
Setelah pulang dari kantor polisi, Anisa hanya diam saja saat di perjalanan hingga membuat Elina kebingungan.
" Kenapa Nis?, kau boleh cerita padaku" ucap Elina. Anisa pun menatap lurus kearah jalanan yang sudah penuh oleh kendaraan yang lalu lalang di ibu kota.
" Entahlah, sepertinya ayah kurang suka dengan Ibra, dia masih terus teringat dengan masa lalunya Ibra" ucap Anisa.
" Ayahmu pendendam sekali Nis, bukannya setiap orang itu berhak untuk berubah termasuk si ustad preman itu" tutur Elina.
" Ntahlah, mungkin ayah ingin yang terbaik untuku, dia juga minta Ibra untuk menemuinya minggu depan, mudah mudahan saja itu adalah kesempatan yang baik untuk Ibra, biar ayah yakin dia memang cocok untuk menjadi pendampingku" tutur Anisa.
" Semoga Ibra bisa meyakinkan ayahmu. Tapi ngomong ngomong, ayahmu mau ngapain ya nyuruh Ibra menemuinya?, aku jadi penasaran, jangan jangan ayahmu mau menyuruh Ibra untuk mengikuti latihan militer" tebak Elina.
" Kau jangan macam macam Lin, mana mungkin ayahku berbuat begitu, tapi meskipun iya, aku yakin Ibra bisa, diakan fisiknya kuat, jago bela diri juga" tutur Anisa.
Tiba tiba Elina menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
" Mau ngapain?" tanya Anisa.
" Nih ada tukang semangka warna kuning, nanti di tanyain sama si ustad Usman oleh oleh semangka yang warnanya kuning" ucap Elina.
" Oh iya, aku lupa, untung kita masih ada di ibu kota, takutnya nanti anaknya ileran. He he"
Anisa dan Elina pun membeli beberapa buah segar di sana untuk di bawa pulang sebagai oleh oleh.
Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan kembali.
Sesampainya di kota A. Anisa dan Elina pun turun dari mobil dan langsung masuk ke butiknya.
" Duuh capeeee" ucap Elina sambil duduk di sofa lalu menyandarkan kepalanya. Anisa hanya duduk sambil menundukan kepalanya, iya masih memikirkan sikap ayahnya pada Ibra.
" Lin, bagaimana jika ayah masih bersikeras tidak mau merestuiku dengan Ibra?" tanya Anisa. Elina pun menatap Anisa yang masih menunduk.
" Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, tapi kudoakan semoga ayahmu berubah fikiran dan mau merestui kalian" jawab Elina.
" Amiin, terima kasih Lin"
Anisa pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
* * * * *
Sore pun tiba, setelah mengerjakan shalat ashar, Nisa pun bersiap pergi ke pesantren untuk membawa oleh oleh yang diminta ustad Usman dan untuk bertemu Erika.
" Lin, kau mau ikut tidak ke pesantren?" tanya Anisa.
" Aku cape Nis, mau tidur"
" Tidur jam segini kurang baik loh"
" Badanku pegal semua, kau saja yang pergi ya Nis" ucap Elina. Anisa pun mengangguk.
" Ya sudah aku pergi, Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun pergi berjalan kaki, setelah menyebrang jalan dan melintas di depan toko bukunya Ibra, Anisa menatap ke dalam toko itu, dilihatnya hanya ada Salwa di sana. Anisa kembali melanjutkan perjalanan menuju pesantren. Sesampainya di sana, Anisa langsung pergi ke asrama putri.
Tok toktok.
"Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Dilihatnya Erika sedang mengajari Zahira mengaji.
" Waah kalian lagi pada mengajar ya?" ucap Anisa.
" Eh kakak"
Anisa pun memperlihatkan buah buahan dan beberapa oleh oleh yang di belinya di Jakarta.
" Waaah ka Nisa tumben bawa oleh oleh" ucap Zahira sambil melihat lihat isinya.
" Ka Nisa ko bisa tau ya kalau aku suka semangka he he" ucap Zahira.
" Ka Nisa habis dari Jakarta" ucap Anisa hingga Erika langsung menatapnya.
