
Satu minggu pun berlalu, Anisa sedang melamun duduk di tepi ranjangnya. Iya terus memikirkan apa yang akan terjadi jika ayahnya bersikeras menolak Ibra.
"Hari ini aku dan Ibra mau menemui ayah. Mudah mudahan Ibra bisa meyakinkan ayah
untuk menerimanya sebagai calon menantu. Amiin"
Tiba tiba Elina membuka pintu kamarnya.
" Nis kau sudah siap?" tanya Elina.
" Sebentar lagi aku turun" jawab Anisa.
Elina pun mengangguk.
" Aku tunggu di bawah"
Tidak lama kemudian Anisa turun ke bawah, Anisa dan Elina duduk di sofa, menunggu Ibra dan Erika datang.
" Asalamualaikum"
Erika datang bersama Zahira.
" Waalaikum salam"
Anisa dan Elina pun terdiam melihat Zahira datang bersama Erika.
" Ka Nisa, aku boleh ikut ya, plisss" rengek Zahira.
" Dia maksa pengen ikut" gerutu Erika.
" Kau sudah izin belum?" tanya Elina.
" Sudah, aku sudah izin pada ka Rasyid untuk ikut dengan kalian" jawab Zahira.
" Kau izin tidak sama ustad Riziq?"
" Jangan bicarakan si berondong, kalau aku izin padanya, sudah jelas dia tidak akan mengijinkan" tutur Zahira.
" Tapi dia nanti marah"
" Itu nanti urusanku" ucap Zahira.
Semua nampak pasrah dan mengiyakan. Mereka pun keluar butik dan menunggu Ibra di dalam mobil yang sudah terparkir di depan butik. Dilihatnya Ibra sedang berdiri di pinggir jalan untuk menyebrang.
" Itu si ustad preman" tunjuk Elina.
Anisa pun tersenyum. Dilihatnya Ibra memakai celana bahan berwarna hitam dan baju koko berlengan pendek berwarna coklat susu, tidak lupa juga dengan kopeahnya.
" Hadeuuuh si Ibra, kenapa berpenampilan seperti itu, kali kali pake setelan jas, dia kan mau ketemu calon mertua" tutur Elina.
" Ibra itu seorang ustad, bukan seorang direktur" gerutu Anisa. Elina langsung cekikikan.
" Aku lupa kalau si preman pensiun itu sudah menjadi ustad" ucap Elina.
Ibra pun menyebrang jalan dan menghampiri mereka.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Elina pun pindah dari kursi kemudi ke belakang duduk bersama Zahira dan Erika. Kini Ibralah yang mengemudi mobil.
Anisa pun menatap Ibra yang kini ada di sebelahnya.
" Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Ibra.
" Apa kau sudah meyakinkan hatimu?" tanya Anisa. Ibra pun mengangguk.
" Insya allah"
Anisa benar benar menaruh harap pada laki laki yang ada di sebelahnya itu.
" Sebelum berangkat, mari kita berdo'a dulu semoga kita di beri keselamatan dalam perjalanan kita" ucap Elina.
" Biar aku yang memimpin do'a" ucap Zahira.
Semua mengangguk.
"Bismilahhirahmanirahim, bismika allahuma ahya wabismika amut, amiin"
" Eh bocah selebor, kita ini mau ke Jakarta bukannya mau tidur" gerutu Elina. Zahira sudah tersenyum malu.
" Do'anya salah ya" ucap Zahira. Erika sudah menepuk jidatnya sendiri.
" Otaknya si Ira benar benar harus di serfis" batin Erika.
__ADS_1
Setelah Erika memimpin do'a, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Kau tidak akan menyerah kan, dengan apapun yang akan diputuskan oleh ayah?" tanya Anisa. Ibra pun mengangguk.
Perjalanan yang hampir memakan waktu hampir 3 jam itu, membuat Erika dan Zahira tertidur.
Sesampainya di Jakarta. Elina pun membangunkan Erika dan Zahira.
" Erika, Ira bangun, kita sudah sampai di Jakarta" ucap Elina memberitau. Mereka pun langsung terbangun.
