
Sepulang dari pasar, Ibra, Anisa, Aisyah, Riziq dan Dewi pun berjalan menuju pesantren. Riziq sudah menggendong Adam, sementara Aisyah menggendong Hawa. Lalu Dewi kini sedang membawa celengan semar yang iya dapatkan di toko paling ujung pasar. Anisa terus menatap saat Aisyah dan Riziq menggendong putra putrinya, tak bisa dipungkirinya iya merasa cemburu pada pasangan itu.
"Kapan ya Allah akan kasih malaikat kecil untuku" batin Anisa penuh harap. Ibra pun menggenggam tangan istrinya itu, Ibra tau kalau kini Anisa terus memikirkan dan menginginkan seorang anak meskipun usia pernikahannya masih terbilang muda.
" Suatu saat Allah pasti kasih kita keturunan" bisik Ibra, Anisa pun tersenyum.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan ustad Usman.
"Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Ustad Usman sedikit heran melihat mereka berjalan bersama sambil menenteng belanjaan masing masing.
" Kalian pada dari mana rame rame begini, sudah seperti mau pawai obor saja" ucap ustad Usman.
" Kepo" ucap Dewi.
" Kita dari pasar" jawab Riziq.
Ustad Usman pun terdiam menatap Dewi membawa celengan semar.
" Wi, si Muklis pergi kemana?, orang lain pada gandengan sama suaminya kenapa kau bergandengan dengan celengan semar?" tanya ustad Usman hingga Dewi mengerucutkan bibirnya.
" Jangan sembarangan kau ustad. Suamiku sedang mencari nafkah untuk membeli beras dan sebongkah berlian, jadi dia tidak bisa ikut" tutur Dewi.
Ustad Usman pun melihat Anisa dan Ibra hanya menenteng beberapa pelastik sayuran.
" Ani, kalau kau berniat untuk membeli celengan galon atau celengan tabung gas, kau tidak perlu repot repot untuk mencarinya, kau cukup menaruh Dewi di lemari pajanganmu" tutur ustad Usman hingga Dewi menggeram.
" Kau jangan sembarangan ya ustad Usman" gerutu Dewi.
" Maaf Wi bercanda"
Tiba tiba Hawa merentangkan tangannya pada ustad Usman.
" Apa Hawa?" tanya ustad Usman.
Hawa masih terus merentangkan tangannya pada ustad Usman berharap kalau pak Denya itu mau menggendongnya.
" Hawa minta di gendong ka" ucap Aisyah sambil memberikan Hawa pada ustad Usman.
" Jangan merepotkanku ya" ucap ustad Usman.
" Semuanya kita duluan ya, Asalamualaikum"
Ibra dan Anisa pamit"
" Waalaikum salam"
Kini Ibra dan Anisa pun pulang ke rumahnya.
Ustad Usman pun pergi bersama Hawa untuk berkeliling pesantren.
__ADS_1
Kini tinggalah Aisyah, Riziq dan Dewi, tak lupa juga dengan Adam.
" Aisyah aku duluan ya, Aku mau memasukan uang punyanya Syifa ke celengan barunya" ucap Dewi.
" Ka Dewi perlu bantuan?" tanya Riziq.
" Tidak usah, nanti kalian minta imbalan"
Aisyah dan Riziq malah tertawa.
" Memangnya kita Syifa"
* * * * *
Keesokan harinya Anisa sedang duduk di perkebunan, menatap Ibra yang kini sedang ikut menanam sayuran bersama ustad Soleh. Ibra pun mendekatinya karna sinar matahari mulai terasa panas.
" Sya, sebaiknya kau pulang, di sini panas" ucap Ibra. Anisa malah menggelengkan kepalanya.
" Tidak mau Bim, aku ingin di sini, meskipun panas tapi di sini udaranya sejuk, anginnya juga sepoi sepoi, aku tidak mau sendirian di rumah" tutur Anisa.
" Ya sudah tidak apa apa kalau kau mau di sini, aku tinggal dulu ya"
Anisa pun mengangguk. Dan Ibra kembali membantu ustad Soleh menanam bibit sayuran yang baru. Tidak lama kemudian datanglah Aisyah, Riziq dan Ustad Usman.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Sendirian saja Nis?" tanya Aisyah.
" Iya ka, aku sedikit suntuk sendirian di rumah, makanya aku ikut ke sini" jawab Anisa. Riziq sudah pergi ke kebun cabe kesayangannya, sementara Ustad Usman ikut membantu Ibra dan ustad Soleh. Setelah mengobrol ngobrol, Aisyah pun pamit pergi menemui suaminya.
