Janji Anissa

Janji Anissa
Ikut duduk


__ADS_3

Setelah selesai dari rumahnya ustad Usman, Zahira dan Erika pun pergi ke rumahnya Anisa bersama Aisyah dan putra putrinya. Sesampainya di sana.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab ustadzah Ulfi sambil membuka pintu.


" Ustadzah, boleh saya menjenguk Anisa" ucap Aisyah.


" Tentu, mari masuk" ajak Ustadzah Ulfi.


Aisyah, Zahira dan Erika pun masuk ke rumah. Dilihatnya Ibra sedang menyuapi Anisa, meskipun Anisa selalu menggeleng karna ingin makan sendiri.


" Buka gak" pinta Ibra sedikit memaksa hingga Anisa mau tidak mau membuka mulutnya, dengan sabar Ibra merawat Anisa.


" Bim, tangan kananku kan tidak sakit, biar aku makan sendiri, aku malu sama mba Ulfi" ucap Anisa.


" Kakak" Erika langsung menghampiri di susul yang lain. Anisa pun tersenyum.


" Ka Anisa" ucap Zahira sambil ikut duduk dihadapannya Anisa. Anisa pun tersenyum.


" Bagaimana keadaannya Anisa?" tanya Aisyah.


" Alhamdulilah sudah baikan ka, terima kasih sudah menjenguk" ucap Anisa.


"Ira kau tidak apa apa dengan kejadian penyekapan itu?" tanya Anisa.


" Tentu saja aku baik baik saja, hanya saja kejadiannya lebih menyenangkan saat diculik sama om kembar, mereka baik, meskipun bodohnya sama kaya om Bondan, Dulu aku dibeliin martabak coklat sama martabak keju, diajak jalan jalan ke mal beli mukena, dikasih uang sama dibeliin oleh oleh. Tapi kemarin di culik om Bondan boro boro dikasih makan malah di omelin sama bos Syabil. Tapi kemarin itu sudah berasa di film film holiwood, ada dramanya ada actionnya, seruuuu, apalagi saat om ustad sama ka Riziq ikutan bergulat melawan penculiknya, sungguh kereeeeen" tutur Zahira begitu antusias.


" Kalau diculik lagi mau?" tanya Ibra.


" Tentu. Lumayan buat cari pengalaman" ucap Zahira sambil tersenyum senyum.


" Kau jangan macam macam Ira, kakakmu bisa senewen" gerutu Aisyah.


" Pengalamanmu unik ya, pengalaman korban penculikan" ucap Erika.


" Kau tidak usah iri begitu padaku, kau tidak pantas jadi korban penculikan" jawab Zahira.


" Sepertinya kau sangat bangga jadi korban penculikan"


" Tentu saja, itu akan menjadi sejarah dalam hidupku" ucap Zahira dengan bangganya. Erika hanya mengernyitkan keningnya.


" Kau yang sabar ya Erika, hobby nya Ira memang membuat semua orang pusing" ucap Aisyah sambil tersenyum senyum hingga Zahira mengerucutkan bibirnya.


" Ka Elina gak kesini ka?" tanya Erika.


" Baru saja pulang, mungkin sekarang sedang istirahat di asrama, atau mungkin sedang berberes beres pakaiannya, katanya besok dia mau buka butik kembali"


" Waaah aku bantuin akh, kayanya seneng tuh bisa pakein baju sama patung patung manekin" tutur Zahira.


" Kau jangan macam macam Ira, nanti kau membuat kacau seisi butik" ucap Aisyah.


" Iya ntar patung manekin laki laki dipakein baju gamis" ucap Erika sengaja mengejek. Zahira langsung menggeram.


" Kau fikir mataku sudah rabun hingga tidak bisa membedakan mana patung laki laki dan mana patung perempuan" gerutu Zahira.


* * * * *


Malam pun tiba, Ibra sudah membawa air hangat dan obat untuk Anisa. Anisa sudah berbaring di tempat tidur.


" Minum obat dulu" pinta Ibra.


Anisa malah menggelengkan kepalanya.


" Kenapa?"


" Pahit"


Ibra pun terdiam sambil menatap Anisa.


" Minumlah, jangan sampai aku menekan hidungmu lalu mentransperkan obat itu ke mulutmu" tutur Ibra. Anisa langsung membungkam mulutnya hingga Ibra tertawa tawa kecil.


