
Siang pun tiba, Anisa datang ke toko bukunya Ibra sambil membawa makan siang yang di belinya di sebuah rumah makan tak jauh dari butik.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, eh ada mba Nisa" jawab Salwa yang kini sedang merapihkan buku buku di atas rak.
" Ustad Ibrahimnya ada?" tanya Anisa.
" Ada mba"
Anisa pun masuk ke toko buku itu. Ibra sedang duduk sambil menghitung catatan dan pemasukan di toko bukunya. Anisa langsung menaruh satu kotak makanan di meja, tepatnya dihadapannya Ibra.
Ibra pun tersenyum.
" Apa ini???" tanya Ibra.
" Makan siang untuk kita"
Anisa pun membuka satu kotak makanan yang di belinya itu di atas meja. Ibra hanya diam saja saat Anisa membukanya.
" Cuma satu???" tanya Ibra sedikit heran karna Anisa bilang itu makan siang untuk mereka berdua. Anisa langsung memberikan tatapan menusuk saat Ibra bertanya seperti itu.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ibra yag juga ikut menatap Anisa.
" Kenapa kau bertanya seperti itu?" ucap Anisa sedikit tak suka.
" Aku hanya tanya kenapa belinya cuma satu?, kau bilang kan untuk kita berdua"
Anisa sudah cemberut kesal membuat Ibra heran dan bingung tak mengerti akan istrinya yang merajuk itu. Ibra pun menjadi salah sangka, iya pun memberikan uang di dalam amplop penghasilannya di toko, menaruhnya tepat di hadapan Anisa di atas meja. Anisa langsung menatap Ibra meminta jawaban apa maksud dengan menyodorkan amplop itu padanya.
" Maaf, aku baru memberimu segitu dulu, aku baru selesai menghitung catatan keuangan di toko, nanti dari penghasilan pengajar, aku kasih padamu kalau dananya sudah cair" ucap Ibra. Anisa hanya diam.
" Aku minta maaf Nis, aku telat memberimu nafkah. Bukan maksudku untuk itu, Salwa baru memberikan rincian pemasukan padaku, jadi aku baru bisa menghitung keuntungan hari ini, jadi aku baru bisa kasih uangnya hari ini juga" tutur Ibra. Anisa kembali terdiam, iya hanya fokus dengan pertanyaan Ibra yang pertama, itu yang membuatnya kesal.
" Kau marah padaku Nis, karna aku baru bisa kasih uang hari ini hingga kau memprotesku dengan membeli makanan hanya satu kotak???" ucap Ibra. Dengan kesalnya Anisa berdiri dan langsung pergi dari sana.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salsm, Nis, Nisa kau kenapa?, dengarkan aku dulu" teriak Ibra.
Diam diam Ibra pun menyusul Anisa ke butik.
Anisa sudah menggerutu dalam hatinya.
" Dasar tidak peka menyebalkan"
" Anisa pun masuk ke butik tanpa mengucap salam, kini iya sedang dirasuki amarah dan kekesalannya pada Ibra. Elina sesang duduk di kursi kasir. Tiba tiba Anisa mendekatinya dan langsung menggebrak meja kasir dengan kerasnya.
BRAAAAK.
Elina terkejut hingga iya melompat dari kursinya.
" Astaghfirullah Nisaaaa, kau kesurupan??? datang datang main gebrak gebrak meja, untuk jantungku tidak loncat" gerutu Elina.
" Aku sedang kesal kesal kesaaaaaaal ikkkh" Anisa marah marah tak jelas.
__ADS_1
" Nih perempuan mesti di rukiyah nih, datang datang marah marah gak jelas" batin Elina.
" Istighfar Nis, nyebuuuut, kenapa kau marah marah begitu, kau sedang kesal pada siapa, bukannya kau tadi mau makan siang sama suamimu" ucap Elina.
" Aku kesal sama si preman pensiun itu"
" Memangnya si Ibra kenapa???" tanya Elina penasaran.
