
Masih dengan Zahira dan Erika yang menangis tersedu sedu membuat ustad Usman dibuat bingung dan pusing.
" Aisyah coba ambil handuk untuk mereka" pinta ustad Usman.
" Tisuuuu, memangnya mereka mau mandi dikasih handuk" ucap Aisyah. Aisyah pun mengambil tisu ke dalam rumah umi Salamah, lalu menaruhnya dihadapan Zahira dan Erika.
" Ira, kau kenapa menangis?, apa kakakmu belum kasih uang jajan?" tanya Aisyah. Zahira hanya menggelengkan kepalanya.
" Biarkan Aisyah, biarkan mereka menangis sampai puas, kalau sudah puas mereka pasti berhenti sendiri" ucap ustad Usman. Aisyah pun mengambil tisu dan menghapus air mata adik iparnya itu.
" Sudah malu jangan menangis, kalian tidak ada angin tidak ada hujan tiba tiba menangis" tutur Aisyah sambil menghapus air mata Zahira. Aisyah pun mengambil tisu yang baru dan diberikannya pada Zahira.
" Nih hapus ingusnya" pinta Aisyah. Zahira pun mengambil tisu itu dan membersihkan hidungnya.
" Kalian berdua rebutan si Yusuf?" tanya ustad Usman. Erika pun menggelengkan kepalanya.
Setelah merasa tenang, Erika pun berhenti menangis.
" Sudah puas menangisnya?" tanya ustad Usman.
" Sudah ustad" jawab Erika.
" Belum" jawab Zahira.
" Kau mau menangis sampai matahari tenggelam Ira?" ucap ustad Usman.
" Kapan aku mulai mengajarnya"
Aisyah pun mengelus ngelus pundak Zahira.
" Berhentilah menangis, nanti matamu bengkak. Kalau matamu bengkak, kau tidak akan imut lagi, apalagi menggemaskan" ucap Aisyah. Seketika Zahira langsung berhenti menangis.
" Aku tidak mau imut dan menggemaskanku hilang" ucap Zahira.
" Ya sudah kalau begitu berhentilah"
Zahira pun mengangguk.
" Sudah menangisnya?" tanya ustad Usman.
" Sudah om ustad"
" Sekarang aku tanya, kenapa kalian menangis?" tanya ustad Usman kembali.
" Aku teringat bunda" ucap Erika.
" Memangnya kemana ibumu?" tanya ustad Usman. Erika kembali berkaca kaca.
" Bunda udah meninggal saat usiaku masih balita" jawab Erika. Semuanya pun terdiam.
" Kau yang sabar ya Erika" ucap Aisyah, Erika pun mengangguk.
" Semoga ibumu di tempatkan disisi Allah, setiap habis shalat berdoalah untuk ibumu" ucap ustad Usman.
" Setiap hari aku selalu berdo'a untuk bunda" ucap Erika. Ustad Usman pun mengangguk, setelah itu iya melirik Zahira.
" Lalu kenapa kau menangis Ira?" tanya ustad Usman.
" Om ustad tidak perlu pura pura tidak tau, om ustad sudah tau kan kalau ibuku kabur entah kemana" tutur Zahira sambil mengerucutkan bibirnya.
" Maaf Ira bukan maksudku seperti itu, memangnya bu Erni tidak pernah memberimu kabar?" tanya Ustad Usman. Zahira pun menggeleng.
" Setelah aku bertemu dengannya dulu saat dia menyelinap ke asrama putri, itu terakhir kalinya aku melihatnya. Dia tidak pernah datang lagi untuk bertemu denganku, mungkin dia sudah menikah lagi dan pergi dengan suami barunya lalu lupa lagi padaku" tutur Zahira.
" Jangan suudzon begitu, mungkin ibumu punya alasan lain pergi tanpa kabar" ucap ustad Usman.
__ADS_1
Aisyah sudah mengelus ngelus pundak Zahira.
" Meskipun ibumu tidak perduli lagi denganmu, tapi kakak kakakmu sangat menyayangimu, termasuk ka Aisyah" ucap Aisyah. Zahira pun tersenyum.
" Makasih ya ka, sudah menyayangiku"
" Ya meskipun kata ka Usman kau menyebalkanmu yang naudzubilah, tapi semua orang menyayangimu" ucap Aisyah kembali.
