Janji Anissa

Janji Anissa
Penjahat bertopeng


__ADS_3

Masih di hari yang sama, Anisa berjalan menuju asrama setelah iya ngobrol ngobrol bersama Zahira di depan gerbang. Setelah sampai di asrama, Anisa pun langsung masuk ke kamar dedemit.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa langsung membuka pintu, dilihatnya Elina sedang ngobrol ngobrol bersama Erika, sementara ada Syifa yang telah tidur pulas di ranjangnya Zahira.


" Heei Nis" ucap Elina.


" Bagaimana, kau betah tinggal di sini?" tanya Anisa.


" Ya lumayan, tidak begitu membuatku pusing meskipun saat mau tidur aku harus mendengar ocehan si bocah selebor itu, dia setiap waktu selalu menyebutkan nama calon imamnya, curhat curhat tidak jelas, meski kadang membuatku migren, tapi setidaknya aku merasa aman di sini. Benar kata ustad Usman, jangankan serangan penjahat, serangan penyakit dan Hama pun akan terhindar kalau dekat si Ira" tutur Elina. Anisa malah tertawa.


" Sekarang dia sedang jadi sekuriti dadakan di depan" ucap Anisa.


" Biarkan saja jangan diganggu, kuping sama otaku ingin istirahat sekarang"


Anisa pun menatap Syifa yang tertidur pulas.


" Semalam dia menginap di sini?" tanya Anisa.


" Tidak, dia tidur bersama teman teman seumurannya"


" Lucu ya, anak sekecil itu sudah tau arti kata uang" ucap Anisa sambil tertawa kecil.


" Oh iya Nis, mulai besok kan kita tidak punya kegiatan di butik, aku sudah menyusun rencanaku sendiri biar tidak bosan berada di pesantren ini" ucap Elina.


" Maksudmu?"


" Aku akan mencari kegiatanku di sini, pertama aku ingin mengantar dan ikut memperhatikan bagaimana Zahira sama Erika belajar di kelas, bukankah itu sangat menyenangkan, apalagi melihat Zahira belajar di kelas istimewanya" tutur Elina. Anisa hanya tersenyum.


" Lalu aku ingin melihat dan memperhatikan kalau perlu membantu bi Ratna di kantin, sekalian aku mau belajar masak, setelah itu aku ingin melihat kegiatan para ustad di perkebunan, dan kalau ada waktu senggang lagi, ingin rasanya aku ngintip ngintip ka Aisyah sama ustad Riziq" ucap Elina kembali.


" Banyak sekali kegiatanmu, emangnya kau tidak takut bintitan kalau intip intip ka Aisyah" ucap Anisa.


" Aku hanya penasaran, siapa tau nanti kalau aku nikah, aku bisa mencontoh mereka" jawab Elina.


" Kenapa kau tidak mau mengintipku, aku juga tidak kalah romantis dengan ka Aisyah dan ustad Riziq" ucap Anisa hingga Elina tertawa terbahak bahak.


" Ha ha ha ha, aku mengintipmu???" tanya Elina memastikan. Anisa pun mengangguk ngangguk hingga Elina kembali tertawa.


" Apa aku tidak salah mendengarnya?"


" Kenapa memangnya?" tanya Anisa.


" Tidak mau, selain takut pada suamimu, kalian ini masih belum bisa dikatakan sebagai pasangan romantis, kau masih suka menggerutu pada suamimu itu, Ibra tidak pernah terlihat bersikap romantis padamu" ucap Elina hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


" Memangnya aku harus pamer pamer kemesraan" gerutu Anisa.


" Ha ha ha, aku tanya, apa pernah suamimu itu bersikap romantis, atau sekedar bilang sayang padamu?, memanggilmu saja dia Isya, dan kau memanggilnya Abim, tidak romantis" ucap Elina, ada sedikit nada mengejek dalam ucapannya hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


" Panggilan Isya itu ada artinya, kata dia Isya itu adalah waktu menjelang malam setelah lenyapnya sinar merah di ufuk barat, yang artinya waktu senja" ucap Anisa.


" Benarkah???"


