
Pagi pagi sekali Anisa sudah terbangun sebelum azan subuh berkumandang. Dilihatnya jam sudah pukul 03:45. Anisa pun duduk di atas ranjang, menatap suaminya yang kini sedang menggenggam tangannya erat. Anisa pun menatap suaminya dengan sedikit kesal.
" Dasar menyebalkan, kau memanfaatkan kesalahanku. Tidak punya rasa kasihan apa, aku hanya memukulmu pelan, cuma memar di wajah doang, itu pun mukulnya cuma pake sapu, badanmu pasti tidak akan berasa sakit. Tapi kau lihat aku, kau membalasku dengan kejam, badanku sampai berasa remuk semua. Menyebalkan" gerutu Anisa dalam hati sambil memandangi wajah suaminya itu.
Ibra masih terlelap, wajahnya memang sedikit terdapat memar kecil yang di hasilkan oleh perbuatan Anisa dan Elina. Anisa mulai tersenyum melihat luka memar itu, perlahan iya pun meraba luka itu hingga Ibra terbangun. Seketika Anisa pura pura tidur, berharap Ibra masih menyangkanya terlelap, namun sayang Ibra tidak bisa di bohongi hingga kini Ibra mengulas senyum melihat istrinya hanya tidur ayam.
" Kalau kau hanya tidur ayam begitu, kujamin aku tidak akan melepaskanmu sampai pagi" ucap Ibra sambil tersenyum hingga Anisa terpaksa membuka matanya.
" Tau saja kalau aku sudah bangun" gerutu Anisa. Ibra hanya tersenyum lalu menatap Anisa yang kini sedang cemberut.
" Kenapa kau tersenyum menggemaskan seperti itu?" tanya Ibra hingga Anisa mengernyitkan keningnya.
" Aku tidak sedang tersenyum menggemaskan, tapi aku sedang cemberut kesal" jawab Anisa hingga kini Ibra tertawa mendengar ucapan istrinya itu.
" Jadi kau sedang cemberut, coba kulihat bibir cantik istriku ini kalau sedang cemberut seperti apa?" tanya Ibra dengan nada menggoda. Anisa hanya diam sambil menatap Ibra. Hingga kini Ibra mendaratkan satu kecupan kecil pada bibir Anisa.
" Jangan menciumku, aku sedang kesal padamu" gerutu Anisa.
" Kenapa kau kesal padaku?, seharusnya kan aku yang marah padamu, kenapa kau dan sahabatmu itu memukuliku. Jadi dengan terpaksa aku menghukumu dengan cara seperti ini" tutur Ibra.
" Badanku berasa remuk semua Bim"
Ibra malah tertawa.
" Maafkan aku, kau boleh membalasku dengan cara yang sama" ucap Ibra sambil tersenyum senyum.
" Apa maksudmu?" tanya Anisa tak mengerti.
" Kau boleh meremukan badanku, dengan cara yang sama seperti aku meremukan badanmu" ucap Ibra sambil tersenyum senyum menggoda Anisa.
" NGGAAAAK"
Ibra malah tertawa.
" Sekali lagi aku tanya, kenapa kau dan Elina memukuliku tadi sore?" tanya Ibra. Anisa langsung terdiam, tiba tiba iya teringat dengan Syabil yang kabur dari penjara hingga kini Anisa merasa ketakutan.
" Kenapa Isya?, sepertinya kau sedang ketakutan?, apa kau takut aku membuatmu lelah lagi pagi ini?" tanya Ibra.
Anisa hanya diam saja tak menjawab, iya sedikit takut untuk bercerita pada Ibra tentang Syabil yang kabur dari penjara.
" Bim aku mau mandi, tapi kau tunggu di depan pintu ya, aku takut" ucap Anisa. Ibra pun terdiam, iya sedikit merasa aneh dengan permintaan Anisa, biasanya Anisa akan menyuruhnya untuk keluar kamar selama iya sedang berada di kamar mandi.
" Kau takut?" tanya Ibra.
" Hmmm" jawab Anisa sambil mengangguk.
" Kau takut apa?, aku kan ada di sini, apa kau tidak nyaman dengan rumah ini?" tanya Ibra kembali. Anisa pun menggeleng.
" Aku mau mandi, kau tunggu ya di depan pintu kamar mandinya" pinta Anisa kembali.
" Hmmm"
Saat Anisa mau melangkah ke kamar mandi, iya pun menyibakan selimut terlebih dahulu, namun tiba tiba iya terkejut, iya lupa dengan tubuh polosnya, dengan sigap Anisa menarik kembali selimut itu hingga menutupi tubuhnya lagi. Ibra sudah teryawa tawa melihat apa yang dilakukan Anisa. Anisa hanya menunduk sambil cemberut dan sedikit malu.