" Waah kita udah sampai Jakarta ya?, Kereeeen" ucap Zahira sambil menatap ke arah luar.
" Apa ini pertama kalinya kau datang ke Jakarta?" tanya Erika.
" Sebenarnya dulu aku pernah ke Jakarta bersama rombongan pesantren. Kita semua pergi ke kebun binatang. Tapi waktu itu ada insiden sedikit" tutur Zahira.
" Insiden apa?" tanya Erika.
" Aku pernah hilang, eh sebenarnya bukan hilang hanya ketiduran di mobil, dan semua orang sibuk mencariku"
" Tapi kali ini kau jangan membuat ulah ya" pinta Elina.
" Ok"
Sesampainya di kantor polisi. Erika, Elina dan Zahira pun turun dari mobil.
" Waaaah, kantor polisinya kereeen, sangat besar, lebih besar dari rumahnya ka Riziq" tutur Zahira sambil matanya berkeliling memperhatikan kantor itu.
" Kenapa?, apa kau ingin menginap di sini?" tanya Erika.
" Sebenarnya iya, tapi sayang, si berondong tidak akan mengijinkanku"
Anisa hanya diam sambil menundukan kepalanya di mobil. Ibra pun menatapnya.
" Kenapa Nis?" tanya Ibra.
" Aku takut"
Ibra pun tersenyum.
" Insya allah aku akan memperjuangkanmu" ucap Ibra hingga Anisa tersenyum.
" Bismilah saja, semoga ayahmu mau merestui niat kita"
Anisa pun mengangguk.
Anisa dan Ibra pun keluar dari mobil.
" Kalian masuklah, kita akan menunggu di luar" ucap Elina. Anisa pun mengangguk dan langsung melangkah masuk bersama Ibra.
" Bismilahirahmanirrahim"
Zahira pun berjalan untuk menyusul Anisa, namun Erika langsung menarik tangannya.
" Kau mau kemana Ira?" tanya Erika.
" Aku mau ikut masuk, aku mau lihat lihat ke dalam"
" Kau jangan macam macam ya, kau mau ditembak ayahku" ucap Erika.
" Kalau ayahmu menembaku, tinggal jawab saja i love you to. Gampangkan" jawab Zahira.
" Lama lama aku darah tinggi menghadapimu" gerutu Erika.
" Ira, kau tunggu saja di sini, nanti kau ganggu mereka" ucap Elina.
Mau tidak mau Zahira pun menurut dan menunggu di luar.
Tok tok tok.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam, masuk"
Sebelum masuk Anisa pun menatap Ibra. Ibra pun tersenyum padanya, mereka pun masuk ke ruangannya pak Akbar.
" Ayah"
Pak akbar pun menatap kedatangan mereka.
" Duduklah" suruh pak Akbar.
Sebelum duduk mereka pun bersalaman terlebih dahulu. Suasana nampak hening di ruangan itu. Ibra hanya diam sambil menundukan kepalanya sebelum pak Akbar memulai pembicaraan. Pak Akbar pun menatap Ibra. Anisa sudah mencengkram ujung kerudungnya.
" Apa alasanmu memilih putriku untuk jadi calon istrimu?" tanya pak Akbar tiba tiba. Ibra langsung menatap pak Akbar lalu bergilir menatap Anisa.
__ADS_1
" Saya memilihnya karna Anisa memang layak untuk di pilih, Anisa selain baik dia juga solehah" jawab Ibra.
" Ada alasan yang lain?" tanya pak Akbar.
" Anisa adalah salah satu alasan saya untuk berubah. Dia wanita istimewa yang allah kenalkan pada saya" jawab Ibra kembali.
" Katakan, alasan apa yang membuat saya harus menerimamu sebagai calon menantu?" tanya pak Akbar. Ibra pun terdiam.
" Saya tidak punya alasan apapun pak, saya hanya ingin menjadi imam bagi Anisa, membimbingnya dan memapahnya berjalan bersama untuk lebih dekat dengan Allah. Tidak ada niat saya untuk mempermainkannya, apalagi menyakitinya" tutur Ibra.
