Janji Anissa

Janji Anissa
Isya


__ADS_3

Pagi pagi sekali Ibra sudah siap untuk pergi ke masjid melaksanakan shalat subuh. Di lihatnya Nisa masih tertidur lelap. Perlahan Ibra pun mendekati Anisa, menyelipkan rambutnya yang acak acakan yang menutupi wajahnya. Ibra pun tersenyum karna Anisa hanya menggeliat saja.


" Nis bangun"


Anisa pun membuka matanya, iya pun tersenyum melihat Ibra, namun setelah itu Anisa kembali memejamkan matanya.


" Heeei jangan tidur lagi, ayo bangun, sebentar lagi azan subuh" ucap Ibra.


" Aku masih ngantuk"


" Kalau tidak bangun aku bawa kau ke kamar mandi" ucap Ibra. Nisa malah merentangkan kedua tangannya sengaja menantang suaminya untuk minta di gendong. Ibra malah tersenyum sambil menundukan kepalanya.


" Katanya mau gendong aku" ucap Anisa masih dengan merentangkan tangannya. Ibra dengan sigap melilitkan selimut ke tubuh istrinya itu lalu menggendongnya hingga masuk kamar mandi. Ibra pun langsung keluar meninggalkan Anisa di kamar mandi.


" Nis, aku pergi ya ke masjid, jangan lupa ya salat subuh" pinta Ibra.


" Iyaaa" jawab Anisa.


" Asalamualaikum"


Tiba tiba Anisa membuka sedikit pintu kamar mandi, iya pun mengeluarkan kepalanya saja.


" Bim"


Ibra pun menatap Anisa.


" Aku mencintaimu" ucap Anisa hingga Ibra tersenyum lalu mengangguk.


" Aku berangkat"


Anisa pun mengangguk.


* * * * * * *


Setelah selesai mengerjakan shalat subuh, Ibra dan Yusuf pun pulang bersama.


" Suf, umi dan abimu kan lagi pergi, sarapan di rumah om ya" ucap Ibra.


" Hmmm" jawab Yusuf sambil mengangguk.


Setelah mereka sampai rumah.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Anisa sambil membukakan pintu. Iya pun tersenyum melihat suami dan keponakannya itu pulang.


" Yusuf mau sarapan di sini" ucap Ibra.


Anisa pun mengangguk.


" Kebetulan aku sudah masak" jawab Anisa. Ibra pun langsung terdiam, iya merasa aneh jika mendengar istrinya memasak, karna selama ini Anisa selalu membeli sarapan di kantinnya bi Ratna.


" Kau masak??" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk.


Anisa pun mengambilkan satu piring nasi goreng untuk Ibra dan Yusuf.


" Makasih tante" ucap Yusuf. Perlahan Yusuf pun mencicipinya. Ibra hanya diam saja, iya sedikit curiga dengan masakannya Anisa, karna setaunya Anisa tidak bisa masak.


Setelah mencicipinya, Yusuf langsung menatap Ibra.


" Asin" ucap Yusuf.


Ibra pun tersenyum.


" Jangan di makan, nanti perutmu sakit" bisik Ibra. Anisa pun mulai mencicipinya. Matanya sedikit membelalak merasakan hasil masakannya.


"Asin"


Anisa langsung menatap Ibra dan Yusuf. Ibra hanya tersenyum.


" Jangan di makan, nasi gorengnya asin" ucap Anisa sedikit malu. Yusuf hanya diam menunduk.


" Masih lebih baik dari masakannya Zahira" ucap Ibra sambil tersenyum.

__ADS_1


" Maaf" ucap Anisa.


" Tidak apa apa, biar aku racik lagi" ucap Ibra sambil membawa 3 piring nasi goreng itu dan di masaknya lagi lalu di racik dengan bumbu bumbu yang lain hingga rasanya jauh lebih enak dari buatannya Anisa. Ibra pun menaruh ketiga piring nasi goreng itu di atas meja. Anisa sudah tersenyum malu.


" Makanlah ucap Ibra"


Anisa dan Yusuf pun memakan nasi goreng itu.


" Enak?" tanya Ibra.


Anisa pun mengangguk tersenyum.


" Makasih ya Bim"


Kini Ibra lah yang tersenyum.


Setelah sarapan, Yusuf pun pamit dan pulang dulu ke rumahnya untuk mengambil buku buku pelajarannya.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Kini Anisa pun terdiam setelah kepergiannya Yusuf. Ibra pun mendekati.


" Kenapa Nis?" tanya Ibra.


" Aku minta maaf, untuk membuat sarapan saja aku tidak bisa"


Ibra pun tersenyum lalu memeluk Anisa.


" Tidak apa apa, nanti kau bisa belajar dariku" ucap Ibra. Anisa pun tersenyum.


" Kau mau mengajariku?"


" Hmmm"


" Makasih ya Bim"


Ibra pun melepaskan pelukannya.


" Bersiaplah, kita akan berangkat ke toko bareng, nanti aku antar kau ke butik" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk lalu bersiap siap.


" Asalamualaikum Syifa" ucap Anisa dan Ibra.


" Waalaikum salam"


Syifa pun menatap sepasang pengantin baru itu.


" Kenapa menatap kami seperti itu?" tanya Ibra.


" Sudah di buka amplop kondangan kemarin?" tanya Syifa. Anisa dan Ibra pun saling lirik lalu tersenyum.


" Sudah" jawab Anisa.


