Janji Anissa

Janji Anissa
Bergetar


__ADS_3

Sesampainya di Jakarta. Anisa dan Elina pun turun dari taxi di rumahnya tante Ayu.


" Alhamdulilah sampai juga di Jakarta, belum sehari di kota A kepalaku sudah migren berkali kali" gerutu Elina.


" Lin malam ini nginep di sini ya, aku ingin bicara denganmu" pinta Anisa. Elina pun mengangguk.


Mereka berdua pun masuk rumah.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Tante Ayu pun tersenyum dengan kedatangan mereka.


" Kalian sudah pulang?, bagaimana dengan Erika, dia tidak menangiskan saat kalian meninggalkannya di sana?" tanya tante Ayu.


" Tidak, sepertinya dia sangat senang mondok di sana, apalagi dia sudah punya teman, ya meskipun Zahira otaknya miring kanan miring kiri, tapi sepertinya dia baik" tutur Anisa.


" Syukur kalau begitu, kalian sudah makan belum?" tanya tante Ayu.


" Kita sudah makan tante, aku sama Elina masuk kamar ya tante, kebetulan Elina mau menginap malam ini, tidak apa apa kan tante?" tanya Anisa. Tante Ayu pun mengangguk. Anisa dan Elina pun masuk kamar. Setelah mandi dan istirahat sejenak, Anisa pun mulai serius mengobrol.


" Lin, aku ingin keluar dari butik itu, aku mau cari kerjaan baru" ucap Anisa.


" Tapi kan butik itu punya kamu Nis, sertifikatnya atas nana kamu loh" jawab Elina.


" Butik itu punya Syabil, dia yang buat, aku mau kembalikan padanya. Jujur aku mau lepas dari kekangan Syabil"


" Ya sudah tidak apa apa, tapi aku ikut denganmu ya, memangnya kau mau kerja dimana?" tanya Elina.


" Lin bagaimana kalau kita sewa ruko atau apapun yang bisa kita pakai untuk di jadikan butik, tidak apa apa kecil juga. Kita mulai lagi dari nol" tutur Anisa.


" Apapun keputusanmu aku setuju"


" Tapi Syabil jangan sampai tau dulu ya. Aku takut dia mengacaukan semuanya" pinta Anisa.


" Tentu aku akan jaga rahasia, memangnya kita akan cari ruko dimana?" tanya Elina.


" Kalau kita cari di kota A gimana, biar aku bisa pantau Erika"


" Boleh, nanti kita cari yang deket deket pesantren"


* * * * * *


Keesokan harinya. Anisa baru selesai mandi, sementara Elina sedang sibuk dengan hpnya.


" Ada kabar apa Lin?" tanya Anisa.


" Kabar gembira, aku sudah menemukan tempatnya. tempatnya tidak jauh dari pesantren, ruko berlantai dua, di pinggir jalan raya, lokasinya lumayan rame, cuma harganya lumayan banget" tutur Elina.


" Soal harga tidak masalah, aku masih punya tabungan"


" Ok, sekarang kita meluncur ke sana, kita lihat lokasi sama rukonya" ucap Elina antusias. Anisa pun mengangguk.


Setelah minta izin pada tante Ayu, Anisa dan Elina pun pergi ke kota A mencari tempat untuk dijadikan butik, sekaligus untuk menemui Erika di pesantren. Mereka pergi menggunakan mobilnya Elina. Diperjalanan Anisa terus menatap 4 lembar surat yang di beri si preman pensiun kemarin.

__ADS_1


" Duuh suratnya diliatin terus. Inget loh dia sudah punya cucu 5 dan sebentar lagi 6, umurnya juga 68 tahun" goda Elina hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


" Aku hanya penasaran, di sini tertulis memori 2 Juli 2013. Itu artinya memori 7 tahun yang lalu"


Sesampainya di kota A. Mereka turun dan langsung mnemui bu Yuni si pemilik ruko yang akan di jual.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Mereka pun bersalaman dengan bu Yuni. Setelah melihat lihat ruko 2 lantai itu, akhirnya Anisa dan Elina pun membeli ruko itu.


" Deal"


Ruko itu terdiri dari 2 lantai, lantai pertama bisa di jadikan butik, sementara lantai dua bisa di jadikan kamar, kebetulan ada 2 kamar, satu dapur dan satu kamar mandi. Setelah transaksi jual beli selesai, bu Yuni pun memberikan kunci ruko itu dan langsung pergi.


" Kapan kita akan pindah ke sini?" tanya Elina.


" Secepatnya"


Anisa pun melihat lihat suasana jalan raya itu kendaraan yang berlalu lalang menghiasi keramaian di sana. Tiba tiba Anisa terdiam melihat ada toko buku di sebrang jalan tidak jauh dari ruko mereka namun terhalang jalan raya yang begitu ramai.


" Kita ke pesantren yu"


" Ayo, tapi kita ganti baju dulu, untung aku bawa gamis sama kerudung"


Sebelum mereka pergi ke pesantren, mereka pun berganti pakaian terlebih dahulu. Mereka berjalan kaki menuju pesantren karna jaraknya lumayan dekat.


