Janji Anissa

Janji Anissa
Syifa oh Syifa


__ADS_3

Masih dengan mereka yang berkumpul di butiknya Anisa. Ustad Usman pun memberikan baju kokonya pada Anisa sebagai contoh, begitu juga dengan Aisyah yang memberikan bajunya Riziq.


Nisa istrinya ustad Usman pun di ukur


bersama ustadzah Ulfi.


" Suf, kau suka motip batiknya?" tanya Anisa.


" Suka tante, batiknya bagus" jawab Yusuf.


Tiba tiba Zahira mendekati Anisa.


" Ka, aku tidak mau kain satin sama brukat, aku mau kain batik kaya ka Yusuf" bisik Zahira.


" Tapi batik itu khusus laki laki" jawab Anisa.


" Tidak usah repot repot ka, buatkan saja si Ira, baju koko sama sarungnya" ucap Erika sedikit mengejek hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Wi, memangnya kau bikin baju seragam juga?" tanya ustad Usman.


" Tentu saja, nantikan aku sama bi Ratna akan jadi sexi konsumsi" jawab Dewi.


" Kau ngabisin bahan Wi, selain kau akan ngabisin bahan, kau pun pasti akan ngabisin makanan di perasmanan nanti" ucap ustad Usman hingga Dewi memicingkan matanya.


" Badanku kan cuma beda dikit sama si Ira, masa iya ngabisin bahan" gerutu Dewi.


" Iya beda dikit, cuma beda 4 kali lipat dari badannya si selebor"


Dewi kembali mengerucutkan bibirnya.


" Iya, badannya Ira kan kecil mungil kaya bakteri, pasti cuma membutuhkan bahannya sedikit saja" ucap Aisyah hingga Zahira mencubit pinggang kakak iparnya itu.


"Kenapa nyebut nyebut bakteri, ralat lagi, kecil, mungil, imut dan menggemaskan" tutur Zahira.


" Iya iya, adik iparnya ka Aisyah itu imut imut menggemaskan" ucap Aisyah pasrah hingga Zahira tersenyum senyum.


" Bukan menggemaskan, tapi menyebalkan" sambung ustad Usman hingga kini Zahira sudah cemberut kesal.


Aisyah pun berbisik pada Nisa kakak iparnya.


" Ka, tumben ka Usman bagi bagi rezeki?, dalam rangka apa kak?" tanya Aisyah.


" Kemarin ka Nisa habis USG, bayinya perempuan" jawab Nisa.


" Alhamdulilah, aku seneng dengernya" ucap Aisyah. Tiba tiba Syifa mendekati Anisa.


" Ka Anisa"


" Kenapa Syifa??" tanya Anisa.


" Kapan ka Anisa mau ngirim surat lagi sama ustad Ibrahim?" tanya Syifa. Anisa hanya mengernyitkan keningnya, sementara Elina sudah cekikikan tak bersuara.


" Nis, cepat kau buat surat untuk suamimu, kasian Syifa, sejak kau menikah, dia tidak punya penghasilan lagi" tutur Elina sambil tertawa tawa.


" Memangnya aku harus ngirim surat apa?, sekarang suamiku saja ada didepan mataku" jawab Anisa.


" Apa saja yang penting jadi surat" ucap Elina. Syifa masih berdiri dihadapannya Anisa dengan penuh harap. Mau tidak mau, Anisa pun mengambil bolpoin dan selembar kertas lalu menuliskan sesuatu di sana. Setelah selesai, Anisa pun memberikannya pada Syifa. Syifa pun tersenyum.


" Upetinya mana ka?" pinta Syifa.

__ADS_1


" Daun pandan???" tanya Anisa. Syifa pun mengangguk. Anisa pun memberikan uang 20.000 pada Syifa. Ibra hanya tersenyum saja melihat mereka.


" Terima kasih ka Anisa, aku akan mengirimnya tepat waktu" ucap Syifa sambil mendekati Ibra.


" Pasti tepat waktu, orangnya ada di depan mata" batin Anisa.


" Ustad Ibrahim, ada surat dari ka Anisa" ucap Syifa sambil memberikan surat itu.


" Terima kasih Syifa" ucap Ibra.


" Dibalas ya ustad" pinta Syifa penuh harap.


Aisyah langsung berbisik pada Dewi.


" Kelakuan putrimu Wi"


" Biarkan saja Aisyah, biar Syifa tau, cari uang itu tidak gampang, penuh perjuangan meski harus memutuskan urat malu" jawab Dewi hingga Aisyah mengernyitkan keningnya.


" Kau 11 12 dengan putrimu" gerutu Aisyah.


Ibra pun membuka kertas itu, iya pun tersenyum. Sementara Syifa masih berdiri dihadapannya Ibra berharap Ibra mau membalas surat dari istrinya itu. Isi surat itu tertulis.


: Heei ustad Preman, berbelas kasihlah pada gadis kecil yang ada dihadapanmu itu, beri dia uang 20.000. Setelah itu selesai. (Anisa):


Ibra pun membalas surat itu dan menulis sesuatu di balik kertas yang tadi, lalu diberikannya pada Syifa beserta uang 20.000.


