Janji Anissa

Janji Anissa
Pusiiiing


__ADS_3

Masih dengan Anisa yang menarik tangan Ibra untuk mencari keberadaan Riziq. Ibra yang belum mengerti sepenuhnya pun langsung menghentikan langkah Anisa.


" Jelaskan padaku, sebenarnya baju apa yang sedang kau cari sedari tadi?" ucap Ibra.


Anisa sudah menundukan wajahnya, tidak tau dan bingung harus menjelaskan seperti apa.


" Nis"


Mau tidak mau Anisa pun memberanikan diri menjelaskan.


" Baju itu dikasih Elina sengaja untuk memberi hadiah atas pernikahan kita" ucap Anisa.


" Kalau soal baju, bukankah kau bisa membuatnya lagi di butik, tidak perlu serepot ini untuk mencarinya"


" Ini masalahnya bukan sekedar baju, itu adalah baju sexy yang biasa digunakan perempuan untuk menggoda suaminya. Sengaja Elina buat untuku, biar aku bisa menggodamu, itu yang ada difikirannya Elina" tutur Anisa sedikit malu menceritakannya.


Ibra malah tersenyum.


" Jadi kau ingin memakai baju wanita akhir zaman itu sengaja ingin menantang nafsuku?" tanya Ibra, dia ingin tertawa namun takut Anisa marah.


" Aku tidak mau memakainya" tegas Anisa.


" Kenapa?"


" Aku malu"


Anisa sudah menundukan kepalanya.


" Kau tau Nis, kalau kau memakai baju itu dihadapanku, itu artinya kau sedang berusaha membangunkan jiwa berandalanku. Kau tau kalau jiwa berandalanku tiba tiba datang, aku tidak jamin kau bisa selamat sampai pagi" tutur Ibra sengaja ingin menggoda Anisa.


Anisa sudah ketakutan setengah mati dengan ucapan suaminya itu.


" Kau jangan menakutiku seperti itu, aku tidak akan memakai baju itu" ucap Anisa sambil mengerucutkan bibirnya. Ibra malah tersenyum senyum.


" Ayo sekarang kita pulang, tidak usah mencari baju itu" ajak Ibra.


" Tidak mau, aku harus menemukan baju itu, seisi pesantren akan di hebohkan dengan baju sexy itu. Aku malu jika ada yang tau baju itu punyaku" tutur Anisa.


" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


" Kita cari ustad Riziq"


Anisa langsung menarik tangan Ibra untuk mencari Riziq.


Mereka pun tidak sengaja bertemu dengan Riziq yang kini sedang mengajak jalan jalan putra putrinya, Adam dan Hawa.


" Itu ada ustad Riziq, kau yang temui ya, tanyakan padanya soal baju itu" pinta Anisa. Ibra langsung mengeryitkan keningnya.


" Kau tidak salah Nis menyuruhku menanyakan baju sexy itu pasa ustad Riziq. Kau tidak lupa kan Nis, aku ini mantan berandalan, bukan mantan foto model, aku tidak mau menanyakan baju itu pada ustad Riziq, aku malu, dia pasti akan menertawakanku sambil berguling guling di tanah. Masa seorang Malik Ibrahim mantan berandalan Jakarta menanyakan dan mencari cari baju sexy perempuan akhir zaman, mau di taruh dimana mukaku, kalau ustad Riziq yang mencari baju itu masih bisa di maklumi karna dia suka genit pada istrinya. Aku lebih baik di suruh menanyakan atau mencari cerulit atau parang di banding mencari baju sexy itu" tutur Ibra menolak. Anisa langsung memicingkan matanya.


" Kalau kau tidak mau menanyakannya pada ustad Riziq, jangan harap nanti malam kau bisa membuka retsleting bajuku" ancam Anisa. Ibra pun pastah dan mendekati Riziq yang sedang mengajak bercanda Adam dan Hawa. Sementara Anisa berdiri sedikit jauh dari mereka.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam ustad Ibrahim"


Ibra pun sedikit ragu untuk menanyakannya, iya sempat menatap Anisa. Riziq hanya diam tak mengerti.


" Kenapa ustad?" tanya Riziq.


" Saya mau menanyakan sesuatu ustad"


" Apa?"


Ibra sudah salah tingkah dan menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, membuat Riziq merasa aneh dan curiga.


" Apa yang ingin kau tanyakan?"


" Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang baju yang diberikan ustad Usman tadi pagi" wajah Ibra sudah memerah. Riziq sudah tersenyum senyum.


" Kenapa kau menanyakan baju itu?, apa kau juga mau menyuruh istrimu untuk memakai baju seperti itu?" tanya Riziq.

__ADS_1


" Maaf ustad Riziq, sebenarnya baju itu punya Nisa"


" Benarkah???"


" Hmmmm"


Riziq sudah tersenyum senyum.


" Kau boleh menertawakanku ustad Riziq, aku tau ini memang sangat memalukan, tapi apa boleh buat, itu adalah hadiah dari sahabatnya Nisa" ucap Ibra.


" Aku mengerti ustad, kufikir itu adalah baju punya istriku yang sengaja mau di pakai untuk menggodaku. Ternyata aku lupa kalau disini ada pengantin baru" ucap Riziq sambil tersenyum senyum. Ibra sudah menunduk malu.


" Kalau boleh tau, baju itu ada dimana?"


" Aku kasih istriku, tadi pagi ustad Usman bilang itu punya Aisyah. Kau temui saja Aisyah di rumah" ucap Riziq. Ibra pun mengangguk.


" Terima kasih ustad, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ibra pun mendekati Anisa.


" Bajunya ada sama ka Aisyah" ucap Ibra. Anisa kembali menganga.