" Kesempatan dalam kesempitan" gerutu Anisa.


" Aaaa" pinta Ibra kembali.


Anisa pun menurut dan membuka mulutnya. Setelah meminum dan menelan obatnya, Anisa pun duduk bersandar di pinggiran tempat tidur bersama Ibra.


" Meskipun besok Elina akan membuka butik kembali, kau masih tidak boleh ke sana, luka di tanganmu masih belum sembuh benar" ucap Ibra.


" Hmmm"

__ADS_1


" Dan kalau kemana mana kau tidak boleh sendirian, harus ada yang menemanimu dan harus izin dariku" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk.


" Maaf ya Bim, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu"


" Aku siap membimbingmu"


Anisa pun tersenyum lalu memeluk Ibra hingga iya tertidur begitu saja, padahal sedari tadi Ibra masih mengajaknya berbicara.


" Sya, Isya" panggil Ibra ketika Anisa tak terdengar lagi suaranya. Dilihatnya Anisa sudah tertidur sambil memeluknya. Ibra hanya tersenyum.


" Puasa lagi deh"


Pagi pagi buta, Ibra sudah rapih menggunakan setelan koko dan sarungnya, iya pun membangunkan Anisa yang masih terlelap.


" Tidur paling awal, bangunnya paling belakangan" ucap Ibra heran.


" Sya bangun"


Ibra membangunkan Anisa. Seketika Anisa langsung membuka matanya.


" Sudah pagi ya Bim?" tanya Anisa.


" Hmmm, bangunlah, suara adzan sudah menggema. Aku bantu kau untuk mandi"


" Tidak usah, aku bisa sendiri" tolak Anisa. Ibra tidak mau mendengar penolakan, hingga kini iya menggendong Anisa ke kamar mandi. Dengan sabar Ibra membantu Anisa membersihkan diri mengambilkan air dan sabun tanpa perlu menyentuh istrinya. Setelah selesai, Ibra pun membantu memakaikan pakaian.


" Aku sudah seperti seorang bayi" ucap Anisa.


Ibra hanya tersenyum.


" Jangan banyak protes, tanganmu kan masih belum kering betul, jadi jangan terlalu banyak bergerak"


Ibra pun dengan telaten mengganti perban dan mengobati luka di lengannya istrinya itu.


Pukul 08:00, Ibra pun bersiap untuk pergi mengajar.


" Bim, aku bosan di rumah" ucap Anisa.


" Seorang istri itu harus betah tinggal di rumah"


Anisa pun terdiam.


" Memangnya kau mau kemana?"


Anisa pun malah menggeleng.


" Kau jangan macam macam Sya, nanti semua muridku akan menatapmu, selain itu kau akan diledekin ustad Usman, memangnya kau mau dibilang istri yang genit hingga mau terus terusan nempel pada suaminya?" tanya Ibra. Anisa pun menggeleng.


" Boleh tidak kalau aku ke kantinnya bi Ratna. Nanti kan di sana bisa ketemu Erika, aku sedikit takut sendirian di rumah"


Ibra pun terdiam lalu mengangguk.


"Tapi setelah aku pulang kau sudah harus ada di rumah" pinta Ibra.


Anisa pun mengangguk.


Kini mereka sudah berjalan bersama, mereka berpisah di perbatasan.


" Aku masuk dulu ke kelas" ucap Ibra.


Anisa pun mengangguk, lalu mencium tangan suaminya itu.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati Bim"


Ibra pun pergi. Kini Anisa sudah berjalan ke kantinnya bi Ratna, namun tiba tiba iya melihat Syifa sedang berdiri sendirian seperti sedang menunggu sesuatu.


" Asalamualaikum Syifa"


" Waalaikum salam ka Anisa"


" Kau sedang apa berdiri di sini?, bukannya sebentar lagi masuk kelas" ucap Anisa.


" Aku sedang menunggu ka Zahira, dia belum datang. Kata ka Erika dia tadi kesiangan" ucap Syifa.


Tiba tiba Zahira datang sambil tergesa gesa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Zahira sudah ngos ngosan, sudah bisa dilihat kalau iya begitu kecapean setelah berlari menuju kelasnya.

__ADS_1


" Ka Ira kenapa kesiangan?" tanya Syifa.


