
Kini di dalam kamar, Anisa terus menatap undangan pengajian dari ustadzah Ulfi. Lalu ia pun menatap paper bag berisi kerudung pemberian Ibra. Perlahan Anisa mengambil kerudung panjang itu, ditatapnya lama sekali. Anisa membawa kerudung itu mendekati cermin, perlahan ia pun mengenakannya.
" Bismilahirahmanirrahim, aku niatkan berhijabku karna Allah swt"
Anisa nampak tersenyum menatap dirinya di cermin yang kini sudah menggunakan kerudung. Biasanya Anisa selalu menggunakan kerudung yang simpel dan tidak terlalu panjang, namun kali ini ia menggunakan kerudung panjang hingga menutupi dadanya.
" Mudah mudahan dengan berhijab, aku lebih dekat lagi denganmu ya Allah. Amiin" ucap Anisa sambil menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Senyuman indah lolos di bibirnya.
Ceklek.
Elina membuka pintu kamar Anisa. Ia melihat Anisa mengenakan kerudung pemberian si preman pensiun.
" Cieeee, kerudung norak jeleknya dipake" ucap Elina dengan sedikit menggoda.
" Kerudungnya memang norak dan jelek, tapi kalau aku yang pake, kerudungnya jadi ikutan cantik seperti yang makenya" ucap Anisa sambil tersenyum senyum.
" Idiiiiiih" ucap Elina.
Perlahan Elina pun mendekati Anisa.
" Kau sudah yakin ingin berhijab?" tanya Elina.
Anisa pun mengangguk.
" Insya Allah aku yakin" jawab Anisa tegas.
" Alasannya?"
" Aku ingin lebih dekat dengan Allah, aku ingin menutup auratku. Ada yang bilang aurat adalah kehormatan yang harus dijaga, aku ingin menjaga kehormatanku dari pandangan orang orang yang tidak bertanggung jawab" tutur Anisa. Elina pun tersenyum.
" Semoga istiqomah" ucap Elina.
" Amiin"
" Kita ke pesantren yu" ajak Anisa.
" Cieeee yang dapet undangan dari calon kakak ipar" goda Elina.
" Apaan sih, kau mau ikut gak?" tanya Anisa.
" Ia tunggu bentar aku ganti baju"
Alina pun berganti baju di kamarnya. Ia mengenakan gamis dan kerudung yang simpel saja. Setelah selesai, mereka pun menutup butik terlebih dahulu, setelah itu mereka berjalan menuju pesantren.
Di depan toko buku, Anisa pun sempat melirik lirik, namun di sana hanya ada Salwa yang sedang melayani pembeli. Anisa dan Elina pun melanjutkan perjalanan kembali menuju pesantren.
__ADS_1
Sesampainya di depan gerbang pesantren, mereka bertemu dengan ustad Usman yang hendak pergi ke luar pesantren. Ustad Usman pun tersenyum melihat penampilan Anisa sedikit berbeda dari biasanya.
" Asalamualaikum ANI"
" Waalaikum salam ROMA"
Ustad Usman langsung mengeryitkan keningnya, sementara Elina sudah cekikikan melihat ekspresi laki laki yang ada di hadapannya itu. Ustad Usman langsung mengecek suhu tubuhnya dengan menempelkan telapak tangannya ke dahinya sendiri.
"Suhu badanku normal. Mungkin si Ani yang lelah" batin ustad Usman.
" Kalian tumben jam segini kemari, mau melihat Erika?" tanya ustad Usman.
" Kami di undang ikut pengajian oleh ustadzah Ulfi"
" Alhamdulilah kalau begitu. Saya permisi dulu ya" ucap ustad Usman.
" Tunggu ustad Usman, kami belum tau posisi majlis di sini sebelah mana?" ucap Anisa.
" Kalau aku jelasin secara rinci, aku takut kalian kesasar sampai ke kantinnya bi Ratna" jawab ustad Usman hingga Anisa dan Erika mengeryitkan keningnya. Ustad Usman pun melihat Dewi yang sedang berjalan sendirian menuju ke pengajian.
" Wi Dewi" teriak ustad Usman. Dewi pun menghampiri mereka.
" Kenapa ustad?" tanya Dewi.
" Kau mau pergi ke pengajian?" tanya ustad Usman. Dewi pun mengangguk.
" Alhamdulilah, ayo" ajak Dewi.
" Kami permisi ustad, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa, Elina dan Dewi pun berjalan menuju tempat pengajian. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Aisyah dan ustad Riziq bersama putra putrinya.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Kalian mau kemana rame rame begini?" tanya Aisyah.
