
Masih dengan Zahira dan Anisa yang diculik. Anisa pun terbangun ketika masih di perjalanan. Iya terkejut setelah mengingat kejadian pembekapan pada dirinya.
" Kalian mau bawa aku kemana?" tanya Anisa panik. Tiba tiba iya terdiam saat melihat Zahira sedang tertidur disebelahnya.
" Iraaaaa"
Anisa menjadi panik sendiri.
" Jangan teriak, kalau teriak kalian akan celaka" ancam si penculik yang menyetir.
" Astaghfirullah, ya Allah selamatkan kami. Abim tolong aku Bim" batin Anisa ketakutan.
Anisa pun menggoyang goyangkan badannya Zahira.
" Ira bangun"
Seketika Zahira langsung mengerjap ngerjap lalu membuka matanya.
" Sudah pagi ya" ucap Zahira sambil menggosok gosok matanya. Anisa hanya mengernyitkan keningnya.
" Ka Anisa sudah bangun?, sekarang kita sudah sampai mana?" tanya Zahira.
" Ira kenapa kita ada di sini?" tanya Anisa heran.
" Kita sedang diculik ka, keren kan. Ka Anisa kini bisa merasakan penculikan yang menyenangkan" ucap Zahira. Anisa malah ketakutan.
" Jadi kita sedang diculik?" tanya Anisa memastikan. Zahira pun mengangguk ngangguk.
" Hmmm"
" Kenapa kau tidak takut?" tanya Anisa heran.
" Kenapa harus takut, bukankah kita cuma harus takut pada Allah"
" Tapi pada kenyataannya ka Anisa takut sekarang"
" Tenang ka Anisa, selow, selow, santai, ini cuma diculik bukan di rajam terus disiksa lalu dimutilasi" tutur Zahira santai. Seketika Anisa langsung merogoh saku bajunya dan mengambil hpnya Ibra yang tadi iya bawa. Saat Anisa mau menghubungi ustad Azam untuk meminta bantuan, tiba tiba sang supir menghentikan mobilnya dan segera merebut hp itu dari tangannya Anisa.
" Kalian jangan macam macam ya, kita bisa berbuat nekat pada kalian" ucap penculik yang mengemudi. Tiba tiba Zahira tertawa.
" Ha ha ha kita????, om penculik maksud kita itu sama siapa?, temannya om pencilik dari tadi tidur lelap gak bangun bangun" tutur Zahira. Dilihatnya temannya yang terkena obat bius itu masih tidak sadarkan diri.
" Bodoh" gerutu si penculik saat melihat temannya masih belum sadar.
Mobilpun melaju hingga sampai ke tempat gedung yang sudah tidak terpakai.
" Turun" pinta si penculik. Zahira langsung mengernyitkan keningnya.
" Om penculik gak salah mau nyekap kita di gedung tua tak terawat begini?, ikh gak level banget untuk perempuan imut menggemaskan sepertiku" ucap Zahira sedikit tak percaya.
" Memangnya kau mau disekap dimana?" tanya si penculik.
" Ya kalau gak di mal, setidaknya kita disekap di restoran ke, biar sama sama enak, bisa makan sama istirahat" gerutu Zahira.
" Banyak bacot kau bocah kecil, ayo masuk" ucap si penculik sambil menyodorkan belati pada Anisa dan Zahira.
" Kalau kau punya belati, dan Zahira punya tatapan belati" ucap Anisa.
" Om penculik pikir aku takut dengan ancaman belati kecil seperti itu, aku sudah sering dan sudah terbiasa dengan ancaman menggunakan pedang besar dan arit tajam yang di lakukan si berondong kakakku yang manis yang sering mengancam mau membabas habis diriku kalau aku genit genit pada laki laki. Kalau cuma belati kecil begitu aiiih gak ngaruh" ucap Zahira sambil melangkah masuk ke dalam gedung itu.
" Asalamualaikum. Ayo ka Anisa masuk" ajak Zahira.
" Gak mau, ka Anisa takut, biasanya digedung gedung tua seperti ini banyak penghuni lainnya" ucap Anisa takut.
" Seperti di film SUSANA maksudnya?" tanya Zahira.
" Tidak usah disebutin, serem, ka Anisa takut"
"Lebih serem juga mukanya si om penculik, pasti muka dibalik topengnya terdapat wajah seram, kusam, jerawatan karna tidak pernah di rawat apalagi menggunakan WHITENING & ANTI AGING" tutur Zahira.
