Janji Anissa

Janji Anissa
Cantik


__ADS_3

Pagi pagi sekali Anisa sudah diantarkan ke butik oleh Ibra. Sesampainya di sana.


" Ingat ya Sya, kau tidak boleh cape cape" Ibra mengingatkan. Anisa pun mengangguk ngangguk.


" Ya sudah aku pergi dulu, nanti pulangnya kujemput"


" Hmmm"


" Lin, aku titip Isya yah, tolong ingatkan dia kalau dia tidak boleh capek capek" ucap Ibra pada Elina.


" Siaaaap" jawab Elina.


Anisa pun mencium tangannya Ibra sebelum suaminya itu pergi.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati Bim"


Ibra pun pergi dari butik itu. Elina pun mendekati.


" Aku masih tidak percaya Nis, baru beberapa bulan yang lalu kita datang ke kota ini. Beberapa bulan yang lalu kau masih jomblo, tapi sekarang kau sudah menjadi seorang istri, bahkan kau sebentar lagi akan menjadi seorang ibu" tutur Elina.


" Aku sendiri sedikit tidak percaya Lin, aku fikir, aku datang kesini untuk menjemput rezeki, tapi Allah memberi lebih, bukan hanya rezeki yang kudapat di sini, tapi juga aku mendapatkan jodoh di sini" tutur Anisa merasa senang.


" Terkadang aku merasa iri padamu Nis, kau sudah mau mempunyai seorang anak, tapi aku masih jomblo saja, nasib nasib" ucap Elina.


" Jangan merasa iri begitu, aku yakin Allah pasti punya rencana lain. Siapa tau hari ini dia mengirimkan laki laki yang akan menjadi jodohmu" ucap Anisa.


" Aamiin"


Tiba tiba ada yang masuk kebutik.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Dilihatnya ada Panji datang, laki laki yang pernah datang ke butik sebelumnya untuk meminta dibuatkan baju pengantin. Panji datang bersama seorang perempuan paruh baya.


" Eh ada mas Panji" sapa Anisa.


Elina pun berbisik.


" Nis, saking ngebetnya dia pengen nikah tapi gak punya calon, sekarang dia gered gered bawa emak emak untuk jadi pasangan pengantinnya, ya Allah kasihan sekali" tutur Elina sambil berbisik.


" Sssttth, lebih kasiahan lagi dirimu" ucap Anisa sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.


Panji pun tersenyum sambil menggandeng perempuan yang ada disebelahnya.


" Sudah dapat calonnya mas Panji?" tanya Anisa.


" Insya Allah sudah mba" jawab Panji sambil tersenyum.


" Mau model yang bagaimana gaun pengantinnya?" tanya Elina.


" Terserah mba saja, saya tidak tau selera perempuan sekarang" jawab Panji.


" Pasti tidak akan tau selera perempuan jaman sekarang, orang perempuan yang dibawa itu perempuan jaman dulu" batin Elina.


" Boleh pilih pilih dulu modelnya, kebetulan kami punya katalognya, siapa tau ada yang suka" ucap Anisa. Panji pun mengangguk lalu memapah perempuan disebelahnya itu untuk duduk.


" Duduk dulu ya" pinta Panji dengan lembut. Perempuan paruh baya itu pun mengangguk tersenyum. Anisa dan Elina pun saling lirik satu sama lain.


" Cinta tanpa pandang usia" bisik Elina. Anisa pun mengangguk ngangguk.


" So sweat ya" ucap Anisa.


" Hmmm"


Panji pun mendekati Elina dan Anisa. Seketika Anisa menyuruh panji untuk duduk juga, lalu memberikan buku katalog khusus baju pengantin.


" Silahkan kalian pilih" pinta Anisa. Hingga Panji tersenyum.


" Aku hanya butuh pendapat kalian, tidak dengan yang lain" jawab Panji.


" Tapi sepertinya dia butuh memilih dan berpendapat" ucap Elina sambil melirik perempuan paruh baya itu. Perempuan paruh baya itu pun tersenyum pada Elina hingga Elina pun ikut tersenyum. Panji pun tersenyum saat menatap perempuan paruh baya itu.


" Dia akan setuju apapun pilihanku" ucap Panji.


" Calon istri yang penurut" batin Elina.