Syifa pun tersenyum lalu berjalan menghampiri Anisa.


" Surat balasan datang" ucap Syifa.


Anisa pun menerimanya, padahal iya tidak minta dibalas.


" Ayo ka Anisa balas, balas lagi suratnya" ucap Syifa dengan sedikit memohon.


: AKU MENCINTAIMU. kutunggu nanti malam( Ibra):


Anisa ingin tersenyum namun iya tahan. Anisa pun mengambil kertas baru dan kembali menulis sesuatu, diberikannya pada Syifa beserta uangnya, Syifa pun bergegas menghampiri Ibra dan memberikan surat balasan itu.


" Jangan lupa di balas ya Ustad" ucap Syifa. Semua orang di sana malah asik menyaksikan bocah dibawah umur itu yang sedang mondar mandir menjadi tukang pos dadakan.


Ibra pun tersenyum.


: MODUUUUUS. (Anisa):


Ibra pun membalas kembali surat itu dan diberikannya pada Syifa beserta upetinya. Syifa pun berjalan berjingkrak jingkrak mendekati Anisa.


" Surat balasan datang lagi" ucap Syifa.


Anisa pun membacanya.


: Kutunggu Abim junior. ( Ibra):


Anisa pun terdiam sambil mengeryitkan keningnya. Lalu menatap Ibra yang kini sedang tersenyum sambil menundukan wajahnya. Anisa pun membalas kembali. Syifa pun kembali berjingkrak jingkrak menemui Ibra.


" Wi, ingin rasanya aku merantai kaki anakmu, biar dia bisa diam, aku cape melihatnya" ucap ustad Usman hingga Dewi memicingkan matanya.


" Kau jangan macam macam ya ustad, anaku sedang mencari nafkah" ucap Dewi.


" Keterlaluan kau mempekerjakan anak dibawah umur" gerutu ustad Usman.

__ADS_1


Ibra pun membuka kertas surat itu.


:Siapa Abim junior???????. ( Anisa):


Ibra kembali membalas. Syifa pun kembali berjingkrak jingkrak.


" Surat balasan datang lagi"


" Syifa sayang, kalau kakinya pegal ibu pijitin ya" ucap Dewi hingga Aisyah menepuk lengan sahabatnya itu.


" Anakmu materialistisnya kebangetan deh" gerutu Aisyah.


Anisa pun membaca kembali surat balasannya.


:Abim junior. Benih cinta kita yang suatu saat akan hadir di rahimu. (Ibra):


Anisa pun tersenyum sambil menunduk.


" Hadeuuuuh, kelakuan pasangan pengatin baru, tinggal teriak saja orangnya ada didepan mata, pake kirim kirim surat segala, kebanyakan duit mempekerjakan bocah dibawah umur. Jiwa lelakiku meronta ronta melihat si ustad preman kirim kirim surat pada istrinya, pengen meluk tinggal peluk, pengen bilang cinta tinggal ngomong. Hadeuuuuh, ini lagi anaknya si Dewi, ingin rasanya aku ambil tali terus kuikat kakinya biar gak berjingkrak jingkrak terus sedari tadi, pusing aku melihatnya" gerutu ustad Usman dalam hati.


" Ka Anisa ayo balas lagi" pinta Syifa.


" Sudah cukup ya Syifa, ka Anisa pegel nulisnya" jawab Anisa. Syifa pun mengangguk pasrah. Syifa pun mengibar ngibarkan uang 20.000 yang ada 8 lembar itu pada Zahira. 2 lembar dari ustad Usman, 3 lembar dari Anisa dan 3 lembarnya lagi dari Ibra.


" Alhamdulilah rezeki anak solehah, celengan semarnya pasti senyum senyum" ucap Syifa sambil menatap uang 160.000 itu.


"Syifa, celengan semarnya ka Ira adopsi ya" ucap Zahira.


" Gak boleh"


" Eh selebor, makanya jangan boros kalau punya uang, ditabung kaya Syifa" ucap Dewi.


" Ira itu nabung uangnya di perut" ucap Aisyah.


"Tabungan uang memang aku gak punya, tapi tabungan cinta untuk ka Yusuf sudah penuh bahkan melebihi tabungan semarnya punya Syifa hi hi hi" batin Zahira.


" Syifa, kau sangat pintar ya dalam hal mencari uang" ucap ustad Usman mengejek.


" Ka Usman jangan salah, Zahira juga sangat pintar" ucap Aisyah.


" Pintar apa si selebor????" tanya ustad Usman tak percaya.


" Tentu saja pintar dalam hal menghabiskan uang"


Semua nampak tertawa. Hingga Zahira menggeram.


-


-


-


-


-


-


**Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan semata, kalau ada perkataan atau perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, tolong jangan ditiru.

__ADS_1


Tidak ada niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapapun.


Terima kasih**.


__ADS_2