
Masih dengan Zahira yang masih di rumahnya ustad Usman. Zahira masih mengerucutkan bibirnya setelah Aisyah membersihkan wajahnya yang penuh dengan semburan susu oleh ustad Usman.
" Jangan cemberut begitu, meskipun kau kena semburan, kau masih tetap imut dan menggemaskan. Lagi pula ka Usman kan hanya menyemburkan susu, anggap saja kau maskeran wajah biar tambah putih dan glowing. Dari pada di sembur pake lumpur lapindo, kan gak lucu" tutur Aisyah.
" Tapi nantikan aku di kerumuni semut"
" Seekor semut tidak akan berani mendekatimu, mereka akan kabur lebih dulu. Lagi pula kakakmu yang manis saja tidak pernah dikerumuni semut" tutur aisyah kembali. Sambil mengerucutkan bibirnya Zahira pun kembali berkumpul dengan yang lain. Begitu pun dengan ustad Usman.
" Maafkan ka Nisa ya Ira, maafkan aku juga ustad Usman" ucap Anisa merasa bersalah. Zahira pun mengangguk pasrah begitu pun dengan ustad Usman.
" Sabar Zahira sabar, untung ka Anisa dan ustad Ibrahim itu om dan tantenya ka Yusuf, kalau bukan, sudah kuberi mereka puisi" batin Zahira.
" Sabar Usman sabar, si Ani itu sedang hamil, apalagi dia istrinya si preman pensiun. Kau bisa diberi bogem cantik sama si ustad Ibrahim kalau marah. Selow Usman selow" batin ustad Usman.
Tiba tiba datanglah Riziq.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Riziq pun ikut bergabung dengan mereka, iya heran melihat adik perempuannya itu cemberut.
" Ira, kenapa wajahmu nampak menyebalkan seperti itu?" tanya Riziq.
" Aku di sembur air susu sama om ustad" Zahira mengadu.
" Sudah keluar dedemitnya?" tanya Riziq membuat Zahira tambah kesal.
" Bukannya dibelain malah diledekin" gerutu Zahira. Ibra dan Anisa malah tertawa tawa kecil melihat Zahira merajuk.
" Masih untung aku menyemburmu dengan air susu bukan dengan air ketuban" ucap ustad Usman. Zahira kembali cemberut.
" Salahkan saja si Ani, dia ngidamnya aneh aneh, sudah kubilang kalau suatu saat dia hamil ku suruh mudik dulu ke Jakarta sampai melahirkan, barulah dia kembali lagi ke sini" tutur ustad Usman. Ibra langsung memicingkan matanya pada ustad Usman.
" Ustad Usman mau memisahkanku dengan Anisa?" ucap Ibra dengan nada menyelidik. Ustad Usman yang melihat tatapannya pun sedikit bergidik ngeri.
" Maaf ustad Ibrahim, aku hanya bercanda" ucap ustad Usman sedikit takut.
" Si preman pensiun kalau sedang marah, aura premannya keluar, rasa takutku meronta ronta" batin ustad Usman. Tiba tiba datanglah umi Salamah dari dapur sambil membawa 2 sikat pisang ambon.
" Jangan pada ribut, nih umi bawa pisang, baru diambil dari kebun sama si abi" ucap umi Salamah.
" Waaah, makanan faforitnya om ustad ini" ucap Zahira. Ustad Usman langsung mengernyit.
" Eeh sembarangan kalau kau bicara" gerutu ustad Usman.
" Isya kau mau?" tanya Ibra menawari istrinya. Anisa pun mengangguk. Lalu Ibra mengambil satu buah pisang ambon itu lalu diberikannya pada Anisa setelah kulitnya di kupas terlebih dahulu
" Makasih Bim"
Saat mau memakannya, Anisa pun menatap pisang itu.
"Ani, kalau kau mau makan pisang, makan saja, jangan ditatap seperti itu, jiwa ketakutanku meronta ronta" tutur ustad Usman.
" Apa makdudnya ustad Usman?" tanya Anisa.
" Aku hanya takut, tiba tiba ngidamu keluar, kau makan pisang itu, lalu kau menyuruhku makan kulitnya" ucap ustad Usman.
" Ha ha ha ha"
Zahira tertawa setelah mendengar ucapannya ustad Usman. Hingga ustad Usman memicingkan matanya.
" Kenapa kau tertawa selebor?" tanya ustad Usman.
" Kenapa adiku dipanggil selebor?" tanya Riziq sedikit tidak suka.
" Maaf ustad Riziq, panggilan selebor akan keluar dari persemayamannya saat adikmu ini bersikap menyebalkan, mulutku repleks manggil seperti itu" tutur ustad Usman.
" Meskipun Ira ini menyebalkannya kebangetan dan naudzubilah, tapi dia adalah adiku satu satunya, dia adalah warisan yang ditinggalkan oleh ayahku" tutur Riziq.
" Warisanmu hebat ya lain dari yang lain, AMAZING" ucap ustad Usman.
__ADS_1
" Iya, kecil kecil amit amit menyebalkan" ucap Riziq bercanda. Hingga Zahira cemberut kesal.
"Diralat ya ucapannya, bukan kecil kecil amit amit menyebalkan, tapi kecil kecil imut menggemaskan" tegas Zahira.
" Sakarepmu"
" Iya saking menggemaskannya, ingin rasanya aku melemparmu ke sungai"
Dengan kesalnya Zahira langsung mengambil satu pisang ambon itu dan dimakannya dengan rakus, lalu dilemparkannya kulit pisang itu ke sembarangan arah ( ke depan rumah).