Panji pun memilih milih gaun pengantin itu. Iya pun memilih gaun pengantin muslimah yang nampak cantik dan anggun.


" Yang ini mba" tunjuk Panji. Anisa dan Elina pun mengangguk ngangguk.


" Menurut mba Elina sendiri gaun yang ini bagus tidak?" tanya Panji.


" Bagus, cocok untuk wanita muslimah" jawab Elina sambil melirik perempuan paruh baya itu.


" Mba Elina suka?" tanya Panji. Meski merasa aneh karna Panji minta pendapatnya, Elina pun mengangguk hingga Panji tersenyum.


" Ya sudah saya pesan yang ini" ucap Panji. Anisa dan Elina pun mengangguk.

__ADS_1


" Mari kita ukur dulu badannya" pinta Elina sambil menatap perempuan paruh baya itu. Panji pun ikut menatap perempuan itu.


" Dia tidak akan mau di ukur"


" Lalu kita harus mengukur siapa kalau calon pengantin perempuannya tidak mau diukur, masa iya kita harus mengukur ka Dewi" tutur Elina hingga Panji tersenyum.


" Cukup ukur badannya mba Elina saja" ucap Panji. Anisa dan Elina pun terdiam saling lirik.


" Maksudnya??" tanya Elina tak mengerti.


Tiba tiba Panji mengambil sesuatu dari saku celananya. Iya mengambil kotak kecil yang berisikan cincin cantik dan diperlihatkan pada Elina. Panji juga menyuruh perempuan paruh baya itu untuk mendekatinya. Panji langsung menggandeng perempuan paruh baya itu sambil tersenyum.


" Kenalkan, ini ibuku, namanya bu Mariam" ucap Panji memperkenalkan. Tentu Anisa dan Elina nampak kaget, karna sedari tadi mereka berfikir itu adalah calon istrinya Panji. Mereka berdua pun tersenyum malu, lalu bersalaman dengan ibu Mariam. Ibu Mariam pun tersenyum, lalu membelai lembut pipinya Elina. Tentu saja Elina nampak berasa aneh dengan perlakuan ibu Mariam.


Panji pun memperlihatkan cincin itu pada Elina.


" Maaf mba Elina, mungkin ini terasa aneh dan tidak masuk akal, tapi inilah yang aku rasakan. Aku merasa ada sesuatu saat bertemu dengan mba Elina saat pertama aku datang ke butik ini. Dan tidak bisa dibohongi kalau aku tertarik dengan mba Elina" tutur Panji. Elina terkejut dan hampir tak percaya hingga iya tak bisa berkata kata dan hanya bisa menganga.


" Itu maksudnya apa mas Panji" tanya Anisa.


" Mba Elina, mau tidak menikah denganku?" ucap Panji sambil menyodorkan kotak cincin itu. Anisa nampak senang mendengarnya, iya langsung menatap Elina yang kini masih menganga tak percaya.


" Tutup mulutmu jangan menganga begitu, nanti laler masuk" bisik Anisa.


" Mba Elina, saya tanya sekali lagi, apa mba Elina bersedia menikah denganku?" tanya Panji kembali. Bukannya menjawab, Elina malah pingsan.


BRUUUUGH.


Elina sudah tergeletak di lantai.


" Astaghfirullah alazim"


" Lin bangun" ucap Anisa sambil menepuk pipinya Elina. Namun Elina tidak bangun bangun.


" Mas Panji, tolong bangunkan Elina, sedikit besarnya ini adalah hasil perbuatannya mas Panji" ucap Anisa.


" Apa yang harus aku lakukan?" tanya Panji bingung.


" Di tepuk tepuk pipinya, siapa tau bangun" pinta Anisa.


" Tapi aku tidak mungkin menyentuh sesuatu yang belum menjadi hak ku, mba Elina belum halal untuk kusentuh" ucap Panji.


" Astaghfirullah, iya aku lupa mas Panji kan bukan mahromnya Elina"


" Masa iya aku harus mengompresnya dengan daun pandan biar Elina bangun" batin Anisa. Anisa pun mengambil minyak angin dan dioleskan sedikit ke hidungnya Elina, seketika itu pula Elina langsung terbangun. Elina pun menatap Panji, iya masih tak percaya dengan ucapan laki laki yang ada dihadapannya itu.


" Maafkan aku ya, gara gara aku, mba Elina jadi pingsan" ucap Panji. Elina hanya mengangguk ngangguk saja.


