Janji Anissa

Janji Anissa
Penjagaan


__ADS_3

Pagi pagi sekali ustad Usman sudah menunggu Zahira di depan asrama, iya sudah menyuruh Syifa untuk memanggil Zahira keluar.


" Panggilkan si selebor keluar" suruh ustad Usman pada Syifa. Syifa hanya diam sambil menatap ustad Usman.


" Kenapa kau menatapku seperti itu?, jangan bilang kalau kau minta daun pandan padaku, jawabannya tuh banyak di belakang rumahnya bi Ratna" tutur ustad Usman hingga Syifa mengerucutkan bibirnya.


" Tidak usah cemberut begitu, cepat kau panggilkan Zahira keluar, aku ada perlu, tidak usah protes, usiamu masih 6 tahun, nanti kau akan tumbuh dewasa sebelum waktunya" tutur ustad Usman kembali hingga Syifa pergi ke dalam untuk menemui Zahira. Syifa sudah mengetuk pintu kamar dedemit alam gaib.


Tok tok tok.


" Ka Ira, buka pintunya"


Ceklek.


Elina membuka pintu kamar itu hingga Syifa terdiam melihat Elina pagi pagi sudah berada di asrama.


" Jangan bertanya apa apa, kau tidak akan mengerti dan jangan minta daun pandan padaku karna aku sedang ketakutan" tutur Elina hingga Syifa terdiam kebingungan.


" Kau cari apa Syifa?" tanya Erika.


" Cari ka Ira, ditunggu ustad Usman di depan" ucap Syifa.


Zahira pun mendekati.


" Om ustad mencariku?" tanya Zahira. Syifa pun mengangguk.


" Sepertinya ada bisnis dengan ka Ira" ucap Syifa kembali. Zahira pun mengangguk lalu menemui ustad Usman di depan asrama.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Om ustad mencariku?, apa sekarang ada les tambahan untuku?" tanya Zahira.


" Sebenarnya sih iya, tapi sekarang aku ada bisnis denganmu" jawab ustad Usman.


" Bisnis?, bisnis apa om ustad?" tanya Zahira kembali.


" Kau pasti sudah dengarkan kenapa Elina sampai tinggal di pesantren untuk sementara"


Zahira pun mengangguk.


" Karna terjadi pemberontakan di butiknya ka Anisa, jadi ka Elina ngumpet di sini" ucap Zahira.


" Pemberontakan??, bahasamu sudah seperti di zaman penjajahan saja" gerutu ustad Usman.


" Lalu apa bisnisnya?"


" Dengarkan aku, kau cukup duduk di depan gerbang pesantren" ucap ustad Usman.


" Cuma duduk doang?" tanya Zahira sedikit tak percaya.


" Hmmm"


" Tapi aku duduknya tidak telanjangkan?" tanya Zahira memastikan hingga ustad Usman mengernyitkan keningnya.


" Tentu saja, aku bukan menjadikanmu sebagai poto model dewasa, tapi aku menjadikanmu sebagai sekuriti multi fungsi dadakan" tutur ustad Usman.


" Sekuriti dadakan?"


" Hmmm, kau cukup duduk di depan gerbang pesantren dan awasi siapa saja yang keluar masuk pesantren, ingat kalau ada orang yang mencurigakan jangan biarkan masuk, apalagi yang memakai topeng, sudah pasti dia lelaki sial yang menculikmu dulu" tutur ustad Usman.


" Aku mau, tapi ngomong ngomong apa imbalan untuku?" tanya Zahira.


" Astaghfirullah Selebor, belum saja kerja kau sudah menanyakan soal imbalan" gerutu ustad Usman.


Zahira dan ustad Usman pun berjalan menuju gerbang utama pesantren, di sana sudah ada kursi dan meja yang sengaja di sediakan.


" Kau duduk di sini, ingat ya kalau ada orang yang mencurigakan, kau lapor padaku"


" Lapornya pakai apa?" tanya Zahira.


" Ya pakai hp, masa iya aku harus menyewa Syifa untuk jadi tukang pos" ucap ustad Usman. Zahira pun diberi pinjam hp untuk menghubungi ustad Usman jika ada sesuatu yang mencurigakan.


" Kau mengertikan Ira, jika ada sesuatu yang mencurigakan kau segera lapor padaku, tekan tombol merah nanti akan langsung terhubung denganku" tutur ustad Usman.


" Siap om ustad"


" Ya sudah aku pergi dulu, di post samping sudah ada pak Heru yang berjaga, kalau kau ingin ke kamar mandi, kau bisa gantian dengannya"


" Hmmm, tapi aku minta Dp nya dulu untuk tanda jadinya" pinta Zahira.


