
Sepulang dari asrama, Anisa dan Elina pun berjalan menuju gerbang utama pesantren. Tiba tiba Sarah istrinya ustad Soleh memanggilnya.
" Anisa"
Anisa pun menengokan wajahnya ia menatap Sarah menghampirinya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Bisa kita ngobrol ngobrol dulu?" pinta Sarah.
Anisa pun terdiam lalu menatap Elina. Elina pun menganggukan kepalanya.
Anisa pun tersenyum lalu mengangguk.
" Ya sudah aku pulang duluan, kau tidak apa apa kan Nis pulang sendirian?" tanya Elina.
Anisa kembali mengangguk.
" Ya sudah aku duluan ya asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Elina pun pergi dari pesantren. Kini Anisa sudah mengikuti Sarah seorang ibu yang mempunyai dua orang putra itu masih terlihat cantik. Sarah mengajak Anisa ke perkebunan, mengajaknya duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu. Tempat dimana ia bertemu dengan Ibra untuk pertama kalinya.
Mereka pun duduk berdua sambil menatap lurus ke arah perkebunan yang luas itu tanpa ada yang memulai pembicaraan. Anisa masih merasa aneh kenapa tiba tiba istrinya seorang pemimpin pesantren mengajaknya duduk di tepi perkebunan berdua.
" Dulu, 7 tahun yang lalu Pak Sulaiman membawa Ustad Ibrahim ke pesantren ini" ucap Sarah. Anisa pun langsung menatap Sarah, ada rasa aneh yang menggelitik, kenapa tiba tiba mba Sarah membicarakan tentang Ibra.
" Usianya dulu masih 17 tahun saat ustadzah Ulfi dan ustad Azam membawanya ke rumah saya, sudah jelas terlihat dari penampilannya kalau dia adalah seorang berandalan. Ustadzah Ulfi bilang dia adalah adiknya, pak Sulaiman ayahnya sendiri yang menitipkan ustad Ibrahim ke pesantren karna di Jakarta kelakuannya sungguh tidak bisa di tolerir lagi"
Anisa terus mendengarkan ceritanya Sarah sambil menatap perempuan yang ada di sebelahnya itu.
__ADS_1
" Ustadzah Ulfi meminta suami saya untuk membantu adik lelakinya itu berubah menjadi orang baik dan dekat dengan agama, dekat dengan Allah. Kufikir dia tidak mau berubah karna paksaan ayahnya, namun ternyata Ustad Ibrahim sendiri punya tekad yang kuat untuk berubah. Ustad Soleh pun bersedia untuk membantu merubah Ustad Ibrahim yang awalnya berandalan itu. Tubuhnya kurus tak terawat, penampilannya acak acakan Ustadzah Ulfi bilang dia mengkonsumsi obat obatan terlarang, Ustad Soleh memintanya untuk masuk rehabilitasi terlebih dahulu. Dan saya lihat juga dia mempunyai tato bergambar burung elang di tangan kanannya, di situ juga tertulis namamu Anisa" tutur Sarah. Anisa langsung menundukan kepalanya.
" Saat saya tanya nama siapa yang tertulis di lengannya, dia menjawab kalau nama Anisa itu nama perempuan cantik yang mengisi hatinya. Saat suami saya bilang kalau mau berubah tatonya harus di hapus, dia setuju. Ustad Soleh tanya lagi, kalau tatonya di hapus, otomatis nama Anisa juga akan ikut terhapus. Ustad Ibrahim bilang tidak apa apa, nama Anisa boleh terhapus di tangannya, tapi nama Anisa yang ada di hatinya tidak akan pernah terhapus"
Mata Anisa sudah berkaca kaca mendengar cerita dari Sarah.
" Sebelum Ustad Ibrahim di masukan ke tempat rehabilitasi suami saya menempatkan ustad Ibrahim di kamar belakang rumah yang nampak sempit, mengurungnya dan menguncinya di sana. Karna kalau sudah kecanduan dan sakau, ustad Ibrahim suka melukai dirinya sendiri, menyayat tangannya dan menghisap darahnya sendiri. Dia sering merasakan depresi, sakit kepala dan berhalusinasi. Ustad Ibrahim mengijinkan ustad Soleh untuk memukulnya jika ustad Ibrahim hilang kendali dan mengancam keselamatan dirinya dan orang lain. Namun pada akhirnya suami saya memasukan ustad Ibrahim ke tempat rehabilitasi atas persetujuan ustadzah Ulfi agar hasil penyembuhannya bisa maksimal. Sudah hampir 2 bulan dia di rehabilitasi, ustad Ibrahim memaksa ingin pulang ke pesantren, dia memang sudah tidak ketergantungan lagi oleh obat obatan itu, dia ingin ustad Soleh yang membantunya lepas selepas lepasnya dari obat terlarang itu. Hingga ustad Soleh membantu dengan cara yang ia bisa. Hingga hampir 5 bulan barulah ustad Ibrahim dinyatakan sembuh dan bebas dari narkoba. Tubuhnya sudah bersih dari obat obatan terlarang itu. Barulah setelah ia benar benar bersih dari obat obatan itu, ustad Soleh dan ustad Azam membantunya untuk memperbaiki diri, mengajarkan agama dan pergaulan yang baik. mengajarkannya untuk membuang sifat sifat buruknya itu. Ustad Ibrahim mempunyai niat yang kuat untuk merubah hidupnya lebih baik, saat saya tanya apa alasanmu untuk berubah menjadi lebih baik, dia jawab alasannya ada 2, Allah dan Anisa"
Anisa sudah menangis mendengar cerita dari Sarah.
