Janji Anissa

Janji Anissa
Kebodohanku


__ADS_3

Setelah mandi dan membersihkan diri, Anisa pun turun dari lantai dua, Elina sudah berdiri menunggunya.


" Duduk" pinta Elina.


Anisa pun menurut dan duduk di sofa, tepatnya di hadapan Elina. Kini Elina lah yang menatap tajam kearah sahabatnya itu.


" Kau tau Nis, aku mencemaskanmu setengah mati. Aku takut si preman pensiun itu menyakitimu, aku takut dia melakukan kdrt padamu, bahkan aku sempat berfikiran kau dimutilasi sama suamimu itu" tutur Elina sedikit kesal.


" Fikiranmu kejauhan" ucap Anisa.


" Makanya kuperingatkan padamu ya Nis, kalau bicara itu dijaga, jangan main nyerocos saja, kau harus tau situasi dan kondisi" gerutu Elina hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


" Iya iya aku ngaku salah, aku kan tadi tidak tau kalau ada Ibra, kalau aku sedang kesal yang mulutku tidak bisa di kontrol" ucap Anisa.


" Jadikan ini pelajaran untukmu, hati hati ya Nis, mulutmu harimaumu, bukan mulutmu bacotmu. Masih untung dia hanya membantingmu ke atas ranjang, bagaimana kalau dia membantingmu dari ruko lantai dua, bisa almarhum kau" gerutu Elina kembali.


" Iya iya, mulai sekarang aku akan jaga bicaraku"


" Hmmm bagus"


Elina pun membolak balikan tubuh Anisa mengeceknya takut ada yang luka.


" tapi kau baik baik saja kan Nis?" tanya Elina.


" Aku baik baik saja"


" Beneran???"


" Hmmm"


" Tidak ada yang luka atau lebam???" tanya Elina penasaran. Anisa pun menggelengkan kepalanya.


" Cuma dikit doang" ucap Anisa.


" Dimana?" tanya Elina cemas.


" Di leherku" jawab Anisa sambil tersenyum senyum. Hingga Elina mengernyitkan keningnya.


" Geli aku dengernya" ketus Elina hingga Anisa tertawa tawa.


" Makanya buruan cari jodoh, jangan mau kalah sama si Zahira, dia saja sudah punya calon imam" ucap Anisa mengejek.


" Jangan mengejeku terus, nanti juga Allah mengirimkan jodohnya padaku" jawab Elina.


Mereka pun mengerjakan rutinitas seperti biasa. Mengerjakan baju seragam satu persatu.


* * * * * *


Sore pun tiba, Anisa terus menatap toko buku Ibra berharap suaminya itu mau menjemputnya untuk pulang bersama. Namun sayang, Ibra tak kunjung kunjung datang hingga Anisa mengerucutkan bibirnya.


"Kau kenapa lagi Nis?" tanya Elina.


" Ibra belum datang buat jemput aku, apa dia masih marah padaku ya" ucap Anisa menduga duga.


" Ya sudah kau saja yang jemput dia, aku yakin kau belum minta maaf sama Ibra, jadi dia masih marah padamu"


" Bagaimana aku mau minta maaf, dia tiba tiba saja menyerangku" gerutu Anisa. Elina hanya menggeleng gelengkan kepalanya, merasa geli dengan sepasang suami istri ini.


Setelah berberes, Anisa pun duduk di sofa.


" Lin, ko tiba tiba aku takut ya pulang ke rumah" ucap Anisa.


" Maksudmu??"


" Ibra sepertinya masih marah padaku"


" Gimana kalau kau rayu si Ibra biar dia luluh dan gak marah marah lagi padamu" Elina memberi saran.


" Kau kan tau, aku tidak bisa merayu, apa lagi genit genit tak jelas"


" Cari ide"


Tiba tiba mereka tersenyum sambil saling menatap.


" Sepertinya aku menemukan ide" ucap Elina.


" Aku juga" ucap Anisa.


" Kapan kau akan pergi ke rumahnya ka Aisyah?" tanya Elina.

__ADS_1


" Pulang dari sini"


Waktu sudah menunjukan pukul 17:35.


Anisa pun pamit pulang.


" Aku pulang ya Lin, asalamualaikum"


" Waalaikum salam, hati hati"


Anisa pun menyebrang jalan dan langsung masuk ke toko bukunya Ibra, berharap suaminya itu masih ada di sana.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Salwa.