" Urusan imbalan saja kau tidak pernah lupa" gerutu ustad Usman sambil memberikan si merah pada Zahira.


" Sisanya kubayar nanti" ucap ustad Usman sambil berlalu pergi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"

__ADS_1


Zahira pun mencoba menekan tombol merah untuk menghubungi ustad Usman hingga ustad Usman segera berlari menghampirinya.


" Ada apa Ira?, apa sudah ada orang yang mencurigakan?" tanya Ustad Usman hingga Zahira tersenyum malu.


" Cuma ngetes doang om ustad, canggih ya cuma pencet tombol merah, om ustad langsung berlari mendekat" ucap Zahira


" Lain kali tidak usah ngetes ngetes segala" gerutu ustad Usman.


" Iya maaf om ustad"


Ustad Usman pun pergi kembali hingga Zahira memencet tombol merah untuk yang kedua kalinya, dan seketika itu pula ustad Usman berlari menghampiri kembali.


" Ada apa Ira?"


" Kalau ada tukang sayur masuk boleh tidak?" tanya Zahira.


" Yang sudah langganan suruh masuk, tapi kalau orang tidak di kenal periksa dulu"


Zahira pun mengangguk. Baru saja ustad Usman berjalan 3 langkah, Zahira sudah menekan tombol merah kembali hingga ustad Usman berbalik.


" Ada apa lagi selebor?"


Zahira malah cengengesan.


" Ngetes doang om ustad"


Ustad Usman langsung memicingkan matanya.


" Kau jangan macam macam ya, sekali lagi kau ngtes ngtes, kuikat dan kulempar kau ke sungai" gerutu ustad Usman.


" He he iya om ustad"


Ustad Usman pun pergi. Kini tinggalah Zahira duduk sendirian sambil memakai kaca mata hitam. Zahira terus menatap hp yang diberikan ustad Usman.


" Sayang sekali hp nya jadul jadi tidak bisa bikin konten, om ustad pelit uangnya banyak tapi beli hp zaman jebot, aiiiiih memalukan"


Zahira duduk santai sambil memandangi sekeliling depan pesantren. Tiba tiba datang ustad Rasyid dan Syakir yang baru pulang dari luar, iya terdiam melihat adik perempuannya itu sedang duduk di depan gerbang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Kau sedang apa duduk di sini Ira?" tanya ustad Rasyid.


" Aku sedang menjalankan misi kak" jawab Zahira. Syakir pun berbisik pada abinya.


" Bi, tante Ira sepertinya sedang kumat"


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Syakir, kau tidak mau menemani tante Ira di sini" ucap Zahira.


" Aku tidak mau jadi sekuriti, aku mau jadi pemimpin yang hebat" jawab Syakir sambil menyusul abinya.


" Punya keponakan 4 semuanya pada rese huuufh" gerutu Zahira.


Setelah pukul 11:15, matahari sudah bersinar lumayan panas membuat Zahira menggunakan payung sambil duduk. Tidak lama kemudian Dewi dan Syifa datang sambil membawa makan siang untuk Zahira.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ini ada makan siang dan beberapa cemilan untukmu dari ustad Usman" ucap Dewi.


" Hmmm terima kasih"


" Apa ada tanda tanda orang yang mencurigakan?" tanya Dewi. Zahira pun mengangguk.


" Benarkah???"


" Hmmmm"


" Seperti apa ciri cirinya?"


" Badannya lebaaaar, hobinya makan dan kalau berjalan ngalangin yang lain" jawab Zahira. Dewi yang mendengar pun langsung menggeram.


" Ha ha ha, ko ciri cirinya mirip ibu ya" ucap Syifa sambil tertawa.


" Kau menyebalkan selebor. Ayo Syifa kita ke kantin lagi" ajak Dewi.


" Ibu aku mau menemani ka Ira di sini"


" Ya sudah terserah, tapi kalau sudah azan zuhur, kau langsung pulang ya"


Syifa pun mengangguk. Baru beberapa langkah Dewi pun bertemu dengan ustad Usman.


" Kau sudah antar makan siangnya?" tanya ustad Usman.

__ADS_1


" Sudah"


" Bagaimana kerjanya si Zahira?"


" Jika dilihat lihat sih lumayan propesional, tapi kuperingatkan, jika Zahira bertemu Yusuf, buyar semua konsentrasinya, iya akan mendadak lupa dengan tugas tugasnya" tutur Dewi. Ustad Usman pun terdiam.