" Hmmm"


" Lalu Abim artinya apa?" tanya Elina kembali.


" Katanya menurut studi numerologi, nama Abim mempunyai kepribadian analistis, memahami pengetahuan, senang belajar, bermeditasi, penuh kesadaran" ucap Anisa.


Elina pun terdiam lalu menatap Anisa.


" Apakah penjelasanmu itu adalah suatu rumus?"


" Tentu saja semua itu adalah penjelasan dari suamiku" jawab Anisa.

__ADS_1


" Dan kau percaya?"


Anisa malah mengangkat kedua bahunya.


" Apa benar ya Ibra itu bukan tipe suami romantis, dia jarang merayuku, sesekalinya merayu, dia langsung membantingku ke atas ranjang" batin Anisa.


" Nis jalan jalan yu, aku bosan di asrama terus" ajak Elina. Anisa pun mengangguk.


" Dek, kau mau ikut ga kita ke tepi perkebunan yu" ajak Anisa.


" Aku lagi pengen di kamar saja ka, kasian juga Syifa kalau ditinggal sendirian di kamar" jawab Erika.


" Ya sudah tidak apa apa"


Anisa dan Elina pun pergi menuju tepi perkebunan. Dilihatnya di tepi perkebunan sudah ada Aisyah dan Dewi yang sedang duduk di kursi bambu, sementara Adam dan Hawa sedang berlarian di sana.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Aisyah pun tersenyum lalu bergeser tempat duduk, sengaja biar Anisa dan Elina ikut duduk.


" Ka gak apa apa kan kalau kita ikut gabung di sini" ucap Anisa.


" Tentu saja boleh" jawab Aisyah.


" Kalian sering ke sini?" tanya Elina.


Aisyah pun mengangguk.


" Biasanya kalau sore tiba, kita sering ke sini nyari angin, sekalian memantau suami yang sedang bercocok tanam" ucap Aisyah sambil menunjuk Riziq yang sedang berada di perkebunan bersama ustad Usman dan kiyai Husen.


" Bukan bercocok tanam Aisyah, tapi bercocok cabe, he he. Si berondongkan hobinya nanem cabe" ucap Dewi.


Mereka pun duduk bersama sambil memandangi perkebunan yang luas itu.


" Ka Dewi, akukan di sini gak punya kegiatan, nanti boleh tidak ikut membantu di kantin bi Ratna, sekali sekali saja, tidak apa apa tidak dibayar juga, aku ingin merasakan melihat para santri putri berlari larian keluar kelas lalu berlomba ke kantinnya bi Ratna, waaah pasti sangat senang ya" tutur Elina.


Tiba tiba Adam dan Hawa berlari mendekati Aisyah lalu memeluknya. Anisa pun tersenyum melihat putra putrinya Aisyah yang begitu nampak lucu dan menggemaskan.


" Haai Hawa" sapa Anisa sambil mencubit gemas pipinya Hawa.


" Sudah ada program kehamilan Nis?" tanya Aisyah. Anisa pun menggeleng.


" Tidak apa apa, yang sabar saja, nanti juga dikasih sama Allah, mungkin sekarang belum saatnya, apalagi usia pernikahan kalian kan masih terbilang muda" tutur Aisyah. Anisa pun mengangguk.


" Tapi kadang suka kepikiran ka, saat suami nanyain sudah isi apa belum, dan sepertinya suamiku benar benar sudah nenginginkan seorang anak yang akan jadi pelita dalam keluarga kecil kami" jawab Anisa. Aisyah pun tersenyum.


" Cepat atau lambat, insya allah, allah pasti kasih. Semoga kalian selalu sabar" ucap Aisyah.


" Amiin"


"Banyakin makan toge Nis, biar subur" ucap Dewi.


Glek.


Anisa menelan ludahnya kasar setelah mendengar nama toge. Entah kenapa iya suka merasa mual melihat atau mendengar nama sayur itu, mungkin karna iya ada alergi dengan toge. Tiba tiba mereka semua terdiam melihat ustad Usman berlari tergesa gesa meninggalkan perkebunan.


