
Sesampainya di pesantren. Ustadzah Ulfi dan ustad Adam serta Yusuf sudah menunggu di depan gerbang pesantren untuk menyambut mereka. Senyum bahagia nampak di bibir mereka. Semuanya keluar dari mobil kecuali Zahira yang masih tertidur.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Pak Akbar pun menghampiri ustad Azam. Mereka pun bersalaman begitu juga tante Ayu dan ustadzah Ulfi.
" Pak Akbar, terima kasih sudah merestui adik kami dengan Anisa" ucap ustadzah Ulfi.
Pak Akbar pun mengangguk tersenyum.
" Mari kita ke masjid dulu, semua sudah disiapkan di sana. Kita bisa beristirahat sejenak" ucap ustad Azam.
Tiba tiba Riziq dan Aisyah datang.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Aisyah dan Riziq pun bersalaman dengan mereka.
"Ustad, ngomong ngomong Zahira kemana?" tanya Riziq.
" Astaghfirullah Ira masih tidur di mobil" jawab Ibra lupa. Riziq pun membuka pintu mobil belakang, dilihatnya Ira masih tertidur.
" Ira bangun"
Riziq pun menggoyang goyangkan pundaknya Zahira.
" Ira, kau sudah sampai di pesantren"
Zahira pun mengerjap ngerjapkan matanya sambil menggeliat di lihatnya ada Riziq yang membangunkannya.
" Ka Riziq menyusulku ke Jakarta?" tanya Zahira yang belum sadar sepenuhnya.
" Kau sudah sampai ke pesantren" jawab Riziq.
" Benarkah?"
" Hmmm, ayo bangun"
Zahira malah merentangkan kedua tangannya.
" Gendong" ucap Zahira penuh harap. Badannya berasa lelah setelah perjalanan jauh. Riziq langsung mengeryitkan keningnya.
" Kau jangan macam macam ya" ucap Riziq.
" Aku cape ka"
" Memangnya kau pulang dari Jakarta kesini jalan kaki?" ucap Riziq.
" Aku mau di gendong"
Tiba tiba Riziq tersenyum.
" Ya sudah ayo kugendong"
Zahira pun langsung memegangi pundak Riziq lalu di gendongnya. Riziq pun menggendong Zahira mendekati mereka.
" Astaghfirullah alaziim Ira" ucap Aisyah.
Tiba tiba mata Zahira membulat, iya langsung meloncat dari gendongan kakaknya setelah melihat ada Yusuf di hadapannya Riziq. Yusuf hanya menunduk sambil tersenyum. Wajah Zahira sudah memerah karna malu. Iya pun mencubit pinggangnya Riziq. Zahira yakin kakaknya itu sengaja menggendongnya di hadapan Yusuf.
" Aww, kenapa kau mencubitku Ira"
" Ka Riziq kenapa tidak bilang kalau ada ka Yusuf, aku kan malu" bisik Zahira. Semua nampak tersenyum melihat kelakuannya Zahira.
" Ayo kita ke masjid" ajak ustad Azam.
" Nisa, kau ikut ke rumahnya ka Aisyah ya, nanti kita bisa merias dirimu di sana" ucap Aisyah. Anisa pun mengangguk.
__ADS_1
" Nis aku ke butik dulu mau mengambil gaun pernikahan untukmu" ucap Elina.
" Terima kasih Lin"
Elina pun pergi ke butik.
Ustad Azam, Riziq serta pak Akbar dan tante Ayu pergi ke masjid. Sementara ustadzah Ulfi pergi ke rumahnya bersama Ibra untuk membersihkan diri lalu berpakaian yang layak untuk pernikahan yang sengaja sudah di persiapkan ustadzah Ulfi.
Ibra nampak gagah dengan setelan baju pengantinnya yang serba putih. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
" Jadilah suami yang bertanggung jawab. Bimbinglah Anisa agar lebih dekat dengan Allah" pinta ustadzah Ulfi. Ibra pun mengangguk tersenyum.
Setelah selesai bersiap, Ibra dan ustadzah Ulfi langsung pergi ke masjid.
Kini di rumah Aisyah, Anisa sudah berias menggunakan gamis putih berenda. Nampak cantik dan anggun meskipun riasannya hanya sederhana.
" Kau cantik Anisa" ucap Aisyah dan Elina. Erika pun memeluk kakaknya.
" Selamat ya ka"
Anisa pun tersenyum sambil membelai wajah adiknya itu.
" Terima kasih De"
" Ka Elina, baju pengantinnya masih ada lagi gak?, aku mau pake, siapa tau ka Yusuf kebita liat omnya menikah, trus ngajakin aku nikah" ucap Zahira. Hingga yang lain langsung mengernyitkan kening masing masing.
" Kau jangan macam macam ya Ira" ucap Aisyah hingga Zahira mengerucutkan bibirnya, sementara yang lain tertawa.
Setelah selesai berias, Anisa dan yang lainnya pun pergi ke masjid besar pesantren. Disanalah pernikahan akan dilaksanakan.
Sesampainya di sana, semua sudah berkumpul. Ibra pun sudah duduk di depan penghulu. Ustad Azam dan ustad Soleh menjadi saksi. Dan pak Akbar menjadi wali nikah. Ibra tersenyum melihat Anisa dengan balutan gamis pengantin yang begitu nampak cantik. Anisa pun duduk bersama Aisyah dan Sarah. Elina, Zahira dan Erika duduk di belakangnya Anisa. Semua ustad sudah berada di masjid termasuk kiyai Husen dan ustad Usman yang kini sedang kebingungan dengan keinginannya Nisa yang kini ngidam kembali. Ustad Usman dan Nisa pun mendekati pak penghulu.
