
Setelah Anisa pergi dari hotel, ia langsung pulang ke butiknya.
" Asalamualaikum" Anisa mengucap salam sambil terisak.
" Waalaikum salam"
" Nis kau beli martabaknya lama sekali, kau belinya di depan masjid nabawi ya" gerutu Elina. Tiba tiba Elina terdiam melihat sahabatnya itu datang sambil menangis.
" Nis kau kenapa?" tanya Elina sambil mendekatinya. Seketika Anisa langsung menjatuhkan dirinya hingga terduduk di lantai. Isak tangisnya mulai terdengar di ruangan butik itu.
" Nis, katakan padaku ada apa?" tanya Elina khawatir. Seketika Anisa langsung memeluk sahabatnya itu.
" Nis cerita dong Nis, jangan buat aku cemas begini" pinta Elina.
" Ibra"
" Kenapa sama si ustad pensiun itu?" tanya Elina.
" Dia jahat sama aku Lin"
Anisa masih sesegukan.
" Coba kau ceritakan, biar aku mengerti"
Anisa pun menceritakan kejadian yang menimpanya itu. Elina nampak terkejut seolah tak percaya apa yang telah dialami oleh Anisa.
" Kau yakin dia berbuat itu padamu?" tanya Elina.
" Buktinya kita berada di kamar hotel yang sama"
Tiba tiba Ibra datang dan mengetuk pintu butik itu.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum Nis. Nis buka pintunya aku mau jelasin, demi Allah Nis aku tidak berbuat apapun padamu, kumohon percayalah" ucap Ibra di depan pintu. Bukannya menjawab, Anisa malah berlari naik tangga menuju kamarnya. Tangisnya pecah di sana. Elina nampak bingung, siapa yang harus ia percayai. Perlahan Elina pun membuka pintu.
" Lin mana Anisa?" tanya Ibra panik.
" Kau tidak berbuat itu kan pada Anisa?" tanya Elina.
" Lin percayalah padaku, ada yang menjebaku" Ibra pun menceritakan kejadiannya pada Elina.
" Kau percaya padaku kan Lin?"
Elina malah terdiam, ia bingung harus percaya pada siapa.
" Sepertinya kau harus mempunyai bukti biar Nisa bisa percaya padamu" ucap Elina.
" Aku ingin bertemu dengan Nisa, kumohon, biar aku bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya"
" Sebaiknya kau pulang dulu, biar Nisa bisa istirahat, dia butuh sendiri, biar fikirannya bisa tenang" pinta Elina. Mau tidak mau Ibra pun pulang ke toko bukunya.
__ADS_1
Anisa sudah berbaring tengkurep, isak tangis sedikit menggema di kamarnya. Ia merasa kecewa dengan perbuatan Ibra yang menurutnya begitu jahat.
Perlahan Elina menghampirinya dan duduk disebelah Anisa.
" Nis"
" Dia jahat Lin. Aku benci sama Ibra, aku menyesal pernah menaruh hati padanya" tutur Anisa sambil sesegukan.
" Nis, biar semuanya jelas, lebih baik kita cek visum" pinta Elina. Anisa pun terdiam sambil menatap sahabatnya itu.
" Harus?"
" Hmmm"
Anisa dan Elina pun pergi ke rumah sakit di kota A. Seampainya di sana, mereka langsung mendaftar.
" Ada yang bisa saya bantu?" tanya petugas resepsionis.
" Sa saya mau cek visum" ucap Anisa sedikit ragu.
" Prihal?"
" Kekerasan seksual" jawab Anisa.
" Sudah lapor pada pihak yang berwajib?" Anisa pun terdiam lalu menggeleng.
" Sebaiknya anda melapor dulu kepada pihak kepolisian" ucap petugas itu.
" Anda hanya akan mendapatkan pemeriksaan medis, tanpa akan mendapatkan surat hasil visum"
" Tidak apa apa" jawab Anisa. Anisa masih bingung ia harus melaporkan Ibra atau tidak.
Kini Anisa pun di periksa fisik dan fsikisnya oleh dokter perempuan yang ada di sana.
" Untuk hasilnya, kira kira sekitar 2 hari, nanti saya hubungi lagi, dokter yang memeriksa mba Anisa tiba tiba terpleset dan pingsan" ucap sang perawat. Anisa pun mengangguk.
* * * * *
Ibra pun menceritakan kejadian itu pada Ustadzah Ulfi dan ustad Azam. Selaku kakak dan kakak iparnya. Ustadzah Ulfi nampak terkejut mendengarnya.
" Siapa yang mencoba memitnahmu Ibra?" tanya ustadzah Ulfi cemas.
Ibra memang menaruh curiga pada Syabil, namun ia tak mau menuduh tanpa bukti.
* * * * *
Saat itu Ibra baru pulang dari masjid, ia berjalan menuju toko bukunya. Tiba tiba ada Yudi dan Yuda menghadangnya di jalan.
