
Anisa masih penasaran dengan surat terakhir yang didapatnya. Yaitu: Suatu saat aku akan menagih sesuatu padamu. kata kata itu terus terngiang ngiang di fikirannya.
" Nis jangan terlalu difikirkan, mungkin itu cuma orang iseng" ucap Elina. Anisa pun mencoba berfikir seperti itu.
" Ini udah sore ayo kita pulang" ajak Elina. Anisa pun mengangguk.
" De kita pulang dulu ya, besok atau lusa nanti kaka kesini lagi" ucap Anisa.
" Iya ka"
" Ira, ka Nisa titip Erika ya, bertemanlah dengan baik, insya allah Erika tidak akan mengganggu calon imamu"
Zahira pun mengangguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati ka"
Anisa pun mengangguk, sebelum pergi, Anisa pun mencium kepala adik perempuannya itu yang masih terbalut dengan jilbab. Anisa pergi dengan membawa 3 lembar surat dari si preman pensiun. Mereka pun berjalan menuju parkiran. Tiba tiba mereka bertemu dengan ustad Usman, putra keduanya kiyai Husen pemilik pesantren.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman terdiam saat menatap mereka, karna ini pertama kalinya mereka bertemu.
" Kalian santri baru di sini?" tanya ustad Usman. Anisa dan Elina langsung mengeryitkan kening masing masing.
" Bukan" jawab Anisa.
" Kalau kalian bukan santri baru, berarti kalian ini adalah orang tua santri di sini ya?" tanya ustad Usman kembali. Anisa dan Elina mengeryitkan kening mereka kembali.
" Maaf kami bukan santri baru di sini, bukan pula orang tua santri. Kami dari Jakarta, adik saya Erika baru masuk pesantren tadi pagi. Saya Anisa dan ini Elina teman saya" tutur Anisa memperkenalkan. Ustad Usman pun mengangguk.
" Saya ustad Usman, saya salah satu pengajar di sini"
Anisa dan Elina pun mengangguk.
" Oh iya Ani, kalau boleh tau berapa usia adikmu?" tanya ustad Usman. Bukannya menjawab, Anisa malah mengeryitkan keningnya merasa heran karna ustad Usman memanggilnya Ani. Sementara Elina sudah cekikikan.
" Kenapa ustad memanggil saya Ani?" tanya Anisa heran.
" Namamu Anisa kan?, aku hanya memanggil nama depanmu saja" ucap ustad Usman. Tiba tiba Elina berbisik pada Anisa.
" Mungkin dia berasa ROMA IRAMA kali panggil kamu Ani" bisik Elina.
" Semua orang yang kenal saya memanggil Nisa, bukan Ani" ucap Nisa.
" Nisa itu nama istri saya, kalau saya memanggilmu Nisa, nanti istri saya juga ikutan nengok" ucap ustad Usman. Anisa dan Elina malah saling lirik.
__ADS_1
" Kepalaku mulai migren Nis" ucap Elina sambil memegangi kepalanya.
" Kalau boleh tau siapa nama lengkap istrinya ustad?" tanya Anisa.
" Tifana Nisa kamila" jawab ustad Usman.
" Dan namaku Anisa Maharani. Kalau begitu ustad pangil saja istrinya dengan sebutan Tifana, jangan Nisa" ucap Anisa.
" Istriku tidak mau aku panggil Tifana"
" Ya sudah, ustad kalau ada waktu pergilah ke pasar beli bubur warna merah, bubur warna kuning dan bubur warna hijau" tutur Anisa.
" Untuk apa saya beli bubur berwarna pelangi seperti itu?" tanya ustad Usman tak mengerti.
" Untuk mengganti nama istrinya" jawab Anisa. Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya.
" Memangnya saya harus mengganti nama apa?"
" Ganti saja dengan Tifana Julaeha kamila, lalu panggilannya Leha, baguskan?" ucap Nisa. Ustad Usman malah terdiam kebingungan.
" Sebenarnya yang gila itu saya apa mereka" batin ustad Usman.
" Nanti saya bicarakan dengan istri saya, kebetulan istri saya sedang hamil. Tapi ngomong ngomong usia adikmu berapa tahun?" tanya ustad Usman.
