Janji Anissa

Janji Anissa
Zahiraaaa


__ADS_3

Masih dengan Riziq dan Aisyah yang protes pada ustad Usman karna Zahira di jadikan sekuriti dadakan di sana.


" Kau tenang saja ustad Riziq, aku yakin Ira pasti baik baik saja, yang harusnya di khawatirkan itu adalah orang yang mau berbuat jahat pada adikmu ini" ucap ustad Usman.


" Tapi tetap saja aku khawatir, Ira ini masih kecil apalagi dia hanya seorang perempuan. Aku takut penjahatnya tega melukai Ira" ucap Riziq.


" Meskipun badannya kecil, dan usianya masih dibawah umur, tapi pada kenyataannya Zahira selalu berhasil membuat orang dewasa di buat pusing 7 keliling. Aku pun yakin dia pasti bisa melumpuhkan musuh tanpa mengeluarkan banyak tenaga" tutur ustad Usman.


" Ka Ira, aku masih tidak mengerti, sebenarnya mereka itu pada ngomongin apa sih?" tanya Syifa.


" Ssstth, sudah kubilang jangan banyak bicara. Anggap saja kau sedang nonton drakor, yang satu si Limin ho yang perempuannya Park Shin Hye dan satu lagi gong yoo" ucap Zahira.


" Siapa mereka aku tidak kenal, aku taunya film bolliwood" ucap Syifa.


" Ya sudah, anggap saja kau sedang nonton si Shahrukh khan, Amitha bachan sama si kajol" ucap Zahira.


" Yang jadi Amitha bachannya siapa?, diakan usianya sudah sepuh?" ucap Syifa.


" Anggap saja dia adalah om ustad, cocokan?"


" Ha ha ha"


Tiba tiba mereka langsung tertawa hingga Riziq, Aisyah dan Ustad Usman pun memicingkan matanya.


" Kalian sedang menertawakan apa?" tanya ustad Usman.


" Amitha bachan" jawab Syifa. Mereka langsung mengernyitkan kening masing masing mendengar jawaban bocah perempuan yang usianya baru 6 tahun itu.


" Sudah sudah, pokoknya kalau ada apa apa dengan Ira, ustad Usman harus bertanggung jawab" ucap Riziq. Ustad Usman pun mengangguk ngangguk.


" Ira ka Aisyah boleh tanya sesuatu?" ucap Aisyah.


" Tentu"


" Kalau si Syabil kemari, apa yang akan kau lakukan?" tanya Aisyah. Zahira pun terdiam lalu iya tersenyum.


" Kalau bos Syabil datang kemari, aku akan mengajaknya berkenalan, aku yakin dia pasti lupa dengan namaku, setelah berkenalan, aku akan mengajaknya nyantri di sini, biar dia tau ilmu agama, biar dia insyaf, aku yakin ustad Soleh pasti menjebloskannya ke kelas nol besar, pasti itu sangat lucu, dan lebih lucunya lagi dia akan menjadi adik kelasku ha ha ha" tutur Zahira. Semua nampak terdiam sambil menganga.


" Tuh kau lihat sendirikan adikmu ini ustad Riziq" ucap ustad Usman.


" Aku menggemaskan ya om ustad?" tanya Zahira sambil tersenyum senyum.


" Sakarepmu"


" Adikmu ini lain dari pada yang lain, karna kecerdasannya yang di bawah rata rata, dia dapat menaklukan musuh tanpa harus mengeluarkan tenaga" tutur ustad Usman.


" Makasih om ustad telah memujiku" ucap Zahira sambil tersenyum senyum kembali.


" Kau lihatkan, Zahira cuma ngomong begitu saja dia sudah berhasil menaikan asam uratku" ucap ustad Usman hingga Riziq mengernyitkan keningnya lalu berbisik pada Aisyah.


" Uni, coba kau periksa otak kakakmu itu, sepertinya bergeser 5 inch dari tempatnya"


" Ha ha ha" Aisyah tertawa.


" Kalau tidak seperti itu bukan kakaku namanya" ucap Aisyah kembali. Hingga ustad Usman memicingkan matanya.


" Bicara apa kau Aisyah" tanya ustad Usman sedikit menggeram.

__ADS_1


" Tidak bicara apa apa, aku cuma komat kamit saja"


" Kalian tidak perlu khawatir denganku, aku pasti baik baik saja, akanku kalahkan penjahat bertopeng itu, aku akan melindungi calon om dan tanteku apapun yang terjadi" tutur Zahira.


Ustad Usman, Riziq dan Aisyah langsung saling lirik.


" Kelakuan warisanmu kumat Le, genitnya keluar" bisik Aisyah.


" Apa maksudmu?" tanya Riziq.


" Ya tentu saja yang kumaksud adalah ustad Ibrahim dan ka Anisa, mereka itukan om dan tantenya ka Yusuf, itu artinya mereka adalah calon om dan tanteku juga ha ha ha" Zahira tertawa diakhir kalimatnya hingga Syifa pun ikut tertawa.


" Ha ha ha"


" Eh Syifa kenapa kau tertawa?, memangnya kau mengerti dengan ucapannya si Ira?" tanya ustad Usman. Syifa pun menggelengkan kepalanya.


