
Setelah keluar dari pasar, Ibra sudah menjinjing 5 kilo sayur toge. Sudah tidak bisa di bayangkan bagaimana cemberutnya Anisa.
" Kenapa cemberut seperti itu?" tanya Ibra.
" Sudah tau aku sedang merajuk, pake tanya segala" batin Anisa.
Ibra pun tersenyum lalu menggandeng Anisa pergi mencari cemilan di pinggiran pasar, Ibra mengajak Anisa membeli jajanan kacang kedelai rebus.
" Mau beli apa Bim?" tanya Anisa.
" Kacang kedelai rebus, kau mau?" tanya balik Ibra. Anisa pun mengangguk. Ibra pun membeli 2 ikat kacang kedelai itu.
" Kau sering makan ini?" tanya Ibra.
" Kalau susu kacang kedelai atau cemilan yang terbuat dari kacang kedelai aku sering makan, tapi kalau makan langsung seperti ini belum pernah" ucap Anisa sambil mencoba memakannya.
" Enak "ucap Anisa.
Ibra pun tersenyum.
Mereka pun berjalan menuju pinggiran trotoar untuk menyetop angkot.
" Bim, aku tidak mau naik angkot, nanti banyak ibu ibu yang genit padamu" ucap Anisa. Ibra pun terdiam, iya tidak mungkin membiarkan Anisa menaiki ojek online, melihat pakaian gamis Anisa saja sudah bisa di bayangkan betapa ribednya kalau harus menaiki motor. Ibra pun mengedarkan pandangannya mencari sesuatu sambil berfikir. Tiba tiba iya tersenyum saat melihat sebuah becak kosong melintas di jalan itu
" Stop pak" ucap Ibra menghentikan.
Si bapak tukang becak itu pun menghentikan becaknya tepat di hadapan Ibra dan Anisa.
" Kita naik becak ya" ucap Ibra pada Anisa. Anisa hanya diam sedikit ragu.
" Kau belum pernah naik becak?" tanya Ibra kembali. Anisa pun menggelengkan kepalanya.
" Ayo naik" ucap Ibra sambil menarik tangan Anisa. Mau tidak mau Anisa pun menurut, di banding dia harus berdesak desakan dengan ibu ibu genit di angkot. Ibra dan Anisa duduk di becak sambil memakan kacang kedelai. Becak pun melaju dengan kecepatan santai. Anisa terus tersenyum sambil memandang ke arah depan.
" Kau suka naik becak?" tanya Ibra.
" Hmmm, lebih romantis ketibang naik angkot" jawab Anisa. Ibra hanya tersenyum saja melihat istrinya itu. Becak pun berbelok menuju arah perkebunan.
" Bim ko lewat sini?" tanya Anisa.
" Ini jalan pintas menuju perkebunan, nanti kita jalan sekalian kau bisa lihat lihat perkebunannya kiyai Husen" tutur Ibra. Anisa pun mengangguk.
Setelah sampai di tepi perkebunan, Anisa dan Ibra pun turun dari becak, tak lupa juga dengan sayur toge yang mereka beli. Mereka pun berjalan menyusuri jalan setapak di perkebunan itu. Ibra sudah menggenggam tangannya Anisa.
" Kenapa kau cape?" tanya Ibra. Anisa pun mengangguk. Ibra sudah berjongkok dihadapan Anisa. Anisa pun tersenyum dan langsung menempelkan badannya di punggung Ibra. Kini Ibra berjalan sambil menggendong Anisa.
" Badanku berat ya?" tanya Anisa. Ibra malah tersenyum.
"Tubuhmu ringan, yang berat itu menanggung dosa" jawab Ibra.
" Isya"
" Hmmm"
" Apa aku sudah menjadi suami yang baik untukmu?" tanya Ibra. Anisa pun terdiam.
" Kenapa kau bertanya seperti itu, tentu saja kau yang terbaik untuku, kau adalah laki laki yang kupilih, apapun kekurangan dan kelebihanmu aku terima" tutur Anisa. Ibra pun tersenyum.
" Isya boleh aku tanya lagi?" ucap Ibra.
" Hmmm"
" Kalau kita melewati jembatan, boleh aku melemparmu ke sungai" ucap Ibra bercanda hingga Anisa mengernyitkan keningnya.
" Kau jangan macam macam Bim, nanti aku jadi penghuni telaga angker seperti di film Susana bagaimana" gerutu Anisa hingga Ibra tertawa.
" Si manis jembatan ancol" ucap Ibra. Hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.
