Janji Anissa

Janji Anissa
Menjenguk


__ADS_3

Setelah kepergian Ustadzah Ulfi dan Yusuf, Ibra pun masuk kembali ke sel tahanan, namun tiba tiba polisi datang memanggilnya.


" Saudara Malik Ibrahim, ada yang ingin bertemu denganmu"


" Siapa pak?" tanya Ibra.


" Tidak tau, mereka dua orang perempuan" jawab pak polisi. Ibra pun langsung tersenyum.


" Anisa dan Elina kah itu?" batin Ibra.


Ibra pun keluar dan langsung menemui tamunya, dilihatnya Zahira dan Erika yang berkunjung.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Erika, Zahira, kalian kesini?" tanya Ibra.


Zahira pun tersenyum lalu memberikan kotak makanan pada Ibra.


" Ini untuk om Ibra, eh maksudnya ustad Ibrahim" ucap Zahira malu. Ibra pun tersenyum.


" Apa ini Ira?"


" Ini makanan ustad, kebetulan aku sendiri yang masak, semoga ustad suka" ucap Zahira.


" Terima kasih Ira" ucap Ibra sambil tersenyum.


" Ustad, maafkan ayah sama ka Nisa" ucap Erika sambil menundukan wajahnya. Ibra pun tersenyum.


" Kenapa kau minta maaf. Tidak ada seorang perempuan yang rela jika kesuciannya dipertaruhkan, meskipun kakakmu salah faham, setidaknya dia sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang berharga di hidupnya. Dan untuk ayahmu, tidak ada seorang ayah yang rela melihat putrinya di sakiti orang, meskipun ini hanya fitnah, ayahmu sedang berusaha melindungi putrinya" tutur Ibra.


" Terima kasih ustad, sudah mau mengerti keadaannya, semoga kebenaran cepat terungkap dan ustad segera bebas" ucap Erika.


" Amiin"


" Ustad, enak tidak tinggal di sini?" tanya Zahira. Ibra malah tersenyum mendengar pertanyaannya si bocah selebor itu.


" Kalau tinggal di sini enak, memangnya kau mau apa?" tanya Erika.


" Tentu saja aku mau daftar" jawab Zahira. Hingga Ibra dan Erika mengeryitkan kening masing masing.


" Kau fikir daftar masuk ke sini tidak ada syaratnya" ucap Erika.


" Emang apa syaratnya?"


" Syaratnya kau perlu dorong seseorang dari lantai 12, atau kau tiup mata seseorang pake bubuk cabe" tutur Erika ada nada mengejek di kalimatnya. Hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Itu sih bukan syarat masuk penjara, tapi syarat masuk neraka" gerutu Zahira. Ibra malah tertawa kecil.


" Kalian ke sini sama siapa?, jangan keluar pesantren tanpa pengawasan, kalian berdua belum aman di luar" ucap Ibra.


" Kita ke sini sama ka Dewi"


" Lalu mana ka Dewinya?" tanya Ibra.


" Di luar, dia tidak mau masuk, takut katanya, takut ada yang gered masuk bui" jawab Zahira.

__ADS_1


" Ustad, kita pulang dulu ya, semoga ustad cepat keluar dari sini"


" Amiin, terima kasih"


"Ayo Ira kita pulang" ajak Erika.


Zahira pun mengangguk.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Erika dan Zahira melangkahkan kakinya menuju ke luar. Ibra langsung membuka kotak makanan yang diberikan oleh Zahira.


" Bismilahirahmanirrahim"


Ibra pun mencicipi makanan itu, tiba tiba matanya melotot.


" Hueeeek Oo Oo"


Ibra muntah muntah setelah mencicipi masakan si bocah selebor itu. Erika dan Zahira yang mendengar Ibra muntah muntah pun langsung membalikan badan mereka sambil menatap Ibra. Ibra langsung tersenyum pada mereka, menyembunyikan rasa mualnya itu.


Zahira pun tersenyum.


" Sepertinya calon om ku itu sangat menyukai masakanku" ucap Zahira sambil tersenyum senyum. Mereka pun pergi dari kantor polisi. Saat Ibra berdiri untuk masuk kembali ke sel, tiba tiba ada yang memanggilnya.


" Asalamualaikum"


Ibra pun mengurungkan niatnya untuk kembali ke sel.


" Waalaikum salam. Apa lagi Ira?" ucap Ibra.


Ibra pun menatap Anisa dan Elina yang datang menemuinya.


