
Setelah mendapatkan baju wanita akhir zaman yang menguras tenaga dan fikiran serta memaksa memutuskan urat malu, Anisa dan Ibra pun pulang ke rumah. Mereka langsung masuk kamar, dengan kesalnya Anisa melempar baju lingrie itu ke sudut tempat tidur, iya sendiri membantingkan tubuhnya di atas tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan guling sambil tengkurep. Terdengar isak tangisnya yang sudah seperti anak anak, sesekali iya mengutuki Elina karna telah memberi baju lingrie hingga membuat kehebohan di pesantren. Ibra hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya itu. Perlahan iya mendekati Anisa dan duduk disebelahnya.
" Nis"
Anisa pun bangun dan duduk di sebelah Ibra sambil menyeka air matanya.
" Kenapa?" tanya Ibra.
" Aku malu, mereka semua pasti berfikir aku ini perempuan genit yang mau menggoda suaminya dengan baju itu" jawab Anisa. Ibra pun tersenyum.
" Memangnya kenapa kalau kau mau menggodaku dengan baju sexy itu?, kau istriku dan aku suamimu, tidak ada yang salah dalam hal itu" tutur Ibra.
" Tetap saja aku tidak mau di cap sebagai perempuan genit"
" Ka Aisyah yang punya gelar perempuan genit pada suaminya saja santai mendapatkan gelar seperti itu. Bahkan seantera pesantren tau akan hal itu, tapi ka Aisyah menanggapinya dengan senyuman" tutur Ibra.
" Pada kenyataannya aku bukan ka Aisyah, urat maluku masih terangkai rapih di tubuhku, tapi sekarang mendadak putus gara gara baju itu" gerutu Anisa. Ibra malah tertawa hingga Anisa kesal dan memukul lengan suaminya itu.
" Sekarang mandilah, biar fikiranmu tenang" ucap Ibra. Anisa malah diam sambil mengerucutkan bibirnya.
" Mau kubantu?" tanya Ibra. Anisa langsung memicingkan matanya.
" Sepertinya kau harus belajar pada ka Aisyah, bersikap genit dan romantis pada suaminya" pinta Ibra.
" Apa maksudmu???"
Ibra kini tersenyum.
" Istri yang romantis itu, ketika ditanya mau dibantu suaminya untuk mandi, jawabannya bukan memicingkan matanya, tapi langsung mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan bersedia di bantu untuk mandi"
Anisa malah mengerucutkan bibirnya.
"Tapi akukan bukan bayi yang harus dimandikan" batin Anisa.
" Maaf kalau aku belum bisa seromantis ka Aisyah dan ustad Riziq, aku masih belum terbiasa berdekatan dengan laki laki" jawab Anisa sambil menunduk.
" Aku memaklumimu, sekarang mandilah" pinta Ibra. Anisa pun mengangguk dan hendak berdiri menuju kamar mandi, namun tiba tiba Ibra menarik tangannya hingga Anisa kembali duduk.
" Apa????"
" Biar kubantu melepaskan gamismu" ucap Ibra sambil menurunkan retsleting bajunya di bagian belakang. Mata Anisa langsung membelalak.
" Tidak usaaaaaah"
Anisa langsung berlari ke kamar mandi tanpa membawa handuk dan baju ganti. Ibra langsung tertawa, apalagi saat melihat handuk Anisa masih tergantung di dinding kamar.
Ceklek.
Anisa membuka pintu. Ibra yakin kalau Anisa mau mengambil handuknya yang ketinggalan. Anisa tidak keluar dari kamar mandi karna sudah membuka bajunya, iya hanya memanggil Ibra untuk meminta tolong mengambilkan handuknya.
" Baim" panggil Anisa di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
" Abim ya bukan Baim" jawab Ibra mengingatkan.
" Oh iya lupa. Abim.." panggil Anisa kembali.
" Apa???"
" Bisa minta tolong ambilkan handuku"
" Kenapa kau tidak ambil sendiri saja" jawab Ibra sambil tersenyum.
" Aku sudah melepas semua bajuku, ambilkan ya" Anisa memohon.
" Hmmm"
Ibra bukannya mengambil handuk, iya malah mengambil lingrie dan memberikannya pada Anisa. Anisa hanya mengulurkan tangannya, Ibra langsung menaruh lingrie itu di tangannya Anisa sambil tersenyum senyum. Anisa pun menarik tangannya, menutup pintu kamar mandi lalu menguncinya. Mata Anisa membulat saat melihat di tangannya bukannya handuk melainkan baju wanita akhir zaman itu.
