
Sebelum Anisa pergi ke butik, iya pun mampir sebentar ke toko bukunya Ibra. Salwa sudah berberes beres. Anisa pun ikut membantu, iya ingin tau kegiatan apa saja yang dilakukan suaminya selain mengajar.
" Nis, kau kan belum sarapan" ucap Ibra mengingatkan. Anisa pun terdiam, iya tau kalau Ibra juga belum sarapan gara gara Anisa menariknya untuk segera pergi dari rumah.
" Kau tunggu di sini, aku beli sarapan dulu" ucap Ibra melangkah keluar.
" Ikut"
Anisa ikut menyusul, lalu menggandeng lengan suaminya untuk mencari sarapan. Ibra hanya tersenyum, iya baru merasakan dekat dengan perempuan yang kini sudah menjadi istrinya.
" Mau sarapan apa?"
" Terserah"
Ibra dan Anisa pun pergi berjalan kaki menyusuri jalanan yang berjejer dengan pedagang pedagang jajanan di pinggiran jalan. Mereka berhenti tepat di depan penjual nasi kuning.
" Mau nasi kuning?" tanya Ibra.
Anisa hanya mengangguk. Mereka pun memesan 3 bungkus.
" Buat Elina satu ya"
" Hmmm"
Setelah selesai membeli sarapan, Ibra dan Anisa pun pergi ke butik untuk sarapan di sana.
" Asalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab Elina.
Ibra dan Anisa pun langsung duduk di Sofa, kebetulan hari masih pagi jadi belum ada pengunjung yang datang.
" Kau sarapan belum Lin?" tanya Anisa.
" Kebetulan sih belum, memangnya kau membelikan sarapan untuku?" tanya Elina.
" Tentu"
Anisa pun memberikan satu bungkus nasi kuning pada sahabatnya itu.
" Duuuh makasih ya kalian baik banget" ucap Elina sambil membuka nasi kuning itu.
" Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Ibra pada Elina.
" Hmmm"
" Apa keuanganmu sedang menipis?" tanya Ibra. Elina hanya mengernyitkan keningnya.
" Maksudnya?"
" Kenapa kau memberikan hadih pernikahan pada Anisa hanya sebuah kain lap?"
Sebenarnya Ibra tak ada maksud dengan pertanyaannya itu, hanya saja iya penasaran dengan alasannya.
" Kain lap???????"
Elina langsung menatap Anisa. Anisa sudah tersenyum getir.
" Itu bukan kain lap, itu adalah baju tidur sexy cocok untuk pengantin baru mmmmm" Anisa langsung membekap mulutnya Elina.
" Tidak perlu di jelaskan seperti itu" bisik Anisa sedikit kesal.
" Kenapa?"
" Aku tidak suka baju seperti itu" bisik Anisa.
" Itu sangat cocok untukmu yang pengantin baru, kau bisa menggoda si ustad preman dengan baju itu"
" Tidak mau, itu baju wanita akhir zaman" jawab Anisa.
" Kau hanya memakainya di depan si Ibra doang, biar matanya gak berkedip" bisik Elina.
" Aku punya cara sendiri untuk menggoda suamiku"
" Caranyaaaaa?"
Anisa mulai terdiam bingung karna memang iya tidak tau bagaimana caranya menggoda suami.
" Sok pintar padahal bodoh, kau tidak tau kan caranya menggoda laki laki, nanti aku kasih nomor mami Viona padamu" bisik Elina kembali.
" Siapa mami Viona?"
" Seorang mucikari hebat, dia pasti sangat ahli dalam mengajarkan menggoda laki laki"
__ADS_1
" Kau sudah gila"
" Ha ha ha ha, aku hanya bercanda, lagi pula kau tidak perlu jauh jauh mencari guru untuk mengajarimu menggoda suami, kau kan punya tetangga yang ahli dalam hal itu" ucap Elina.
" Siapa?"
" Ka Aisyah, istrinya si ustad berondong itu, bukankah dia sangat ahli bersikap genit dan menggoda suaminya" tutur Elina. Anisa pun mengangguk tersenyum.
" Nanti akan kujadikan guru privat pribadiku" ucap Anisa sambil tersenyum senyum. Ibra hanya nenatap kedua perempuan yang ada dihadapannya itu yang sedari tadi bisik bisik.
" Ehem"
Ibra berdehem. Sedari tadi iya merasa di cuekin Anisa.
" Kenapa Bim?, kau keselek?" tanya Anisa sambil menyodorkan segelas air putih pada suaminya itu.
" Aku batuk" jawab Ibra sedikit kesal hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.
" Bim itu siapa ????" tanya Elina.
" Kau kepo" ucap Anisa.
Setelah sarapan selesai, Anisa pun mengantarkan Ibra ke depan pintu.
" Pulangnya barengkan?" tanya Anisa. Ibra pun mengangguk.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, hati hati Abim"
Ibra pun menyebrang jalan menuju toko bukunya.
" Abim? ? ? ? ? ?"
Elina masih penasaran meminta jawaban.
" Itu panggilanku pada Ibra, dia yang minta" jawab Anisa. Seketika itu pula Elina tertawa terbahak bahak, hingga dengan sigap Anisa membungkam mulutnya Elina.
