Janji Anissa

Janji Anissa
Janji


__ADS_3

Disebuah kamar dilantai dua, Anisa sedang merias diri dengan mengenakan kerudung putih dan gamis berwarna hijau toska. Riasan sederhana namun nampak cantik jika dipandang.


Tok tok tok.


" Nis, kita jadi gak pergi ke pengajian di pesantren?" tanya Elina.


" Jadi" jawab Anisa.


" Aku tunggu di bawah"


" Hmmm"


Setelah selesai berdandan, Anisa pun turun ke bawah.


" Ayo"


Anisa dan Elina pun berjalan menuju pesantren.


Sesampainya di sana, semua nampak sudah berkumpul di majlis. Anisa pun duduk bersama ustadzah Ulfi sementara Elina duduk di sebelahnya Anisa.


" Asalamualikum ustadzah" Anisa mengucap salam.


" Waalaikum salam"


Pengajianpun dimulai. Sarah istrinya ustad Soleh sudah menjadi pembawa acara. acara demi acara dimulai, termasuk mengaji alquran yang dibawakan Aisyah dengan begitu merdunya.


" Ceramah pengajian kali ini akan dibawakan oleh ustad Malik Ibrahim" ucap Sarah selaku pembawa acara.


Ibra pun masuk dengan menggunakan sarung bergaris hitam, baju koko berwarna cream dan sorban putih bermotif batik yang dipakainya hingga menutup kepala dan pundaknya, membuatnya terlihat gagah dan soleh. Anisa yang melihat pun langsung tersenyum sambil menundukan kepalanya.


" Kondisikan mata dan bibirmu" bisik Elina


" Asalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh" Ibra mengucap salam.


" Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh" jawab para jamaah.


" Pertama tama marilah kita semua memanjatkan puji syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kecucuran kenikmatan yang tak terhingga mulai dari nikmat iman dan islam, hingga nikmat nikmat lainnya. Kedua sholawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya.


Hadirin yang dimuliakan dan dirahmati Allah, bersamaan dengan ini saya akan menjabarkan mengenai satu kata yang kita kenal semua yaitu "JANJI" tutur Ibra.


Anisa langsung mengeryitkan keningnya ketika mendengar tema ceramah di ustad preman itu adalah Janji, seolah sedang menyindirnya. Anisa langsung melirik Elina yang kini sedang cekikikan tak bersuara sambil menundukan kepalanya. Anisa langsung mengerucutkan bibirnya.


" JANJI adalah hutang. Menunaikan janji adalah ciri orang yang beriman, sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat Al Mukminun. Karna janji adalah hutang yang harus di tepati, dalam hukum islampun dikatakan bahwa setiap janji akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti.


Pentingnya menepati janji, menepati janji termasuk akhlak mulia yang harus di miliki setiap mukmin, dan ia menjadi salah satu keistimewaan yang dimiliki manusia, sehingga meninggalkan sifat ini dari jiwa, sama dengan melepaskan prikemanusiaan dari diri sendiri. Bahkan menurut islam, orang yang menanggalkan sifat ini, berarti telah menyamai benih benih kemunafikan dalam dirinya.


Ingkar janji dengan di sengaja adalah termasuk prilaku tercela, sebab janji sendiri adalah hutang, artinya mereka yang mengingkari Janji adalah orang yang menyalahi hutang hutangnya dan termasuk Dzalim terhadap orang lain"


Elina pun berbisik pada Anisa.


" Nis sepertinya isi ceramah si ustad preman itu sengaja ingin menyindirmu"


Anisa sudah mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Seketika itu pula Ibra melirik Anisa yang kini nampak cemberut, ada senyum yang lolos di bibirnya, namun ia fokus kembali pada ceramahnya.


" Keutamaan menepati janji,



Dibebaskan dari kesulitan duniawi.


Digolongkan sebagai hamba yang bertaqwa.


Mendapatkan kedudukan yang tinggi disisi Allah.


Meraih surga firdaus.



"Disini ada yang mempunyai Janji?" tanya Ibra. Seketika Elina langsung berteriak.


" ADAAAAAAAA"


Ibra langsung tersenyum senyum sementara Anisa sudah menggeram, ia yakin Elina sengaja ingin menggodanya, dengan kesalnya Anisa mencubit lengan sahabatnya itu. Elina malah tertawa.


" Semoga para jamaah di sini tidak ada yang mengingkarinya, semoga semua orang yang mempunyai janji bisa menempatinya hingga meraih surga"


Setelah selesai berceramah Ibra pun langsung menatap Anisa yang kini masih menundukan wajahnya.


Setelah selesai pengajian, semua jamaah nampak keluar satu persatu dari majlis itu. Saat Anisa mau ke asrama sebentar, Ibra sudah berdiri dihadapan mereka sambil tersenyum hingga memperlihatkan lesung pipit yang hanya sebelah itu. Anisa hanya diam saja sambil mengerucutkan bibirnya.


" Sepertinya kau sedang marah padaku?"


