
Hari libur pun tiba. Anisa dan Elina menutup butiknya karna mereka harus menemui undangan ustad Usman yang akan memberinya hadiah.
Anisa sudah menggunakan gamis dan juga kerudung seadanya, begitupun dengan Elina.
" Semenjak kita kenal pesantren itu, kita jadi sering berpenampilan mendadak ustadzah begini" ucap Elina.
" Hmmm. Apa kau tidak ada berniat untuk hijrah Lin?" tanya Anisa.
" Kau sendiri bagaimana?" tanya balik Elina.
" Aku merasa punya harga diri berpenampilan seperti ini, aku ingin hijrah tapi belum tau tepatnya kapan" tutur Anisa.
" Mudah mudahan secepatnya Nis"
" Amiin"
Anisa dan Elina pun berangkat berjalan kaki, di depan toko buku, Anisa ngintip ngintip sebentar, kebetulan toko buku itu sedang buka.
" Kau ngeliatin apa Nis?" tanya Elina.
" Toko buku"
" Ga usah ngintipin si Ibra, eh maksudnya si ustad preman, nanti kau bintitan" ucap Elina. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali menuju pesantren. Sesampainya di pesantren, di sana sudah banyak orang tua santri yang sedang berkunjung pada anaknya. Anisa dan Elina pun masuk ke asrama. Mendadak asrama penuh dengan para orang tua dan kerabat kerabat yang sedang berkunjung.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Erika dan Zahira sudah siap untuk berangkat ke perkebunan untuk memenuhi undangan ustad Usman.
" Kalian sudah siap?" tanya Anisa.
" Hmmm"
" Kira kira ustad Usman mau nyuruh ngapain ya?" tanya Elina penasaran.
" Palingan om ustad mau menghukum kita untuk membantunya di perkebunan" jawab Zahira.
Mereka berempat pun berjalan menuju perkebunan. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Aisyah serta putra putrinya.
" Asalamualaikum ka Aiayah"
" Waalaikum salam, kalian mau pada kemana rame rame begini?" tanya Aisyah.
" Kita mau ke perkebunan mau ketemu om ustad" jawab Zahira.
" Waah kebetulan, ka Aisyah juga mau ke sana, tapi ka Aisyah mau ke rumahnya umi dulu"
Mereka pun berjalan bersama, namun Aisyah berbelok dulu ke rumah umi Salamah.
" Ka kita duluan ya asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa dan yang lainnya pun kembali berjalan menuju perkebunan. Sesampainya di sana, Anisa, Elina dan Erika nampak takjub melihat pemandangan perkebunan yang menyejukan mata.
" Subhanallah"
__ADS_1
" Waaah indahnya"
" Ayo kita temui om ustad" ajak Zahira.
Di lihatnya di perkebunan itu sudah ada ustad Soleh, ustad Usman, ustad Riziq dan yang terakhir ustad Ibrahim si preman pensiun. Mereka sedang mengerjakan tugas masing masing. Ustad Soleh sedang mencangkul, ustad Usman sedang memberi pupuk, ustad Riziq sedang memelihara kebun kesayangannya yaitu pohon cabe. Sementara ustad Ibrahim sedang memegang parang untuk membabad rumput rumput liar.
" Asalamualaikum" keempat perempuan itu mengucap salam.
" Waalaikum salam"
Mereka pun mendekati ustad Usman.
" Ustad, kau mau memberikan hadiah apa pada kami?" tanya Elina. Anisa terus menatap Ibra yang kini sedang membabad rumput tidak jauh dari posisinya. Ibra hanya tersenyum namun tak berani menghampirinya.
" Nis kau jangan macam macam, jangan curi curi pandang terus pada si ustad preman, kau tidak lihat dia sekarang sedang megangin parang, kau mau dibabad habis sama si Ibra?" ucap Elina mengingatkan sambil berbisik. Anisa langsung memandang ke arah lain.