" Termasuk ka Yusuf?" tanya Zahira.
" Jangan bicarakan Yusuf, usiamu belum cukup untuk membicarakan itu"
Zahira pun mengangguk pasrah.
" Aisyah, apa si berondong dan ustad Rasyid tidak berusaha mencari tau tentang bu Erni?" tanya ustad Usman.
" Dulu suamiku pernah mencari ke rumahnya yang lama, tapi katanya bu Erni sudah pindah"
Ustad Usman pun mengangguk.
" Kau yang sabar ya Ira, dimana pun ibumu berada, do'akan saja dia baik baik saja" ucap ustad Usman.
" Iya om ustad"
"Untung tidak ada yang tau saat bu Erni si neng beruban itu pernah memintaku untuk jadi istri keduaku. Astaghfirullah, untung saat itu keimananku kuat, jadi aku tidak tergoda dengan perempuan tua itu. Bagaimana pun aku sangat mencintai istriku. Tidak bisa dibayangkan kalau aku punya istri seperti bu Erni yang penampilannya selalu memakai pakaian perempuan pengikut dajjal alias kurang bahan. Dan sudah tidak bisa dibayangkan lagi kalau aku punya anak seperti Zahira, sudah pasti setiap hari aku dibuat pusing 7 keliling" batin ustad Usman.
Tiba tiba ustad Usman merinding sendiri.
" Kalian sudah tidak bersedih lagikan?. Dimana pun ibu kalian, masih hidup atau sudah tiada, tetaplah berdo'a untuknya.
Kita lanjut ya. Ibu adalah orang yang melahirkan kita. Surga ada ditelapak kaki ibu. Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak. Baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Ibu memiliki peranan yang sangat penting bagi anak. Dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung dari seseorang. Seseorang yang mengisi peranan ini contohnya adalah kepada orang tua angkat atau ibu tiri" tutur Ustad Usman.
" Seperti aku sama umi ya kak?" tanya Aisyah.
" Hmmm"
Di sini siapa yang tau alasan ibu menduduki posisi istimewa?" tanya ustad Usman.
Erika langsung mengacungkan tangannya.
" Aku ustad"
" Ya Erika bisa jelaskan"
" Alasan ibu menduduki posisi istimewa adalah, karena ibu mengalami 3 macam kepayahan. Yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui karna itu kebaikan kepada ibu tiga kali lipat lebih besar dari pada ayah" jawab Erika. Ustad Usman pun mengangguk tersenyum mendengar jawaban Erika.
" Kau hebat ya Erika bisa tau jawabannya, kenapa aku tidak tau ya" ucap Zahira.
" Karna kau tidak pernah belajar" jawab Erika hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Coba Aisyah kau jelaskan tanggung jawab ibu dalam keluarga" pinta ustad Usman.
" Tanggung jawab ibu dalam keluarga adalah memberikan asi dengan cukup kepada anak anaknya. Mengelola hasil nafkah lahiriyah yang diberikan oleh suami baik dengan cara memasak, mencuci, menyetrika dan lain lain" jawab Aisyah.
" Di sini ada yang tau kenapa kita harus memuliakan kedua orang tua kita, terutama ibu?" tanya ustad Usman.
Seketika Erika langsung mengacungkan kembali tangannya.
" Aku ustad"
" Ya Erika jelaskan" pinta ustad Usman.
" Birrul walidain (berarti kepada orang tua). Adalah penyebab turunnya ampunan dan rahmat Allah ta'ala, selain itu menjadi jalan cepat menuju surga dan sebab bertambahnya keberkahan agar kita lebih memuliakan ibu dari pada sosok bapak" jawab Erika. Ustad Usman pun mengangguk.
" Kau dengar Ira, kau harus banyak belajar pada Erika, kecerdasannya dengan kecerdasanmu berbanding terbalik"
__ADS_1
" Iya iya"
Ustad Usman kembali menjelaskan.
" Kenapa ibu disebut tiga kali. Nabi saw, menyebut kata ibu sebanyak tiga kali sementara ayah hanya satu kali. hal ini karena kesulitan dan kepayahan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan dan kesulitan pada menyusui dan merawat anak" tutur ustad Usman.
