" Buah yang itemnya cuma sedikit om"


" Tidak apa apa Suf, yang penting ada"


" Sepertinya om harus naik, pohonnya sangat tinggi" ucap Yusuf.


" Iya om akan naik"


" Om bisa tidak naik pohon?" tanya Yusuf ragu. Ibra malah tersenyum.


" Kau jangan meragukan om mu ini Suf, aku ini mantan berandalan, aku sudah terbiasa naik pohon, manjat pagar, bergelantungan di jembatan, berenang menyebrangi sungai, berlarian di jalan raya cuma untuk menghindar dari kejaran polisi. Dan untuk naik pohon jamblang, insya Allah om bisa" tutur Ibra. Ibra pun langsung mengangkat sarungnya, dengan sigap iya pun naik pohon jamblang itu.


" Bismilahirahmanirrahim"


Hingga tidak terasa Ibra kini sudah di atas pohon.


" Ambil yang hitamnya saja om" teriak Yusuf dari bawah.


Satu persatu Ibra mengambil buah jamblang itu dan di masukannya ke dalam kantong plastik kecil yang sengaja iya bawa dari rumah. Buah jamblangnya hanya dapat sedikit paling cuma sepuluh biji lebih, yang lainnya masih berwarna hijau dan merah.


" Sudah dapat om?" tanya Yusuf.


" Sudah Suf, ini mau turun"


Saat Ibra mau turun, tiba tiba iya baru menyadari kalau di pohon itu banyak ulat bulu. Ibra langsung bergidik.


" Astaghfirullah, banyak ulat bulunya" gumam Ibra.


" Kenapa om?" tanya Yusuf.


" Banyak ulat bulunya Suf"


" Kalau banyak ulat bulunya cepat om turun" Yusuf memberi saran.


" Iya Suf, tapi masalahnya kalau om turun, ulat bulunya bisa pada keinjek, banyak banget Suf"


Di lihatnya ada ulat bulu yang memempel di sarungnya Ibra.


" Astaghfirullah alazim, pake nempel di sarung segala"


" Kenapa om?"


" Ada ulat bulu nempel di sarung om" teriak Ibra. Yusuf pun langsung bergidik.


" Sarungnya di lepas saja om, om turunnya nyebur ke sungai"


Ibra pun menurut, iya melepas sarungnya dan di sangkutkan sarung itu ke ranting pohon jamblang. Dengan sigap Ibra menjatuhkan diri ke sungai untuk menghindari ulat ulat bulu itu.


BYUUUUURR.


Ibra sudah basah kuyup di sungai. Namun sayang iya lupa mengikat plastik yang berisi buah jamblang itu hingga buah itu berjatuhan ke sungai.


" Ya Allah, Suf buah jamblangnya pada hanyut, om lupa tidak mengikat plastiknya" ucap Ibra sedikit kecewa.


Yusuf pun terdiam dan hampir tak percaya.


" Di kantong plastiknya masih ada gak buah jamblangnya?" tanya Yusuf.


" Tinggal 3 biji" jawab Ibra.


Dan Ibra pun naik ke atas daratan di bantu Yusuf.


" Tinggal 3 Suf"

__ADS_1


" Mau di apain lagi?" ucap Yusuf pasrah.


Mereka pun akhirnya pulang. Ibra sudah basah kuyup.


" Suf, kita pulangnya lewat jalan pintas ya, biar cepet sampai, om sudah kedinginan"


" Hmmm"


Ibra sudah berjalan hanya menggunakan baju koko dan celana panjang, karna sarungnya sengaja ditinggal di atas pohon jamblang.


Sesampainya Ibra di rumah, Anisa pun terkejut melihat Ibra yang basah kuyup.


" Bim, kenapa kau basah kuyup begini, bentol bentol pula?" tanya Anisa. Ibra pun tersenyum sambil memperlihatkan 3 buah jamblang dalam kantong plastik.


" Buah jamblang?"


" Hmmm"


Ibra pun menceritakan bagaimana iya bisa mendapatkan buah itu.


" Makasih ya Bim, kau sampai basah basahan untuk mendapatkan buah jamblang meskipun cuma 3 ekor" ucap Anisa. Ibra hanya tersenyum.


" 3 ekor?, memangnya itu anak ayam"


_ _ _ _ _ _ _ _ _


Kini ustad Soleh dan ustad Azam merasa heran karna Ibra dan Yusuf belum kembali dari ujung perkebunan.


" Man, ko mereka belum kembali juga ya, aku sedikit khawatir" ucap ustad Soleh.


Ustad Usman pun menatap ke ujung perkebunan itu.


" Mungkin mereka belum selesai mengambilnya" jawab ustad Usman.


" Man, coba kau susul mereka, aku takut terjadi apa apa sama mereka" ucap ustad Soleh khawatir.


" Mereka kan bukan anak anak lagi ka"


" Susulin dulu sebentar" pinta ustad Soleh.


Mau tidak mau, suka tidak suka, ustad Usman pun pergi ke ujung perkebunan berjalan melewati tepian sungai.


" Ustad Ibrahim, Yusuf" ustad Usman memanggil manggil. Namun tidak ada jawaban dari mereka. Mau menghubungi namun ustad Usman lupa tidak bawa hp.


" Kemana sih mereka"


" Suf, ustad Ibrahim" ustad Usman kembali memanggil manggil. Ustad Usman pun berjalan menuju pohon buah jamblang. Di lihatnya tidak ada siapa siapa di sana.