" Baju itu membuatku pusing, lama lama aku gak bisa mingkem gara gara menganga terus sedari tadi. Ini semua gara gara Elina" gerutu Anisa dalam hati.


Anisa dan Ibra pun berjalan nenuju rumahnya Aisyah.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah pun tersenyum.


" Eh ada pengantin baru, ayo masuk" pinta Aisyah.


" Maaf ka Aisyah, kita ke sini mau menanyakan soal baju yang dibawa ustad Riziq tadi pagi" ucap Anisa malu.


" Sebenarnya itu punyaku ka Aisyah" ucap Anisa malu malu. Aisyah pun tersenyum.


" Oh jadi itu punyamu, aku fikir itu modus suamiku saja, sengaja ingin menggodaku" ucap Aisyah.


" Apa bajunya masih ada sama ka Aisyah?"


" Duuh maaf ya Nis, bajunya aku kasih sama Dewi karna aku tidak suka sama model bajunya"


Anisa kembali menganga hingga Ibra menutup mulut Anisa dengan tangannya.


" Maaf ka Aisyah, kami permisi dulu, asalamualaikum" ucap Ibra sambil menarik Anisa pergi. Mereka pun mencari Dewi di kantin bi Ratna.


" Kepalaku pusing, sepertinya aku migren gara gara baju itu. aku akan membuat perhitungan denganmu Elina" batin Anisa.


" Kau yakin ka Dewi mau memakai baju itu?" tanya Ibra.


" Baju itu tidak akan cukup dibadannya ka Dewi"


Sesampinya di kantin, mereka pun bertemu dengan Dewi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Cieeeee, ada pengantin baru ke sini, apa mau menyewa kantin untuk berbulan madu?" goda Dewi. Ibra dan Anisa langsung mengeryitkan keningnya masing masing.


" Difikir aku mau berguling guling di atas kompor" gerutu Anisa dalam hati.


" Kalian mau makan sesuatu?" tanya Dewi.


" Maaf ka Dewi, sebenarnya kita datang kesini mau menanyakan sesuatu tentang baju yang di berikan ka Aisyah tadi pagi" ucap Anisa.


Dewi malah cengengesan sambil menatap Anisa.

__ADS_1


" Cieeee, Anisa genit nih, pasti kau mau memakai baju itu untuk menggoda ustad Ibrahim kan????" tutur Dewi menggoda. Wajah Anisa sudah memerah, sementara Ibra hanya menunduk malu.


" Bajunya ada sama ka Dewi?????" tanya Anisa.


" Bajunya tidak cukup untuku, jadi kukasih sama bi Ratna, bibi bilang lumayan buat menanak nasi"


Anisa kembali menganga.


" Buat menanak nasi??????"


" Hmmm"


" Bibiku terlalu pintar kalau urusan memasak, baju wanita penggoda saja di jadikan alat untuk menanak nasi, jenius kan bi Ratna" tutur Dewi. Anisa sudah memegangi kepalanya.


" Lama lama aku darah tinggi, baju lingrie itu membuatku pusing" batin Anisa


Anisa pun masuk dapur untuk menemui bi Ratna.


" Bibi"


" Eh ada Anisa" ucap bi Ratna sambil tersenyum.


" Bi aku mau tanya soal baju yang bibi pakai untuk menanak nasi"


" Memangnya kenapa sama baju itu Nis?" tanya bi Ratna.


" Itu baju punyaku bi, dikasih Elina"


" Oh itu bajumu Nis, tapi sayang baju itu dibawa mang Ilham ke sungai" ucap bi Ratna.


Lagi lagi Anisa menganga.


" Baju itu mau dicuci di sungai????" tanya Anisa.


" Bukannya mau dicuci, tapi mau dijadikan jala untuk menangkap ikan di sungai" jawab bi Ratna.


" Astaghfirullah alaziim, dosa apa aku" batin Anisa yang kini sudah mulai setres.


" Bi, aku mau menyusul mang Ilham dulu ke sungai"


" Oh iya Nis, mang Ilham baru saja berangkat, mudah mudahan bajumu masih selamat"


Anisa pun menarik Ibra untuk menemaninya menemui mang Ilham. Dilihatnya mang Ilham sedang berjalan membawa satu ember, kantong plastik berisi baju, dan beberapa ranting kecil menuju sungai.


" Mang Ilhaaaaam" panggil Anisa sambil berteriak. Mang Ilham pun menghentikan langkahnya dan menatap Anisa. Anisa dan Ibra pun mendekati.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kenapa Anisa?" tanya mang Ilham.


" Mang kita mau ngambil baju yang mang Ilham bawa" ucap Anisa.


" Baju yang ini?" mang Ilham memperlihatkan kantong plastik yang iya bawa. Anisa pun mengangguk.


" Iya mang, sebenarnya itu punyaku, tapi karna ada kesalah fahaman, baju ini jadi berkeliling keliling pesantren" tutur Anisa.


Mang Ilham pun tersenyum lalu memberikan baju itu pada Anisa.


" Gak apa apa kan mang kalau bajunya aku bawa?"


Mang Ilham pun mengangguk.


" Terima kasih ya mang, kita permisi dulu, asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa dan Ibra pun pergi.


" Aku dibuat pusing sama baju ini, dia sudah berkeliling keliling pesantren, berpindah dari tangan satu ketangan yang lain. Sudah seperti pembunuhan berantai hingga memutuskan urat malu ku" gerutu Anisa. Ibra hanya tersenyum saja. Mang Ilhampun menatap kepergian mereka.

__ADS_1


" Ga jadi nangkep ikan pake jalanya, harus nyari cacing ini buat jadi umpan" ucap mang Ilham.


__ADS_2