__ADS_1
" Ka Nisa ko ke Jakarta gak bilang bilang, akukan mau ikut" ucap Erika sedikit ngambek.
" Minggu depan kakak ke Jakarta lagi, kau boleh ikut" jawab Anisa. Erika pun tersenyum senang.
" Kalau Erika ikut, berarti aku juga boleh ikut dong" ucap Zahira.
" Nggak boleh, kakakmu yang berondong itu pasti ngamuk" ucap Erika.
" Tapi kan aku perginya sama kalian, pasti dibolehin ya ya plis aku boleh ikut" Zahira memohon.
" Nanti ka Nisa pikirkan, sekarang ka Nisa boleh minta tolong padamu Ira"
" Apa kak?" tanya Zahira.
" Tolong antarkan buah semangka yang warnanya kuning pada ustad Usman" pinta Anisa.
" Ka Nisa baik banget sama om ustad" ucap Zahira.
" Istrinya yang minta, dia ngidam pengen semangka yang warnanya kuning asli dari ibu kota"
" Kau kalau ngidam jangan seperti itu ya Ira, yang normal normal saja" ucap Erika.
" Aku tidak mau ngidam, aku takut hamil, yang jelasnya aku takut melahirkan" tutur Zahira.
Anisa dan Erika pun langsung tertawa mendengar ucapannya Zahira.
" Setiap perempuan itu pasti ingin jadi seorang ibu, memangnya kau tidak mau punya seorang anak?" tanya Anisa.
" Ya mau, memangnya gak ada ya yang melahirkan itu suaminya bukan istrinya?" pertanyaan konyol keluar dari mulutnya si bocah selebor.
" Ada" ucap Erika.
" Benarkah, dimana?" tanya Zahira.
" Di dunia halu mu"
Zahira langsung mengerucutkan bibirnya. Anisa pun membelah beberapa potong buah semangka menjadi kecil kecil. Mereka pun memakannya bersama sama. Semangka untuk ustad Usman sudah dipisah. Setelah memakan beberapa potong, Zahira pun bersiap untuk pergi ke rumahnya ustad Usman.
" Ka aku pergi dulu ke rumahnya om ustad" ucap Zahira. Anisa pun mengangguk.
" Aku butuh daun pandan untuk ongkos" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.
" Kau kan bisa minta sama ustad Usman, dia pasti ngasih" ucap Anisa.
" Ya sudah aku pergi, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira pun pergi ke rumahnya ustad Usman, namun di tengah jalan mereka bertemu dengan Yusuf dan Hasan. Zahira langsung tersenyum lebar saat Yusuf dan Hasan berjalan ke arahnya.
" Asalamualaikum Ira"
" Waalaikum salam ka Yusuf"
Yusuf pun tersenyum.
" Kau mau kemana Ira?" tanya Yusuf.
" Mau ke rumahnya ka Yusuf" jawab Zahira sambil tersenyum senyum menatap Yusuf, seolah tidak takut akan dosa dan kalau di hadapan Yusuf, Zahira suka hilang akal dan mendadak lupa kalau ia sedang berusaha menjunjung tinggi kehormatannya. Sifatnya yang selebor seperti sudah mendarah daging dari lahir dan susah untuk dirubah.
" Ngapain ke rumahku?" tanya Yusuf.
" Mau ngelamar ka Yusuf, opps maaf salah, aku mau kasih ini sama ka Yusuf" Zahira pun memberikan buah semangka yang dibawanya. Yusuf pun tersenyum sambil menerima kantong plastik berisi satu kepala semangka.
" Terima kasih Ira"
" Sama sama ka Yusuf" jawab Zahira dengan masih setia untuk tersenyum.
" Ira apa aku boleh icip icip?" tanya Hasan.
Zahira langsung memicingkan matanya.
" Tidak boleh, itu untuk ka Yusuf. Kalau ka Yusuf yang makan, semangkanya akan terasa manis seperti diriku, tapi kalau kau yang memakannya, maka semangkanya akan berasa pahit seperti buah berenuk" tutur Zahira. Hasan hanya mengernyitkan keningnya sementara Yusuf sudah tersenyum.