" Tidak ada siapa siapa, apa mereka sudah pulang ya, tapi tidak mungkin, aku sama ka Soleh tidak melihat mereka balik lagi" ucap ustad Usman heran. Tiba tiba ustad Usman mengadah ke atas pohon itu, iya terkejut melihat ada sarung Ibra menyangkut di atas pohon.


" Astaghfirullah alazim, kenapa sarungnya ustad Ibrahim ada di atas pohon. Jangan jangan, ya Allah kenapa aku punya fikiran buruk ya. Bagaimana kalau ustad Ibrahim kecebur ke sungai, lalu Yusuf menolongnya, namun karna badannya Yusuf kecil dan badannya si preman pensiun itu besar, jadi tidak ada keseimbangan, dan akhirnya mereka berdua jatuh ke sungai dan hanyut terbawa ombak sungai" tutur ustad Usman ketakutan.


Kini udstad Usman sudah berlari menuju perkebunan nenemui ustad Soleh.


" Kaaaaaa" teriak ustad Usman.


" Kenapa kau teriak teriak seperti itu Usman" ucap ustad Soleh heran.


" Sepertinya ustad Ibrahim dan Yusuf hanyut terbawa ombak sungai"


" Kau kalau ngomong jangan macam macam Man, mana mungkin mereka hanyut, lagi pula di sungai itu tidak ada ombak" ucap ustad Soleh.


" Maksudnya arus ka, aku melihat sarungnya ustad Ibrahim ada di atas pohon jamblang, tapi mereka tidak ada di sana. Cepat kau hubungi tim sar untuk mencari mereka" ucap Ustad Usman.


" Kau jangan membuat kehebohan dulu, siapa tau ustad Ibrahim dan Yusuf sudah pulang lewat jalan lain"


" Meskipun mereka pulang lewat jalan lain, tidak mungkin ustad Ibrahim meninggalkan sarungnya di atas pohon" ucap ustad Usman. Ustad Soleh pun terdiam.


" Ya sudah, bagaimana kalau kita pergi ke rumahnya saja.


Sesampainya di rumah Ibra, ustad Soleh dan ustad Usman pun langsung mengetuk pintu dan mengucap salam.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Ibra sambil membuka pintu. Ustad Usman dan ustad Soleh pun terdiam dan saling lirik.


" Kau sudah pulang ustad?" tanya ustad Soleh.


" Hmmm"


" Kapan?"


" Belum lama"


" Lalu kenapa sarungmu di tinggal di atas pohon?, kufikir kau hanyut di sungai bersama Yusuf" ucap ustad Usman hingga Ibra tersenyum.


" Di atas pohon jamblangnya banyak ulat bulunya, salah satunya nempel di sarungku. Akhirnya aku lepas dan aku nyebur ke sungai" jawab Ibra. Dilihatnya badan Ibra bentol bentol.


" Badanmu kenapa bentol bentol begitu?" tanya ustad Soleh.


" Ini efek di kerumuni ulat bulu, maklum saja, orang ganteng sepertiku, jangankan perempuan, ulat bulu saja pada nempel" ucap Ibra bercanda. Ustad Soleh pun tersenyum. Namun ustad Usman langsung mengernyitkan keningnya.


" Sombong, baru di kerumuni ulat bulu saja sudah sombong. Aku yang di kerumuni kesialan yang di sebabkan ibu hamil saja tidak sombong" gerutu ustad Usman dalam hati.


Tiba tiba Anisa menghampiri.


" Eh ada tamu, kebetulan sekali ada ustad Usman, aku ada perlu sedikit" ucap Anisa. Ustad Usman sudah menaruh curiga.


" Perasaanku tiba tiba mendadak tidak enak nih. Sepertinya si Ani mau melakukan sesuatu nih" batin ustad Usman curiga.


" Kau ada perlu apa Sya sama ustad Usman?" tanya Ibra. Anisa pun tersenyum lalu memberikan kantong plastik berisi 3 biji buah jamblang itu ke hadapan ustad Usman.


" Apa maksudnya?" tanya ustad Usman belum mengerti.


" Aku ngidam buah jamblang, tapi aku ingin ustad Usman yang memakannya" pinta Anisa sambil tersenyum senyum. Ustad Usman sudah menganga.


" Jangan menganga seperti itu Man, cuma buah jamblang doang, ayo makan di hadapan Anisa" pinta ustad Soleh. Sambil menggeram, ustad Usman mengambil 3 biji buah jamblang itu lalu dimasukan ke mulutnya, di kunyah tanpa jeda dengan kesalnya. Semua nampak menganga meligatnya.


" Man, bijinya jangan di makan" ucap ustad Soleh.


" Bodo amat, asalamualaikum" ucap ustad Usman sambil berlalu pergi. Anisa, Ibra dan ustad Soleh pun menatap kepergiannya ustad Usman sambil tersenyum senyum.


" Maaf ya ustad Soleh, ngidamnya istriku, membuat ustad Usman kesal" ucap Ibra.


" Tidak apa apa ustad Ibrahim, saya ikhlas lahir batin"


Mereka pun kembali tertawa.


-


-


-


-


-


-


-


-


-


Cerita ini di buat untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf.


Tidak ada niat sedikit pun dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun, baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2