Janji Anissa

Janji Anissa
Baju seragam


__ADS_3

Malam pun tiba. Hujan deras mengguyur kota A. Ibra baru pulang dari masjid setelah selesai mengerjakan shalat Isya. Bajunya sudah basah kuyup, di ketuknya pintu rumahnya.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" Anisa membuka pintu.Di lihatnya Ibra sudah basah kuyup.


" Bim, kau basah kuyup, ayu masuk"


Ibra pun masuk dan langsung mandi lalu mengganti bajunya. Ibra sudah duduk di hadapan istrinya itu.


" Baru saja kita pindah rumah, eh sudah di sambut sama hujan" ucap Anisa sambil menatap ke arah jendela. Lalu menatap Ibra yang nampak kedinginan.


" Kau kedinginan?" tanya Anisa.


" Hmmm"


" Sebentar aku ambil selimut"


Saat Anisa mau mengambil selimut, tiba tiba Ibra menarik tangannya.


" Aku tidak butuh selimut, aku butuh kau" ucap Ibra sambil menarik kedua tangan Anisa dengan kedua tangannya hingga kini Anisa memeluknya dari belakang.


" Bim kau modus ya" ucap Anisa.


" Kenapa kau tidak mau memeluku?, kalau kau tidak mau memeluku, aku akan minta ustad Usman untuk memeluku" ucap Ibra hingga Anisa mengernyitkan keningnya.


" Lama lama aku cemburu sama ustad Usman" gerutu Anisa hingga Ibra tertawa tawa.


" Lama lama bisa bisa aku menganggapmu buah buahan" gerutu Anisa kembali.


" Buah buahan????" tanya Ibra tak mengerti.


" Jeruk makan jeruk kata ustad Usman" jawab Anisa. Ibra kembali tertawa.


" Kenapa dia suka memanggilmu Ani?"


" Entahlah, dia bilang kalau panggil Nisa nanti istrinya juga ikut nengok. Mungkin dia berasa Roma Irama kali" tutur Anisa. Ibra hanya tersenyum senyum.


" Nis boleh aku tanya sesuatu?" tanya Ibra.


" Hmmm, kau mau tanya apa?, tapi lepaskan dulu tanganku" pinta Anisa. Perlahan Ibra pun melepaskan tangannya, dan mereka pun duduk berdampingan menyender di sofa.


" Mau tanya apa?"


" Apa sudah ada tanda tanda hamil?" tanya Ibra sambil mengelus perut Anisa. Anisa yang mendengar pun langsung mengeryitkan keningnya.


" Apa aku tidak salah dengar dengan pertanyaanmu" ucap Anisa heran.


" Kenapa memangnya dengan pertanyaanku?"


" Kau fikir hamil itu tidak butuh proses, kita itu baru menikah beberapa hari yang lalu, masa iya langsung hamil, memangnya makan cabe, sekali gigit langsung pedes" tutur Anisa.


" Memangnya berapa lama prosesnya?" tanya Ibra.


" Aku kurang tau, tapi kata orang paling cepat itu 2 mingguan, tapi kurang tau juga sih, kenapa kau tanya aku hamil belum?" tanya Anisa.


" Tentu saja karna aku menginginkan buah hati kita"


Anisa pun tersenyum.


" Kenapa kau memilihku menjadi istrimu?" tanya Anisa.


" Karna aku yakin kau akan jadi istri yang solehah. Sekarang aku yang tanya, kenepa kau mau menepati janjimu?" tanya balik Ibra.


" Tentu saja karna aku takut padamu" jawab Anisa sambil tertawa tawa hinga Ibra memicingkan matanya.


" Jadi kau ingin menikah denganku karna kau takut padaku???" tanya Ibra tak suka. Anisa malah tertawa tawa.


" Maaf bercanda, tentu saja karna aku mencintaimu"


" Karna siapa?" tanya Ibra.


" Tentu saja karna Allah, tapi jangan berharap aku bisa segenit dan seganjen ka Aisyah, aku tidak pandai menggodamu" tutur Anisa.


" Kau tidak perlu menggodaku, biar aku saja yang menggodamu" ucap Ibra sambil mendekati Anisa.


" Kau jangan menggodaku di sini" pinta Anisa.


" Lalu aku harus menggodamu dimana?"


" Di depan ayahku, berani gak???" Anisa menantang.