" Suf, si Ira sepertinya minta di rukiyah" bisik Hasan. Yusuf hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
" Ira, kami pamit dulu, terima kasih untuk semangkanya, asalamualaikum" pamit Yusuf.
" Waalaikum salam" jawab Zahira sambil tersenyum menatap Yusuf yang kini sudah pergi jauh.
" Calon imamku mmmm"
Senyum menggemaskan tak pernah hilang dari bibirnya. Tiba tiba ia baru tersadar.
" Astaghfirullah alazim, itukan semangka punya om ustad, ampuni aku ya Allah yang tidak bisa menjaga amanah"
Zahira mulai kebingungan.
" Bahaya ini, om ustad pasti marah, tapi aku tidak mungkin minta semangkanya lagi dari ka Yusuf. Masa sudah dikasih diminta lagi"
Tanpa berfikir panjang Zahira berlari kembali ke asrama, berharap semangka yang sudah di potong potong itu masih bersisa.
Sesampainya di asrama, Zahira bergegas langsung masuk ke kamarnya, dilihatnya semangka warna kuning hanya tinggal satu potong ukuran kecil, itu pun sudah mau di ambil Erika.
" Jangaaaaaaan" ucap Zahira bergegas mengambil semangka itu dari atas piring dan dimasukannya keplastik.
" Kenapa Ira?" tanya Erika bingung.
" Semangkanya buatku"
" Ira sepertinya kau cepat sekali ke rumahnya ustad Usman" ucap Anisa. Tanpa menjawab, Zahira pun berlari keluar untuk pergi ke rumahnya ustad Usman.
Sesampainya di rumah ustad Usman. Zahira nampak ngos ngosan.
" Asalamualaukum"
" Waalaikum salam" jawab kiyai Husen sambil membuka pintu.
" Mbah, om ustadnya ada?" tanya Zahira.
" Ada Ira, sebentar ya mbah panggilkan"
kiyai Husen pun masuk kembali ke rumah, dan kini ustad Usman yang menemuinya.
" Ada apa selebor?"
" Ini dari ka Anisa, semangka berwarna kuning asli dari Jakarta" Zahira pun memberikan satu potong kecil yang dimasukan kantong plastik. Ustad Usman nampak menganga.
" Cuma segini doang?, pelit sekali si Ani ini" gerutu ustad Usman. Zahira pun terdiam.
"Aku minta maaf om ustad, tadi ka Nisa ngasih semangkanya satu kepala, tapi saat aku ketemu ka Yusuf tadi, aku mendadak amnesia, aku kasih semangkanya sama ka Yusuf" tutur Zahira sedikit malu dan takut.
" Astaghfirullah. Keterlaluan kau Ira"
" Aku minta maaf om ustad"
" Ya sudah aku maafkan, untung kau ini anak di bawah umur dan anak yatim, jadi aku maafkan"
" Ya sudah om ustad aku pergi dulu"
" Hmmm"
" Ongkosnya belum" ucap Zahira.
" Semangkanya aja cuma sedikit, kau pake minta ongkos segala" gerutu ustad Usman.
" Om ustad jangan salah ya, meskipun sedikit itu semangka di beli di Jakarta, ongkos PP nya pasti mahal"
Mau tidak mau ustad Usman memberikan si coklat pada Zahira.
" Ko cuma 5.000, di pake naik ojek sampai ke asrama saja tidak cukup" protes Zahira.
" Mau apa ngak 5.000, kuaduin kau sama si berondong biar kau dihukum atas kecerobohanmu itu" ucap ustad Usman sedikit mengancam.
Zahira nampak ketakutan kalau ketahuan Riziq tentu uang jajannya yang akan menjadi taruhannya.
" Jangan om ustad, tidak apa apa ko 5.000 juga, aku suka" Zahira pasrah.
" Bagus"
" Ya sudah aku pamit, asalamualaikum"
__ADS_1
Zahira pun pergi. Hingga kini tinggal ustad Usman yang sedang menatapnya.
" Mimpi apa aku sampai punya murid ajaib sepertinya. Astaghfirullah, semoga anaku tidak mirip dengannya. Amiin"