" Waah wah wah, ustad Ibrahim, kenapa kau masih bisa berkeliaran bebas, Memangnya Nisa belum melaporkanmu ke polisi" ucap Yudi.
" Oh jadi kalian yang menjebaku?" tanya Ibra santai namun penuh penekanan.
__ADS_1
" Tebakanmu hebat ya, bisa tepat sasaran" ucap Yuda sambil tertawa.
" Untuk apa kalian menjebaku?" tanya Ibra.
" Tentu saja biar Nisa membencimu dan mau menikah dengan bos Syabil"
Ibra pun melangkahkan kakinya mendekat pada si kembar.
" Aku tanya apa yang kalian lakukan pada Anisa?" tanya Ibra dengan nada mengancam.
"Kami memang tidak berbuat apa apa, kami tidak menyentuhnya begitu pun bos Syabil, aku hanya melepaskan kerudungnya saja, kita hanya ingin kau yang dituduh berbuat seperti itu pada Anisa"
Darah Ibra seakan mendidih tangannya mengepal, emosi dan amarahnya meluap luap, hingga Ibra hilang kesadaran. Ibra langsung mencengkram rahangnya Yudi dan Yuda. Tangan kanannya mencengkram rahangnya Yudi dan tangan kirinya mencengkram rahang Yuda. Si kembar nampak ketakutan.
" Berani kau menyakiti Anisa atau bahkan kau menyentuh ujung rambutnya pun, kau akan berurusan denganku" ucap Ibra dengan marahnya.
" Ampun ampun sakit"
Yudi dan Yuda nampak begitu ketakutan. Bukan karna tubuh Ibra yang nampak lebih besar darinya, tapi lebih takut karna Ibra adalah mantan ketua berandalan yang dulu terkenal sadis dan mampu berbuat apapun pada musuhnya.
" Temui Nisa dan jelaskan semuanya" pinta Ibra tegas.
Tiba tiba seseorang memukul Ibra dari belakang.
Bhuuuuukh.
" Bos tolong kami" teriak Yudi dan Yuda.
Syabil memukul bahu Ibra menggunakan balok kayu. Bukannya sakit atau pingsan, Ibra malah menggeram darahnya benar benar mendidih, dirinya sedang dikuasai oleh emosi yang meluap luap hingga pukulan Syabil tak berasa sakit di tubuhnya. Syabil dan kedua anak buahnya nampak menganga. Seolah berfikir kalau tubuh Ibra sangatlah kebal. Ibra pun melepas cengkramannya dari rahang kedua anak buahnya Syabil dengan kasarnya hingga mereka terjatuh dan tersungkur.
" Awww" ringis si kembar.
Ibra langsung menatap Syabil menggeram dan memberikan tatapan menusuk. Syabil tiba tiba merasa ketakutan, ia berfikir sekuat apa Ibra hingga dipukul dengan balok pun ia tak berasa kesakitan. Tubuhnya tidak berasa sakit, yang sakit itu hatinya, ketika seseorang yang dicintainya diusik orang lain.
Ibra pun mendekati Syabil, tak bisa di bohongi Syabil nampak ketakutan, hingga ia melangkah mundur.
" Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Ibra dengan geramnya.
Syabil malah tertawa.
" Tentu saja biar Nisa membencimu, kudengar dia mempunyai janji padamu, dan kudengar juga dia tidak mau menepati janjinya. Ternyata nasibmu kurang beruntung ya Ibra kau tidak bisa mendapatkan sesuatu yang kau inginkan" ucap Syabil dengan nada mengejek.
" Kau tidak akan mendapatkan Nisa dengan cara kotor seperti itu, kau memang punya segalanya, tapi sayang kau tidak punya hati" ucap Ibra.
" Kata siapa aku tidak punya hati?, kalau aku tidak punya hati, aku pasti sudah menyentuh Nisa di hotel itu" ucap Syabil seoalah menantang. Ibra langsung mengepalkan tangannya.
BUUKH.
Satu pukulan berhasil membuat Syabil tersungkur. Ibra hilang kendali hingga ia memukul Syabil hingga terjatuh. Darah segar menetes di hidungnya Syabil, seketika Yudi dan Yuda langsung berlari membangunkan bosnya. Mereka tidak berani melawan karna memang percuma, ilmu bela diri Ibra sudah pasti bisa mengungguli 3 laki laki yang ada dihadapannya itu karna ilmu bela dirinya sudah dikuasai Ibra sejak dia remaja, tidak salah jika dirinya pernah menjadi ketua gank berandalan. Syabil hanya menggunakan otak liciknya untuk membalas Ibra.
" Ampuni aku ya Allah karna telah menyakiti saudara seimanku" batin Ibra saat melihat ketiga laki laki yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
" Sekali lagi kau menyakiti Anisa, aku tidak jamin kalian akan selamat" ucap Ibra sambil berlalu meninggalkan mereka.