" Kau jangan macam macam Nis, kalau aku menggodamu di depan ayahmu, nanti kasihan ayahmu, dia kan jomblo" tutur Ibra sambil tersenyum senyum hingga Anisa mengerucutkan bibirnya dan langsung memukul Ibra dengan bantal.


Buk buk buk.


* * * * * *


Keesokan harinya. Anisa sudah membawa beberapa baju seragam yang telah selesai di buatnya bersama Elina. Baju baju itu pun sudah di masukan plastik baju satu persatu lalu di beri nama agar tidak tertukar. Anisa pun pergi ke asrama putri. Iya tidak sengaja bertemu dengan Syifa.


" Asalamualaikum Syifa"


" Waalaikum salam ka Anisa"


Syifa pun menatap plastik besar yang di bawa Anisa.


" Itu apa kak?" tanya Syifa sambil menunjuk plastik itu.

__ADS_1


" Oh, ini baju seragam buat acara walimatul ursy nanti" jawab Anisa.


" Berarti punya aku ada ya kak?" tanya Syifa penuh harap. Anisa pun mengangguk.


" Ayo kita masuk dulu ke dalam" pinta Anisa. Mereka pun masuk ke kamarnya Zahira dan Erika. Dilihatnya Erika sedang membaca buku pelajaran, sementara Zahira sedang berjingkrak jingkrak gak jelas.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Erika pun tersenyum.


" Kaka bawa apa?"


" Kaka bawa baju seragam"


Zahira pun mendekati.


" Punya aku sudah jadi ka?" tanya Zahira.


" Semuanya sudah jadi, kalian mau bantu ka Nisa kan buat bagiin baju baju ini"


" Mauuuuuuuuuuu" jawab Syifa semangat.


" Semangat sekali kau Syifa, aku tau yang ada di otakmu itu pasti upeti" ucap Zahira.


" Tentu saja ka Ira, baju baju ini kan tidak akan jalan sendiri, jadi aku butuh ongkos"


" Memangnya kau nganter nganter bajunya pake taxi" gerutu Erika.


"Ssstth, jangan berisik. Kalian tidak mau nyobain bajunya?" ucap Anisa.


" Mauuuuu"


Zahira, Erika dan Syifa pun mencoba terlebih dahulu baju seragam itu. Mereka pun berjingkrak jingkrak di depan cermin.


Zahira pun tersenyum senyum saat menatap dirinya di cermin.


" Ya ampun Ira, bagai mana Yusuf tidak kelepek kelepek padamu, kau sangat cantik imut dan menggemaskan, apalagi memakai baju ini, kau sudah seperti bidadari surga yang turun dari langit" ucap Zahira bicara sendiri di depan cermin sambil tersenyum senyum hingga yang lain mengernyitkan keningnya masing masing.


" Narsis" ( Anisa)


" Narsis" ( Erika)


"Narsis" (Syifa*)


Kini giliran Syifa lah yang berlenggak lenggok di depan cermin.


" Ternyata aku memakai baju ini sudah seperti ZASKIA SUNGKAR" ucap Syifa sambil tersenyum senyum. Anisa, Erika dan Zahira sudah tertaw tawa geli.


" Yang ngetawain aku berarti ngiri" ucap Syifa.


Setelah mengganti pakaian dengan yang semula, Zahira dan Erika pun bersiap siap untuk membagi bagikan baju seragam. Termasuk pada semua pengajar di pesantren itu.


" Bajunya bagi dua ya" ucap Anisa.


" Punya ka Yusuf aku yang kasih ya" pinta Zahira.


Mereka pun pergi untuk membagi baju seragam yang tertera namanya. Zahira sudah pergi ke rumah Aisyah.


" Asalamualaikum ka Aisyah"


" Waalaikum salam"


" Kenapa Ira?"


Zahira pun memperlihatkan 4 plastik yang berisi baju seragam.


" Paket datang" ucap Zahira.


" Seragaman di acaranya Anisa ya?"


" Hmmm, punya Adam sama Hawa juga ada"


Aisyah pun tersenyum senang.


" Waah bajunya bagus bagus ya"


" Ka kalau nanti aku menikah dengan ka Yusuf, kita bikin seragam seperti ini ya" ucap Zahira hingga Aisyah menyipitkan matanya.


" Berapa usiamu sekarang?"


" 18 kurang" jawab Zahira.