" Ustad Ibrahimnya ada?" tanya Anisa. Salwa malah mengernyitkan keningnya.


" Loh mba, ustad Ibrahim sudah pulang sedari tadi" jawab Salwa. Anisa pun terdiam.


" Tuh kan benar, Ibra masih marah" batin Anisa. Sambil mengerucutkan bibirnya, Anisa pun pamit pulang. Iya berjalan sendirian menuju pesantren. Iya segera pergi ke rumahnya Aisyah. Diketuknya pintu rumah Aisyah.


Tok tok tok.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam" jawab Aisyah sambil membuka pintu. Aisyah tersenyum begitu pun dengan Anisa.


" Eh Anisa, ayo masuk" pinta Aisyah. Anisa nampak ragu.


" Sebenarnya aku ke sini mau," belum saja Anisa mengucapkan niat kedatangannya itu, tiba tiba Riziq keluar menghampiri Aisyah.


" Siapa uni?" tanya Riziq.


Tiba tiba Anisa langsung menutup mata, saat melihat ada tanda merah di pipi sebelah kanannya Riziq. Aisyah yang merasa aneh dengan reaksi Anisa pun ikut menatap suaminya, Aisyah terkejut saat melihat tanda lipstik di pipi suaminya itu. Aisyah langsung mendorong Riziq untuk masuk rumah dan menutup pintu.


Jebred.


" Maaf Anisa" ucap Aisyah.


Anisa pun membuka matanya, iya sudah tersenyum getir, merasa malu karna telah mengganggu pasangan suami istri itu.


"Kau datang ke sini ada perlu apa?" tanya Aisyah.


" Sebenarnya aku datang ke sini mau menanyakan beberapa pertanyaan, tapi sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya, jadi aku permisi ya kak" pamit Anisa.


" Asalamualaikum"


" Waalaikum salam"


Anisa pun pergi dari rumahnya Aisyah hingga Aisyah merasa heran dan mengernyitkan keningnya.


"Anisa kenapa ya???, mungkin dia lelah" batin Aisyah heran.


Anisa pun berjalan untuk pulang, di tengah jalan iya mengambil lipstik di tas kecilnya beserta dengan cermin kecil yang selalu iya bawa. Anisa memakainya hingga bibirnya merah merona. Dari kejauhan ustad Usman melihat Anisa sedang berdandan di tengah jalan, iya pun mendekatinya.


" Astaghfurullah Ani kau sedang apa?" ucap ustad Usman mengagetkan Anisa. Anisa langsung memasukan lipstik dan cermin kecilnya ke dalam tas, berharap tidak ada yang tau kalau iya sedang berdandan.


" Asalamualaikum ustad, kau mengagetkanku"


" Waalaikum salam. Kau sedang apa Ani?" tanya ustad Usman kembali.


Anisa mulai gugup.


" Dari rumahnya ka Aisyah"


Ustad Usman pun melihat bibir Anisa yang merah merona.


" Astaghfirullah alazim, Ani, bibirmu kenapa?, kau habis makan tikus???" tanya ustad Usman. Anisa langsung menutupi bibirnya dengan tangan.


" Ustad, aku permisi dulu, asalamualaikum"


Anisa pamit dan langsung berlari menuju rumahnya ustadzah Ulfi.


Ustad Usman hanya menggeleng gelengkan kepalanya menatap kepergian Anisa.


" Ciri wanita akhir zaman, lebih mementingkan kecantikannnya. Berdandan saja sampai di tengah jalan" ucap ustad Usman.


Setelah Anisa sampai di rumah.

__ADS_1


Tok tok tok


" Asalamualaikum"


Anisa tidak langsung masuk sengaja menunggu Ibra untuk di godanya. Ibra yang kebetulan membuka pintu untuk pergi ke masjid. Iya sudah menghubungi Elina dan mengetahui kalau Anisa sudah pulang.


Ibra terdiam saat melihat Anisa tersenyum di depan pintu, apalagi melihat bibir Anisa yang warnanya tidak biasa. Anisa langsung mendekatinya dan mengalungkan tangannya kelehernya Ibra.


Cup.