" Kudengar kau mempunyai janji pada ustad Ibrahim, kau menyuruhnya berubah dan dekat dengan Allah?" ucap Sarah.
Anisa pun mengangguk sambil menyeka air matanya.
" Selain Allah, kau adalah salah satu alasan ustad Ibrahim untuk berubah, meski ustadzah Ulfi mengatakan kalau adiknya itu harus punya niat bertaubat hanya karna Allah, namun tak bisa di bohongi kalau kau memang berpengaruh besar atas berubahnya Ustad Ibrahim dari seorang berandalan menjadi seorang ustad. Kau tau Nisa, sejak dia dinyatakan bersih dari obat obatan itu, dia lebih semangat belajar agama, mengaji dan kegiatan kegiatan positif di pesantren tidak pernah ia tinggalkan, kecerdasannya yang berbeda dari yang lainnya membuatnya kini bisa menjadi seorang pengajar di pesantren, mertuaku kiyai Husen telah menguji kecerdasannya, hingga ia terpilih menjadi seorang pengajar di sini. Sungguh mukzizat untuk keluarga ustadzah Ulfi, dia nampak bahagia dulu adik lelakinya itu sering membuatnya malu, tapi kini adik lelakinya itu selalu membuatnya bangga. Kau tau Nisa setelah dia berubah, saya sempat tanya kenapa ustad Ibrahim tidak menemuimu dan memperlihatkan perubahan hidupnya sekarang. Dia malah jawab, Jika dia memang jodohku, Allah akan mendekatkan kami tanpa aku harus mencarinya dan memamerkan perubahan hidupnya"
Anisa terus terisak tanpa ia mengucap sepatah katapun, rasa sesal mulai menderanya, ia merasa bersalah pada Ibra.
" Kau tau Nisa, ustad Ibrahim datang padaku membawa setrikaan punya ustadzah Ulfi, dia memintaku untuk menghapus tatonya dengan cara di gosok dengan setrikaan, karna dia meminta pada ustadzah Ulfi namun kakaknya itu tidak sanggup untuk melakukannya. Saya sudah menyuruhnya untuk pergi ke dokter, biar dia menghapus tatonya dengan cara yang tidak sakit, dia malah bilang biarkan rasa sakit ini membekas dalam ingatan supaya dia tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi. Kau harus tau Nisa, perubahan ustad Ibrahim itu butuh perjuangan dan butuh pengorbanan yang tidak ternilai"
" Ustad Ibrahim sudah berubah. Aku dan suamiku sendiri yang menjadi saksi perjuangannya untuk berubah. Dan ketika ustad Ibrahim di fitnah telah berbuat jahat padamu, sungguh saya tidak percaya hingga ustad Soleh mati matian membantunya untuk mendapatkan rekaman cctv di hotel itu"
" Maafkan saya, saya telah mengecewakan semuanya dengan melaporkan kasus ini ke polisi" ucap Anisa.
" Saya tau bukan kau yang melaporkan ustad Ibrahim. Tapi alhamdulilah semuanya sudah berakhir, ustad Ibrahim sudah bebas. Saya bercerita seperti ini tidak ada maksud apa apa, saya hanya ingin kau tau kalau ustad Ibrahim sudah berubah, dia bukan lagi seorang berandalan" tutur Sarah, Anisa pun mengangguk.
" Maaf kalau saya mengganggu waktumu" ucap Sarah.
" Tidak apa apa mba Sarah, saya senang jika mba Sarah bercerita semua" ucap Anisa sambil tersenyum.
" Hari sudah sore, maaf sekali lagi sudah mengganggumu"
Kini mereka pun pergi dari perkebunan itu. Anisa pun berjalan untuk pulang ke butik. Ia membawa sejuta penyesalan dalam hatinya, kenapa dia bisa tidak percaya pada Ibra. Saat Anisa mau keluar gerbang, tiba tiba Yusuf dan Hasan temannya menghampiri Anisa.
__ADS_1
" Asalamualaikum ka Anisa"
" Waalaikum salam"
Anisa pun menatap Yusuf.
" Ka Nisa mau pulang?" tanya Yusuf.
Anisa pun mengangguk.
" Kita anterin ka"
Kini Anisa pulang ke butik diantar oleh Yusuf dan Hasan.
Sesampainya di depan butik.
"Terima kasih Suf"
Yusuf pun mengangguk.
" Kita pamit ka asalamualaikum" ucap Yusuf dan Hasan sambil melangkah pergi, namun Anisa memanggilnya hingga Yusuf menghentikan langkahnya.
" Suf"
" Iya ka"
Yusuf pun menatap Anisa.
" Apa om mu yang menyuruhmu untuk mengantarkanku pulang?" tanya Anisa. Yusuf pun mengangguk.
" Om Ibra yang menyuruhku untuk mengantarkan ka Nisa pulang, dia tidak mau ka Nisa kenapa napa" ucap Yusuf lalu melangkah kembali menyebrang jalan dan kembali ke pesantren.
Anisa sudah menangis di depan butiknya. Penyesalan demi penyesalan berdatangan, ia mulai merasa bersalah kembali pada Ibra.
__ADS_1
"Maafkan aku"