" Dia mengoceh gak jelas gara gara aku beli nasi kotak cuma satu, dia bilang aku sedang memprotesnya karna dia belum memberikanku nafkah karna ada alasan tertentu. Dia menuduhku memprotesnya, seolah aku sedang menanti nanti uang darinya, secara tidak langsung semua dikait kaitkan dengan uang, seolah aku ini matre" tutur Anisa dengan kesalnya.
" Lalu???"
" Jelas saja aku kesal, aku beli nasi kotak cuma satu itu bukan karna ingin memprotesnya, aku sedang belajar romantis seperti ka Aisyah sama ustad Riziq, mereka kan kalau makan selalu sepiring berdua"
" Jadi maksudmu kau mau mengikuti ka Aisyah yang selalu romantis pada ustad Riziq?" tanya Elina.
" Hmmm, Ibra sendiri yang selalu membandingkanku dan menyuruhku untuk bersikap romantis dan genit seperti ka Aisyah, aku sudah mau belajar bersikap seperti ka Aisyah, dianya sendiri malah tidak peka, malah membanding bandingkan semuanya dengan uang, padahal dia sendiri tidak romantis seperti ustad Riziq" gerutu Anisa.
" Kau terlalu sensitif Nis, sensitifmu kebangetan" ucap Elina.
" Aku hanya sedang kesal, ini pertama kalinya aku dekat dengan laki laki, aku sedang berusaha bersikap romantis, kau tau untuk bersikap seperti itu aku membutuhkan keberanian yang teramat sangat, tapi si ustad preman itu malah tidak peka, aku kesaaaaaaal" Anisa langsung menarik ujung kerudungnya Elina meluapkan kekesalannya.
" Nisaaaaaa, kau sudah gila ya, kerudungku jangan di tarik, kau bisa mencekiku" gerutu Elina. Tiba tiba mata Elina membelalak, mulutnya sedikit menganga melihat Ibra sedang berdiri didekat pintu menatap tajam ke arah Anisa, sudah dapat dipastikan kalau Ibra pasti mendengar ocehannya Anisa. Elina sedikit takut melihat tatapannya Ibra.
" Nis mingkem" pinta Elina lirih.
" Kenapa aku harus mingkem, aku ini sedang kesal" gerutu Anisa yang belum sadar akan keberadaan Ibra.
" Ssstth, jangan berisik, mingkem aja" pinta Elina kembali.
" Gak mau, aku lagi kesal Lin, kalau ada si ustad preman itu, pasti aku sudah memakinya, dia menyuruhku untuk genit dan romantis seperti ka Aisyah, tapi dia sendiri tidak peka, dia juga tidak seromantis ustad Riziq, seharusnya dia yang belajar dari si ustad berondong itu" gerutuAnisa marah marah. Elina sedikit ketakutan melihat tatapan Ibra yang tak berubah sama sekali.
" Kenapa sedari tadi kau menyuruhlu mingkem terus, aku ini sedang kesal"
Elina mengambil 3 lembar tisu dari atas meja dan langsung menyumpalkannya ke mulut Anisa.
" Ssssth"
Dengan kesalnya Anisa membuang tisu itu dari mulutnya, namun sayang sisa tisu itu masih menempel sedikit di bibir Anisa.
" Kenapa kau menyumpal mulutku dengan tisu" tanya Anisa kesal.
" Sssstth"
Elina pun membalikan tubuh Anisa hingga menghadap Ibra yang kini masih berdiri di dekat pintu.
Deg
Deg
Deg.
Mata Anisa membelalak hebat menatap sosok suaminya yang kini berdiri di hadapannya dengan memberikan tatapan tajam mengerikan.
" Nis, tiba tiba perutku merasa lapar, aku cari makan dulu ya, cacing cacing dalam perutku tiba tiba minta kabur, eh maksudku minta makan, asalamualaikum" ucap Elina sambil berlalu pergi. Elina bergidik ngeri saat melihat tatapan Ibra yang mengerikan. Ibra pun mendekati Anisa yang kini sedang ketakuatan. Anisa sudah melangkah mundur sambil mengucapkan mantra.