Tanda merah itu mendarat di bibirnya Ibra. Ibra membelalakan matanya, tidak menyangka dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Anisa hanya tersenyum lalu mendaratkan kembali tanda merah itu di pipi kiri dan kanannya Ibra.


Cup, cup.


Anisa tersenyum senyum masih dengan mengalungkan tangannya di lehernya Ibra. Ibra hanya diam seolah tak percaya dengan perbuatan Anisa. Tiba tiba kini Anisa lah yang membelalakan matanya ketika melihat ustad Azam dan Yusuf sedang menutup mata dengan tangan masing masing tidak jauh di belakangnya Ibra.


Deg


Deg


Deg.


Anisa langsung menarik tangannya dan menatap Ibra yang sedang menunduk tersenyum. Anisa mendadak lupa kalau di rumah itu masih ada penghuni lain.


" Biim"


" Hmmm"


" Kenapa kau tidak bilang kalau mereka ada di belakangmu" ucap Anisa lirih. Ibra hanya tersenyum senyum saja. Seketika Anisa langsung menarik sorbannya Ibra dan melilitkannya di wajahnya Ibra, menyembunyikan ketiga tanda merah itu.


" Nis kenapa kau melilitkan sorban di wajahku, aku tidak bisa lihat apa apa" protes Ibra.


" Sssstth...."


Anisa langsung memapah Ibra ke kamarnya dengan beribu rasa malu yang teramat sangat. Ustad Azam dan Yusuf sudah membuka matanya, mereka hanya menundukan kepalanya. Saat Anisa melewati mereka.


" Permisi mas" ucap Anisa yang langsung mendorong Ibta masuk kamar, namun tiba tiba.


BRUGH.


Ibra menabrak pintu.


" Awww"


" Maaf Bim"


Anisa memapahnya sampai masuk ke dalam. Ustad Azam pun tersenyum lalu mengajak Yusuf untuk pergi ke masjid.


Di dalam kamar, Anisa langsung melepaskan sorban Ibra. Iya langsung membantingkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur, tengkurep dan menyembunyikan wajahnya di bantal. Terdengar isak tangisnya Anisa. Ibra pun mendekati istrinya itu.


" Kenapa Nis???"


Anisa pun bangun dan duduk disebelahnya Ibra.


" Aku malu, aku lupa kalau di sini bukan hanya kita yang tinggal" ucap Anisa sesegukan. Ibra pun tersenyum lalu menghapus air mata istrinya itu.


" Jangan menangis, semua orang pasti melakukan kesalahan, baik di sengaja maupun tidak" tutur Ibra.


" Tapi aku malu sama kakak ipar dan keponakanmu"


Ibra hanya tersenyum.


" Aku tanya, kau belajar bersikap seperti itu dari mana??" tanya Ibra.


" Aku tadi ke rumahnya ka Aisyah, aku tidak sengaja melihat ada tanda lipstik di wajahnya ustad Riziq"


" Jadi kau ikut ikutan ka Aisyah??"


Anisa pun mengangguk. Ibra sudah tersenyum senyum sambil menundukan kepalanya hingga Anisa sedikit kesal dan nenepuk lengannya Ibra.


" Kenapa?, kau ingin menertawakanku?" tuduh Anisa. Ibra pun menggeleng.


" Bim, kita cari rumah ya, atau kita pindah ke ruko, biar tidak ada yang bisa melihat kebodohanku" ucap Anisa.


" Aku tidak mungkin tinggal satu atap dengan Elina. Soal rumah, aku sudah membicarakannya pada ustad Soleh. Karna di sini belum ada rumah yang baru dan belum berpenghuni, ustad Soleh menawarkan kita tinggal di rumahnya umi Fadlun dan kiyai Mansyur, mereka adalah orang tua angkatnya ustad Riziq, kebetulan rumah mereka sudah lama tidak di tempati, dan mereka sudah menetap di Kairo, kau mau tinggal di sana???"


Anisa pun mengangguk.


" Hmmm aku mau, yang penting kita hanya tinggal berdua, jadi tidak akan ada orang yang bisa melihat kebodohanku lagi selain dirimu. Maafkan aku ya Bim, telah membuatmu malu" ucap Anisa menunduk. Ibra pun tersenyum, lalu memeluk Anisa dan mengecup keningnya.

__ADS_1


__ADS_2