" Kau mau suamiku mengalungkan cerulit di lehermu???" tegas Anisa.
" Abis lucu Nis, kalau aku dengar kau memanggilnya begitu, aku jadi pengen nyanyi"
" Nyanyi apa?"
" Itu Abim ngesti, dia penyanyi cilik ditahun 90'n, jangan tertawakan panggilan untuk suamiku, nanti dia mengeluarkan senjata tajamnya" ucap Anisa.
" Palingan cuma kau yang disiksa diatas tempat tidur" goda Elina.
" Eh ngomong ngomong, kalian sudah goll? ? ?" Elina semakin kepo.
" Jangan bahas itu"
" Kenapa? ? ? "
" Nanti kau kepengen" ucap Anisa sambil membereskan buku buku disainnya.
" Eh Nis ngomong ngomong, tante Ayu semalam menghubungiku, dia mau mengirim kain batik dan kain satin serta berukat kesini untuk dijadikan baju seragam untuk acara walimatul ursy mu" tutur Elina.
" Benarkah??"
" Hmmm"
Anisa pun merasa senang.
* * * * * *
Sore pun tiba. Anisa sudah berberes beres bersama Elina untuk menutup butik.
Dilihatnya Ibra sedang berdiri di pinggir trotoar untuk menyebrang jalan.
" Tuh si ustad premanmu sudah jemput" ucap Elina. Anisa pun tersenyum.
" Aku duluan ya Lin, asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun bertemu Ibra di depan butik.
Sebelum pulang, Anisa sempat mencium tangan suaminya. Lalu menyebrang jalan dan melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Anisa pun memberanikan diri menggandeng tangannya Ibra dengan sedikit malu malu.
" Kalau kau ingin berjalan sambil memeluku juga tidak apa apa" ucap Ibra sambil tersenyum hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.
Sesampainya di pesantren, mereka pun bertemu Yusuf dan Hasan.
__ADS_1
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, baru pulang Suf?" tanya Ibra. Yusuf pun mengangguk lalu menatap Anisa.
" Tante Nisa, tadi Zahira sama Erika sudah mengembalikan baju ka Nisa yang ketinggalan?" tanya Yusuf. Anisa hanya diam tak mengerti.
" Baju?, baju apa suf?" tanya Anisa.
" Baju tante Nisa yang keringgalan dipinggir kompor" jawab Yusuf.
Deg
Deg
Deg.
" Memangnya itu baju apa Nis?" tanya Ibra.
" E, bukan baju apa apa"
Anisa mulai gugup dan kebingungan.
" Sekarang bajunya ada sama siapa?" tanya Anisa.
" Tadi sih ada sama Ira dan Erika" jawab Yusuf.
" Asalamualaikum"
Seketika Anisa langsung berlari menuju asrama. Ibra pun ikut berlari menyusul.
Sesampainya di asrama, Anisa langsung masuk kamar dedemit alam gaib, sementara Ibra menunggu di depan.
" Mana baju yang dititipkan Yusuf?" tanya Anisa pada Zahira dan Erika. Karna begitu panik, Anisa datang tanpa mengucap salam.
" Selow dong ka Nisa selow" ucap Zahira.
" Mana bajunya?" tanya Anisa kembali.
" Bajunya diambil sama ustad Usman"
Mata Anisa membelalak.
" Ustad Usman???, ko bisa?"
" Semua gara gara si Ira ka" ucap Erika.
Tanpa berfikir panjang, Anisa berlari kembali menuju rumahnya ustad Usman diikuti oleh Ibra. Sesampainya di sana.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam" jawab ustad Usman.
" Mana baju yang dititipkan Zahira pada ustad" pinta Anisa.
" Nyantai Anisa nyantai, jangan lari lari seperti itu, jangan gurung gusuh seperti itu. Nanti tenagamu habis untuk nanti malam" tutur ustad Usman. Ibra langsung memicingkan matanya. Seketika itu pula ustad Usman bergidik ngeri.
" Aku tanya bajunya mana?"
" Baju apa?"
Anisa sedikit malu untuk menjawab.
" Lingrie"
" Siapa lingrie?" tanya ustad Usman.
" Itu baju yang dibawa Zahira tadi pagi"
" Oh jadi baju wanita akhir zaman itu namanya si lingrie?, kau jangan kasih lihat sama Zahira dan Erika, itu akan membuat fikiran mereka sedikit kotor" tutur ustad Usman. Anisa sudah menunduk malu.
" Bajunya sekarang mana?"
" Aku kasih sama si ustad berondong, si selebor bilang itu punya Aisyah"
Anisa mulai menganga.
" Di kasih sama ustad Riziq????"
" Hmmm"
" Asalamuakaikum"
Anisa langsung menarik tangan Ibra untuk pergi menemui Riziq. Ustad Usman yang melihat pun langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Astaghfirullah alazim, kelakuan pasangan pengantin baru. Tidak usah pakai baju seperti itu, langsung saja telanjang, ribet amat. Untung Nisa istriku belum sempat lihat, kalau dia lihat, dia pasti langsung minta dicobain bajunya. Masih untung kalau perutnya masih langsing, sekarangkan perutnya sudah buncit. Pasti aku mendadak pingsan melihatnya. Astaghfirullah alazim, kiamat sudah dekat"