" Erika berusia 16 tahun"
" Terlambat" ucap Elina.
" Terlambat kenapa?"
" Itu bocah ingusan sudah membuat kami pusing 7 keliling, dia sudah mengajak kami berputar putar mengelilingi dunia, berjalan kaki di Eropa, terbang di langit ke tujuh, berjingkrak jingkrak di atas kapal Titanik, dan yang teakhir dia mengajak kami ke kutub utara untuk berkenalan dengan beruang kutub. Si Zahira itu sudah membuat kepalaku pecah berkeping keping, aku sudah meminum obat migren 3 butir" tutur Elina.
" Kasian sekali kalian" ucap ustad Usman.
" Ustad, boleh saya tanya sesuatu?" ucap Anisa.
" Mau tanya apa?"
" Ustad kenal tidak dengan yang namanya Ibrahim?" tanya Anisa kembali.
" Ibrahim?"
" Hmmm" Anisa mengangguk ngangguk.
" Ibrahim Husen itu nama abiku. Dia pemilik pesantren ini, kenapa kau bertanya tentang abiku?"
Anisa dan Elina malah saling lirik seolah tak percaya dengan jawaban yang di berikan laki laki yang ada dihadapan mereka itu.
" Kalau boleh tau usianya sekarang berapa ya?" tanya Anisa penasaran.
__ADS_1
" Abiku usianya sekarang menginjak 68 tahun anaknya 3 dan cucunya 5 sebentar lagi akan nambah cucu setelah istriku melahirkan. Ada urusan apa kalian bertanya tanya tentang abiku?, jangan bilang kalau kalian menaruh hati pada abiku ya, hati hati umi ku kalau sedang cemburu, dia lebih garang dari ka Ros" tutur ustad Usman.
" Siapa ka Ros?" bisik Anisa.
" Dia kakaknya Upin Ipin" jawab Elina. Anisa hanya mengeryitkan keningnya.
" Astaghfirullah alazim, Nis cucunya banyak sekali, apa mungkin dia yang mengirimu surat surat itu" bisik Elina.
" Entah lah"
Anisa malah bengong memikirkan nama Ibrahim itu.
" Ustad, kami permisi, kami harus pulang ke Jakarta" ucap Elina.
" Boleh saya katakan sesuatu" ucap ustad Usman.
" Silahkan"
" Berhijrahlah, dekatkan diri kalian pada Allah" ucap ustad Usman penuh harap. Anisa dan Elina malah saling lirik.
" Kenapa ustad tiba tiba bicara seperti itu pada kami?" tanya Anisa.
" Karna saya tau, setelah kalian keluar dari pesantren ini, kalian pasti langsung membuka hijab masing masing dan memperlihatkan aurat masing masing" ucap ustad Usman.
" Nis ko dia bisa tau" bisik Elina sedikit malu.
" Ko ustad bisa tau kalau kami belum hijrah?" tanya Anisa.
" Terlihat dari penampilan kalian, hijab kalian miring miring gak jelas gimana gitu" ucap ustad Usman. Seketika Anisa dan Elina bergegas merogoh cermin kecil dari tasnya dan langsung melihat penampilannya dari cermin itu, mereka saling membenarkan hijab masing masing.
" Wanita akhir zaman" batin ustad Usman.
" Maaf ustad, kami memang belum berhijab, kami ingin berhijrah hanya karna Allah dan kami sedang berusaha untuk itu" tutur Anisa.
" Saya do'akan, semoga kalian mendapatkan hidayah"
" Amiin" ucap Anisa dan Elina.
" Ya sudah ustad, kami permisi, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa dan Elina pun pergi dari pesantren itu untuk kembali ke Jakarta. Ustad Usman menatap mereka sambil menggelengkan kepala.
" Astaghfirullah alazim"
Saat ustad Usman melangkahkan kakinya, tiba tiba ia teringat dengan pertanyaan Anisa.
" Astaghfirullah alazim, yang ditanyakan si Ani itu Ibrahim Husen apa Malik Ibrahim ya si ustad preman" ucap ustad Usman sedikit bingung.
__ADS_1