
Setelah sampai di butik, Anisa langsung masuk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Elina langsung meloncat dari kursi kasir dan langsung mendekati Anisa, membolak balikan tubuh Anisa dengan penuh kekhawatiran.
" Nis, kau tidak apa apa?, tidak ada yang luka kan, sahwatnya sehat kan?, dia tidak sampai memukulmu?" tanya Elina cemas.
" Aku baik baik saja" jawab Anisa sambil duduk di kursi kasir.
" Kau yakin tidak apa apa?"
" Hmmm"
" Lalu bagaimana rasanya setelah punya suami?" tanya Elina kepo.
" Kau kepo deh, kalau aku cerita nanti kau pengen"
" Ikh kau membuatku penasaran"
Anisa dan Elina pun melakukan kegiatan seperti biasa di butik itu melayani pembeli dan membuat rancangan sendiri. Sore pun tiba. Ibra pun menjemput Anisa di butik.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Tuh si ustad premanmu sudah jemput" bisik Elina. Anisa pun tersenyum.
" Sudah beres?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk. Elina langsung berbisik.
" Bilang sama si Ibra, kalau mau malam pertama, undang undang aku"
Anisa langsung menggeram sambil memicingkan matanya memberikan tatapan menusuk pada Elina.
" Ha ha ha, biasa aja kali Nis, sensi amat, di fikir aku gak tau kalau kau itu sedang galau gara gara malam pertama" bisik Elina.
Anisa langsung mengerucutkan bibirnya.
" Ayo Nis" ajak Ibra.
Anisa pun mengangguk.
" Lin aku pulang ya, asalamualaikum"
__ADS_1
" Waalaikum salam"
Baru saja Anisa melangkah, tiba tiba Elina berbisik kembali.
" Kalau berasa sakit, mulutnya langsung ditutup, jangan menjerit, entar tetangga pada datang semua" goda Elina. Anisa langsung mencubit pingganya Elina.
" Awww"
Anisa langsung menarik tangan Ibra untuk pergi. Namun Elina sedikit menahannya.
" Tunggu Nis"
Elina memberikan sebuah paper bag pada Anisa.
" Hadiah pernikahan untukmu"
Anisa pun tersenyum sambil menerima paper bag itu.
" Makasih Lin"
" Hati hati" teriak Elina.
Anisa pun menggandeng lengan Ibra, berjalan kaki menuju rumahnya ustadzah Ulfi. Namun Ibra malah mengajak Anisa ke tepi perkebunan, duduk berdua di kursi bambu. Mereka menatap lurus ke arah perkebunan.
" Boleh aku cerita sesuatu?" ucap Ibra.
" Kau tau apa saja kewajiban suami terhadap istrinya?" ucap Ibra. Anisa hanya diam sambil menatap Ibra.
"Sepertinya dia mau menyindirku" batin Anisa. Ibra ikut menatap Anisa, seketika itu pula Anisa menggelengkan kepalanya, iya yakin suaminya itu mau menceramahinya.
" Kewajiban suami terhadap istrinya, istri berhak mendapatkan mas kawin dan nafkah. Selain itu suami juga berkah menggauli istri secara baik dan benar. Kewajiban suami dalam islam salah satunya adalah mengga*li ( berseng*ama) dengan istrinya secara baik dan adil, karna itu termasuk inti dari pernikahan. Sehingga istri dapat memperoleh kenikmatan berseng*ama dengan suaminya. Begitu pun juga suami dapat memperoleh kenikmatan dari istrinya" tutur Ibra.
Anisa sudah menunduk.
" Nafkah batin adalah nafkah yang diberikan suami kepada istri berupa kebahagiaan dan menggauli istri hingga kebutuhannya akan se*sual terpenuhi menggauli istri dengan caranya yang benar dan sampai pada hajatnya sangat mempengaruhi keharmonisan hubungan keluarga"
"Kenapa Ibra menjelaskan semua padaku, apa karna dia belum memberikan nafkah batin padaku, atau dia tau kalau aku sedang galau akan itu" batin Anisa.
" Pernikahan adalah suatu proses dalam islam yang dilakukan untuk menghalalkan seorang laki laki dan seorang perempuan atau yang disebut sepasang kekasih. Jadi apabila seorang istri tidak melayani suaminya baik secara lahir dan batin, maka hukumnya menurut islam adalah dosa" ucap Ibra lalu menatap Anisa. Wajah Anisa sudah memerah. Iya tau kalau Ibra sedang menyindirnya.