" Ha ha ha, kau lupa ya kalau aku melepas retsleting bajumu semalam" ucap Ibra hingga Anisa memukulnya dengan bantal. Ibra pun turun dari ranjang dan mengambilkan handuk untuk Anisa.
" Makasih Bim" ucap Anisa saat menerima handuk itu. Anisa pun menggunakan handuk menuju kamar mandi.
" Bim, kau tunggu aku di depan kamar mandi ya, jangan ditinggal" ucap Anisa. Ibra pun mengangguk hingga iya sedikit merasa heran dengan sikapnya Anisa.
" Isya, kalau kau takut, aku bisa menunggumu di dalam"
__ADS_1
Anisa yang mendengarpun langsung memicingkan matanya.
" Kau jangan macam macam ya Bim, aku sedang ketakutan dan butuh perlindungan, bukan kesepian yang butuh belaian" gerutu Anisa sambil menutup pintu kamar mandi hingga Ibra tertawa tawa. Setelah selesai membersihkan diri, Ibra pun memberikan pakaian ganti untuk Anisa yang sengaja iya ambil dari lemari.
" Makasih Bim"
Anisa pun memakai baju ganti di dalam kamar mandi, sementara Ibra dengan setia menunggunya di depan pintu kamar mandi.
Ceklek.
Anisa pun keluar dari kamar mandi sudah berpakaian rapih.
" Kau mandi sana Bim, aku sudah siapkan air untukmu"
" Hmmm"
Saat Ibra masuk ke kamar mandi, tiba tiba Anisa mengetuk pintunya.
Tok tok tok.
" Bim"
Ibra pun kembali membuka pintunya lalu menatap Anisa meminta jawaban.
" Jangan lama lama ya aku takut" ucap Anisa. Ibra pun hanya mengangguk meskipun iya heran dengan sikap Anisa yang entah takut oleh apa.
Setelah selesai membersihkan diri, Ibra pun keluar sudah dengan berpakaian rapih. Dilihatnya Anisa masih setia berdiri di depan pintu kamar mandi. Ibra pun langsung memeluknya.
" Katakan padaku kau takut apa?" tanya Ibra penasaran. Anisa malah memeluk Ibra.
" Aku takut Syabil" ucap Anisa.
" Syabil???"
" Katakan padaku, kenapa kau tiba tiba takut pada Syabil?"
" Kata ayah, Syabil berhasil melarikan diri dari penjara"
Ibra pun terkejut lalu menatap Anisa.
" Syabil melarikan diri dari penjara??" tanya Ibra memastikan. Anisa pun mengangguk kembali.
" Tadi sore itu, aku seperti melihat Syabil di depan butik, makanya aku ketakutan hingga aku dan Elina menyangka kau yang datang itu adalah Syabil, tanpa berfikir panjang aku dan Elina menyusun rencana, meskipun kita salah sasaran hingga memukulimu" tutur Anisa. Ibra hanya diam, iya mulai memikirkan tentang Syabil yang melarikan diri.
" Sya, kau harus hati hati ya mulai sekarang, kau hanya akan ke butik ketika aku mengantarmu, kau pun hanya akan pulang saat aku menjemputmu, ingat ya jangan keluar butik sendirian" tutur Ibra mengingatkan. Anisa pun mengangguk.
" Dan kau sekarang harus tenang, jangan terlalu takut pada Syabil, kau hanya boleh takut pada Allah" ucap Ibra kembali sambil membelai pipinya Anisa.
" Aku mau ke masjid dulu, kau jangan lupa shalat subuh" Ibra mengingatkan.
" Aku ikut" ucap Anisa sambil menggenggam tangan suaminya itu.
" Kau mengerjakan shalatnya di rumah saja, lagi pula Syabil tidak mungkin masuk ke pesantren. Sejak penculikan Zahira dulu, ustad Soleh dan ustad Usman sudah melakukan penjagaan ketat di area pesantren ini, jadi kau tidak perlu khawatir" tutur Ibra.
" Tapi tetap saja aku khawatir Bim, pokonya aku mau ikut bersamamu ke masjid" ucap Anisa kekeh.
" Kau mau ustad Usman menertawakan kita, dia pasti akan meledekmu kalau kau itu perempuan genit yang sukanya nempel pada suami"
Bukannya bilang iya, Anisa malah naik kepunggung Ibra. Kini Anisa berada digendongan suaminya itu. Ibra hanya tersenyum.
" Pokonya aku tidak mau sendirian, kalau kau mau pergi ke masjid, aku ikut. Kalau kau tidak mau aku ikut ke masjid, berarti kau mengerjakan shalat subuhnya di rumah" ucap Anisa. Ibra sudah diam kebingungan.
