Janji Anissa

Janji Anissa
Teguran


__ADS_3

Keadaan di pesantren. Setelah mendengar cerita Ibra di tangkap polisi, para sahabatnya Ibra ( para ustad) Pergi berkunjung namun ustad Soleh sudah melacak dan meminta rekaman cctv di hotel itu. memang ada kejanggalan di sana. Ustad Riziq, ustad Soleh, ustad Azam dan ustad Usman pergi ke kantor polisi.


Ibra pun menemui mereka, ia sudah memakai pakaian tahanan.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Ibra pun tersenyum dan duduk di hadapan mereka.


" Terima kasih sudah berkunjung" ucap Ibra.


" Kami turut berduka atas apa yang terjadi pada ustad Ibrahim" ucap ustad Soleh. Ibra pun mengangguk.


" Kau baik baik saja?" tanya ustad Azam selaku kakak iparnya.


" Insya Allah aku baik baik saja mas" jawab Ibra.


" Boleh kami dengar kejadiannya secara langsung?" tanya Riziq. Ibra pun terdiam lalu ia pun menceritakan secara detail kejadian malam itu.


" Sepertinya ada yang aneh, siapa yang memberimu pesan kalau Anisa sedang membeli martabak disebrang jalan masjid?" tanya Riziq.


" Saya juga tidak tau, sepertinya no baru"


" Boleh kami lihat nomer yang menghubungimu" pinta ustad Soleh.


" Sayang sekali, hp ku hilang waktu di hotel, mungkin tertinggal di sana, dan sepertinya semua pihak hotel sudah merencanakan penjebakan itu" tutur Ibra.


" Saya sudah pergi ke hotel itu dan melihat cctv di sana, di rekaman itu Anisa di bawa oleh laki laki yang berpenampilan mirip sekali denganmu, memakai baju koko berwarna biru dan sarung kotak kotak berwarna hitam"


" Sepertinya dia sudah merencanakan semuanya secara matang, kau mencurigai seseorang?" tanya ustad Azam.


" Yang membawa Anisa ke hotel itu Yudi, dia di suruh melakukan semua itu oleh Syabil, dan sepertinya Syabil juga membayar pihak hotel untuk menjalankan rencananya" tutur Ibra.


" Syabil yang mencilik Zahira itu?"


Ibra pun mengangguk.


" Kau tenang saja ustad, kasusmu masih dalam penyelidikan, kau masih bisa bebas dari sini" ucap ustad Soleh.


" Kami akan meminta pihak hotel untuk meminta cctv di sana, kalau ada yang di edit pasti akan ketahuan, saya akan mengajak seorang yang ahli dalam hal itu"

__ADS_1


" terima kasih"


" Apa Anisa yang telah melaporkan kasusmu ?" tanya ustad Azam.


" Bukan Anisa, tapi ayahnya, pak Akbar menerima bukti palsu dari Syabil tentang cctv di hotel itu tanpa menyelidikinya terlebih dahulu" jawab Ibra.


" Ko bisa begitu?"


" Pak Akbar tau kalau dulu saya adalah seorang brandalan, dialah yang sering menangkapku dan memasukanku ke dalam penjara dengan banyak masalah yang kulakukan saat di Jakarta, mungkin dia tidak perlu menyelidikinya karna saya memang dari dulu sering membuat ulah hingga harus keluar masuk penjara" tutur Ibra.


" Kau tenang saja ustad, kami akan membantumu keluar dari dini" tegas Riziq.


" Terima kasih"


Para ustad pun pergi dari kantor polisi, ustad Usman tak mengeluarkan satu patah katapun, entah kenapa tiba tiba ustad Usman merasa ketakutan pada Ibra hingga sedari tadi ia hanya diam bak seperti patung manekin.


kini datanglah ustadzah Ulfi bersama Yusuf. Mereka sudah duduk di hadapannya Ibra. Ibra pun nampak tersenyum atas kedatangan mereka, namun matanya ustadzah Ulfi sudah berkaca kaca, tak bisa dibohongi kalau dirinya begitu sedih melihat adik lelakinya itu ditangkap polisi. Ustadzah Ulfi memang sering mendapat kabar kalau waktu di Jakarta Ibra sering keluar masuk penjara. Ia tak merasa heran dan akan membiarkan adiknya bertanggung jawab atas semua kesalahannya, namun kali ini ia tak terima jika Ibra harus dimasukan ke dalam penjara karna bukan dari kesalahannya, adiknya terkena fitnah.