" Sini kalian ikut denganku" pinta ustad Usman.
" Ira dan Erika, kalian siram pohon tomat yang ada di belah sana, ingat ya jangan di mandiin pohon tomatnya tapi disiram secukupnya" tutur ustad Usman. Zahira dan Erika pun mengangguk dan langsung pergi ke perkebunan tomat.
" Untukmu Elina, tolong kau tanam bibit mentimun, satu galian satu biji jangan lima biji nanti para petani demo" ucap ustad Usman. Elina hanya mengeryitkan keningnya.
" Ustad, kita ini seorang designer, masa ia kita mendadak jadi petani begini" protes Elina.
" Kau ini sudah salah ngeyel lagi"
" Emang kita salah apa?" tanya Elina.
" Kalian kan sudah bawa Zahira dan Erika keluar pesantren tanpa izin" jawab ustad Usman. Anisa pun mendekati Elina sambil berbisik.
" Aku di suruh ngapain ustad?" tanya Anisa.
" RITA SUGIARTO sudah menunggu, yu kita syuting Ani" ucap ustad Usman. Anisa sudah mengeryitkan keningnya sementara Elina sudah cekikikan.
"Si ustad otaknya minta di cubit kali" batin Anisa.
" Serius ustad, aku harus ngapain?" tanya Anisa kembali.
" Kau beri pupuk tanaman kacang panjang, beri pupuknya secukupnya saja" pinta ustad Usman.
" Kebun kacang panjangnya dimana?" tanya Anisa.
" Tuh yang ada si ustad preman lagi jongkok, itu pohon kacang panjang, tidak banyak cuma 5 jejer saja pohonnya. Tapi ingat itu si ustad Ibrahim jangan diganggu, dia lagi pegang parang, takutnya kalau dia keganggu kau dibabad habis olehnya nanti kau tidak bisa syuting lagi sama ROMA IRAMA" tutur ustad Usman. Anisa hanya mengangguk.
" Ustad, boleh tidak aku tukar posisi sama Elina?" tanya Anisa.
" Jangan, nanti jodohmu tertukar" jawab ustad Usman sambil berlalu pergi. Anisa langsung mengeryitkan keningnya.
" Kenapa aku jadi takut begini" batin Anisa sambil berjalan mendekati pohon kacang panjang sambil membawa pupuk yang di beri ustad Usman. Anisa pun berjongkok tidak jauh dari Ibra, Anisa tak menyapa sama sekali laki laki itu. Hingga Ibra kini menatapnya.
" Sedang apa kau disini?, apa kau mengikutiku?" tanya Ibra.
" Aku tidak mengikutimu, aku sedang dihukum sama ustad Usman" jawab Anisa sambil memberi pupuk. Ibra pun langsung menatap ustad Usman.
" Apa dia mengganggumu?" tanya Ibra.
" Tidak" jawab Anisa singkat. Ibra malah tersenyum melihat perempuan disebelahnya itu bersikap jutek. Ibra masih fokus dengan membabad rumput liar di sana. Anisa diam diam memperhatikan tangannya Ibra, kebetulan tangan baju kokonya digulung sampai siku, ia penasaran dengan tatonya Ibra.
__ADS_1
"Apa tato burung elang dan namaku masih ada di lengannya Ibra?" batin Anisa penasaran.
Ibra yang tau kalau Anisa sedari tadi terus memperhatikannya, ia hanya tersenyum.
" Sepertinya kau suka sekali ya curi curi pandang padaku" ucap Ibra sambil tersenyum. Anisa langsung menundukan kepalanya karna merasa malu, wajahnya sudah memerah, lagi lagi dia harus ketangkap basah memperhatikan laki laki yang ada disebelahnya itu.