" Tidak usah dijelasin juga kali, kan malu. Nanti gelarku si ratu jomblo ketauan" gerutu Elina. Panji hanya tersenyum senyum saja.


" Mudah mudahan kita berjodoh ya mba" ucap Panji penuh harap hingga Elina tersipu malu.


- - - - - - - - -


Suatu malam, Anisa sudah menggunakan mukena, duduk dihadapannya Ibra. Mengaji al quran di hadapan suaminya, itu kebiasaan baru sejak Anisa menikah dengan Ibra. Ibra selalu membimbingnya, mendekatkan Anisa pada Allah.


Ibra terus menatap Anisa yang kini sedang mengaji, suara dan mengajinya Anisa sangat bagus meski tak semerdu lantunan ayat suci yang biasa Aisyah lantunkan saat pengajian di majlis.


Setelah selesai mengaji. Ibra pun tersenyum.


" Lebih rajin lagi ya, jangan malas juga, jangan beralasan karna sedang hamil jadi kau malas malasan" tutur Ibra. Anisa pun mengangguk.


" Bim"


" Hmmm"


" Boleh aku tanya sesuatu?" ucap Anisa.


Ibra pun menatap Anisa.


" Apa yang ingin kau tanyakan?" ucap Ibra menatap Anisa meminta jawaban.


" Aku kan sekarang sedang hamil, nanti kalau bentuk tubuhku, aura wajahku dan saiz bajuku berubah, apa kau akan tetap mencintaiku?" tanya Anisa sambil menatap Ibra. Ibra malah tersenyum.


" Kenapa tersenyum, aku kan sedang meminta jawaban. Jangan jangan nanti kalau setelah aku hamil dan melahirkan, terus badanku mirip mirip sama ka Dewi, kau mulai lirik lirik pada perempuan lain" tuduh Anisa. Ibra kembali tersenyum.


" Kenapa kau berfikiran seperti itu?" tanya Ibra.


" Terkadang ada sebagian laki laki yang berubah sikap dan prilaku setelah baju istrinya berubah saiz" ucap Anisa.


" Aku tidak perduli lagi dengan bentuk tubuhmu, aku tidak perduli dengan aura wajahmu yang kusam di makan usia dan aku pun tidak perduli saiz bajumu berubah. Yang penting hatimu tidak berubah, masih baik dan cantik seperti sekarang. Insya Allah aku setia padamu" tutur Ibra.


" Benarkah?"


" Hmmm"


" Coba buktikan" pinta Anisa.


Ibra malah tersenyum.


" Kenapa kau tersenyum?, aku kan memintamu untuk membuktikan" ucap Anisa.

__ADS_1


" Haruskah aku membuktikan?" tanya Ibra balik.


" Tentu dan harus"


Ibra pun tersenyum lalu menarik ujung mukena Anisa. Tentu saja Anisa terkejut.


" Biiim kau mau apa?" ucap Anisa.


" Membuktikan, itukan yang kau inginkan" jawab Ibra.


" Iya tapi jangan di tarik ujung mukenaku nanti aku tercekik" protes Anisa. Ibra tak menghiraukan penolakan Anisa. Kini mereka sudah saling berhadapan.


" Kau mau bukti seperti apa?" tanya Ibra.


Anisa malah sedikit ketakutan.


" Tidak perlu bukti, aku percaya ko" ucap Anisa ketakutan.


" Aku melihat aura ketakutan diwajahmu, kenapa?, apa kau takut pada suamimu sendiri?" tanya Ibra semakin mendekat pada Anisa.


" Kalau sudah mendekat seperti ini, sudah pasti akan terjadi zona gawat menegangkan. Bibirnya pasti mulai nakal" batin Anisa.


" Biim, aku percaya padamu, aku ralat kembali ucapanku, kau tidak perlu membuktikannya" ucap Anisa hingga Ibra tertawa tawa.


" Kenapa kau meralat kembali ucapanmu?, apa kau ketakutan jika aku melakukan sesuatu?" tanya Ibra sambil tersenyum senyum hingga Anisa tersenyum malu. Ibra pun menyandarkan kepala Anisa dibahunya.


