Janji Anissa

Janji Anissa
Bertanya.


__ADS_3

Hari itu Ibra sudah membuat sarapan untuk Anisa. Beberapa sayuran dan lauk pauk. Anisa sudah duduk di meja makan. Ibra selalu setia menemani dan sedikit memanjakan istrinya. Anisa hanya diam saja karna iya tidak berselera makan. Perutnya yang sedari tadi mual membuat perutnya enggang dimasukan sesuatu.


" Ayo Sya, dimakan" pinta Ibra. Anisa hanya menggeleng.


" Kenapa?" tanya Ibra heran.


" Perutku mual Bim, selera makanku hilang" ucap Anisa.


" Tapi kau harus tetap makan biar pun sedikit, yang penting perutmu keisi" ucap Ibra kembali. Anisa malah kembali menggeleng.


" Makan ya sedikit saja, biar aku suapin"


" Nanti saja Bim, perutku benar benar mual, aku takut nanti pas dipaksa makan, aku muntah muntah" ucap Anisa hingga Ibra terdiam kebingungan. Ibra pun berniat menghubungi ustad Riziq untuk menanyakan sesuatu.


Saat hp Riziq bergetar, Riziq pun langsung menerimanya.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ada apa ustad, tumben menghubungiku?" ucap Riziq sedikit heran. Ibra pun terdiam dan sedikit bingung mau bertanya dari mana.


" Ustad Riziq boleh aku tanya sesuatu?" ucap Ibra.


" Hmmm, tentu saja, memangnya ustad Ibrahim mau tanya apa?" ucap Riziq.


" Maaf, kalau pertanyaanku ini sedikit kurang sopan. Aku ingin bertanya apa saat ka Aisyah hamil dulu, dia susah makan saat awal awal kehamilan?" tanya Ibra hingga Riziq tersenyum.


" Tidak apa apa ustad jika kau mau bertanya seperti itu. Dulu saat uni Aisyah hamil muda, iya juga sulit makan karna sering mual mual dan muntah muntah. Tapi ada yang nyaranin untuk minum susu ibu hamil. Tapi kalau bisa sih istrinya ustad Ibrahim harus dibujuk supaya mau makan. Dipaksain saja gitu maksudnya biar pun sedikit yang penting sering" tutur Riziq.


" Iya ustad Riziq terimakasih atas pemberitahuannya, saya suka bingung sendiri melihat istri susah makan. Takut terjadi apa apa" ucap Ibra. Riziq pun tersenyum.


" Ya sudah aku tutup dulu telponnya, terima kasih atas pemberitahuannya, asalamualaikum" Ibra pamit.


" Waalaikum salam"


Kini Ibra pun sudah membuatkan susu ibu hamil untuk Anisa. Di taruhnya satu gelas susu itu di atas meja, tepatnya di hadapannya Anisa.


" Diminum Sya" pinta Ibra.


Anisa hanya terdiam sambil menatap satu gelas susu itu.


" Aku tadi pagi pagi sekali sudah meminumnya. Dan rasanya itu sedikit hambar" ucap Anisa.


" Tapi yang kubuatkan itu susu ibu hamil rasa coklat, pasti sangat manis sepertimu"


Anisa kembali menggeleng.


" Ayolah Sya, sedikit saja minum. Aku tidak mau terjadi apa apa padamu dan bayi kita" tutur Ibra. Anisa pun terdiam lalu mengambil gelas itu.


" Sedikit saja ya Bim" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk. Perlahan Anisa pun meminumnya meskipun rasa susu itu terasa hambar di mulutnya. Mungkin efek mual yang sudah di ubun ubun.


" Sisa setengah Bim"


" Ya tidak apa apa, tapi harus sering ngemil juga ya"


" Hmmm"


Karna penasaran, Ibra pun menghubungi ustad Usman untuk menanyakan soal istrinya ustad Usman saat masa masa kehamilan mudanya. Saat hp nya bergetar, ustad Usman pun langsung mengernyitkan keningnya.


" Ngapain si preman pensiun ini menghubungiku, apa ada yang perlu penting?, atau jangan jangan dia mau bilang sayang lagi padaku seperti saat iya mengerjaiku dan Anisa dulu. Awas saja kalau dia berfikiran aku buah buahan (jeruk makan jeruk). batin ustad Usman.


" Asalamualaikum"


"Waalaikum salam"


" Ada apa ustad Ibrahim, tumben kau menghubungiku?" tanya ustad Usman.


" Aku ingin bertanya sesuatu pada ustad Usman tentang kehamilannya mba Nisa dulu" ucap Ibra. Ustad Usman pun terdiam.