" Ssstth, jangan berisik, biarkan aku bernafas dulu" pinta Zahira.


" Eh ada ka Anisa, kakak mau kemana?" tanya Zahira.


" Mau ke kantinnya bi Ratna"


Mereka pun berjalan bersama. Anisa pergi ke kantin, sementara Zahira dan Syifa masuk kelas. Karna penasaran, Anisa pun berbalik arah mengikuti Zahira dan Syifa.


" Aku penasaran, Zahira itu kan murid fenomenal, apa dia di kelas itu murid paling imut" batin Anisa penasaran.


Anisa hanya mengintip di dekat pintu masuk.


Tiba tiba ada yang berdehem dibelakangnya.


" Ehem ehem"


Seketika Anisa langsung membalikan badannya, iya terdiam malu pada ustadzah Yasmin.


" Bukannya ini adalah ustadzah Yasmin, kakak iparnya Zahira" batin Anisa.


" Asalamualaikum" Anisa mengucap salam.


" Waalaikum salam" jawab ustadzah Yasmin sambil menatap Anisa.


" Bukannya kau ini istrinya ustad Ibrahim?"


Anisa pun mengangguk ngangguk.


" Sedang apa ngintip ngintip di belakang pintu?" tanya ustadzah Yasmin.


Anisa pun menjadi gugup sendiri dan sedikit malu ketahuan ngintip ngintip.


" Eee, mau lihat Zahira belajar" jawab Anisa. Ustadzah Yasmin pun menatap Zahira duduk paling pojok di kelas itu. Ustadzah Yasmin pun tersenyum.


" Kenapa tidak masuk saja, sekalian kau bisa belajar di kelas ini" ucap ustadzah Yasmin. Anisa terdiam lalu mengernyitkan keningnya.


" Maaf bercanda" ucap ustadzah Yasmin.


Tiba tiba ustadzah Ulfi datang.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ustadzah Ulfi pun tersenyum pada Anisa dan ustadzah Yasmin.


" Nis, kau di sini?" tanya ustadzah Ulfi. Anisa pun mengangguk.


" Maaf, saya permisi dulu mau masuk kelas" pamit ustadzah Yasmin.


" Maaf mba Ulfi, aku sedikit takut sendirian si rumah, jadi aku ke sini, sekalian mau lihat Ira"


" Ayo masuk" ajak ustadzah Ulfi. Anisa pun ikut masuk dan duduk di bangku anak anak yang kosong.


" Asalamualaikum" Ustadzah Ulfi mengucap salam pada para santri.


" Waalaikum salam" jawab para santri putri.


Zahira pun tersenyum saat melihat Anisa duduk di bangku para santri di kelas itu. Tiba tiba Zahira tertawa.


" Ka Anisa, kakak murid baru ya di sini?" teriak Zahira.


"Sembarangan" gerutu Anisa hingga Zahira tertawa.


" Kufikir ka Anisa murid baru di kelas ini. Kalau ka Anisa murid baru di sini, sudah pasti ka Anisa menjadi murid paling fenomenal seantera pesantren" tutur Zahira. Anisa hanya menyipitkan matanya.


Pelajaran pun dimulai seperti biasa. Anisa hanya memperhatikan Zahira. Sesekali iya me nahan tawanya saat melihat di kelas itu hanya Zahira lah yang usianya 16 tahun, sementara yang lain berusia 6 tahun.


"*Zahira sudah seperti tidak naik kelas selama 10 tahun. Tapi aku salut, dia tidak merasa malu, keinginannya untuk belajar sangat kuat, meskipun pelajaran yang tersaring hanya beberapa persen saja. Dia juga tidak protes atau minta dipindahkan kelas meskipun semua kakanya adalah pengajar di sini termasuk kakak iparnya. meskipun anaknya menyebalkan dan kecerdasannya pun masih dibawah rata rata, tapi Ira punya keistimewaan tersendiri. Zahira selalu berfikir kalau semua kejadian baik maupun buruk akan di anggap sangat menyenangkan"


-


-


-


-


-


*Cerita ini dibuat hanya untuk menghibur semata. Jika ada perkataan atau perbuatan yang tidak menyenangkan saya minta maaf, dan harap jangan ditiru.

__ADS_1


Tidak ada sedikit pun niat hati untuk merendahkan atau menyinggung apapun, siapapun.


Terima kasih**.


__ADS_2