" Kalau kau tidak mengerti lalu kenapa kau tertawa?"


" Akukan anak buahnya ka Ira, kalau ka Ira tertawa ya aku ikutan" ucap Syifa. Semua nampak mengernyitkan kening masing masing.


" Ha ha ha, terima kasih Syifa, kau memang anak buah yang baik" ucap Zahira sambil menepuk nepuk pundaknya Syifa.


" Sebenarnya yang gila itu siapa sih?, aku apa dua bocah menyebalkan yang ada dihadapanku ini" batin ustad Usman.


" Uni, kepalaku mulai migren, ayo kita pulang" pinta Riziq sambil mengusap ngusap kepalanya. Aisyah pun mengangguk lalu menggandeng lengan suaminya itu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Tenang saja om ustad, aku pasti tidak akan membiarkan penjahat bertopeng itu masuk ke pesantren kita" ucap Zahira.


" Aku percaya padamu selebor, aku pergi dulu ada urusan, kalau ada apa apa kau pencet tombol merahnya"


" Hmmm"


Ustad Usman pun pergi dari sana.


* * * * * *


Sore pun tiba, dilihatnya Ibra dan Anisa mendekati Zahira yang kini sedang duduk sendirian di depan gerbang. Anisa sudah membawa buah semangka kesukaannya Zahira.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ira, ka Anisa dengar kau sedang berjaga di sini, biar Syabil tidak bisa masuk" tanya Anisa. Zahira pun mengangguk.


" Memangnya kau tidak takut?" tanya Ibra.


Zahira pun menggeleng.


" Bukannya kita harus takut pada Allah. Bos Syabil memang kejam, tapi lebih kejam lagi kakaku yang berondong itu, dia kalau lagi marah suka menganam mau melemparku ke sungai, apalagi kalau ucapan keramatnya keluar. Zahira, awas ya kalau kau genit genit, kugantung kau di pohon mangganya ustad Azam" tutur Zahira sambil menirukan suaranya Riziq.


Ibra dan Anisa hanya tersenyum.


" Pada kenyataannya kakakmu itu sangat menyayangimu" ucap Ibra.

__ADS_1


" Kalian mau kemana?" tanya Zahira.


" Ustad Ibrahim mau ke toko buku dulu sebentar, ustad titip ka Anisa ya" ucap Ibra.


" Aku ikut Bim" pinta Anisa.


" Kau sebaiknya tetap di pesantren, di luar tidak aman untukmu" ucap Ibra.


" Tapi Bim, aku takut terjadi apa apa denganmu"


Ibra malah tersenyum.


" Insya Allah aku akan baik baik saja, sekarang pulanglah, bukannya kau mau pergi ke asrama untuk menemui Elina" ucap Ibra.


Anisa pun terdiam lalu mengangguk.


" Ya sudah, aku pergi dulu" ucap Ibra, tidak lupa Anisa pun mencium tangan suaminya.


" Hati hati ya Bim"


Ibra mengangguk lalu menatap Zahira.


" Ira, apa kau tidak apa apa duduk sendirian di sini?" tanya Ibra.


"Tidak apa apa ustad"


" Tidak takut?" tanya Ibra kembali.


Zahira menggelengkan kepalanya.


" Aku akan melindungi ka Anisa sampai ke titik darah penghabisan" ucap Zahira hingga Ibra dan Anisa terdiam bengong.


" Lebaaaaay" batin Anisa.


Ibra hanya tersenyum saja lalu melangkah keluar gerbang pesantren.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun menemani Zahira duduk sebentar.


" Ira, memangnya kau pernah bertemu dengan Syabil sebelumnya?" tanya Anisa.


" Pernah, aku pernah bertemu dengannya saat aku diculik om kembar yang mukanya dipoto kopi itu" jawab Zahira.


" Kau yakin tidak takut?"


Zahira menggeleng.


" Waktu itu dia tidak menyakitimu kan?"


Zahira kembali menggelengkan kepalanya.


" Dia badannya aja kelemar kelemer begitu, bisanya cuma marah sama nyuruh nyuruh doang, kasian om kembar, mereka jadi ikut masuk penjara. Bos Syabil pernah menyuruh om poto kopi untuk menghabisiku biar aku tidak buka mulut pada polisi. Lucu ya, aku mau dihabisi, di pikir aku nasi satu piring, dan lebih lucunya lagi dia punya anak buah yang bodoh kebangetan kaya om kembar simuka poto kopi ha ha ha" Zahira tertawa tawa. Hingga Anisa tersenyum menatap perempuan kecil yang ada dihadapannya itu.


"Zahira memang masih kecil, usianya pun masih dibawah umur, kecerdasan otaknya pun masih kalah jauh dari Syifa, tapi dia punya jurus jitu yang bisa mengalahkan musuh tanpa perlawanan. Zahira mempunyai sifat menyebalkan dan sok taunya itu sudah seperti racun sianida yang siap menusuk ke otak, dan mampu membuat musuh dibuat jungkir balik. Benar kata Elina, sepertinya Zahira tidak lahir di bumi, tapi dia adalah blesteran antara bumi dan pluto"

__ADS_1


__ADS_2