Sipenculik itu pun mengernyitkan keningnya lalu mendorong Anisa dan Zahira hingga terpaksa masuk ke dalam.
__ADS_1
" Heeei jangan dorong dorong, jangan sentuh sentuh juga, bukan mahrom, om penculik mau disambar api neraka" teriak Zahira sambil menggerutu. Tiba tiba si penculik yang pingsan pun datang menghampiri.
" Dasar bodoh, kenapa kau bisa pingsan mencium sapu tangan itu?" gerutu si penculik pada temannya.
" Bocah itu hebat, dia tidak mempan dibius" ucapnya.
" Kau tunggu mereka, aku mau menghubungi si bos"
Si penculik itu pun berjalan sedikit menjauh dan langsung menelpon bosnya.
" Hallo bos, target sudah saya sekap di gudang bersama keponakannya"
" Keponakan???"
" Hmmmm"
Tidak lama kemudian bos mereka datang dan langsung menghampiri Anisa. Anisa nampak terkejut melihat dalang penculikan yang terjadi padanya. Dan benar saja dugaannya, Dalangnya memang Syabil.
" Syabil"
Syabil pun tersenyum pada Anisa.
" Apa kabar Anisa?" ucap Syabil sambil mendekati Anisa hingga Anisa beringsut mundur karna takut.
" Apa sebenarnya maumu?" teriak Anisa.
Syabil malah tertawa.
" Ha ha ha, apa aku harus menjelaskan padamu, sepertinya kau sudah tau apa mauku" ucap Syabil.
" Kau sudah gila. Polisi pasti akan berhasil menangkapmu kembali" ucap Anisa.
Saat Syabil semakin mendekat pada Anisa, tiba tiba Zahira berdehem.
" Ehem ehem"
Syabil pun baru tersadar kalau ada Zahira diruangan itu.
" Masa bos Syabil lupa sama aku, apakah kita harus berkenalan lagi?, akh sebaiknya jangan, nanti ka Yusuf bisa cemburu. Sekarang kan sedang marak menikah dengan om om" tutur Zahira hingga Syabil mengernyitkan keningnya. Lalu Syabil pun berteriak kesal memanggil anak buahnya itu.
" Bondaaaan"
Si bondan pun langsung menghampiri Syabil.
" Iya bos"
" Siapa dia?" tunjuk Syabil pada Zahira.
" Dia keponakannya Anisa bos"
Syabil langsung menatap Anisa.
" Anisa itu tidak punya keponakan, lalu kenapa kalian menculiknya juga" gerutu Syabil.
" Dia sendiri yang maksa pengen ikut bos, dia yang maksa pengen diculik" ucap Bondan. Syabil kembali mengernyitkan keningnya lalu kembali menatap Zahira.
" Kenapa tidak melemparnya keluar" ucap Syabil.
" Dia bocah ajaib bos, dia tidak mempan dibius, suaranya juga nyaring tak berirama. Dari pada dia bikin pusing kepala, mau tidak mau kami juga menculiknya, dan anehnya, dia bukan seperti di culik, tapi sudah berasa diajak liburan" tutur Bondan.
" Sepertinya aku pernah melihatmu sebelumnya" ucap Syabil pada Zahira.
" Siapa yang tidak kenal ZAHIRA RAHMADIA ALFIQRI perempuan cantik imut dan menggemaskan seantera pesantren, pasti semua orang kenal denganku, kalau tidak percaya boleh buka om goo*le" tutur Zahira.
" Kau pernah bertemu denganku sebelumnya?" tanya Syabil kembali dengan nada sangar dan menakutkan.
" Pura pura tidak kenal padahal ngfans" ucap Zahira sedikit ketus. Syabil yang mendengarpun langsung menggeram kesal.
" Tidak usah menggram seperti itu, suaramu sember. Bos Syabil lupa, akukan yang pernah jadi korban penculikan om Yudi dan om Yuda dulu" tutur Zahira. Syabil pun baru teringat kalau Zahira adalah korban salah tangkap.
" Oh jadi kau adalah santrinya si Ibra berandalan itu" ucap Syabil.
__ADS_1
" Aku kepoakannya ustad Ibrahim" ucap Zahira hingga Syabil menatapnya tak suka, lalu mencengkram tangan atas Zahira.