__ADS_1
" Kau tidak boleh begitu Sya, sekarang kau turun dulu" pinta Ibra. Anisa malah menggelengkan kepalanya.
" Kalau kau tidak mau turun, kubanting lagi kau keatas ranjang, kau mau aku melepas kembali retsleting bajumu lagi" ucap Ibra. Anisa pun menggeleng sambil turun dari gendongannya Ibra.
" Tapi Bim, aku hanya takut kalau Syabil akan membalas dendamnya pada kita"
" Kau tenang saja, Allah pasti melindungi kita" ucap Ibra mencoba menenangkan Anisa. Tiba tiba terdengar suara aneh di depan rumah.
BRUUGH.
Anisa dan Ibra pun terdiam lalu saling pandang.
" Bim, apa itu Syabil?" tanya Anisa takut.
" Ssstthh"
Perlahan Ibra pun berjalan mendekati pintu depan rumah, namun dengan sigap Anisa mengambil penggorengan dari dapur, setelah itu mendekati Ibra kembali.
" Untuk apa kau bawa bawa penggorengan?" tanya Ibra sambil berbisik.
" Untuk menyerang Syabil"
Saat Ibra membuka pintu, Tiba tiba.
" HUAAAAAAAA" ( Anisa)
" HUAAAAAAAA" ( Ustad Usman)
Mereka berdua menjerit hingga Ibra menutup telinganya dengan kedua tangannya. Anisa menjerit karna melihat ustad Usman sedang tersungkur di lantai, sementara Ustad Usman menjerit karna Anisa sudah sigap untuk memukulnya dengan penggorengan.
" Astaghfirullah alazim, ustad Usman, kenapa ustad malah rebahan di teras rumah saya?" tanya Ibra heran. Ustad Usman malah mengernyitkan keningnya.
" Apa maksudmu rebahan, aku ini kepleset, lalu tersungkur" ucap ustad Usman sedikit menggerutu. Ibra dan Anisa pun cekikikan tak bersuara hingga ustad Usman menggeram.
" Ani, kenapa kau bawa bawa penggorengan seperti itu?" tanya ustad Usman. Anisa pun terdiam lalu menatap penggorengan yang iya bawa, iya sudah tersenyum malu.
" Aku mau masak untuk sarapan" jawab Anisa bohong.
" Setauku kau itu tidak bisa masak"
Anisa malah cemberut mendengar ucapan ustad Usman.
" Maaf ustad, tumben sekali kau pagi pagi datang ke rumahku?" tanya Ibra.
" Aku kesini bersama kakaku, mau mengajakmu pergi ke masjid bersama" ucap Ustad Usman. Dilihatnya ustad Soleh sedang berdiri menunggu di jalan. Ibra pun mengangguk.
" Isya, aku ke masjid dulu ya" ucap Ibra pada Anisa.
" Subuh kali ini bukan isya, ada ada saja pasangan pengantin baru ini, geli aku mendengar panggilan sayangnya" batin ustad Usman.
" Aku ikut ya Bim, aku takut"
" Kau takut apa Ani?, apa rumah ini ada wewe gombelnya hingga kau tak berani di rumah sendirian" ucap ustad Usman.
" Kau genit sekali ya Ani, maunya rapet mulu sama suamimu mentang mentang pengantin baru, gini saja, kalau kau takut, kau bisa ikut, tapi kau mampir ke rumahnya Aisyah, kebetulan kami juga mau mengajak si berondong untuk pergi ke masjid bersama" tutur ustad Usman.
" Kau mau Sya, ke rumahnya ka Aisyah dulu, nanti setelah pulang dari masjid, aku jemput ke rumahnya ka Aisyah" ucap Ibra. Anisa pun mengangguk.
Kini mereka pun berjalan menuju rumahnya Aisyah untuk mengajak Riziq pergi ke masjid bersama sekalian mau menitipkan Anisa pada Aisyah.
Ustad Usman menyipitkan matanya saat Anisa menggandeng lengan Ibra, tak bisa di bohongi kalau Anisa benar benar ketakutan. Ustad Usman pun berniat menggoda dan menakuti Anisa karna hari masih terlihat gelap.
__ADS_1
" Hi hi hi hi hi hi" ustad Usman meniru suara hantu. Hingga Anisa semakin ketakutan. Namun rasa takut itu berbalik saat ustad Usman saat melihat Ibra sudah memicingkan matanya, memberikan tatapan keji menyeramkan.
" Astaghfirullah, aku lupa kalau si ustad preman pensiun itu ada di belakangku. Untung dia tidak mengeluarkan bogem imutnya. Bisa habis aku" batin ustad Usman.