" Anisa"


Ibra pun kembali duduk, Anisa dan Elina pun ikut duduk di hadapannya Ibra yang hanya terhalang oleh meja. Hampir 10 menit mereka hanya diam saling menunduk.


" Kenapa kita bertiga sudah seperti patung manekin begini. Ingin rasanya aku menggebrak meja biar kantor polisi ini ramai kaya di mal" batin Elina.


Tiba tiba Anisa menatap Ibra.


" Apa kau baik baik saja?" tanya Anisa. Ibra pun mengangguk.


" Kau tidak mempercayaiku Nis?" tanya Ibra. Nisa hanya diam saja sambil menunduk.


" Kalau aku bilang Syabil yang ada dibalik semua ini apa kau akan mempercayainya?" tanya Ibra kembali.


" Berikan aku bukti biar aku percaya padamu" ucap Anisa.


" Aku tidak punya bukti kalau Syabil dan anak buahnya yang menjebaku, tapi mereka sudah mengakuinya di hadapanku hanya saja aku tidak punya bukti itu, rekaman cctv pun sudah mereka manipulasi, tapi aku punya saksi" tutur Ibra.


" Siapa?" tanya Anisa.


" Allah"


Anisa langsung terdiam dan kembali menundukan kepalanya, matanya s udah mulai berkaca kaca.

__ADS_1


" Seandainya aku mencabut tuntutan ini apa kau," belum saja Anisa meneruskan ucapannya, Ibra langsung memotongnya.


" Jangan mencabut tuntutan itu hanya karna kau merasa iba padaku, tapi kau hanya akan mencabut tuntutan itu karna kau telah mengetahui kebenarannya" tutur Ibra sambil menatap Anisa.


Tiba tiba hp Elina berdering, ia pun menerima sambungan telpon itu, setelah mengakhiri telpon itu, Elina langsung menatap Anisa.


" Apa?" tanya Anisa.


" Hasil cek medika, dan hasil visum sudah keluar" jawab Elina.


" Benarkah?"


Elina pun mengangguk.


" Ayo kita ke rumah sakit" ajak Elina.


Anisa pun mengangguk.


" Ibra, kami pamit dulu" ucap Elina. Ibra pun mengangguk.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Sebelum pergi Anisa pun sempat menatap Ibra. Ibra hanya diam saja. Mereka pun melangkah pergi namun Ibra menghentikan langkah Anisa.


" Nis"


Perlahan Anisa pun menghentikan langkahnya dan langsung berbalik menatap Ibra, begitu pun dengan Elina.


" Insya Allah tubuhmu masih suci, jaga diri baik baik, tidak semua orang yang terlihat baik hatinya juga baik" ucap Ibra sambil menatap Anisa. Anisa pun ikut menatap Ibra. Hingga Elina menepuk lembut pundak sahabatnya itu.


" Ayo" ajak Elina.


Mereka pun pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, ternyata pak Akbar pun sudah ada di sana.


" Asalamualaikum yah"


" Waalaikum salam" Anisa pun mencium tangan ayahnya. Tiba tiba mereka di panggil dokter yang menangani kasus Anisa. Mereka semua masuk ke ruangan dokter itu, lalu menerima hasil cek medika dan hasil cek Visum.


Pak Akbar pun membuka dan membaca hasil visum itu ( Visum et repertum). dan hasilnya negatif, tidak ada kekerasan seksual yang di alami oleh Anisa. Pak akbar dan Elina pun mengucap syukur.


" Alhamdulilah"


Pak Akbar langsung memeluk Anisa ada rasa bahagia ternyata putrinya baik baik saja. Namun Anisa hanya diam saja, matanya sudah berkaca kaca, ia mulai mengingat ucapannya Ibra :( Insya Allah tubuhmu masih suci. Kau jaga diri baik baik, tidak semua orang yang terlihat baik hatinya juga baik):


Anisa malah menangis, ia mulai kepikiran Ibra. Jika memang Ibra di jebak, tentu saja ia adalah orang yang paling merasa bersalah atas di tangkapnya Ibra.


" Sayang kenapa kau menangis?" tanya pak Akbar.


" Yah, kalau Ibra tidak bersalah dan dia hanya di jebak bagaimana?" tanya Anisa sambil menyeka air matanya.


" Kalau pemuda berandalan itu tidak bersalah dan dia hanya di jebak, ayah akan cabut tuntutan itu dan ayah sendiri yang akan menghukum orang yang telah menjebaknya itu" tegas pak Akbar.


" Beneran yah?"

__ADS_1


Pak Akbar pun mengangguk.


__ADS_2