" Awww"
Anisa langsung mendorong Syabil hingga Syabil melepaskan tangannya Zahira.
" Jangan menyakitinya" ketus Anisa. Kini Syabil pun kembali menatap Anisa.
" Bagaimana ya reaksi si berandalan jika dia tau aku menculik istrinya" ucap Syabil menatap lekat pada Anisa.
" Kondisikan matanya, jangan mengotori kesucian mata sendiri dengan memandang sesuatu yang bukan menjadi haknya" tutur Zahira.
" DIAAAAM" bentak Syabil.
" Mulut mulutku yang bicara" gerutu Zahira.
" Bondan, lakban mulutnya" pinta Syabil.
" Siap bos"
Tiba tiba Zahira langsung memberikan tatapan tajam menyebalkan pada kedua anak buahnya Syabil.
" Tatapannya lebih tajam dari belatiku" bisik Bondan.
" Kau tau kenapa aku melakukan balas dendam ini padamu Anisa, kau tidak tau rasanya mendekam di penjara. Mungkin Ibra sudah terbiasa keluar masuk penjara, tapi aku, aku terlahir dari keluarga terhormat. Apalagi selama aku di penjara, aku harus berjalan menggunakan tongkat akibat tembakan yang diberikan oleh ayahmu dulu. Dan aku ingin kau merasakan penderitaanku" tutur Syabil sambil memandang Anisa. Anisa sudah ketakutan hingga ia menggenggam tangannya Zahira.
" Ibra akan membalas semua perbuatanmu, dia pasti akan membebaskanku. Dia juga pasti akan membalas atas semua kejahatanmu" tegas Anisa.
" Ha ha ha, kita lihat apa di berandalan itu bisa berhasil membebaskanmu dan bocah menyebalkan ini" ucap Syabil sambil melirik Zahira.
" Segini menyenangkannya dibilang menyebalkan, dasar tukang fitnah" batin Zahira menggerutu.
" Kita lihat bagaimana reaksi suamimu tercinta itu saat tau kau sekarang sedang bersamaku" ucap Syabil lalu menghubungi Ibra.
Ponsel Ibra pun bergetar yang kini berada disaku celananya Bondan karna ponsel Ibra di rampas oleh Bondan. Bondan pun berjalan sedikit menjauh lalu menerima telpon dari Syabil.
" Hallo" ucap Bondan.
" Hallo berandalan, aku hanya ingin meghubungimu kalau istrimu sedang berada dalam sekapanku" ucap Syabil. Seketika Bondan langsung panik sendiri, iya lupa kalau hp yang dipegangnya adalah hp yang dirampasnya dari tangan Anisa.
" Istriku sedang kau sekap?, siapa sebenarnya kau?" tanya Bondan dengan begitu marahnya.
" Aku adalah manusia yang akan menghancurkan hidupmu"
" Berani kau menyakiti istriku akan kubunuh kau" ancam Bondan. Syabil malah tertawa.
" Waah waah seorang ustad mau membunuh, apa aku tidak salah dengar" ucap Syabil.
" Ustaaaad???" ( Bondan).
Tiba tiba anak buah Syabil yang satunya lagi memberitau kalau yang dihubunginya adalah Bondan bukannya Ibra. Syabil langsung menggeram kesal, sementara Anisa dan Zahira sudah cekikikan tak bersuara.
Seketika Syabil bergegas menghampiri Bondan dan langsung memukul kepala anak buahnya itu.
Plaaak.
" Awww" Bondan meringis dan langsung menatap Syabil.
" Kenapa bos memukul kepalaku?" tanya Bondan tak mengerti.
" Dasar bodoh, to**l. Kenapa kau tidak bilang kalau hpnya si berandalan itu ada padamu" grutu Syabil. Seketika Bondan langsung menatap hp yang di genggamnya itu.
Bondan langsung tersenyum malu.
" Oh iya ini bukan hp ku" ucap Bondan malu.
" Kau amnesia ya, hp mu itu merek jadul alias si nit nit, kameranya aja gak ada. Itukan hp yang dipegangmu bagus, masa iya lupa" tutur anak buah yang satunya.
" Namanya juga lupa masa iya gak boleh. Puasa aja kalau lupa minum boleh" ucap Bondan.
" DIAAAAAAM" teriak Syabil.
__ADS_1