" Dengarkan aku, insya Allah aku tidak akan berubah meski banyak perubahan dari fisikmu setelah melahirkan. Aku tidak perduli lagi bagaimanapun bentuk tubuhmu, tinggi atau tidaknya dirimu, putih atau tidaknya warna kulitmu, gendut atau pun langsing dirimu, mancung atau pun tidak bentuk hidungmu yang dinamakan wanita ya pasti cantik" tutur Ibra.


" Benarkah?" tanya Anisa memastikan.


Ibra pun mengangguk ngangguk.


" Kau yakin tidak akan berubah meskipun bentuk tubuhku berubah saiz?" tanya Anisa lagi hingga Ibra tersenyum.


" Kenapa kau tersenyum?" tanya Anisa heran.


" Kau mentang mentang seorang designer, pake nyebut nyebut saiz segala"


" Aku serius Bim"


" Iya maaf"


" Aku tanya sekali lagi, apa kau yakin cinta dan sayangmu tidak akan berubah padaku?" tanya Anisa berulang ulang.


"Apa kau tidak percaya padaku?, kau tau selama 7 tahun berlalu saat kau mengikrarkan janjimu, sejak saat itulah aku menutup diri untuk perempuan lain, meskipun aku tidak tau apa kau pun berharap padaku atau tidak. Dalam 7 tahun itu pula aku berharap kalau Allah akan mempertemukan kita kembali. Mempertemukan kita dengan caranya yang berbeda" tutur Ibra. Anisa terdiam sambil menatap suaminya itu.


" Saat Allah benar benar menyatukan kita dengan caranya, sejak saat itulah aku berjanji tidak akan menyianyiakan kesempatan dan kepercayaan yang Allah kasih padaku. Aku berjanji aku akan menjagamu dan membimbingmu hingga kita bisa berjalan menuju surga bersama sama"


Anisa pun tersenyum lalu memeluk Ibra.


" Maafkan aku, aku tidak akan minta pembuktian apapun padamu, aku percaya padamu Bim" ucap Anisa sambil menyembunyikan wajahnya di dadanya Ibra.


" Dengarkan aku Sya, ada hal yang harus kau tau, bahwa cantik bukan hanya tentang rupa. Tapi cantik yang sebenarnya adalah ketika kau mampu menjaga setiap tutur kata yang keluar dari mulutmu yang cantik dan indah.


Cantik adalah ketika kau mampu menjaga ahlakmu, menjadikan dirimu sebagai seseorang yang dapat bermanfaat bagi sekelilingmu. Dan cantik itu adalah kau yang mampu menjadi dirimu sendiri tanpa harus repot repot menjadi orang lain" tutur Ibra.


" Terima kasih Bim, selama ini kau selalu mencintaiku" ucap Anisa terharu. Ibra pun tersenyum.


" Masih mau pembuktian?" tanya Ibra. Anisa pun menggeleng.


" Aku percaya padamu"


Ibra tersenyum lalu memeluk Anisa.


" Kau masih ingat kan Sya, mulai sekarang jaga kesehatan, tidak boleh cape, tidak boleh stres, kau harus rilex, jangan pernah ada beban apapun, karna sekarang dalam perutmu ada nyawa yang harus kau jaga. Buah hati kita" ucap Ibra sambil mengelus perutnya Anisa yang kini masih terasa rata karna kehamilnya masih muda.


" Aku pasti akan jaga diri, demi Abim junior" ucap Anisa sambil tersenyum senyum.


" Satu lagi, jika Zahira sering membuatmu setres, atau membuatmu pusing 7 keliling. Sebaiknya kau menghindar, aku tidak mau terjadi apa apa dengan bayi kita" ucap Ibra. Anisa malah tertawa.


" Kenapa kau tertawa?"


" Meskipun Ira sering membuatku pusing 7 keliling, tapi setidaknya dia selalu membuatku tertawa. Yang paling terpenting adalah, semoga bayi kita kelakuannya tidak mirip dengan Zahira" tutur Anisa.


" Turuti itu semangatnya yang pantang menyerah dan menganggap semua hal baik buruk itu dianggap menyenangkan"


-


-


-


-


-


-


--


Cerita ini dibuat untuk menghibur semata. Jika ada ucapan atau perbuatan yang tidak menyenangkan, saya minta maaf. Tidak ada sedikit pun niat dalam hati untuk menyinggung atau merendahkan apapun, baik tempat atau siapapun. Ambil positifnya saja.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2