" Jangan buang sampah sembarangan" ucap Aisyah.
" Eh Ira, jangan sembarangan buang kulit pisang bahaya. Kalau ada yang nginjek bisa jatuh" ucap ustad Usman. Tiba tiba terdengar suara.
BRUUUUGH.
Semuanya pun terdiam.
" Nah kan, belum juga bibirku mingkem sudah terdengar ada yang jatuh" ucap ustad Usman.
" Itu siapa yang jatuh?"
" Bumi serasa bergoncang"
" Awas ya Ira, kalau abiku yang jatuh" ucap ustad Usman. Zahira pun sedikit ketakutan.
" Ira, coba kau lihat suara apa di depan" pinta Aisyah.
" Tidak mau aku takut, kalau mbah Husen yang jatuh bagaimana?" ucap Zahira.
" Kalau abiku yang jatuh sudah pasti kau akan mendapatkan hukuman, siap siaplah berkeliling perkebunan untuk mengusir hama pertanian" tutur ustad Usman hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Memangnta aku obat pengusir hama" gerutu Zahira.
" Ayo Ira coba lihat ke depan" pinta Anisa.
Mau tidak mau, suka tidak suka, Zahira pun berjalan kedepan untuk melihat suara apa yang terdengar barusan. Tiba tiba mata Zahira melotot dan mulutnya menganga melihat Dewi sudah tersungkur.
" Astaghfirullah alazim, ka Dewi kalau ngantuk jangan rebahan di tanah" ucap Zahira sambil cekikikan.
" Tidak ada sejarahnya seekor semut membangunkan seekor gajah" ucap Zahira bercanda. Hingga Dewi menggeram.
" Apa kau belum pernah dengar ada seekor gajah menelan seekor semut?" tanya Dewi.
" Kebetulan belum ka"
" Kalau kau belum pernah mendengarnya, sini kupraktekan" tegas Dewi. Zahira yang mendengarpun langsung bergidik ngeri. Tiba tiba Aisyah memanggil.
" Iraaaa"
" Iya kak"
" Itu suara apa Ira?" tanya Aisyah.
" Kembaran planet mars jatuh" teriak Zahira.
Karna penasaran, Aisyah pun menghampiri ke depan. Aisyah terkejut saat Dewi kini sudah terduduk di depan halaman rumah umi Salamah.
" Astaghfirullah, Wi sedang apa kau duduk di situ?" tanya Aisyah.
" Jangan banyak bicara Aisyah, cepat kau bantu aku bangun" pinta Dewi. Aisyah pun membantu membangunkan Dewi.
" Aku menginjak kulit pisang, jadinya aku terjatuh" ucap Dewi.
" Kufikir kau sedang berzikir duduk di situ"
" Duuh badanku berasa remuk" ucap Dewi sedikit meringis.
" Sudah jangan banyak bicara, siapa tau setelah kau jatuh, berat badanmu pun ikut jatuh" ucap Aisyah.
" Diet maksudnya?" tanya Dewi. Aisyah pun mengangguk ngangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
" Kalau bicara itu sesuai kenyataan saja Aisyah, tidak usah memberiku harapan palsu"
Aisyah hanya tertawa.
" Maaf, aku kan hanya bercanda"
" Ini siapa sih yang sembarangan buang kulit pisang" gerutu Dewi. Seketika itu pula Zahira langsung berlari masuk ke dalam dan bersembunyi pada Riziq.
" Kau kenapa Ira?" tanya Riziq.
" Aku takut dimakan ka Dewi"
Semuanya pun terdiam.
" Jangan bilang yang jatuh nginjek kulit pisang nya ka Dewi" ucap Riziq. Zahira sudah cengengesan.
" Pantas saja suaranya menggelegar dan berasa bumi bergetar, ternyata Dewi yang jatuh" ucap ustad Usman.
Dewi dan Aisyah pun masuk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Sakit Wi?" tanya ustad Usman.
Dewi hanya mengerucutkan bibirnya.
" Uminya ada?" tanya Dewi.
" Ada di dapur"
" Aku permisi mau memberikan belanjaan dulu" ucap Dewi sambil berlalu ke dapur.
Setelah memberikan belanjaan pada umi Salamah, Dewi pun menemui yang lain untuk berpamitan.
" Iraaaa, kau masih ada urusan denganku" ucap Dewi hingga Zahira sedikit bergidik ngeri.
" Ka sepertinya aku mau ditelan hidup hidup oleh ka Dewi" bisik Zahira.
" Wi badanku ikut bergetar saat kau jatuh, aku kaget Wi, untung jantungku masih nempel di tempatnya" ucap ustad Usman sengaja menggoda Dewi hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.
" Liat saja ya aku mau diet, sekarang aku mau pulang dulu, asalamualaikum" gerutu Dewi.
" Waalaikum salam" jawab semuanya.
Sebelum pergi, Dewi pun mengambil satu sikat pisang itu.
" Satu sikat pisangnya buatku, baay"
Dewi pun pergi sambil membawa satu sikat pisang ambon itu. Semua sudah tertawa tawa.
" Kalau ngomong pengen diet saja, sekalinya lihat pisang langsung di embat" gerutu ustad Usman. Semuanya malah tertawa kembali.
" Biarkan saja, itu sudah menjadi tradisinya Dewi"
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
Cerita ini dibuat untuk hiburan semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf. Tidak ada maksud dan tidak ada niat sedikitpun dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun. Baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.
Terima kasih.