" Berapa coba jumlah daun pandannya jika di rupiahkan?" tanya Syifa kembali.


" Satu juta" jawab Anisa sambil tersenyum senyum hingga Ibra pun ikut tesenyum. Syifa malah mengernyitkan keningnya.


" Bukan satu juta, tapi 100.000, kan satu lembar daun pandan itu 20.000" ucap Syifa.


Anisa pun mendekati Syifa lalu berjongkok di hadapan anak kecil itu.


" Syifa, ka Nisa menukar daun pandannya sama ustad Usman, dia menukar daun pandannya satu lembar senilai 200.000. Jadi 5 lembar daun pandan itu jadi satu juta nilainya" tutur Anisa sambil tertawa kecil.


Mata Syifa langsung berbinar.


" Benarkah???" tanya Syifa.


Anisa pun mengangguk ngangguk.


" Nis, tidak boleh begitu" ucap Ibra mengingatkan.


" Ssstth" ucap Anisa.


Syifa pun langsung berlari pergi.

__ADS_1


" Asalamualaikum"


" Syifa mau kemana?" teriak Anisa.


" Mau nyuruh ibu buat metikin daun pandan yang banyak, setelah itu mau ke rumahnya ustad Usman" jawab Syifa sambil berteriak lalu kembali berlari menuju kantin.


Anisa malah menganga, iya fikir Syifa tidak akan percaya dengan ucapannya.


" Nis, kau malah mengerjai anak anak" ucap Ibra. Anisa pun tersenyum geli.


" Aku fikir Syifa tidak akan percaya"


" Syifa itu baru berumur 6 tahun, dia masih polos, kau siap siap di omelin ka Dewi sama ustad Usman" tutur Ibra.


" Sebelum mereka marah, ayo kita kabur" ucap Anisa sambil menarik tangannya Ibra. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju butik. Anisa sudah menggandeng lengan Ibra. Di depan toko bukunya Ibra, mereka pun bertemu dengan Salwa.


" Asalamualaikum Salwa"


" Waalaikum salam, eh pengantin baru"


Ibra dan Anisa pun tersenyum.


" Saya antar istri saya ke butik dulu" ucap Ibra lalu melanjutkan kembali langkah mereka, menyebrangi jalan lalu sampailah di depan butik.


" Mau masuk dulu?" tanya Anisa.


Di lihatnya Elina sedang berberes beres, lalu mendekati mereka.


" Asalamualaikum"


"Waalaikum salam"


" Aku langsung ke toko buku" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati Bim"


Ibra pun melangkah ketika mau menyebrang, tiba tiba iya berbalik arah menatap Anisa.


" Isya" ucap Ibra.


Anisa dan Elina pun terdiam lalu menatap matahari yang masih belum tinggi karna waktu masih pagi. Anisa pun kembali menatap Ibra.


" Matahari saja belum naik, kenapa si ustad preman pensiun sudah bilang isya???" batin Anisa.


" Bim, zuhur saja belum kenapa sudah bilang isya?" tanya Anisa.


" Aku bukan menyebut waktunya shalat, tapi aku menyebut nama panggilan sayangku padamu" ucap Ibra. Anisa dan Elina kembali terdiam sambil menganga, lalu saling lirik satu sama lain. Anisa sudah menelan ludahnya dengan kasar.


" Isya panggilan sayangmu untuk Anisa?" tanya Elina memastikan.


" Hmmm" Ibra mengangguk.


Elina sudah menundukan kepalanya mencoba menahan tawanya agar tidak pecah di hadapannya Ibra. Anisa hanya diam mematung sambil menatap suaminya itu.


" Kau suka dengan panggilan sayangku padamu" ucap Ibra pada Anisa. Anisa pun mengangguk pasrah. Ibra pun tersenyum lalu melangkah menyebrang jalan dan masuk kedalam tokonya yang sudah ada beberapa pengunjung.


Anisa langsung menatap Elina, iya tau kalau sahabatnya itu ingin tertawa. Saat Elina benar benar ingin tertawa, dengan sigap Anisa langsung membungkam mulut Elina.


" Jangan tertawa, kalau suamiku dengar, dia bisa mengalungkan cerulit di lehermu" ucap Anisa sambil mendorong Elina masuk ke butik. Barulah setelah di dalam butik, Anisa melepaskan tangannya di mulut sahabatnya itu. Di situ barulah Elina tertawa terbahak bahak hingga matanya berair. Anisa sudah cemberut kesal.


" Tertawalah sampai puas" gerutu Anisa sambil mengerucutkan bibirnya.


" Ha ha ha ha ha"


Elina sudah merasa perutnya sedikit keram karna tertawa terus hingga Anisa merajuk.


" Tidak ada panggilan yang lebih cantik lagi apa" batin Anisa.


" Isya" ucap Elina sambil tertawa tawa.


" Apa?" jawab Anisa sedikit menaikan level suaranya.


" Entah kenapa aku jadi teringat sinetron pesantren rock and rool. Wahyu subuh, Najip magrib, dan sekarang Anisa isya" tutur Elina.

__ADS_1


" Kalau mau protes sana sama si ustad preman saja. Lagi pula Isya itu bukan waktu shalat yang di maksud Ibra, tapi nama akhiran Anisa, isa yang cuma di kasih hurup Y di tengahnya" gerutu Anisa.


" Aku mengerti" ucap Elina sambil mengangguk ngangguk.


__ADS_2