" Untuk apa ustad Ibrahim menanyakan soal kehamilan istriku?, apa yang terjadi sama si Ani ya, apa dia ngidam yang aneh aneh lagi?" batin ustad Usman.


" Ya ustad, kau ingin menanyakan apa?"


" Aku hanya ingin tanya, saat istrinya ustad Usman hamil muda, apa dia susah makan?" tanya Ibra.


" Kenapa?, si Ani susah makan ya?" tanya balik ustad Usman.


" Hmmm"


" Dulu saat istriku hamil muda, soal makan sih biasa saja sama seperti saat dia tidak hamil. Normal normal saja. Cuma yang susah makan dan sering mual mual itu aku" jawab ustad Usman. Ibra yang mendengarpun langsung terdiam, rasanya ingin tertawa namun iya tahan.


" Oh yang mual sama muntah muntahnya ustad Usman ya?" tanya Ibra memastikan.


" Hmmm, tapi tidak usah tertawa. Sejak aku tau kalau hamil muda itu terkadang untuk sebagian ibu hamil itu sangat memprihatinkan, aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh perempuan hamil di saat masa masa kehamilan muda, terkadang mual, pagi pagi sudah muntah muntah, selera makan hilang. Sejak saat itu aku tau banyak sekali perjuangan dan pengorbanan seorang perempuan hamil. Sejak saat itu pula aku lebih menyayangi istriku. Karna banyak pengorbanan yang iya lakukan untuk anak kami, terutama saat dia hamil dan melahirkan" tutur ustad Usman.

__ADS_1


Ibra pun mengangguk ngangguk.


" Terima kasih atas penjelasannya ustad" ucap Ibra.


" Iya sama sama. Apa si Ani susah makan?" tanya ustad Usman.


" Hmmm, dia susah makan dan sering mual"


" Kalau istrimu masih susah untuk makan, jalan satu satunya agar dia mau makan ialah, kau taruh cerulit dileher istrimu. Bilang padanya, mau makan apa mau mati" ucap ustad Usman bercanda. Ibra yang mendengar pun langsung memicingkan matanya.


" Ustad, jangan sembarangan kalau kasih ide" gerutu Ibra hingga ustad Usman tertawa.


" Maaf ustad Ibrahim aku hanya bercanda. Kau tidak perlu khawatir, masa masa seperti itu sudah biasa, dan insya allah hanya sebentar. Mudah mudahan kehamilan istrimu lancar. Jadi nikmatilah masa masa awal kehamilan meskipun itu sangat sulit" tutur ustad Usman.


" Iya ustad"


" Muntah muntah itu hal biasa, kehamilannya kan masih muda. Beri saja dia susu ibu hamil" ustad Usman memberi saran.


" Ya terima kasih untuk sarannya. Saya tutup dulu ya telponnya, maaf sudah mengganggu. Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ibra pun menutup telponnya. Kini iya masih penasaran. Iya pun ingin menghubungi bi Ratna, namun tiba tiba iya baru teringat kalau bi Ratna itu tidak mempunyai seorang putra.


" Astaghfirullah, aku lupa kalau bi Ratna itu belum mempunyai seorang putra" gumam Ibra. Anisa hanya diam saja sambil memperhatikan suaminya itu. Terkadang iya tersenyum merasa lucu saat Ibra mulai penasaran dan bertanya tanya pada teman temannya.


Tiba tiba Ibra teringat dengan Dewi.


" Sepertinya aku harus bertanya pada ka Dewi. Siapa tau dia punya solusi"


Ibra pun langsung menghubungi Dewi. Seketika Dewi langsung menerima panggilan dari Ibra.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Maaf ka Dewi aku mengganggu. Aku hanya ingin bertanya sedikit pada ka Dewi" ucap Ibra.


" Ustad Ibrahim mau bertanya apa?" tanya Dewi.


" Begini ka. Anisa sekarang sering mual dan susah makan. Apa dulu ka Dewi juga seperti itu saat hamil?" tanya Ibra.


" Oh dulu aku saat hamil muda memang selera makan mulai berbeda. Cuma aku berbanding terbalik sama mba Anisa. Aku saat sebelum hamil, makanku sehari bisa 4 sampai 5 kali. Tapi saat aku hamil muda, selera makanku bertambah, yang tadi biasanya 4 sampai 5 kali makan menjadi 6 sampai 7 kali makan dalam sehari, apalagi soal ngemil, sudah jangan di tanya lagi" tutur Dewi. Ibra hanya diam sambil menganga, merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Dewi.