Tiba tiba saja gerimis turun.
" Bim, gerimis, sepertinya mau hujan lebat, turunkan aku" ucap Anisa. Ibra pun menurunkan Anisa.
" Hanya gerimis" ucap Ibra.
" Ayo cepetan Bim, bajuku putih" ucap Anisa sambil menarik tangan Ibra mengajaknya untuk berlari.
" Sebentar Isya, nanti togenya pada jatuh, bisa bisa tumbuh semua di perkebunan kiyai Husen" tutur Ibra sambil mengeratkan pegangan tangannya ke plastik yang berisi toge itu. Mereka pun berlarian di perkebunan itu menuju permukiman pesantren.
__ADS_1
Dari kejauhan ustad Usman dan ustad Soleh yang kini sedang bersiap untuk pulang karna gerimis, mereka pun melihat Ibra dan Anisa yang sedang berlarian di perkebunan itu.
" Itu siapa ka, ngapain mereka berlari larian di kebun, pake baju putih pula, sudah seperti hantu di siang bolong, eh bukan sudah seperti Shahrukh khan dan Kajol yang sedang berlarian digurun ketika hujan salju. Mereka seperti sedang syuting bolliwood" tutur ustad Usman hingga ustad Soleh mengernyitkan keningnya.
" Bicaramu tidak usah ngalor ngidul, pusing aku mendengarnya" ucap ustad Soleh sambil melangkah untuk pulang. Ustad Usman pun ikut pulang bersama kakaknya karna hujan semakin deras. Ibra sudah menggunakan sorbannya untuk melindungi Anisa.
* * * * * *
Malam pun tiba. Setelah mengerjakan shalat isya, Ibra pun sudah memakai celemek untuk memasak makan malam. Anisa sudah tersenyum senyum, merasa bangga dan lucu melihat suaminya yang mantan berandalan itu kini memakai sebuah celemek.
" Bim kau manis sekali memakai celemek seperti itu" ucap Anisa sambil duduk memperhatikan Ibra yang sedang berkutat dengan masakannya.
" Kau hanya mau melihat saja?, tidak mau membantu?" tanya Ibra.
"Mau bantu apa?, masaknya cuma sayur toge doang" batin Anisa.
" Aku kasih semangat aja ya. Semangat suamiku sayang" ucap Anisa memberi semangat. Ibra hanya tersenyum.
" Kau curang cuma jadi pemanis saja" ucap Ibra.
Setelah masakan sekesai, Ibra pun menaruh semua hasil masakannya ke atas meja.
" Tereeeeeeng, masakan sudah siap" ucap Ibra. Anisa pun terdiam menganga melihat hasil maha karyanya Ibra yang semuanya terbuat dari toge. Ada yang di sayur, di pepes, di tumis, di goreng dan lain lain.
Glek.
Anisa menelan ludahnya dengan kasar.
" Astaghfirullah kenapa tiba tiba aku merasa mual melihat semua masakan terbuat dari toge semua" batin Anisa.
" Ayo makan Sya"
Anisa pun nengangguk pasrah. Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu di depan rumah.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun pergi untuk membuka pintu. Dilihatnya Erika dan Zahira sedang berdiri di depan rumahnya sambil tersenyum.
" Kita boleh main kan ka" ucap Erika.
" Tentu, ayo masuk, kalian sudah makan?" tanya Anisa.
" Kebetulan kami belum makan" ucap Zahira.
Mereka pun masuk dan menemui Ibra di meja makan.
" Asalamualaikum ka Ibra" ucap Erika.
" Waalaikum salam, kebetulan ka Ibra masak banyak, ayo makan bareng" ucap Ibra.
Zahira sedikit menganga lalu menggosok gosok matanya sambil menatap semua masakan yang ada di atas meja itu.
" Erika, sepertinya mataku sedikit rabun deh, ko aku melihat semua masakannya mirip toge semua" ucap Zahira.
" Matamu normal Ira, memang semuanya toge" jawab Ibra.
" Ustad Ibrahim hobi makan toge ya, kereeeen" ucap Zahira.
" Ssssthh, jangan berisik. Ayo kita makan" ucap Anisa.
Mereka pun makan bersama sama.
" Kau tau Erika, kata orang sayur toge itu bisa membuat seseorang cepat hamil, aku mau makan yang banyak akh biar cepat hamil, nantikan aku dinikahin" tutur Zahira sambil tersenyum senyum hingga yang lain langsung mengeryitkan keningnya masing masing.