" Abiiiiiiiiim"
Ibra langsung tertawa tawa didepan pintu kamar mandi. Anisa sudah kesal sendiri.
" Bim"
" Hmmmm"
" Boleh minta tolong lagi?" ucap Anisa.
" Apa????"
" Kau keluar kamar dulu ya, sampai aku selesai mandi dan berdandan" pinta Anisa.
" Hmmm"
"Lama lama kumakan juga" gerutu Anisa. Setelah selesai membersihkan diri, Anisa pun keluar kamar mandi sambil telanjang, iya tidak mau memakai baju tipis itu. Dilemparkannya lingrie itu kesembarangan arah, lalu mengambil handuk di dinding kamar, setelah itu iya mengambil pakaiannya dari lemari, memakai gamisnya dengan rapih lalu dipadukan dengan kerudung panjang yang warnanya senada. Anisa pun duduk didepan cermin rias untuk merias wajahnya, namun matanya membelalak melihat Ibra sedang berdiri ditembok memperhatikannya.
" HUAAAAAAAAAAA"
Anisa berteriak kencang, merasa kesal, malu dan sedikit takut.
Di ruang tengah pun ikut terkejut dengan suara teriakan Anisa di dalam kamar.
" Umi tante Nisa kenapa?" tanya Yusuf. Seketika ustadzah Ulfi langsung menutup matanya Yusuf dengan tangan kanannya, sementara ustad Azam menutup kedua telinga Yusuf dengan kedua tangannya.
" Umi, abi, kenapa mata dan telingaku di tutup?" tanya Yusuf tak mengerti.
" Suf, sebaiknya kau masuk kamar" pinta ustadzah Ulfi. Yusuf pun seperti seorang balita yang dibimbing untuk masuk kamar.
" Mi, kenapa aku harus masuk kamar???" lagi lagi Yusuf tidak mengerti.
" Ssstth, nanti kalau sudah dewasa kau pasti juga mengerti" ucap ustadzah Ulfi sambil tersenyum. Yusuf hanya mengangguk pasrah. Ustadzah Ulfi pun menutup pintu kamar Yusuf, dilihatnya ustad Azam sedang menunduk tersenyum.
" Kenapa Bi?" tanya ustadzah Ulfi.
__ADS_1
" Adikmu sore sore begini sudah tancap gas, Anisa sampai menjerit seperti itu" ucap ustad Azam.
" Ssstth, dimaklum saja, mereka masih pengantin baru" ucap ustadzah Ulfi sambil menarik tangan suaminya untuk duduk kembali menonton tv.
Sementara yang kini ada di dalam kamar. Anisa sudah memicingkan matanya pada Ibra. Ibra hanya menatapnya sambil tersenyum.
" Sejak kapan kau berdiri di situ?" tanya Anisa sedikit sinis.
" Sedari tadi" jawab Ibra.
Anisa sudah menggeram.
" Kau mengintipku ganti baju ya????, aku kan tadi menyuruhmu keluar" ucap Anisa.
" Ini kamarku, dan kau pun istriku, apa salahnya jika aku melihatmu berganti pakaian????"
Wajah Anisa sudah memerah karna malu.
" Tapi kan aku malu"
Ibra malah kembali tersenyum.
" Aku minta maaf telah melihatmu berganti pakaian, untuk itu aku siap kau balas" ucap Ibra sambil menunduk hingga Anisa mengeryitkan keningnya.
" Balas?, balas apa?" tanya Anisa tak mengerti.
" Balas mengintipku, kau boleh melihatku saat aku berganti pakaian" ucap Ibra sambil tersenyum senyum. Anisa langsung menganga, iya hampir tak percaya dengan apa yang di ucapkan suaminya itu. Anisa langsung mengambil bantal dan dilemparkannya tepat ke dadanya Ibra.
" AWWWW"
Ibra mengaduh saat bantal itu mengenai dadanya.
Di ruang tengah kembali terdiam saat mendengar suara Ibra mengaduh. Ustad Azam kembali tersenyum sambil menundukan kepalanya hingga ustadzah Ulfi menepuk lengan atasnya.
" Kayanya masih belum selesai Mi"
" Ssssttth"
-
-
-
-
-
-
**Cerita ini dibuat hanya untuk menghibur semata, kalau ada perkataan atau perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan tolong jangan ditiru.
__ADS_1
Tidak ada niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapapun.
Terima kadih**.