" Kenapa wajahmu memerah begitu?" tanya Ibra.
" Kau sedang menyindirku ya?, aku bukannya tidak mau melayanimu, aku hanya sedikit takut, ops" Anisa langsung menutup mulutnya yang keceplosan, hingga Ibra tertawa. Anisa langsung cemberut saat Ibra menertawakannya.
" Kau takut padaku?, kenapa?, apa karna aku mantan berandalan?" ucap Ibra. Anisa hanya diam sambil menundukan wajahnya. Hingga kini Ibra ikut menunduk sambil tersenyum senyum membuat Anisa sedikit kesal karna sedari tadi Ibra terus menertawakannya.
__ADS_1
" Jangan menertawakanku terus" gerutu Anisa sambil menepuk pundaknya Ibra.
" Kau masih takut padaku?"
" Nggaaaaaaak"
Ibra kembali tertawa.
" Kita pulang yu udah sore" pinta Anisa. Ibra pun mengangguk. Mereka pun berjalan pulang sambil bergandeng tangan.
* * * * * *
Malam pun tiba Anisa sedang mengobrol bersama ustadzah Ulfi sambil menonton tv. Ibra dan ustad Azam belum pulang ke rumah. Namun tidak lama kemudian mereka datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa mencium tangan Ibra, dan ustadzah Ulfi mencium tangan ustad Azam.
" Yusuf kemana bi?" tanya udtadzah Ulfi.
" Yusuf menginap di asrama bersama teman temannya" jawab ustad Azam. Ustadzah Ulfi pun mengangguk lalu mengajak suaminya untuk masuk kamar, sengaja untuk memberi ruang pada Anisa dan Ibra. Ibra pun menarik tangan Anisa masuk kamarnya. Anisa sudah pasrah, tidak mau diledek ustad Usman dan Elina, juga tidak mau di ceramahi Ibra, terlebih lagi dia tidak mau berdosa karna tidak mau melayani suaminya.
Anisa pun pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, setelah selesai, iya melihat Ibra sedang duduk menunggunya di atas tempat tidur. Sudah jangan ditanya lagi Anisa sudah deg degan sedari tadi. Ibra pun menepuk tempat tidur, menyuruh Anisa untuk duduk di hadapannya. Anisa hanya pasrah menuruti, kini iya sudah duduk di hadapan Ibra sambil menundukan wajahnya. Ibra hanya diam sambil menatapnya.
" Nis"
Anisa langsung menatapnya.
" Bolehkah aku menyempurnakan ibadahku?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk pasrah. Perlahan Ibra melepas kerudungnya Anisa, dan digeraikannya rambut panjang Anisa hingga terurai begitu saja. Perasaan Anisa sudah berdebar debar begitu hebat.
Ibra pun perlahan menempelkan tangannya ke ubun ubun Anisa.
" Bismilahirahmanirahim, ya Allah berkahilah dia untuku dan berkahilah aku untuknya"
"Allahumma inni as-aluka khaira - ha wa khaira ma jabaltaha' alaihi wa a- udzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaihi" Ibra membacakan do'a.
Anisa sudah menundukkan wajahnya.
" Apa kau masih takut padaku?" tanya Ibra. Anisa pun menggelengkan kepalanya.
" Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyakitimu"
Anisa mengangguk sambil menunduk. Perlahan Ibra mengangkat dagu Anisa hingga perempuan itu menatapnya.
__ADS_1
" Apa kau ingin menyempurnakan ibadah kita?" tanya Ibra. Anisa kembali mengangguk. Ibra pun mendekati Anisa sambil tangan kanannya menelusup keleher Anisa hingga Anisa dapat merasakan hangatnya nafas suaminya itu. Anisa hanya diam sambil mencengkram baju gamisnya sendiri. Setelah Ibra melepaskannyaAnisa langsung menunduk malu.
" Kenapa wajahmu memerah?" tanya Ibra sambil tersenyum menggoda. Seketika Anisa langsung mendekap Ibra, sengaja menyembunyikan wajahnya di dadanya suaminya. Ibra tau kalau Anisa sedang menyembunyikan wajahnya karna malu. Perlahan Ibra pun menurunkan retsleting belakang gamisnya Anisa, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya, menjalankan kewajiban sebagai suami istri.