" Eh Ira, kau fikir setelah makan toge kau langsung hamil, kau mau melahirkan dan anakmu itu kacang ijo" gerutu Erika. Kini Zahira sudah cemberut kesal.
" Lagi pula bukannya kau itu takut melahirkan" ucap Erika kembali. Zahira pun terdiam.
" Oh iya aku lupa, aku kan takut melahirkan" ucap Zahira sambil tersenyum malu.
Anisa hanya diam saja sambil memandangi beraneka ragam masakan toge itu.
" Sya kenapa hanya dilihat saja, ayo dimakan" pinta Ibra. Anisa pun mengangguk.
__ADS_1
Anisa hanya mengambil sedikit sayur toge itu, tiba tiba Ibra mengambilkan beberapa tumis dan pepes toge itu ke piringnya Anisa.
Glek.
Anisa menelan salivanya.
" Kalau boleh jujur, aku ini tidak suka dengan sayur toge" batin Anisa. Anisa sudah berusaha makan sedikit demi sedikit, namun rasa mual karna tidak suka dengan toge membuatnya muntah karna mual tapi bukan karna hamil.
"Huek Oo Oo"
Anisa langsung berlari ke kamar mandi. Ibra nampak terkejut.
" Ka Anisa keselek toge bukan?" tanya Erika.
" Kakamu pasti sedang hamil, biasanya kalau orang hamil itu suka muntah muntah" ucap Zahira. Ibra langsung tersenyum mendengar ucapannya Zahira, iya langsung menyusul Anisa ke kamar mandi.
" Isya, kau hamil sayang?, waah manjur juga sayur togenya baru saja dimakan langsung hamil" ucap Ibra antusias. Anisa hanya menggelengkan kepalanya. Dengan sigap Ibra langsung membopong Anisa, menggendongnya dan membawa Anisa untuk pergi ke klinik.
" Biim, kenapa aku di gendong seperti ini?" ucap Anisa sambil meronta.
" Ssstth, jangan banyak bergerak, sekarang kita pergi ke klinik untuk memeriksa kehamilanmu" tutur Ibra.
" Tapi aku tidak hamil Bim" ucap Anisa.
" Sssstth, jangan banyak bicara kita ke klinik sekarang" ucap Ibra sambil melangkah keluar.
" Ira, Erika, ka Ibra mau ke klinik dulu, mau periksa sama dokter Husna. Kalian habisin saja makanannya" tutur Ibra.
" Biiim" Anisa ingin protes.
" Ssssth"
Ibra pun sudah menggendong Anisa berjalan menuju klinik.
" Ikuuuuuut" Zahira dan Erika pun berlari menyusul.
" Erika apa kakakmu mau di oprasi?" tanya Zahira.
" Kau jangan macam macam kalau bicara" gerutu Erika.
" Biim, turunkan aku, aku malu kalau dilihat orang" ucap Anisa.
" Sssth, jangan protes"
Anisa hanya menurut pasrah. Tiba tiba mereka bertemu dengan ustad Usman. Anisa merasa malu hingga iya pura pura pingsan.
" Asalamualaikum" ucap ustad Usman sedikit terkejut melihat Ibra menggendong Anisa.
" Waalaikum salam"
" Ustad, si Ani kenapa?" tanya ustad Usman.
" Sepertinya istriku sedang hamil ustad" jawab Ibra. Ustad Usman langsung menganga.
" Ani hamil????" tanya ustad Usman.
" Hmmm, sekarang saya mau membawanya ke klinik, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman sudah ketakutan.
"Astaghfirulkah alazim, si Ani hamil???, zona bahaya ini, aku sudah masuk zona gawat darurat, hidupku selalu ngenes dan naas kalau dekat dengan perempuan hamil. Apa aku harus kabur ke Kairo untuk menghindari semua ini, aihhhh aku galau" batin ustad Usman.
Tiba tiba datanglah Zahira dan Erika yang kini berlari menyusul Ibra dan Anisa.
" Eh selebor, Erika, kenapa kalian lari lari?" tanya ustad Usman.
" Kita mau ke klinik, ka Anisa hamil setelah makan toge, aku juga mau periksa, aku takut hamil juga karna aku habis makan toge yang sama" ucap Zahira.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Zahira dan Erika pun pergi berlari ke klinik.
Ustad Usman langsung mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
" Sebenarnya yang gila itu siapa sih, aku apa mereka?, kenapa tiba tiba aku takut makan toge ya, aku takut hamil"