" Kenapa?, sepertinya sedari tadi kau memperhatikan lenganku, apa kau ingin melihat tato yang ada di tanganku atau kau ingin melihat otot di tanganku?" tanya Ibra. Anisa hanya menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya. Anisa memang penasaran dengan keduanya. Pertama ia penasaran apakah Ibra masih mempunyai tato bergambar burung elang yang bertuliskan namanya. Yang kedua ia penasaran bagaimana tubuh Ibra bisa berisi seperti itu, apalagi saat melihat otot otot di tangannya Ibra, padahal dulu ia kurus kerempeng karna dulu ia mengkonsumsi obat obatan terlarang hingga merusak tubuhnya.
"Apa sekarang tubuhnya sudah bersih dari obat obatan?" batin Anisa.
" Sepertinya kau benar benar ingin tau tentang tato itu ya" tebak Ibra. Anisa langsung menatapnya.
" Bukankah tato itu sangat dilarang" ucap Anisa.
" Tatonya sudah kuhapus"
" Benarkah?"
" Hmmm"
" Kenapa?" tanya Anisa.
" Aku ingin dekat dengan Allah, aku ingin membersihkan jiwa dan ragaku. Jadi aku membuang tato itu di tanganku termasuk obat obatan terlarang itu di tubuhku, tapi kau tidak perlu khawatir, aku memang menghapus tato namamu di lenganku. Tapi namamu di sini tidak akan pernah terhapus" jawab Ibra sambil menunjuk dadanya. Anisa pun terdiam.
" Bukankah yang namanya tato itu sulit untuk di hapus?" tanya Anisa. Ibra malah tersenyum sambil membabad rumput kembali.
" Kau tidak akan tau rasa sakitnya saat tanganku di gosok dengan setrikaan bukan dengan leser untuk menghilangkan tato atau dengan cara gampang lainnya. Biarlah rasa sakit itu terus membekas, supaya aku tidak akan berbuat hal yang sama seperti dulu lagi" batin Ibra.
" Kau melakukan semua itu karna allah atau karna janji yang kuucapkan?" tanya Anisa. Ibra malah tersenyum.
" Kalau aku jawab dua duanya, apa itu salah?"
Anisa malah menundukan kepalanya.
" Aku ingin dekat dengan Allah karna hati nuraniku yang minta. Tapi tak bisa dibohongi, kau pun salah satu alasanku untuk dekat dengannya" tutur Ibra. Anisa langsung menatap Ibra.
" Salah satu alasanmu berubah karna permintaanku dulu?, bagaimana jika aku mengingkarinya, apa kau menyesal telah berubah seperti ini dan meninggalkan duniamu yang dulu?, karna aku tau, untuk berubah menjadi seperti sekarang kau butuh perjuangan dan pengorbanan" tanya Anisa.
" Aku tidak akan menyesal untuk itu. Perjuanganku untuk berubah memanglah tidak gampang, tapi aku menikmati hasilnya, hidupku terasa damai sekarang, tubuhku tidak harus lagi merasakan sakitnya digerogoti obat obatan terlarang itu"
" Tapi kau tidak akan menculiku dan ayahku kan kalau aku mengingkari janjiku?" tanya Anisa.
" Apa kau ingin mengingkarinya?" tanya Ibra sambil menatap Anisa.
" Bukankah hati seseorang itu tidak bisa di paksakan?" ucap Anisa.
" Tapi Allah bisa saja membolak balikan hati manusia. Dulu aku yang jahat saja bisa merubah sedikit lebih baik sekarang. Tidak menutup kemungkinan kalau Allah pun membalikan hatimu yang kini benci mungkin besok berubah jadi rindu. Yang kini ragu mungkin besok jadi yakin" tutur Ibra.
" Sepertinya kau sangat percaya diri ya" ucap Anisa.
" Lebih baik percaya diri dari pada percaya setan" ucap Ibra sambil tersenyum senyum.
" Tidak lucu" ucap Anisa.
Ibra malah tertawa tawa.
" Kita lihat saja Nisa, apa kau akan mengingkari janjimu setelah mengenalku"
__ADS_1