
Kini Anisa dan Ibra berjalan berdua saat pulang dari perkebunan. Berjalan bergandeng tangan dan berpegangan tangan. Mungkin kalau Aisyah selalu bersikap seperti itu berpegangan tangan, karna selain mengikuti kasih sayang menurut rasulullah, iya juga berfikir itu akan sedikit bisa menghindari dari serangan pelakor.
" Tadi ustad Usman bicara apa padamu di perkebunan?" tanya Ibra. Anisa pun terdiam, iya fikir kalau Ibra tidak ngeh saat ia dan ustad Usman membahas Aisyah dan Riziq.
" Aku tidak bicara yang aneh aneh" ucap Anisa.
" Masa?, kulihat kalian nampak serius"
Anisa pun terdiam lalu menatap suaminya itu.
" Apa kau cemburu padaku?" tanya Anisa sambil tersenyum senyum hingga Ibra pun ikut tersenyum.
" Kenapa aku harus cemburu pada ustad Usmsn" ucap Ibra hingga Anisa menyipitkan matanya.
" Jadi kau tidak cemburu padaku?" tanya Anisa sedikit tak suka. Ibra malah tertawa.
" Kenapa Ani, kenapa aku harus cemburu saat kau berbicara dengan ustad Usman" ucap Ibra sambil meniru suara dan gayanya ustad Usman berbicara. Dengan sedikit kesal Anisa langsung memukul pelan tangannya Ibra.
" Kau rese Bim"
" Ha ha ha ha"
" Aku hanya ngobrol tadi, aku ketahuan memperhatikan ka Aisyah sama ustad Riziq saat di perkebunan" tutur Anisa.
" Kenapa kau memperhatikan mereka?" tanya Ibra heran. Anisa pun tersenyum malu.
" Aku sedikit iri pada mereka Bim. Mereka nampak romantis meskipun usia mereka terpaut 5 tahun. Dimana pun mereka berada mereka nampak begitu terlihat sempurna" tutur Anisa kembali. Ibra pun tersenyum.
" Seharusnya bukan kau yang merasa iri pada mereka, justru seharusnya merekalah yang harus iri pada kita"
" Maksudnya?" tanya Anisa tak mengerti.
Ibra malah tersenyum.
" Bukankah kita adalah pasangan fenomenal, seorang Ibra mantan berandalan Jakarta, sangat beruntung mempunyai seorang istri seperti Anisa Maharani Akbar, yang pintar mendisain pakaian, yang pintar masak, yang pintar membuat cemas suami yang pintar bagi bagi daun pandan, dan pintar dalam urusan ranjang" ucap Ibra sambil tertawa kecil hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.
" Pada kenyataannya aku tidak bisa masak" gerutu Anisa hingga Ibra tertawa.
" Pada kenyataannya juga setiap orang itu punya kekurangan dan kelebihannya masing masing, dan aku menyukai kekurangan dan kelebihanmu" tutur Ibra hingga Anisa tersenyum malu.
" Termasuk menerima saat aku sedang marah dan mengeluarkan kata kata menyebalkanku, nyerocos tanpa rem?" tanya Anisa.
" Hmmm, aku menerimanya, akan kusumpal telingaku dengan kapas kalau kau sedang bernyanyi tak jelas" ucap Ibra sambil menahan tawanya.
" Aku bukan sedang bernyanyi tak jelas, tapi sedang marah marah" gerutu Anisa. Ibra malah kembali tertawa.
" Maaf ya Bim, kalau aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, aku masih banyak kekurangan"
Ibra pun tersenyum.
" Dengarkan aku. Tak ada seorang pun perempuan yang sempurna, begitu pun dengan laki laki. Sesungguhnya kesempurnaan itu apabila keduanya saling menutupi kekurangan maka akan terwujudlah kesempurnaan" tutur Ibra. Anisa pun tersenyum lalu mengeratkan genggaman tangannya.
Di tengah jalan menuju rumah, Anisa dan Ibra melihat Syifa sedang menangis digendongan Dewi.
" Itu Syifa kenapa lagi menangis?, bukannya celengan semarnya sudah beli lagi" gumam Anisa. Anisa dan Ibra pun menghampiri.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Syifa masih sesegukan di gendongan ibunya.
" Syifa kenapa lagi ka Dewi?" tanya Anisa.
" Celengan semarnya pecah lagi, tidak sengaja kesenggol ayahnya" jawab Dewi.
" Astaghfirullah"
" Kenapa bang Muklis itu tidak hati hati hingga menyenggol celengan semar. Kenapa bang Muklis tidak menyenggol ka Dewi saja" ucap Anisa, hingga Dewi mengernyitkan keningnya sementara Ibra sudah tersenyum senyum.
" Ucapanmu tidak salah Anisa, kalau bang Muklis menyenggolku, sudah pasti dia yang celaka, dia pasti terpental dan tersungkur" ucap Dewi sedikit menggerutu hingga Anisa tertawa tawa kecil.
" Benar juga ya, kalau bang Muklis menyenggol ka Dewi sudah pasti dia yang akan pecah" ucap Anisa sambil cekikikan hingga Ibra mencubit pinggangnya.
__ADS_1
" Isya kau tidak boleh begitu" ucap Ibra mengingatkan.
" Iya Bim maaf, aku hanya bercanda" jawab Anisa.
" Ya sudah, aku dan Syifa pamit dulu mau ke pasar, mau beli celengan baru, asalamualaikum" Dewi berpamitan.
" Waakaikum salam, hati hati"
Anisa dan Ibra pun tersenyum menatap kepergian Dewi dan Syifa.
" Lucu ya mereka"
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.
