
Masih dengan Anisa yang masih berada di rumahnya ustadzah Ulfi. Anisa terus melirik ke arah pintu kamar yang ada di rumahnya ustadzah Ulfi.
" Tadi kau mau kemana Nis bisa tersungkur di jalan?" tanya ustadzah Ulfi.
" Tadi saya dari kantin, mau ke asrama, tapi lupa jalannya, sepertinya tersesat" jawab Anisa. Ustadzah Ulfi pun mengangguk.
Tiba tiba terdengar ketukan pintu di depan rumah.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab ustadzah Ulfi sambil membuka pintu. Di depan pintu terlihat Aisyah dan putra putrinya, Adam dan Hawa yang kini berusia satu tahun lebih. Adam dan Hawa sudah mulai bisa berjalan.
" Eh ada Adam sama Hawa, ayo masuk" pinta ustadzah Ulfi. Adam dan Hawa pun berjalan masuk meskipun langkah mereka masih belepotan. Hawa pun langsung menghampiri Anisa dan memeluknya. Anisa pun tersenyum.
" Haai cantik" sapa Anisa sambil membelai pipinya Hawa yang nampak begitu menggemaskan. Aisyah pun menghampiri.
" Hawa gak boleh nakal" pinta Aisyah.
" Tidak apa apa ko ka, Hawa lucu" ucap Anisa sambil tersenyum. Tiba tiba Aisyah terdiam saat melihat Anisa.
" Kau kakaknya Erika ya?" tanya Aisyah.
Anisa pun mengangguk.
" Kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya ustadzah Ulfi.
" Kita pernah bertemu di rumahnya abi, cuma kita belum sempat kenalan" ucap Aisyah. Anisa dan Aisyah pun bersalaman sebagai tanda perkenalan.
" Aisyah"
" Anisa"
" Senang berkenalan dengan ka Aisyah" ucap Anisa sambil tersenyum. Aisyah pun ikut tersenyum. Tiba tiba Adam menarik tangan uminya untuk pergi.
" Mau kemana sayang?" tanya Aisyah.
Adam langsung menunjuk nunjuk keluar.
" Ustadzah saya permisi dulu, sepertinya anak anak ingin bertemu tantenya di asrama" ucap Aisyah. Ustadzah Ulfi pun mengangguk.
" Ka Aisyah, boleh aku ikut, aku juga mau ke asrama cuma lupa jalannya, dan kebetulan Erika satu kamar dengan Zahira" ucap Anisa.
" Erika satu kamar dengan Zahira?, ya Allah kasian sekali adikmu" ucap Aisyah.
" Aisyaaaaah" ucap ustadzah Ulfi. Aisyah malah tertawa.
" Maaf ustadzah Ulfi, adik iparku kan lain dari yang lain" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum. Ustadzah Ulfi pun malah ikutan tersenyum.
" Ya sudah ustadzah kita pergi dulu, asalamualaikum" ucap Aisyah.
" Ustadzah, sekali lagi terima kasih sudah menolong saya" ucap Anisa. Ustadzah Ulfi pun mengangguk tersenyum.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Saat Anisa mau keluar, ia pun sempat melirik kamar itu, berharap laki laki yang mengaji itu tiba tiba keluar, namun sayang saat Anisa sudah keluar dari rumah, pintu kamar itu masih tertutup. Aisyah dan Anisa pun pergi dari rumahnya ustadzah Ulfi.
__ADS_1
Mereka berempat pun berjalan menuju asrama. Tiba tiba Adam minta di gendong. Saat Aisyah mau menggendong Adam, tiba tiba Aisyah terdiam saat melihat Hawa, kebetulan ia tak membawa sepedah anak anak yang di khususkan untuk anak kembar.
" Biar Hawa aku yang gendong ka" Anisa menawarkan diri.
" Tapi tanganmu sedang sakit"
" Tidak apa apa ka, hanya luka Ringan" ucap Anisa sambil menggendong Hawa. Aisyah pun tersenyum. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.
" Ka, boleh aku tanya sesuatu?" ucap Anisa.
" Tentu, kau mau tanya apa?"
" Apa Yusuf punya kakak?" tanya Anisa penasaran.
" Yusuf itu putra satu satunya dari ustad Azam dan ustadzah Ulfi" jawab Aisyah.
" Tapi tadi aku dengar ada laki laki yang sedang mengaji di rumahnya ustadzah Ulfi"
" Oh, mungkin itu ustad Ibrahim" jawab Aisyah.
" Ustad Ibrahim? ? ?"
" Ustad Ibrahim itu adiknya ustadzah Ulfi" ucap Aisyah. Anisa pun terdiam.
" Jadi dia adalah adiknya ustadzah Ulfi, lalu untuk apa ustad Ibrahim mengirim surat surat itu padaku. apa tujuannya?" batin Anisa.
" Kalau abinya ka Aisyah itu namanya siapa?"
" Abiku namanya Ibrahim Husen, kalau adiknya ustadzah Ulfi itu Malik Ibrahim"
Anisa pun mengangguk ngangguk.
Sesampainya di asrama, Aisyah dan Anisa pun masuk sambil mengucap salam.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Waalaikum salam"
Zahira langsung menghampiri keponakan keponakannya.
