
Satu minggu pun berlalu. Anisa dan Elina sedang berberes untuk pergi ke Jakarta, untuk membicarakan tentang Ibra pada ayahnya. Elina sudah masuk ke mobilnya Sementara Anisa sedang menutup dan menggembok pintu butik. Tiba tiba tidak sengaja ustad Usman lewat dan melihat mereka.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kalian mau pada kemana sudah rapih begini?" tanya ustad Usman.
" Kita mau ke Jakarta" jawab Anisa.
Tiba tiba ustad Usman menganga.
" Astaghfirullah Ani, kau hamil?" tanya ustad Usman.
" Ikh ustad Usman kalau bicara sembarangan, kita mau pulang kampung"
" Ooh kufikir kau hamil, kemarin kan aku menyuruhmu untuk mudik ke Jakarta kalau kau sedang hamil" tutur ustad Usman.
" Kami sedang rindu keluarga" jawab Anisa.
Ustad Usman pun mengangguk.
" Kami pergi dulu ustad, asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati, jangan lupa Ani pulangnya bawa oleh oleh, belikan semangka yang warnanya kuning" ucap ustad Usman.
" Di sini kan banyak semangka seperti itu"
" Tapi istriku mau semangkanya asli yang di tanam dan di perik di ibu kota" jawab ustad Usman.
" Hmmmm"
Anisa dan Elina pun pergi ke Jakarta.
" Bismilahirahmanirrahim"
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Mereka pun memakan waktu hampir 3 jam hingga sampai ke Jakarta. Sesampainya di ibu kota, Anisa dan Elina pun pergi ke rumahnya tante Ayu terlebih dahulu.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
jawab tante Ayu sambil membuka pintu, ia tersenyum melihat keponakannya berdiri di depan rumah.
" Tanteeeee"
Anisa pun langsung memeluk tante Ayu, semenjak iya pindah ke kota A, ini pertama kalinya mereka bertemu kembali, selama ini mereka hanya bisa vidio call saja untuk menjalin silaturahmi.
" Tante rindu padamu, mana Erika?" tanya tante Ayu.
" Aku juga rindu pada tante, Erika tidak bisa ikut, dia tidak mau ketinggalan pelajaran, mungkin kalau libur panjang baru nanti ke sini"
" Kau sudah berhijab?" tanya tante Ayu. Anisa pun mengangguk tersenyum.
" Alhamdulilah" ucap tante Ayu.
Elina pun mencium tangan tante Ayu.
__ADS_1
" Apa kabar tante?" tanya Elina.
" Alhamdulilah baik, ayo masuk"
Mereka pun masuk dan duduk duduk di sofa. Anisa pun menceritakan niatnya pada tante Ayu. Tentu saja tante Ayu sedikit syok dan hampir tak percaya kalau Ibra adalah calon yang dimaksud Anisa.
" Ibra putranya pak Sulaiman????" tanya tante Ayu. Anisa pun mengangguk. Tante Ayu pun melirik Elina.
" Sekarang Ibra sudah berubah, dia sudah jadi ustad, dia mengajar di pesantrennya Erika" ucap Elina menjelaskan.
" Ustad?????"
Tante Ayu seolah tak percaya si berandalan yang dulu pernah jadi tetangganya itu sudah berubah menjadi ustad.
" Masa sih?"
" Semua orang kan berhak berubah tante" ucap Anisa.
" Tante sih terserah padamu, apapun yang membuatmu bahagia tante pasti dukung"
Anisa pun tersenyum.
" Makasih ya tante"
" Kapan mau bicara pada ayahmu?, kenapa Ibra juga tidak ikut?" tanya tante Ayu.
" Aku sekarang mau ke kantornya ayah, aku tidak mengajak Ibra karna takut kalau tiba tiba ayah tidak setuju. Aku mau bujuk dan meyakinkan ayah dulu" tutur Anisa.
Tante Ayu pun mengangguk. Anisa dan Elina pun beristirahat sebentar, setelah itu mereka pergi ke kantor polisi untuk menemui ayahnya.
Setelah sampai di sana, Anisa nampak ragu untuk turun dari mobil.
" Kenapa Nis?" tanya Elina.
" Bismillah saja" ucap Elina sambil mengelus pundaknya Anisa.
Anisa pun tersenyum.
" Kau mau ikut masuk?" tanya Anisa.
" Aku tunggu di mobil saja, semoga kau bisa meyakinkan ayahmu untuk merestuimu dengan Ibra" ucap Elina.
" Amiin"
Anisa pun turun dari mobil. Iya berjalan memasuki kantor itu.
" Bismillahirahmanirrahim"
Anisa pun mencari dan kini masuk ke ruangan ayahnya.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam masuk" pinta pak Akbar yang kini sedang duduk di ruangannya.
" Ayah"
Pak Akbar pun tersenyum melihat putrinya kini berdiri di hadapannya.
" Nisa"
__ADS_1
Anisa pun langsung mendekati dan memeluk ayahnya.
" Kenapa tidak bilang kalau mau ke sini, mana Erika?" ucap pak Akbar.
" Erika tidak ikut yah"
Anisa pun duduk di hadapan ayahnya, mereka hanya terhalang meja kerjanya pak Akbar.