__ADS_1
" Jangan marah, jangan marah, jangan marah"
Elina pun pergi ke warung kopi di sebrang jalan tidak jauh dari butiknya. Iya sudah duduk dan memesan kopi.
" Dasar si Anisa kalau sudah kesal suka gak bisa ngontrol omongan, sekarang kalau sudah lihat si Ibra marah baru mingkem" batin Elina.
Elina sudah lebih dari 30 menit duduk di warung kopi itu, membiarkan Anisa dan Ibra menyelesaikan masalah mereka.
" Kalau nanti aku menikah, apa aku akan mengalami berantem berantem kecil seperti itu??, tapi kata orang itu adalah bumbu rumah tangga. Mudah mudahan si Anisa sama si Ibra baikan lagi" batin Elina.
Elina sudah berkali kali melihat jam tangannya, iya sudah bosan duduk di warung itu. Namun baik Anisa maupun Ibra mereka tidak ada yang keluar sama sekali.
" Mereka lama banget sih nyelesain masalahnya, bosan aku" gerutu Elina.
Tiba tiba fikiran buruk menyerang fikirannya.
" Astaghfirullah alazim, kenapa tiba tiba perasaan buruk menyerangku. Si Ibra kan mantan ketua berandalan, bagaimana kalau dia benar benar marah pada si Anisa, terus dia melakukan kdrt pada Anisa. Aih kenapa aku jadi takut begini. Bagaimana kalau si Nisa dipukuli lalu dimutilasi, si preman pensiun itu kan suka tega melukai musuhnya. Astaghfirullah, Elina buang fikiran burukmu itu"
Elina sudah berdiri, duduk, berdiri lagi dan duduk lagi, iya nampak cemas dan khawatir, dipandangnya terus butiknya berkali kali berharap pasangan suami istri itu keluar dan baik baik saja.
" Ya Allah, jangan biarkan Anisa kenapa napa, sebaiknya aku harus menyusul mereka ke butik sebelum terjadi apa apa pada Anisa"
Baru saja Elina mau pergi ke butik, tiba tiba Ibra keluar dari butik seorang diri membuat Elina dilanda ketakuan yang luar biasa. Ibra menyebrang jalan dan masuk ke toko bukunya. Elina pun bergegas menyebrang jalan menuju butiknya.
Elina masuk dengan tergesa gesa mencari Anisa di butik. Butik nampak sepi.
" Nis, Nisa"
Elina memanggil manggil sahabatnya itu sambil mengedarkan pandangannya mencari cari.
" Nis kau baik baik sajakan???"
Elina pun berniat mencari Anisa ke kamarnya, tiba tiba iya terdiam melihat kerudungnya Anisa sudah terkoyak di lantai dekat tangga. Elina pun mengambilnya. Elina sudah benar benar ketakutan, fikiran buruk kembali menyerangnya.
" Kenapa kerudungnya Anisa terkoyak di sini?, jangan jangan Anisa beneran dimutilasi si ustad preman itu"
Deg
Deg
Deg.
Tubuh Elina mendadak lemas, namun iya berusaha menaiki tangga menuju kamarnya Anisa.
" ANISAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA" teriak Elina penuh kekhawatiran yang teramat sangat. Saat iya mau mendobrak pintu kamar Anisa, namun tiba tiba pintu kamar itu terbuka.
Ceklek.
Anisa membuka pintu kamarnya karna mendengar suara teriakan Elina.
" Nis kau tidak apa apa????"
Tiba tiba Elina menutup mata saat melihat Anisa hanya mengenakan selimut saja sambil tersenyum senyum malu.
" Astaghfirullah" ucap Elina sambil menutup mata.
__ADS_1
" Sekarang kau pakai bajumu aku tunggu di bawah" Elina pun pergi ke bawah sambil menggerutu.
"Aku sudah setengah mati ketakutan, takut dia benar benar di siksa dan dihukum sama suaminya, takut mereka saling baku hantam, taunya mereka malah bercumbu disiang bolong. Jiwa jombloku meronta ronta melihat kejadian ini, nyesel aku mencemaskanmu setengah mati Nis, nasib nasib"