Sesampainya di pesantren, Elina tiba tiba kebelet pipis.


" Ya sudah kau duluan saja ke asrama, aku mau beli minum dulu" jawab Anisa. Kini Elina pergi duluan ke asrama sementara Anisa pergi ke kantinnya bi Ratna. Setelah membeli minum, tiba tiba Anisa terdiam, ia lupa jalan menuju asrama.


" Kenapa Nis?" tanya Dewi.


" Sepertinya aku lupa jalan menuju asrama" jawab Nisa.


" Sebenarnya aku mau nganter, tapi sayang aku banyak kerjaan" ucap Dewi.


" Tidak apa apa, tapi boleh minta petunjuknya"


" Dari sini lurus, belok kanan, lalu belok kiri terus lurus lagi nanti ada pertigaan belok kanan ada kursi, boleh duduk dulu kalau cape. Nanti belok kiri lagi setelah itu ada masjid besar pesantren lalu belok kanan ada cermin di pinggir jalan, kau boleh ngaca dulu, terus belok kiri terus belok kiri lagi terus belok kanan sampai deh" tutur Dewi.


"$ ¥ € %$₩¥€? : - # @ $" batin Anisa.


" Nanti aku cari tau sendiri, terima kasih ka Dewi, Asalamualaikum" ucap Anisa sambil berlalu.


" Waalaikum salam"


Anisa terus menyusuri tiap jalan, sesekali ia bertanya, namun lokasi pesantren yang begitu luas membuatnya sedikit kesulitan. Tiba tiba dari arah berlawanan ada seorang santri sedang berlari kencang.


" Awaaaaaaaaas" teriak santri itu pada Anisa. Anisa langsung terkejut hingga ia menjerit.


" Aaaaaaaaaa"


BRUUUGH.

__ADS_1


Anisa tersungkur di pinggir jalan.


" Allahu akbar, awww"


Anisa meringis kesakitan, di lihatnya siku tangannya berdarah.


Tiba tiba ustadzah Ulfi lewat, ia terkejut melihat Anisa sedang terduduk di pinggir jalan.


" Astaghfirullah alazim Anisa"


Seketika ustadzah Ulfi langsung membangunkan Anisa.


" Kau tidak apa apa Anisa?" tanya ustadzah Ulfi cemas. Anisa hanya menggelengkan kepalanya.


" Tapi tanganmu terluka, mampir ke rumah saya ya, nanti saya obatin, kebetulan rumah saya dekat dari sini" ajak ustadzah Ulfi.


" Tidak usah ustadzah, nanti saya merepotkan" ucap Anisa.


" Tidak apa apa, ayo"


Ustadzah Ulfi pun menggandeng Anisa ke rumahnya.


" Asalamualaikum"


Mereka pun masuk ke rumah.


" Duduk dulu ya Nis, saya mau ambil kotak P3K dulu" ucap ustadzah Ulfi sambil berlalu ke ruang tengah untuk mencari P3K. Anisa pun duduk di ruang tamu, tiba tiba ia mendengar suara laki laki mengaji di dalam kamar sebelah ruang tamu. Telinganya Anisa terus terpaku dengan suara merdu yang sedang melantunkan ayat suci al quran.


" Yusufkah itu yang sedang mengaji, merdu sekali, damai aku mendengarnya" batin Anisa.


Tiba tiba Anisa memegangi dadanya seakan ada yang bergetar di sana.


" Subhanallah kenapa dengan hatiku" batin Anisa sambil menatap pintu kamar itu. Kalau ia tidak punya malu, mungkin saja saat ini ia langsung menerobos kamar itu hanya untuk sekedar tau siapa laki laki yang sedang mengaji itu.


Tiba tiba pintu depan rumah terbuka.


" Asalamualaikum"


Yusuf datang sambil mengucap salam.


" Sudah pulang Suf, abimu tidak ikut pulang?" tanya ustadzah Ulfi sambil membawa kotak P3K.


" Abi masih ada urusan sama ustad Riziq" jawab Yusuf. Anisa pun tersenyum pada Yusuf, Yusuf pun membalas senyuman Anisa sambil berlalu ke kamar. Anisa terdiam.


" Kalau ini Yusuf, dan abinya tidak ada di rumah, lantas siapa yang mengaji? ? ? " batin Anisa bertanya tanya.


Ustadzah Ulfi pun dengan sabar mengobati luka di lengannya Anisa, Anisa sedikit merasa tidak enak karna merepotkan. Luka Anisa pun sudah selesai di obati.


" Terima kasih ustadzah" ucap Anisa. Ustadzah Ulfi pun mengangguk.


" Ustadzah boleh saya tanya sesuatu?" ucap Anisa sedikit ragu.


" Mau tanya apa?"


" Tadi saya mendengar suara laki laki yang sedang mengaji di kamar itu, kalau boleh tau dia siapa?" tanya Anisa.

__ADS_1


Ustadzah Ulfi malah menjawab dengan senyuman.


__ADS_2