Zahira pun terdiam, ada rasa takut yang menderanya.
" Kenapa wajahmu nampak pucat begitu Ira?" tanya ustad Usman.
" Entah kenapa dari kecil sampai sekarang aku takut melahirkan" ucap Zahira. Ustad Usman dan Aisyah langsung mengernyitkan keningnya masing masing.
" Kenapa kau takut melahirkan Ira?" tanya ustad Usman.
" Tidak tau kenapa, aku takut saat mendengar kata melahirkan meskipun saat istrinya ka Rasyid melahirkan Anom aku sangat senang karna mau punya keponakan baru. Tapi kalau ditanya aku mau melahirkan atau tidak, jawabannya aku takut. Katanya sakitnya ibu melahirkan itu ibarat 20 tulang sehat dipatahkan secara bersamaan" tutur Zahira.
Aisyah malah tersenyum.
" Kau tau Ira, proses hamil dan melahirkan itu begitu menyenangkan, apalagi saat melihat buah hati kita, ada kebahagiaan tersendiri. Kau pasti bisa merasakan kebahagiaan itu saat kau menjadi ibu nanti" ucap Aisyah.
" Ira, kalau kau tidak mau melahirkan, ya sudah tidak usah menikah, jadilah perempuan tua. Biar Yusuf buat Erika saja" ucap Ustad Usman sengaja menakuti Zahira.
" Enak saja" gerutu Zahira.
" Dengarkan aku, menikah itu ibadah, dan setiap perempuan itu pasti akan menjadi seorang ibu, kalau kau tidak mau melahirkan, lalu kau mau mendapatkan keturunan dari mana?" tanya ustad Usman.
" Bisa tidak ya kalau suami yang melahirkan?" tanya Zahira asal hingga semua dibuat menganga.
" Astaghfirullah, Aisyah coba kau bawa adik iparmu ini keklinik, suruh dia periksa otaknya sama dokter Husna" ucap ustad Usman hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.
" Dengarkan ya, intinya kita harus berbakti kepada ibu kita, kalau sudah tiada kirimlah do'a untuknya. Dan untukmu Ira, kau jangan membenci ibumu karna dia meninggalkanmu tanpa kabar, aku yakin ibumu pasti punya alasan kenapa dia bisa meninggalkanmu" ucap ustad Usman.
Zahira langsung menundukan kepalanya.
" Ira jangan jangan ibumu pergi karna dia merasa pusing dengan kelakuan ajaibmu" ucap Erika bercanda hingga Zahira memicingkan matanya.
" Maaf aku hanya bercanda" ucap Erika sedikit takut.
" Ibuku meninggalkanku saat aku usia 9 tahun, dia pergi meninggalkanku bersama suami barunya. Kau tau saat itu aku sedang unyu unyunya, sedang manis manisnya, sedang imut imutnya, dan sedang cantik cantiknya, tapi sayang ibu pergi, untung ada kakak kakaku, mereka mau merawatku dan sangat sayang padaku" tutur Zahira. Erika pun tersenyum lalu memeluk Zahira.
" Aku pun menyayangimu, meskipun kau begitu sangat menyebalkan" ucap Erika hingga Zahira memicingkan matanya.
" Jadi aku menyebalkan?" tanya Zahira.
" Maaf bercanda" ucap Erika sambil tersenyum senyum. Tiba tiba Nisa mengaduh sambil memegangi perutnya. Ustad Usman pun langsung terkejut.
" Kenapa Nis, apa kau sudah mulai kontraksi?" tanya ustad Usman cemas. Nisa pun menggeleng.
" Aku laper mas" jawab Nisa. Ustad Usman langsung mengernyitkan keningnya.
Aisyah, Zahira dan Erika pun langsung tertawa tak bersuara.
" Kau modus mulu Nis, manja banget mau makan saja" ucap ustad Usman sambil memapah Nisa masuk ke rumah.
-
-
-
-
-
Cerita ini dibuat hanya untuk menghibur semata, jika ada perkataan atau perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, saya minta maaf dan mohon jangan ditiru.
__ADS_1
Tidak ada maksud sedikitpun dalam hati untuk merendahkan apapun. Siapapun.
Terima kasih.