" Kau benar, aku akan menghalangi Yusuf untuk keluar pesantren hingga dia tidak akan bertemu Zahira di depan, kalau perlu akan ku ikat Yusuf biar tidak bertemu si selebor"


" Kalau Yusuf diikat, sudah pasti ustad Azam akan melempar ustad Usman ke sungai"


* * * * *


Setelah makan siang bersama Syifa, Zahira nampak kepanasan.


" Syifa, kau kipasin ka Ira ya"


Syifa hanya diam.


" Jangan banyak bengong, ayo kipasin, ka Ira kepanasan, nanti kau mendapatkan suatu kebaikan, akukan sedang berjuang menjaga keamanan pesantren" tutur Zahira.


" Nanti aku masuk surga tidak?" tanya Syifa.


" Mungkin"


Syifa pun mengipas ngipas Zahira dengan selembar kardus bekas. Tiba tiba Riziq dan Aisyah lewat dan heran melihat Zahira sedang duduk menggunakan payung dan kaca mata hitam sambil di kipas kipas oleh Syifa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Bocah semprul kau sedang apa duduk disini pake payung pula" tanya Riziq.


" Aku sedang berusaha menjadi benteng keamanan pesantren" jawab Zahira hinga Riziq dan Aisyah mengernyitkan kening masing masing.


" Le, warisanmu kenapa lagi?, apa dia sedang 5 L" bisik Aisyah.


" Apa 5 L??" tanya Riziq.


" Lemah, letih, lesu, lemah dan lunglai"


" Kalian bisik bisik apa sih?" tanya Zahira.


Riziq pun langsung menatap Zahira.


"Sekarang ka Riziq tanya?, untuk apa kau jadi sekuriti di sini?, dan siapa yang menyuruhmu"


" Aku ini adalah santri terpilih, sudah merupakan kebanggaan untuku bisa mengabdi di sini" ucap Zahira.


" Jawabnya jangan berbelit belit aku tidak mengerti" gerutu Riziq. Aisyah malah tertawa.


" Kalau tidak berbelit belit, bukan adikmu namanya" bisik Aisyah hingga Riziq memicingkan matanya pada Aisyah.


" Maaf Le"


Riziq pun menatap kembali adik perempuannya itu untuk meminta jawaban.


" Kemarin itu butiknya ka Anisa terjadi pemberontakan, sekarang pun ka Elina sedang ngumpet di sini, beberapa orang bilang itu adalah perbuatannya bos Syabil yang mau balas dendam pada ka Anisa dan ustad Ibrahim" tutur Zahira.


" Lalu siapa yang menyuruhmu untuk jadi keamanan di sini?" tanya Riziq.


" Om ustad"


" Uni kau panggil kakakmu ke sini aku mau bicara" pinta Riziq.


Saat Aisyah mau menghubungi ustad Usman, Zahira langsung melarangnya.


" Stop ka Aisyah, tidak usah repot repot, biar aku saja yang menghubunginya" ucap Zahira sambil menekan tombol merah di hape jadulnya. Seketika itu pula ustad Usman langsung berlari menghampirinya dengan sedikit panik.


" Mana Ira, orang yang mencurigakannya?" tanya ustad Usman.


Zahira pun menunjuk Riziq.


" Ustad Usman, kenapa menyuruh Ira untuk jadi sekuriti di sini?" tanya Riziq sedikit tak suka.


" Karna aku yakin Zahira mampu"


" Tapi ustad, adiku ini hanya seorang perempuan kecil yang baru berusia 16 tahun, bagaimana kalau penjahat itu mencelakainya" ucap Riziq. Ustad Usman malah tertawa.


" Ha ha ha, kau tidak perlu khawatir ustad Riziq, adikmu ini lain dari yang lain, aku yakin Ira bisa mengalahkan penjahat kelas kakap sekalipun dengan kecerdasan otaknya yang di bawah rata rata ini" tutur ustad Usman.


" Tapi kalau adiku di culik bagaimana?"


" Tidak akan ada yang berani menculiknya, para penculik akan mikir 1.000 x untuk menculik Zahira"


" Tapi pada kenyataannya Ira pernah diculik oleh anak buahnya Syabil" ucap Riziq.


" Dan pada kenyataannya lagi, Zahira dipulangkan tanpa tebusan apapun, penculiknya yang sial dan apes, mereka pasti akan kapok menculik Zahira untuk yang kedua kalinya"


Syifa pun berbisik pada Zahira.

__ADS_1


" Ka Ira, mereka itu sedang bicara apa sih aku tidak mengerti?"


" Ssssttth, anak kecil dilarang komen"


__ADS_2