Janji Anissa

Janji Anissa
Pindahan


__ADS_3

Pagi pagi Elina sudah pergi ke rumahnya ustadzah Ulfi dengan membawa sedikit barang barang Anisa yang ada di ruko. Hari ini tepatnya adalah hari dimana Ibra dan Anisa mau menempati rumah baru.


" Makasih ya Lin sudah mau ikut aku pindahan" ucap Anisa senang. Elina pun tersenyum.


" Tentu saja, masa sahabat pindahan aku gak ikut, ngomong ngomong ayahmu tau soal ini?" tanya Elina. Anisa pun mengangguk.


" Ayah tau, tapi dia tidak bisa datang ke sini, dia datangnya nanti acara walimatul ursy ku beberapa hari lagi" jawab Anisa. Elina pun mengangguk ngangguk. Ibra pun sudah berkemas baju baju ke dalam tas besar, begitu pun dengan Anisa. Barang barang pun hanya beberapa yang di bawa karna di rumah yang baru perabotannya sudah bisa di bilang lengkap.


" Masih ada lagi barang barang yang mau di bawa?" ucap ustadzah Ulfi.


" Ada mba, nanti aku keluarin" ucap Ibra, lalu membawa satu rak yang terbuat dari pelastik yang ukurannya cukup besar namun cukup ringan jika di bawa. Anisa sudah menaruh satu kotak besar berisi make upnya. Ibra juga menaruh baju seragam putih abu abunya untuk di bawa ke rumah baru. Tiba tiba datang Aisyah, Riziq dan ustad Usman bersama Dewi tidak lupa juga Adam dan Hawa ikut.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Duduk dulu kita ngopi ngopi" ucap ustadzah Ulfi. Mereka semua duduk di teras depan sambil menikmati kopi bersama sebelum berangkat ke rumah baru.


" Ustad Riziq, terima kasih sudah mengizinkan kami tinggal di rumah itu" ucap Ibra. Riziq pun tersenyum.


" Saya senang jika rumah itu ada yang menempati, jadi nanti ada yang mengurus." jawab Riziq.


Tidak lama kemudian datanglah Zahira bersama Erika, lalu di susul dengan Yusuf dan Hasan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira langsung menciumi keponakan keponakannya.


" Sayangnya tante Ira sini di peluk"


" Ira, Syifa gak ikut ke sini?" tanya Dewi.


" Hari ini aku belum bertemu Syifa, mungkin dia lagi gelendotan sama celengan semarnya" jawab Zahira.


" Jangan di suruh ikut, nanti dia malah minta upeti terus sama yang punya rumah baru. Putrimu itu kan mata duitannya naudzubilah" tutur ustad Usman. Dewi pun langsung mengerucutkan bibirnya.


" Sama kaya ibunya mata duitan" tambah Aisyah. Dewi semakin cemberut hingga iya mengambil beberapa cemilan dan di masukannya ke dalam mulutnya hingga penuh.


" Nyebut Wi nyebut, lama lama piring sama gelasnya juga kau masukan kedalam mulut" gerutu Aisyah.


" Ani, kalau kau butuh spring bed cadangan, kau tidak perlu repot repot pergi ke pasar untuk membelinya, cukup kau suruh dewi rebahan di rumahmu, badannyakan lebar selebar spring bed" ucap ustad Usman bercanda hingga Dewi memicingkan matanya.


Sementara yang lain sudah tertawa tawa."


" Kau jangan macam macam ya ustad" gerutu Dewi.


" Yang sabar ya Wi" ucap Aisyah sambil mengelus pundak lebarnya Dewi. Dewi pun mengangguk pasrah.


" Aku sudah berusaha diet Aisyah, tapi cacing cacing dalam perutku suka demo, mereka protes kalau aku diet. Katanya mereka gak kebagian jatah makan" tutur Dewi.


" Sakarepmu, asal kau jangan makan Zahira saja"


" Aku tidak akan memakan Zahira, adik iparmu itu pahit" ucap Dewi hingga Zahira memicingkan matanya.


" Di kira aku empedu pahit" gerutu Zahira.


Setelah ngopi ngopi selesai, mereka pun bersiap pergi ke rumah baru. Masing masing sudah membawa beberapa perabotan yang akan di bawa ke rumah baru.


" Bismilahirahmanirahim"


Mereka pun berdo'a dulu sebelum berangkat.