" 6 sampai 7 kali ya ka Dewi?" tanya Ibra kembali.


Ibra pun mengangguk.


" Iya ka Dewi. Terima kasih untuk penjelasannya. Saya tutup dulu ya asalamualaikum" ucap Ibra.


" Waalaikum salam"


Ibra pun kini sudah duduk dihadapan Anisa.


" Sudah puas tanya tanya nya?" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk.


" Katakan kau mau makan apa?, nanti kubuatkan" ucap Ibra. Anisa malah kembali menggeleng.


" Perutku masih mual, nanti kalau dipaksa di isi takutnya keluar semua" jawab Anisa. Ibra pun menganguk pasrah.


" Kalau kau ingin apa apa katakan saja padaku, aku pasti akan berusaha mewujudkannya" ucap Ibra.


" Benarkah?"


" Hmmm"


" Apapun???" tanya Anisa kembali.


" Hmmmm"


" Kesempatan yes yes yes" ( Anisa).


Anisa pun tersenyum senyum sendiri hingga Ibra menaruh curiga.


" Kau jangan minta yang macam macam" ucap Ibra. Anisa malah tertawa.


" Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan" ucap Ibra.


- - - - - - - - - -


Suatu ketika, Anisa pun menghubungi Ibra yang kini sedang mengajar.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"

__ADS_1


" Ada apa Sya menelponku?" tanya Ibra.


" Bim aku ingin buah jamblang" ucap Anisa. Ibra pun terdiam dan mulai mencerna keinginan istrinya itu.


" Buah jamblang?" tanya Ibra memastikan.


" Hmmm"


" Iya nanti kucarikan, tapi hari ini aku masih mengajar, bagaimana kalau aku titip sama ka Dewi, biasanya kan dia jam segini suka pergi ke pasar" ucap Ibra.


" Ya Bim, terserah. Yang penting buah jamblangnya ada"


Setelah pelajaran selesai, Ibra pun menemui Dewi yang kebetulan mau pergi ke pasar. Saat itu Dewi berjalan bersama Zahira.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ibra pun terdiam melihat Zahira.


" Ira kau di sini?, memangnya kau tidak mengikuti pelajaran?" tanya ustad Ibrahim.


"Aku sedang tidak enak badan ustad, ini aku baru pulang dari klinik" jawab Zahira sambil menunjukan obat yang diberikan oleh dokter Husna.


" Ira, kufikir bocah sepertimu tidak akan terserang sakit. Kufikir penyakit takut padamu" ucap Dewi ada nada mengejek dalam kalimatnya. Hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Aku kan juga manusia ka" ucap Zahira.


" Ka Dewi mau ke pasar?" tanya Ibra.


" Iya aku mau ke pasar, memangnya kenapa?" tanya balik Dewi.


" Boleh aku titip sesuatu?"


" Tentu, memangnya ustad Ibrahim mau titip apa?" tanya Dewi.


" Aku mau titip buah jambang. Kebetulan istriku ngidam pengen buah jamblang" ucap Ibra.


" Oh mba Anisa ngidam buah jamblang ya, nanti kalau nemu di pasar aku belikan" ucap Dewi.


" Buah jamblang itu yang warnanya hijau yang bentuknya mirip buah melon ya" ucap Zahira hingga Dewi mengernyitkan keningnya, sementara Ibra sudah tersenyum senyum.


" Itumah buah berenuk selebor" gerutu Dewi. Zahira pun langsung tersenyum malu.


" Biar aku saja yang belikan, aku ikut ke pasar ya ka Dewi" ucap Zahira.


" Nanti kau merepotkanku. Kalau kau hilang di pasar bagaimana?, nanti aku diomelin sama si berondong" ucap Dewi.


" Ka Riziq akan marah kalau dia tau, kalau dia tidak tau kan tidak akan marah"


" Sebaiknya jangan Ira, kaukan sedang sakit" ucap Ibra.


" Aku mendadak sembuh ustad" ucap Zahira. Zahira pun langsung menarik tangannya Dewi.


" Ayo ka Dewi kita ke pasar" ajak Zahira.


"Asalamulaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira dan Dewi pun pergi ke pasar untuk mencari buah jamblang.


" Nanti kalau si berondong marah, kau jangan bawa bawa aku ya" pinta Dewi.


" Tentu saja, untuk apa aku membawa bawa k Dewi. Berat tau"


-


'


-


-


'


-


-


-


Cerita ini di buat untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf.


Tidak ada sddikit pun niat dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun, baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2