" Kau sengaja berceramah seperti itu untuk menyindirku?" tuduh Anisa. Ibra kembali tersenyum.


" Apa kau merasa tersindir dengan isi ceramahku?, padahal tidak ada sedikitpun niatku untuk itu, aku hanya sekedar menjelaskan, syukur syukur kita semua terhindar dari yang namanya ingkar janji" tutur Ibra.


" Kalau aku mengingkari janjiku bagaimana?" tanya Anisa sambil menatap Ibra seolah menantang. Ibra malah tersenyum.


" Oh ya, jadi kau ingin mengingkari janjimu?" tanya Ibra sambil tersenyum senyum.


" Kalau ia memangnya kenapa?, apa kau akan menculiku dan memaksaku untuk menikah denganmu?" tanya Anisa.


" Aku tidak akan membiarkan benih benih kemunafikan hadir dalam dirimu" jawab Ibra. Anisa mulai hilang kata kata untuk membalas ucapan laki laki yang ada dihadapannya itu, ia mulai bingung sendiri, hingga Ibra kembali tersenyum.


" Alasan apa, hingga kau ingin mengingkari janjimu itu?" tanya Ibra.


" Aku belum mengenalmu seutuhnya, masih banyak tanda tanya dalam hatiku" jawab Anisa.


" Apa kau ragu padaku?"


" Mungkin"


" Aku memang mantan berandalan, bahkan akulah pemimpin mereka, sahabat sahabatku yang setia adalah senjata senjata tajam yang sering kugunakan untuk melukai musuhku. Aku pernah memukul, menindas, mengancam bahkan melukai, tapi insya allah, selain dari itu aku tidak pernah menyakiti perempuan" tutur Ibra.


" Oh ya???" tanya Anisa seolah tak percaya.

__ADS_1


" Memangnya kau pernah melihatku menyakiti seorang perempuan?" tanya Ibra.


" Penah, kau pernah berbuat kurang ajar dan melecehkan harga diri perempuan" jawab Anisa. Ibra langsung terdiam, ingin tertawa namun takut dosa.


" Kapan?, dan memangnya apa yang aku lakukan pada perempuan itu?" tanya Ibra sengaja memancing Anisa untuk mengatakan perbuatan dosanya dimasa lalu.


" Kau pernah,,,"


Anisa nampak ragu ingin mengatakannya, namu seolah Ibra sedang menantangnya.


" Kau pernah,,,"


" Pernah apa?" tanya Ibra sambil tersenyum senyum.


" E e pernah"


Anisa pun lurak lirik dulu sebelum mengatakannya karna takut ada yang mendengarnya selain Ibra dan Elina.


" Pernah apa??" tanya Ibra yang benar benar sedang menantangnya untuk mengucapkan perbuatan dosanya pada seorang perempuan.


" Kau pernah menciumku"


jawab Anisa dengan sedikit malu. Ibra langsung menundukan kepalanya.


" Soal itu aku minta maaf dan untuk itu aku siap untuk bertanggung jawab" tegas Ibra. Anisa langsung mengeryitkan keningnya, sementara Elina sudah tertawa tawa tanpa suara.


" Senjata makan tuan, kau senang sekali membangunkan macan yang sedang tidur" batin Elina mengejek Anisa.


Anisa mulai kebingungan, seolah ia menyesal dengan ucapannya sendiri yang mengingatkan Ibra akan hal itu.


" Aku siap mempertanggung jawabkannya" ucap Ibra kembali sambil menatap perempuan yang ada dihadapannya itu.


" A aku belum bisa jawab" ucap Anisa sedikit gugup.


" Kenapa?"


" Selain kau pernah berbuat itu padaku, kau pun pernah mengancamku, kau bilang kalau aku mengingkari janji yang kuucapkan, kau akan menculiku dan menculik ayahku, kau akan memaksaku untuk menikah denganmu" tutur Anisa. Ibra langsung tersenyum.


" Aku mengancamu waktu itu supaya kau tidak ingkar dengan janjimu, lagi pula saat itu aku belum bertaubat seperti sekarang"


Elina pun berbisik pada Anisa.


" Sudah kau terima saja, tepati janjimu itu" ucap Elina. Seketika Anisa langsung memicingkan matanya.


" He he"


Elina malah tertawa kecil.


" Apa kau belum yakin dengan perubahanku?, aku memang belum teralu dekat dengan Allah, aku juga tidak sempurna seperti rasulullah, tapi insya allah aku sudah berusaha membuang sifat sifat jeleku yang dulu" tutur Ibra.


" Beri aku waktu untuk melihat semua perubahan yang ada padamu" ucap Anisa.


"Tentu saja aku akan memberimu waktu sebanyak yang kau mau untuk menilai bagaimana aku sekarang, supaya kau tidak menyesal ketika menepati atau mengingkari janjimu itu"

__ADS_1


Anisa pun mengangguk, memberi kesempatan laki laki yang ada dihadapannya itu untuk menunjukan perubahan hidupnya.


__ADS_2