" Kau baik baik saja?" tanya ustadzah Ulfi sambil menyeka air matanya. Ibra malah tersenyum.


" Aku baik baik saja mba"


" Untuk apa mba menemui Anisa?" tanya Ibra.


" Untuk mencabut tuntutannya padamu, tapi sayang ayahnya bersikeras ingin melanjutkan kasus ini ke jalur hukum"


" Mba jangan meminta Anisa untuk mencabut tuntutannya karna merasa kasihan padaku, biarkan dia tau kebenarannya" ucap Ibra. Ustadzah Ulfi pun terdiam lalu menatap adiknya dengan tatapan sendu.


" Kau yang sabar ya, Allah sedang mengujimu, menguji keimananmu, menguji kesabaranmu dan menguji kesetiaanmu. Semakin berat ujian yang kau dapat, semakin Allah sayang padamu" tutur ustadzah Ulfi. Ibra pun tersenyum.


" Allah sayang padaku?" tanya Ibra.


Ustadzah Ulfi pun mengangguk.


" Allah sedang menegurmu Ibra, dia menegurmu karna taubatmu tidak sepenuhnya karna Allah, kau mendekatkan dirimu, memperbaiki dirimu ada alasan lain selain Allah, ada nama Anisa terselip dalam taubatmu, Nisa adalah salah satu alasanmu untuk berubah. Kau perbaiki lagi niat taubatmu, niatkan semuanya karna Allah, dekatkan dirimu sedekat dekatnya padanya. Jangan pernah berfikir kau bertaubat padanya, dekat dengannya hanya karna ingin mendapatkan Anisa. Luruskan kembali niatmu, niatkan semuanya hanya karna Allah. Allah sedang menegurmu, dia menegurmu lewat Anisa" tutur ustadzah Ulfi.


Ibra pun terdiam, ia merasa niat taubatnya selama ini memang salah, selain karna Allah, ia pun berubah karna ingin mendapatkan Anisa.


" Apa aku terlalu sombong?" tanya Ibra.


Ustadzah Ulfi pun langsung mengelus lengannya Ibra.

__ADS_1


" Mungkin aku terlalu sombong mba, hingga Allah menegurku dengan cara seperti ini, memberiku cobaan dengan sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya" ucap Ibra.


" Allah menegurmu karna dia sayang padamu, semakin berat cobaan yang kau dapat, semakin Allah sayang padamu"


Ibra pun terdiam sambil menundukan kepalanya.


" Kau tidak perlu khawatir, cepat atau lambat kebenaran akan terungkap"


Ibra pun mengangguk.


" Maafin aku ya mba, aku selalu membuatmu malu"


" Kau adalah saudara laki lakiku satu satunya, kau adalah kebanggaanku, semua orang punya masa lalu, semua orang pasti punya kesalahan. Buktikan pada mereka kalau kau tidak salah"


Setelah lama ngobrol ngobrol, ustadzah Ulfi dan Yusuf pun pamit pulang.


" Kita pulang ya, semoga allah bisa memberikan jalan terbaik, biar kau cepat keluar dari tempat ini"


" Amiin"


" Om aku pulang ya, om baik baik ya di sini, semoga om cepat di bebaskan" ucap Yusuf.


" Terima kasih Suf, om akan baik baik saja di sini, om sudah terbiasa dengan tempat seperti ini" ucap Ibra. Yusuf pun tersenyum.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Yusuf dan ustadzah Ulfi pun melangkah keluar.


" Mba"


Panggil Ibra. Ustadzah Ulfi pun langsung berbalik menatap Ibra.


" Aku tidak berbuat jahat pada Anisa" ucap Ibra. Ustadzah Ulfi pun mengangguk sambil sambil berurai air mata.


" Mba percaya padamu, luruskan kembali niat taubatmu, dekatkanlah dirimu pada Allah hanya pada Allah" ucap ustadzah Ulfi sambil menyeka air matanya, lalu menarik tangan Yusuf untuk pergi dari tempat itu. Ibra pun menatap kepergian mereka hingga mereka hilang di balik pintu kantor polisi.


Ibra langsung menundukan kepalanya.


" Benarkah aku terlalu sombong, terlalu sombong dengan perubahanku ini, hingga Allah menegurku lewat Anisa. Ampuni aku ya allah, biarkan aku lebih dekat lagi denganmu, biarkan aku memperbaiki diriku karnamu hanya karnamu"

__ADS_1


__ADS_2