" Adam sama Hawa main ya sama tante Ira" ucap Zahira sambil membawa keponakan keponakannya bermain di atas tempat tidur bersama Erika.
" Waah terima kasih ya Erika, kau sudah mau mengajarkan Ira mengaji" ucap Aisyah. Erika pun mengangguk. Aisyah, Anisa dan Elina pun mengobrol ngobrol, sementara Erika dan Zahira sedang asik mengajak bermain Adam dan Hawa.
" Oh ya Nis, kalian bolak balik ke jakarta?" tanya Aisyah.
" Iya ka, tapi sekarang kita sudah punya ruko di dekat perempatan jalan. Dan besok kita akan pindah ke kota ini"
" Kakak mau pindah ke sini?" tanya Erika antusias. Anisa pun mengangguk.
" Yeeeaah" Erika nampak begitu senang.
" Kalau boleh tau kalian mau buka apa di ruko itu?" tanya Aisyah.
" Kami akan buka butik ka, kebetulan di Jakarta kami punya butik, aku dan Elina adalah seorang designer cuma masih amatir he he" jawab Anisa.
" Waah hebat ya kalian, kapan kapan aku boleh main?"
__ADS_1
" Harus dong ka" ucap Elina.
Sore pun tiba.
" Nis kita pulang yu, besok kan kita harus beres beres untuk pindahan" ucap Elina. Anisa pun mengangguk.
" Ka Aisyah kita pulang dulu ya"
" De kakak pulang ke Jakarta ya, besok kesini lagi mau beres beres" ucap Anisa.
" Iya ka"
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa dan Elina pun berjalan menuju gerbang utama pesantren, tiba tiba ada anak santri yang berlari sambil berteriak.
" Ustad Ibrahiiiim"
Anisa pun terkejut, karna penasaran, matanya langsung mengikuti anak santri itu. Dilihatnya santri itu menemui seorang laki laki yang mengenakan sarung, baju koko serta kopeah, tak lupa juga dia membawa sorban yang di taruhnya di pundak, namun sayang ustad Ibrahim berdiri membelakangi Anisa hingga Anisa tidak bisa melihat wajahnya.
" Kenapa Nis?" tanya Elina.
" Itu ustad Ibrahim, aku mau menemuinya" ucap Anisa sambil berjalan menghampirinya, namun ustad Ibrahim berjalan menjauh hingga Anisa mempercepat langkahnya.
" Nis tunggu" Elina pun ikut mengejar sahabatnya itu. Ustad Ibrahim terus berjalan menjauh, ia tidak tau kalau ada dua orang perempuan yang sedang mengikutinya. Ustad Ibrahim terus berjalan hingga sampailah ia berhenti di perkebunan, di sana ada satu pohon rindang dan kursi panjang yang terbuat dari bambu. ustad Ibrahim berdiri di sana sambil menatap lurus ke arah perkebunan yang begitu luas di hadapannya itu. Anisa terus mendekati laki laki itu, namun semakin dekat dengan laki laki itu semakin terasa getaran getaran aneh dalam hatinya. Elina sudah ngos ngosan karna mengejar Anisa. Ia lebih memilih berdiri sedikit menjauh dari mereka.
Anisa semakin mendekat hingga tangannya replek memegang pundak laki laki itu.
" Asalamualaikum" ucap Anisa dengan masih tangannya menempel di pundak sebelah kanan laki laki itu.
" Waalaikum salam"
Ustad Ibrahim pun terkejut saat ada tangan perempuan yang menempel di pundaknya, ia pun menengokan kepalanya. Ia terdiam saat menatap Anisa. Anisa nampak terkejut melihat laki laki itu.
Deg
Deg
Deg
Deg
" IBRA"
Mata Anisa membelalak, mulutnya sedikit menganga, melihat laki laki yang pernah menyuruhnya untuk mengikrarkan sebuah janji 7 tahun yang lalu.
BRUUUGH.
Elina mendadak pingsan saat melihat sosok Ibra berdiri tidak Jauh dari hadapannya.
" Anisa" ucap Ibra.
Anisa hanya diam mematung, ia masih tidak percaya laki laki yang berdiri di hadapannya itu adalah Ibra laki laki yang paling ia takuti, ternyata Allah belum mengabulkan do'anya. Selama ini, disetiap sujudnya Anisa selalu berdo'a agar dia tidak pernah bertemu lagi dengan laki laki yang memaksanya untuk mengikrarkan sebuah janji. Ibra pun tersenyum hingga lesung pipit yang hanya sebelah itu terlihat manis di pandang mata.
"Sssstt" Ibra melirikan matanya pada tangan Anisa yang masih menempel di pundaknya.
" Bukan mahrom" ucap Ibra. Saat Anisa tersadar, saat itu juga ia langsung menarik tangannya, Anisa melangkah mundur, tubuhnya sedikit bergetar, tak bisa dibohongi kalau dirinya masih merasa takut dengan laki laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
" Kenapa?, kau takut padaku?" tanya Ibra.
Anisa masih diam mematung, tubuhnya memang bergetar ketakutan, tapi hatinya berdebar debar tak karuan. Entah apa yang ia rasakan sekarang, dia sendiri tidak tau.