" Kita mau ke pengajian Aisyah" jawab Dewi.
" Waah kalau begitu kebetulan ya, aku pun mau ke sana. Le, kau mengantarku sampai di sini saja, aku mau ikut dengan mereka" ucap Aisyah. Ustad Riziq pun mengangguk. Sebelum pergi, Aisyah pun berpamitan pada suaminya si berondong itu, Aisyah mencium tangan suaminya.
" Aku pergi ya Le" pamit Aisyah. Namun Riziq masih mematung di tempat. Aisyah yang mengerti pun langsung melirik kepada ketiga perempuan yang ada disebelahnya itu.
__ADS_1
" Bintang jatuh" teriak Aisyah sambil menunjuk ke atas langit. Anisa, Elina dan Dewi pun mendadak bodoh hingga mereka langsung mengadah menatap ke langit untuk mencari bintang jatuh di siang hari. Seketika itu pula Aisyah mendekati suaminya. Biasanya ia selalu mencium manis pipi suaminya jika sedang berpamitan, karna sekarang mereka berada di lingkungan pesantren, jadi Aisyah hanya mencubit gemas pipi si berondong itu.
" Aku mencintaimu berondongku" bisik Aisyah pada Riziq. Riziq pun tersenyum dan langsung pergi.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Riziq pun pergi. Aisyah sudah ingin tertawa melihat ketiga perempuan itu masih setia mencari cari bintang jatuh.
" Tidak ketemu ya bintang jatuhnya?" tanya Aisyah.
" Keningmu anget Aisyah?, mana ada bintang jatuh di siang hari.
" Sepertinya keningmu juga anget Wi, sudah tau disiang hari tidak ada bintang kenapa kau nekat mencarinya" tutur Aisyah.
" Ayo kita lanjutkan perjalanan" ucap Anisa yang sudah mulai sedikit migren.
Mereka pun berjalan bersama. Aisyah sudah menggendong Hawa, sementara Dewi menggendong Adam.
Sesampainya di majlis, semua nampak sudah berkumpul. Umi Salamah istrinya kiyai Husen langsung menggendong Adam dan menyuruh Aisyah untuk duduk disebelahnya. Sementara Anisa di ajak duduk bersama ustadzah Ulfi. Diikuti Elina dan Dewi. Mereka pun sudah duduk bersama. Tiba tiba ada Syifa menghampiri Anisa.
" Asalamualaikum ka Anisa"
" Waalaikum salam Syifa"
Diam diam Syifa memberikan sebuah surat pada Anisa. Anisa pun menerimanya.
" Terima kasih Syifa" ucap Anisa.
" Cuma terima kasih aja ka?" tanya Syifa dengan sedikit memelas. Anisa pun mengerti, ia membuka tas kecilnya namun tak menemukan uang 20.000.
"Uang 20.000 nya gak ada" bisik Anisa.
" 50.000 juga gak apa apa ka, aku ikhlas menerimanya" ucap Syifa. Anisa langsung mengeryitkan keningnya.
" Tapi aku yang tidak ikhlas" ucap Anisa berbisik hingga Syifa langsung mengerucutkan bibirnya. Mau tidak mau Anisa pun mengalah dan memberikan uang 50.000 pada Syifa. Mata Syifa langsung berbinar.
" Terima kasih ka Anisa" ucap Syifa sambil mendekati ibunya dan duduk bersama Dewi. Kini Elina lah yang berbisik pada Anisa.
" Itu si bocah materialistis ternyata putrinya ka Dewi" bisik Elina.
Terlihat Zahira dan Erika duduk di majlis itu bersama para santri yang lain. Perlahan Anisa membuka selembaran kertas itu, ada senyum yang tiba tiba hadir di bibirnya setelah membaca satu kata yang tertulis di kertas itu.
" CANTIK"
__ADS_1
Satu kata itu yang di tulis Ibra dalam surat itu, Anisa yakin kalau kata cantik itu di tunjukan untuk penampilannya yang baru. Elina pun berbisik pada sahabatnya itu.
" Kondisikan bibirmu, jangan senyum senyum tak jelas begitu, nanti orang orang akan mikir yang aneh aneh" bisik Elina. Mendengar ucapannya Elina, Anisa langsung menundukan wajahnya karna malu. Pengajian pun di mulai, Anisa dan Elina pun duduk setia dan mendengarkan setiap ceramah di majlis itu. Ini pertama kalinya mereka mengikuti pengajian di pesantren, ada rasa damai dalam hatinya Anisa, apa lagi dengan penampilan barunya itu.