Ibra sudah membawa tas besar yang berisi baju bajunya dan Anisa yang iya taruh di pundaknya. Sementara Anisa sudah membawa satu kotak besar berisi alat alat make upnya, lalu Zahira dan Erika sudah membawa buku buku Ibra, Riziq hanya membawa Ember kosong, lalu Yusuf dan Hasan membawa rak buku yang besar namun sangan ringan jika di bawa. Ustad Usman membawa baju seragam putih abu abu yang penuh dengan coretan. Ustadzah Ulfi dan ustad Azam memebantu membawa beberapa barang. Mereka pun berjalan beramai ramai menuju rumah baru. Ustad Usman mengernyitkan keningnya melihat Dewi tidak membawa barang.


" Wi, kenapa kau tidak membawa barang, badanmu kan paling besar di sini" ucap ustad Usman.


" Jangankan membawa barang, membawa badanku saja sudah berat" jawab Dewi.


" Kebanyakan dosa kau Wi"

__ADS_1


Dewi langsung memicingkan matanya. Ustad Usman pun menatap baju seragam yang iya bawa.


" Aku masih heran, kenapa ustad Ibrahim masih menyimpan baju seragam putih abu abu ini, di pajang pula, mending kalau bajunya masih bagus, inimah udah robek"


" Mungkin itu banyak kenangannya ustad, makanya masih di simpan. Itu di dadanya ada nana Anisa yang tertulis" tunjuk Dewi.


" Berarti si Ani sama ustad Ibrahim itu CLBK ya" ucap ustad Usman.


"Apa CLBK???" tanya Dewi.


" Norak kau Wi, itu saja tidak tau, itu artinya cinta lama bersemi kembali" tutur ustad Usman.


" Ooooh, kufikir CILOK LONTONG BATAGOR KETOPRAK" jawab Dewi hingga ustad Usman langsung mengernyitkan keningnya.


" Otakmu isinya makanan semua" gerutu ustad Usman. Tiba tiba dari kejauhan Syifa melihat mereka, iya pun berlari menghampiri.


" Ibu, ibu mau kemana ko rame rame?" tanya Syifa.


" Kita semua lagi melakukan pawai ke rumahnya ustad Ibrahim yang baru"


" Ko mau ikutan pawai gak bawa obor, malah bawa perabotan rumah?" tanya Syifa.


" Ssstth, jangan banyak bicara ayo ikut saja, nanti kita akan dapat makanan geratis"


Syifa pun mengangguk dan ikut rombongan.


Zahira pun mendekati Yusuf yang sedang berjalan menjinjing rak bersama Hasan. Zahira berdiri di belakang Hasan.


" Sst ssst sst"


Zahira memberi kode pada Hasan hingga Hasan menengokan kepalanya menatap Zahira.


" Tukar posisi" ucap Zahira.


" Apa??" tanya Hasan tak mengerti.


Tanpa bicara Zahira pun memberikan buku buku yang di bawanya pada Hasan dan mengambil Alih rak itu dari tangannya Hasan. Kini Yusuf dan Zahira lah yang membawa rak itu berdua. Zahira sudah tersenyum senyum malu. Sementara Yusuf pun tersenyum sambil menundukan kepalanya.


Riziq yang melihatpun langsung memicingkan matanya, lalu berjalan mendekati Yusuf dan mencolek lengan Yusuf. Yusuf pun langsung menatap Riziq yang kini sudah mengedipkan mata padanya. Yusuf yang mengertipun langsung melepaskan rak itu dari tangannya dan menggantinya dengan ember kosong yang di bawa oleh Riziq. Kini Riziq lah yang membawa rak itu bersama Zahira. Zahira hanya menunduk sambil tersenyum senyum, namun saat iya menatap ke depan, iya terkejut melihat Yusuf sedang berjalan di depannya sambil membawa ember.


" Kalau itu ka Yusuf, lalu yang di sebelahku siapa????, jangan bilang kalau yang di sebelahku itu si berondong" batin Zahira takut.


" Ehem"


Riziq berdehem.


"Tuh kan beneran si berondong. Habislah aku" batin Zahira. Zahira tak mau menengok ke sebelahnya hingga Riziq berdehem kembali.


" Ehem"


" Ehem juga" jawab Zahira sambil menatap ke arah lain.