- - - - - - -
Sore pun tiba, Anisa baru selesai mandi. Iya sudah menggunakan gamis berwarna ungu muda. Duduk di kursi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tiba tiba Ibra ikut duduk di belakang Anisa, lalu mengambil handuk itu dari tangan istrinya.
" Kenapa Bim?" tanya Anisa.
" Biar aku saja" pinta Ibra. Kini Ibralah yang mengeringkan rambut Anisa.
" Kenapa sore sore begini rambutmu sudah basah?" tanya Ibra sambil tersenyum senyum.
" Jangan menggodaku seperti itu"
Ibra malah tertawa. Setelah mengeringkan rambut Anisa dan mengikatnya hingga rapih, Ibra pun tersenyum.
" Sudah selesai Bim?" tanya Anisa.
" Yang atas sudah yang bawah belum"
Anisa langsung mengernyit mendengar jawaban suaminya itu.
" Apa maksudnya?" tanya Anisa tak mengerti. Ibra malah tersenyum lalu meraih retsleting bagian belakang baju gamis Anisa dan menurunkan retsleting itu.
" Abiiiim"
" Kau sore sore begini sudah buka buka retsleting" gerutu Anisa. Ibra tak henti hentinya menertawakan reaksinya Anisa.
" Seorang istri harus siap sedia jika suatu saat suaminya tiba tiba minta jatah"
" Moduus"
" Ha ha ha"
Anisa pun hendak memakai kerudung simplenya, namun tiba tiba Ibra mengambilnya.
" Biar aku yang pakaikan"
Ibra pun memakaikan kerudung itu pada Anisa.
" Sudah selesai" ucap Ibra sambil tersenyum.
" Cantik banget ya Bim" ucap Anisa sambil tersenyum senyum hingga Ibra pun ikut tersenyum.
" Ternyata istriku ini orangnya terlalu percaya diri ya" ada nada sedikit mengejek dalam kalimatnya Ibra.
" Tentu saja aku percaya diri. Aku adalah perempuan paling cantik di rumah ini" ucap Anisa hingga Ibra tertawa lalu langsung menangkup kedua pipi Anisa dengan satu tangannya.
" Mau apa?" tanya Anisa.
" Mau merasakan kecantikan istriku" ucap Ibra sambil mendekati Anisa hingga Anisa langsung memejamkan matanya. Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah.
Tok tok tok.
Anisa langsung membuka matanya dan sedikit mendorong Ibra hingga Ibra sedikit menjauh.
" Ada tamu Bim"
" Bukakan pintu sana" pinta Ibra.
Anisa pun bangun dari duduknya dan langsung pergi untuk membuka pintu.
__ADS_1
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa pun tersenyum saat membuka pintu ternyata ada Erika dan Zahira di depan pintu.
" Erika, Zahira, kirain siapa yang dateng, ayo masuk" ajak Anisa.
Erika dan Zahira pun masuk ke rumah itu. Dilihatnya Ibra masih duduk di kursi.
" Eh ada Erika sama Zahira" sapa Ibra. Erika dan Zahira pun tersenyum.
" Duduk " pinta Anisa.
Erika dan Zahira pun sudah duduk di hadapan Ibra dan Anisa.
" Maaf ka aku ganggu, aku mau mengambil titipan ayah. Kata ayah dia titip uang jajanku sama kakak" tutur Erika.
" Astaghfirullah De, kakak lupa, sebentar ya kakak ambil dulu" ucap Anisa sambil berlalu ke kamarnya mengambil amplop yang berisi uang jajan dari pak Akbar. Setelah mengambil amplop itu, Anisa pun memberikannya pada Zahira.
" Maaf ya De, kemarin kakak lupa"
" Gak apa apa ka" ucap Erika sambil memasukan amplop itu ke saku bajunya.
" Ka Anisa aku tidak dapat jatah dari om polisi?" tanya Zahira.
" Dapet ko" ucap Anisa sambil tersenyum senyum.
" Benarkah???"
" Hmmm"
" Apa?" tanya Zahira penasaran.
" Kata ayah, sel yang ada di pojokan kantor polisi masih kosong, katanya kalau kau bersedia kau boleh mengontrak di sana" tutur Anisa sambil tersenyum senyum hingga Zahira mengerucutkan bibirnya, sementara Erika sudah cekikikan.
" Pasti lucu ya ka, satu kantor polisi akan dibuat pusing 7 keliling oleh kelakuannya Ira. Pasti dihari kedua Ira menginap di sana, para penghuni kantor polisi langsung berpindah ke rumah sakit. Bukan karna pindah rumah tapi karna mereka di buat migren hingga haris mendapatkan perawatan intensif" tutur Erika.
Anisa malah tertawa.
" Kata ustad Usman mah 3S. SETRES, SETRUK, SEKARAT"
" Kalian jahat sekali" ucap Zahira.
" Maaf Ira cuma bercanda"
" Tapi ngomong ngomong emang benar ya aku boleh menginap di kantor ayahmu Erika?, kalau iya aku mau mencobanya, siapa tau lebih menyenangkan dari pada diculik" tutur Zahira hingga ketiga orang yang ada dihadapannya itu langsung nenganga tak percaya.
" Kau jangan macam macam Ira, kau mau ditembak ayahku" ucap Erika.
" Akukan sering bilang padamu, jika ayahmu menembaku, maka aku akan menjawab I LOVE YOU TO. Gampangkan" jawab Zahira.
" Astaghfirullah, dosa apa aku punya teman sepertimu"
" Berteman denganku bukan suatu dosa, melainkan suatu anugrah hi hi hi" ucap Zahira sambil tertawa tawa kecil.
-
-
-
-
-
-
-
Cerita ini di buat untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan saya minta maaf. Tidak ada niat sedikit pun dalam hati untuk merendahkan atau menyinggung apapun baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.
Terima kasih.
__ADS_1