" Maaf pak penghulu, semuanya, istri saya lagi hamil, ia sedang ngidam ingin foto bareng sama pak penghulu" ucap ustad Usman sambil berbisik, sebenarnya ia sudah malu dengan kemauan istrinya itu.
" Oh silahkan, mumpung acaranya belum dimulai" ucap Pak penghulu.
Nisa pun tersenyum lalu duduk di sebelah pak penghulu. Ustad Usman pun langsung memotonya.
" Lama lama aku bisa cemburu. Untung penghulunya sudah tua dan rambutnya kinclong dengan warna putih. Jadi aku tidak merasa kebakaran" batin ustad Usman.
" Terima kasih pak penghulu" ucap ustad Usman. Pak penghulu pun mengangguk. Ustad Usman dan istrinya pun duduk bersama Riziq dan yang lainnya.
Proses dan tata cara pernikahan pun dilaksanakan sesuai agama. Kini tinggalah ijab kabul. Ibra sudah menjabat tangan pak Akbar.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Malik Ibrahim bin Sulaiman dengan Anisa Maharani Akbar binti Akbar Fahrazi dengan maskawin seperangkat alat shalat di bayar tunai" (Pak Akbar)
" Saya terima nikah dan kawinnya Anisa Maharani Akbar binti Akbar Fahrazi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ( Ibra).
" Bagaimana sah?"
" Sah"
" Sah"
" Sah"
" SAAAAAAAAAAAAAAAAAH" (Usman).
Umi Salamah langsung menepuk pundak putranya itu dengan sedikit kesal.
" Kebiasaan kau selalu bikin heboh" gerutu Umi Salamah.
" Aku lagi senang umi"
" Alhamdulilah"
Semua orang mengucap syukur. Ustadzah Ulfi sudah tersenyum sambil menyeka air matanya.
" Terima kasih ya Allah kau telah memberikan jodoh untuk adik lelakiku"
Ibra pun tersenyum menatap Anisa. Anisa pun ikut tersenyum lalu menundukan wajahnya karna malu.
__ADS_1
Setelah proses pernikahan selesai, Anisa pun mencium tangan Ibra yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Ibra pun tersenyum lalu mencium kening istrinya itu. Tak lupa Anisa pun mencium tangan ayahnya lalu memeluknya sambil terisak.
" Makasih yah, sudah merestui pernikahanku"
Pak Akbar pun ikut berkaca kaca.
" Pesan ayah, jadilah istri yang solehah"
Anisa pun mengangguk sambil menyeka air matanya.
" Kakak"
Anisa pun langsung memeluk Erika.
" Selamat ya ka"
Tak lupa Anisa pun mencium tangannya ustadzah Ulfi. Ustadzah Ulfi pun tersenyum lalu mencium pipinya Anisa.
" Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah" ucap ustadzah Ulfi.
" Amiin"
Ibra pun mencium tangan mertuanya itu.
" Kau jaga Anisa ya, bimbinglah dia ke jalan yang benar. Jika Anisa berbuat salah, tolong tegurlah dia tapi jangan sampai kau pukul" pinta pak Akbar. Ibra pun mengangguk.
" Pasti pak"
Ibra pun mencium tangan ustadzah Ulfi dan ustad Azam.
" Jadilah suami yang bertanggung jawab. Jaga Anisa baik baik, jangan buat dia menangis"
Ibra kembali mengangguk. Ibra pun memeluk Yusuf.
" Selamat ya om"
" Makasih Suf"
Zahira pun mendekati Riziq dan berbisik pada kakaknya itu.
" Ka jangan biarkan penghulunya pergi dulu"
" Memangnya kenapa?" tanya Riziq.
" Sebelum penghulunya pergi, suruh dia menikahkanku dulu dengan ka Yusuf" ucap Zahira. Riziq langsung memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam ya Ira, usiamu masih 13 tahun"
" 16 tahun"
" Tetap saja masih di bawah umur" tegas Riziq. Zahira langsung mengerucutkan bibirnya.
Aisyah pun berbisik pada ustad Usman.
" Ka, kau tidak mau memberi obat kuat pada ustad Ibrahim?"
Ustad Usman langsung melirik Aisyah.
" Kau mau aku di kasih bogem sama si ustad preman itu" gerutu ustad Usman.
" Ha ha ha ha" Aisyah tertawa puas.
Setelah bersalaman pada semuanya. Kebahagiaan nampak di raut wajah pasangan suami istri itu.
" Terima kasih kau sudah mau menghalalkanku" ucap Anisa.
" Aku pun terima kasih karna kau sudah mau menepati janjimu"
Ibra pun langsung menggenggam tangannya Anisa sambil tersenyum.
" Terima kasih ya Allah, kau telah mengirimkan lelaki yang baik untuk menjadi imamku. Aku tidak perduli lagi dengan masalalunya yang penting sekarang dia sudah berubah. Untukmu Malik Ibrahim, jadilah imam yang baik untuku, bimbinglah aku untuk dekat dengan Allah. Bimbinglah aku menjadi istri yang sholehah. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk menepati janji padamu" ( Anisa).
__ADS_1