" Bocah sempruuuuul" panggil Riziq.


Zahira pun memberanikan menatap kakaknya itu sambil melemparkan senyuman imut menggemaskan.


" Kau jangan macam macam ya, sekali lagi aku lihat kau genit genit pada Yusuf, kupotong uang jajanmu" ancam Riziq. Zahira pun mengangguk pasrah. Hasan yang ada di belakang Riziq pun langsung tertawa tawa, hingga Zahira menatapnya dengan tatapan menusuk dan mengerikan. Hasan langsung bergidik ngeri, iya pun berlari ke depan mendekati Yusuf.


" Kenapa kau lari lari?" tanya Yusuf.


" Si Ira mengeluarkan jurus andalannya, yaitu tatapan menusuk mengerikan. Begitu tajam seperti belati, aku takut" ucap Hasan sambil bergidik ngeri. Yusuf hanya tersenyum saja.


Ustad Usman pun mendekati Aisyah, lalu berbisik.


" Kau lihat suamimu yang berondong itu, badannya yang tinggi besar malah asik bergotong ria membawa rak yang ringan bersama si selebor. Memalukan" ucap ustad Usman sedikit mengejek. Aisyah langsung memicingkan matanya pada kakaknya itu.


" Ka Usman berisik deh, sendirinya cuma bawa baju seragam yang di coret coret doang, bukankah itu lebih memalukan" jawab Aisyah lalu mendekati Riziq.


" Le, memangnya itu rak beratnya berapa kuwintal sampai kau harus gotong royong sama Ira" ucap Aisyah. Riziq pun tersenyum malu.


" Ira kau lepas raknya" pinta Riziq. Zahira pun menurut melepaskan raknya. Lalu rak itu di angkat dan di taruh di pundaknya Riziq.

__ADS_1


" Uni, kau mau kugendong?, sini nempel di punggungku" ucap Riziq sambil tersenyum senyum hingga Aisyah mencubit pinggang suaminya itu.


" Jangan menggodaku di tengah jalan, banyak anak anak" ucap Aisyah.


" Geli aku dengarnya" batin Zahira.


" Aku yang mau di gendong ka" ucap Zahira pada Riziq.


" Sini ku gendong, nanti kalau lewat jembatan, kubanting kau ke sungai" ucap Riziq. Aisyah sudah tertawa sementara Zahira sudah mengerucutkan bibirnya.


Sesampainya di rumah baru.


" Alhamdulilah sampai"


" Asalamualaikum"


Mereka mengucap salam berbarengan. Tidak lupa Ibra pun mengucap do'a sebelum masuk ke rumah itu. Setelah itu mereka pun masuk. Dilihatnya rumah itu sudah rapih dan bersih.


" Waah rumahnya nyaman ya"


Riziq pun terdiam hingga Aisyah mendekatinya.


" Kenapa Le?, kau rindu sama umi Fadlun?"


Riziq pun mengangguk.


Ustad Usman pun melihat lihat ruangan rumah itu.


" Ini rumah sudah lama tidak di tempati, yakin tidak akan ada penghuni lain yang ikut menempati" ucap ustad Usman.


" Jangan menakutiku" ucap Anisa.


" Wi, coba kau terawang, di sini ada teman temanmu tidak?" ucap ustad Usman.


" Siapa teman temanku?"


" Dedemit sama wewe gombel"


Seketika Dewi langsung menggeram kesal. Tiba tiba ustad Usman menakuti Dewi.


" Hi hi hi hi hi"


Dewi yang ketakutan pun langsung memeluk erat Zahira.


" Huaaaaaaaa, engaaaap" teriak Zahira hingga Aisyah memukul pundaknya Dewi.


" Kau mau membunuh adik iparku" gerutu Aisyah.


" Kakakmu menakutiku" jawab Dewi sambil melepaskan pelukannya. Aisyah langsung memicingkan matanya pada ustad Usman.


Kini mereka pun membantu berberes beres di rumah barunya Ibra dan Anisa.


" Kau senang?" tanya Ibra pada Anisa.


Anisa pun mengangguk tersenyum.


" Terima kasih Bim"


-


-


-


-


-


-


*Cerita ini di buat hanya untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf, dan harap jangan di tiru. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyinggung atau merendahkan siapapun, apapun. Ambil positifnya saja.

__ADS_1


Terima kasih*.


__ADS_2