" Apa dengan alasanmu itu, kau bisa meyakinkan saya untuk memilihmu menjadi menantu?"
" Seseorang tidak perlu memilih hanya karna sebuah alasan"
" Lalu, apa yang akan kau lakukan untuk membuat saya mempercayaimu kalau kau sudah berubah" tanya pak Akbar.
" Saya tidak akan melakukan apapun, tidak akan memamerkan perubahan itu, cukup Anisa dan Allah yang tau"
Pak Akbar pun menatap Ibra.
" Jika kau menyayangi Anisa, lalu apa yang akan kau minta pada Allah untuk putriku"
Ibra pun menatap Anisa.
" Saya akan memohon pada Allah untuk Anisa, biar dia dijauhkan dari 3 perkara. Kekafiran, kesempitan dan kegalauan.
Dijaga 3 perkara.
Dirinya, keluarganya dan agamanya.
Dan dibahagiakan dengan 3 perkara.
Luasnya rejeki, nikmatnya syukur dan panjang umur.
Dan dipalingkan dari 3 perkara.
Neraka jahanam, mata yang dengki dan bara kebencian.
Dan dibantu atas 3 perkara.
Mengingatnya, mensyukurinya dan ibadah kepadanya."
Mata Anisa sudah berkaca kaca.
" Sekarang saya tanya, berapa penghasilanmu perbulan?" tanya pak Akbar.
" Ayah" ucap Anisa dengan sedikit menaikan level suaranya. Anisa tidak menyangka kalau ayahnya akan bertanya seperti itu. Ibra hanya bisa menunduk.
" Ayah hanya tanya berapa penghasilannya, bukankah itu tidak salah?, ayah hanya ingin yang terbaik untukmu Nis"
Anisa hanya diam, ada rasa tak suka dengan pertanyaan ayahnya itu.
" Saya memang bukan orang kaya yang bergelimang harta, penghasilan saya pun tidak seberapa. Tapi insya allah saya akan berusaha untuk membahagiakan putri bapak.
Jika bapak mencari menantu yang mau berusaha untuk membahagiakan putri bapak, menyayanginya, membimbingnya dan mendekatkannya pada Allah, insya Allah saya maju 1000 langkah. Tapi kalau bapak menginginkan menantu yang bergelimang harta, maaf saya tidak punya. Tidak semua kebahagiaan itu bisa dibeli dengan uang" tutur Ibra. Anisa sudah menyeka air matanya. perasaan takut dan gelisah menderanya.
" Saya tanya lagi, seyakin apa kau pada putriku?"
Ibra pun menatap pak Akbar.
" Seyakin saya pada sang pencipta. Saya berniat menikahinya bukan karna nafsu dan cinta semata, tapi saya yakin bersamanya surga menjadi semakin dekat"
" Jika suatu saat kau menyakiti putriku, apa yang harus saya lakukan sebagai ayahnya?" tanya pak Akbar.
" Bapak boleh menghakimi saya sesuai yang bapak mau. Tapi untuk itu, saya akan berusaha untuk tidak menyakiti Anisa"
Pak Akbar pun menatap Anisa yang kini sedang menunduk.
" Nis, apa kau sudah yakin dengan laki laki yang ada di sebelahmu ini?" tanya pak Akbar.
Anisa pun langsung mendongakan wajahnya menatap ayahnya sendiri.
" Aku sangat yakin yah, kalau Ibra adalah laki laki yang di kirim Allah untuk menjadi imamku"
" Seyakin itu kah?"
Anisa mengangguk pasti.
Pak Akbar kembali menatap Ibra.
" Kapan kau akan menikahi putriku?" tanya pak Akbar. Anisa dan Ibra pun terkejut mendengar pertanyaan laki laki paruh baya yang ada di hadapannya itu.
" Apa maksud pertanyaan ayah?" tanya Anisa.
" Ayah tanya kapan Ibrahim akan menikahimu?" ucap pak Akbar kembali. Anisa pun tersenyum lalu menatap Ibra meminta jawaban.
__ADS_1
" Sekarang" jawab Ibra.