" Sepertinya ada yang kau ingin bicarakan dengan ayah?" tebak pak Akbar. Anisa langsung menunduk, ia sedikit ragu untuk bicara pada ayahnya.
" Ada apa Nis?"
Anisa pun langsung menatap ayahnya.
" Sebenarnya aku datang kesini, mau bicara pada ayah soal Ibra" ucap Anisa sedikit takut. Pak Akbar pun langsung mengernyitkan keningnya merasa heran kenapa tiba tiba Anisa bicara tentang Ibra.
" Memangnya kenapa sama si berandalan itu?" tanya pak Akabar.
" Sekarang dia bukan berandalan lagi yah"
" Iya ayah lupa, maksudnya ustad Ibrahim" ucap pak Akbar.
Anisa merasa gugup, iya malah mencengram jari jemarinya sendiri.
" Kenapa Nis, sepertinya sangat penting hingga kau jauh jauh pergi ke Jakarta hanya untuk membicarakan pemuda itu"
" 7 tahun yang lalu Ibra pernah mengajaku menikah" ucap Anisa hingga pak Akbar terkejut dan tak percaya.
" Sudah gila dia, dan kau menolaknya kan Nis" ucap pak Akbar.
" Aku menolaknya, tapi aku punya janji sama Ibra, Kalau dia berubah dan dekat dengan Allah aku bersedia menikah dengannya, dan sekarang Ibra sudah berubah" tutur Anisa
" Maksudmu?" tanya pak Akbar tidak mengerti.
" Aku mau menepati janjiku yah, aku mau menikah dengan Ibra, aku datang ke sini mau minta restu ayah" ucap Nisa sambil menundukan kepalanya. Pak Akbar menganga seolah tak percaya dengan ucapan putrinya.
" Kau bicara apa Nis, bukannya kau sudah tau siapa Ibra, dia hanyalah seorang berandalan, Sebenarnya janji apa yang kau ikrarkan" tegas pak Akbar, ada rasa tak suka dengan niatnya Anisa.
" Yah, Ibra sudah berubah sekarang, tolong restui aku sama Ibra untuk menikah" pinta Anisa. Tiba tiba pak Akbar mengambil beberapa map dalam rak kerjanya dan di taruhnya di hadapan Anisa.
" Kau baca sampai selesai" pinta pak Akbar.
Perlahan Anisa pun mengambil map itu dan membaca satu persatu. Iya langsung terdiam dan menaruhnya kembali ke atas meja. Wajahnya langsung menunduk dan tak berani menatap ayahnya.
" Kau masih mau menikah dengannya?" tanya pak Akbar. Anisa hanya diam sambil menundukan kepalanya.
" Biar ayah jelaskan lagi. Di tahun 2010 Ibra melakukan tawuran dengan membawa senjata tajam, itu pertama kali ayah menangkapnya, saat usianya 14 tahun. lalu di tahun 2011, Ibra di tangkap kembali karna dia melakukan penganiyayaan terhadap temannya hingga masuk rumah sakit. Lalu di pertengahan tahun, ayah menangkapnya kembali dengan 2 kasus, pertama kasus dia berani menganiyaya gurunya sendiri dan yang kedua dia kedapatan memiliki dan mengkonsumsi obat obatan terlarang. Di tahun 2012 dia dilaporkan dengan 6 kasus sekaligus. Di tahun 2013, dia dilaporkan dengan 5 kasus, dia menusuk perut murid sekolah lain, tawuran dan penganiyayaan dengan senjata tajam sudah sering di lakukannya, hingga terakhir dia memotong jari kelingkingnya Syabil. Itu terakhir ayah menangkapnya saat di Jakarta, jadi di tahun 2010 sampai 2013 pemuda berandalan itu mempunyai 14 kasus, itu artinya dia 14 kali keluar masuk penjara" tutur pak Akbar menjelaskan panjang lebar. Anisa masih tertunduk dan tak berani menatap ayahnya.
" Memangnya kau mau punya suami mantan kriminal sepertinya?" tanya pak Akbar.
" Dia sudah berubah yah, semua orang pasti punya masalalu, punya kesalahan, termasuk Ibra" jawab Nisa. Pak Akbar pun terdiam sambil menatap putrinya.
" Ayah hanya ingin yang terbaik untuk putri ayah, ayah tidak mau kau menyesal kemudian hari. Ayah yakin diluar sana masih banyak pemuda yang lebih baik dari Ibra"
Anisa mulai berkaca kaca.
" Tolong beri Ibra kesempatan Yah, aku yakin dia bisa menjadi imam yang baik untuku, aku sudah banyak melihat perubahannya, sekarang dia bukan lagi berandalan" ucap Anisa sambil menyeka air matanya.
Pak Akbar pun terdiam kebingungan.
" Minggu depan bawa Ibra kehadapan ayah. Ayah ingin bicara dengannya, itu pun kalau dia memang benar benar bersungguh sungguh padamu. Ayah tunggu kedatangannya di sini" ucap pak Akbar. Anisa pun mengangguk.
__ADS_1
" Aku akan pastikan Ibra datang ke sini untuk menemui ayah dan meminta restu"