" Itu ustad Usman kenapa lari tergesa gesa seperti itu?" ucap Elina.


" Jangan jangan istrinya mau melahirkan" tebak Dewi.


" Sepertinya itu perbuatan adik iparku. Ira pasti menekan tombol merah yang di berikan ka Usman untuk memanggilnya dalam keadaan darurat" tutur Aisyah.


" Jangan jangan di depan gerbang ada Syabil, makanya Ira memanggil ustad Usman" ucap Anisa takut. Semua pun terdiam lalu segera berlari ke depan pesantren untuk menemui Zahira. Mereka nampak khawatir dengan bocah selebor itu.


" Aisyah, Adam sama Hawa ketinggalan" ucap Dewi.

__ADS_1


" Astaghfirullah"


Aisyah berbalik dan langsung menggendong Adam.


" Wi, coba kau gendong Hawa" pinta Aisyah.


" Maaf Aisyah, aku tidak kuat kalau harus lari lari sambil gendong Hawa"


" Biar aku saja" ucap Anisa lalu langsung membawa Hawa dalam gendongannya. Mereka pun berlari kembali hingga sampai di depan gerbang pesantren bersamaan dengan datangnya ustad Usman.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


" Ira kau tidak apa apa?" tanya Aisyah begitu khawatir.


" Mana penjahat bertopengnya?" tanya ustad Usman sambil mencari cari.


" Ituuuu" tunjuk Zahira pada laki laki yang memakai baju kebesaran dan topeng sambil membawa gendang kecil.


" Astaghfirullah"


Semua nampak menganga melihatnya. Dewi dan Elina sudah cekikikan sementara ustad Usman sudah menggeram pada Zahira.


" Eh selebor, itu namanya topeng kedok menyon, laki laki itu sedang mencari uang dengan cara berkeliling keliling lalu memukul gendang kecilnya" tutur ustad Usman.


" Oh berarti dia bukan penjahat bertopeng ya" ucap Zahira malu.


" Aisyah, kau ambil air mendidih, kau kompres adik iparmu ini, sepertinya dia sedang meriang" ucap ustad Usman hingga Zahira cemberut kesal. Anisa dan Elina sudah tertawa tawa.


" Om ustad menyebalkan" gerutu Zahira.


Ustad Usman pun memanggil si bapak yang bertopeng itu.


" Pak sini"


Si bapak itu pun langsung menghampiri. Dan ustad Usman pun memberikan si ungu pada bapak bapak bertopeng itu.


" Terima kasih pak" ucap si bapak itu.


" Om ustad pelit sekali masa cuma kasih 10.000 doang, katanya uangnya sudah menumpuk di bawah tempat tidur" ucap Zahira.


" Sssttth, jangan berisik, nanti aku di incar maling" bisik ustad Usman.


" Ya sudah kalau begitu tambah lagi uangnya, kasian, pasti si bapak ini punya anaknya 6, mereka pada merengek minta jajan" tutur Zahira sok tau.


" Jangan sok tau" gerutu ustad Usman.


" Pak punya berapa anak di rumah?" tanya ustad Usman. Si bapak itu pun malah tersenyum senyum di balik topengnya.


" Kebetulan saya belum punya anak, saya belum menikah" ucap si bapak.


Semua nampak cekikikan tak bersuara.


" Tuh kan selebor kau sok tau, kau bilang dia punya anak 6, kenyataannya jangankan anak, istri saja dia belum punya"


Zahira sudah tersenyum malu. Hingga si bapak itu berpamitan.


" Terima kasih semuanya saya permisi" ucap si bapak sambil melangkah pergi.


" Tunggu pak" panggil ustad Usman.


Si bapak itu pun berbalik menghadap ustad Usman.


" Bapak masih jomblo?" tanya ustad Usman.


Si bapak itu pun mengangguk.

__ADS_1


" Kebetulan sekali pak di sini juga ada yang masih jomblo" ucap ustad Usman. Seketika Elina melirik ustad Usman sambil menggeram. Anisa sudah tertawa tawa sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


" Yang sabar ya Lin"


__ADS_2