" Ya sudah, kau boleh membicarakan soal baju seragam tapi nanti ketika usiamu 18 pas"


Sambil mengerucutkan bibirnya, Zahira langsung pergi dari rumahnya Aisyah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira pun berjalan menuju rumahnya Yusuf. Namun di tengah jalan iya bertemu Yusuf dan Hasan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira pun memberikan baju seragam Yusuf beserta ustadzah Ulfi dan ustad Azam.

__ADS_1


" Seragam dari ka Anisa"


Yusuf pun tersenyum sambil mengambil baju itu.


" Terima kasih Ira"


Zahira pun mengangguk.


" Kita duluan Ira, ka Yusuf masih ada urusan" ucap Yusuf. Zahira pun mengangguk.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Yusuf dan Hasan pun pergi.


Setelah selesai membagikan baju baju itu, Zahira pun kembali ke asrama. Syifa pun sudah berkeliling membagikan baju baju itu sambil berjingkrak jingkrak.


" Paket paket"


Syifa pun pulang ke rumahnya.


" Asalamualaikum Ibu"


" Waalaikum salam" jawab Dewi.


Paket datang Ibu" ucap Syifa sambil memberikan baju seragamnya Dewi.


" Paket apa?. Ibu tidak pesan baju online"


" Ini seragam dari ka Anisa"


Dewi pun tersenyum lalu membuka baju itu, namun ada yang aneh.


" Syifa, ko namanya Elina, mungkin kau salah bawa" ucap Dewi. Syifa pun melihat nama di baju itu Elina.


" Oh iya ibu, mungkin tertukar dengan bajunya ka Elina, sepertinya baju ibu masih ada di asrama, sebentar ya aku tukar dulu" tutur Syifa sambil berlari ke asrama. Syifa langsung masuk kamar dedemit alam gaib.


" Ka bajunya ibu ketuker" ucap Syifa.


" Kau terlalu bersemangat, jadinya ketukar kan" gerutu Erika. Syifa pun tersenyum getir.


" Ini baju ibumu"


Erika memberikan bajunya Dewi. Dilihatnya baju itu bernama Dewi.


" Oh iya ini bajunya Ibu"


" Di cek dulu, siapa tau namanya tertukar" ucap Anisa. Syifa pun membuka baju itu, iya nampak kesusahan karna baju itu nampak begitu besar.


" Biar kubantu" ucap Erika yang kini ikut membantu membuka. Mereka semua menganga.


" Astaghfirullah, ini baju apa selimut bedcover, besar banget"


" Ibuku kan memang tumbuh subur" ucap Syifa. Zahira pun mendekati.


" Erika, kita cobain yu, sepertinya bajunya cukup untuk kita berdua" ucap Zahira. Erika pun tersenyum lalu mereka masuk kedalam bajunya Dewi yang besar itu.


" Ka Ira, masih ada tempat gak?" tanya Syifa.


" Masih Syifa, memangnya kenapa?"


" Aku ingin masuk"


" Ayo masuk"


" Aku bikin drama sedikit ya" ucap Syifa.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam Syifa, ayo masuk" ucap Erika. Syifa pun masuk kedalam bajunya Dewi, seolah mereka sedang bersembunyi di dalam baju itu. Terdengar gelak tawa mereka di dalam baju hingga Anisa menggeleng gelengkan kepalanya.


" Jangan di pake mainan anak anak, nanti bajunya rusak" ucap Anisa mengingatkan. Ketiga bocah itu malah berjingkrak jingkrak di dalam baju sambil tertawa tawa.


Dewi yang menunggu Syifa datang pun tidak sabar akhirnya iya menyusul ke asrama.


" Asalamualaikum" Dewi memberi salam setelah masuk kamar.


" Waalaikum salam" jawab Anisa.


Ketiga anak itu pun terdiam saat mendengar suara Dewi. Anisa sudah terdiam kebingungan apalagi melihat Dewi sudah berkacak pinggang menahan marah.


" Seperti suara ibu" ucap Syifa.


" Ssstth, jangan berisik, nanti ka Dewi marah" ucap Erika.


" Aku takut"


" Kita berdo'a saja mudah mudahan itu suranya bi Ratna" ucap Zahira.


" Tapi itu beneran suaranya Ibu"


" Mudah mudahan itu suaranya om ustad yang mirip ka Dewi"


Mereka masih setia bersembunyi di dalam bajunya Dewi. Dewi sudah menggeram kesal.


"Bocah bocah semprul, kalau sampai baju itu rusak, akan kutelan kalian hidup hidup" ancam Dewi.

__ADS_1


" AMPUUUUUUUUN"


__ADS_2