" Nis, aku tinggal dulu ya, mau menemani suamiku" ucap Aisyah. Anisa pun mengangguk tersenyum. Kini Aisyah sudah menemui Riziq, dan langsung membantu suaminya itu di perkebunan cabe. Mereka selalu bercanda dan tak pernah mengenal tempat. Anisa pun menatap mereka, ada rasa iri dalam hatinya.
"Mereka memang pantas disebut pasangan yang romantis, apa apa dilakukan bersama, kadang makan pun selalu sepiring berdua. Usianya yang terpaut lima tahun tak membuat mereka hilang keromantisan. Kapan ya aku dan Ibra menjadi pasangan seperti mereka" batin Anisa sambil menatap Riziq dan Aisyah.
Ustad Usman pun berniat mengambil ember yang ada di dekatnya Anisa. Dia heran melihat Anisa terus menatap pasangan Riziq dan Aisyah.
" Ehem"
Ustad Usman berdehem hingga Anisa langsung menatap ke arahnya.
" Ustad Usman batuk?" tanya Anisa. Ustad Usman yang mendengar pertanyaan Anisa pun langsung mengernyitkan keningnya.
" Aku bersin Ani. Apa kau tidak bisa membedakan suara batuk sama suara orang berdehem" ucap ustad Usman. Anisa langsung terdiam sambil mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa ustad Usman berdehem seperti itu?, apa ustad Usman tersendak" ucap Anisa.
" Aku cuma ingin tanya kenapa kenapa kau menatap Aisyah sama si berondong seperti itu?" tanya ustad Usman. Anisa pun terdiam lslu langsung menundukan kepalanya sedikit malu karna ketahuan menatap sepasang suami istri itu.
" Kenapa?, apa kau merasa iri dengan mereka. Kuberitau ya, adiku Aisyah itu sangat genit ganjen, dia bisa mengimbangi sikap suaminya itu, mereka selalu terlihat mesra, tapi terkadang suka tidak tau malu, suka keceplosan dengan ucapan genitnya. Tapi alhamdulilah, rumah tangganya dari dulu sampai sekarang terlihat adem ayem meskipun mereka dianugrahi si selebor yang menyebalkan" tutur ustad Usman. Anisa pun tersenyum.
" Iya ustad, terkadang aku merasa iri dengan mereka yang terlihat mesra meskipun ustad Riziq 5 tahun lebih muda dari ka Aisyah, tapi mereka dapat mengimbangi usia masing masing" tutur Anisa.
__ADS_1
" Hmmm, kisah cinta mereka pun tak kalah unik dari kisahmu sama si ustad preman pensiun. Banyak air mata dan pengorbanan dalam kisah mereka" tutur ustad Usman kembali.
" Ustad Sendiri kisah cintanya sama ka Nisa bagaimana dulu, apa seunik kisahnya ka Aisyah?" tanya Anisa.
" Oh tentu saja, bahkan lebih unik lagi ceritaku" ucap ustad Usman hingga Anisa dibuat penasaran.
" Benarkah???"
" Hmmm"
" Coba aku ingin dengar singkatnya" pinta Anisa. Ustad Usman malah mengernyitkan keningnya.
" Sepertinya kau sangat tertarik dengan kisah hidupku" ucap ustad Usman.
" Kepo dikit boleh dong"
" Kata si berondong orang kepo uban di kepalanya akan tumbuh mendadak"
" Massa??"
" Hmmm, tapi kalau kau penasaran, baiklah aku akan cerita. Dulu saat usiaku 21 tahun, aku pergi ke Kairo, setelah hampir 3 tahun di sana aku pulang ke Indonesia waktu itu aku cuti. Eh pulang pulang aku dijodohin sama Nisa, aku bersedia begitupun dengannya hingga akhirnya kita menikah, setelah menikah aku mengajaknya ke kairo. Sudah selesai sampai di situ" tutur ustad Usman hingga Anisa mengernyitkan keningnya.
" Udah segitu doang?" tanya Anisa hampir tak percaya.
" Hmmm" jawab ustad Usman sambil mengangguk ngangguk.
" Mana yang dibilang uniknya?" tanya Anisa.
" Akh kau mah tidak mengenal arti kata sempurna"
" Apanya yang sempurna. Di kisahnya ustad Usman tidak ada yang unik, tidak ada halangan, rintangan dan cobaan, apalagi pengorbanan" ucap Anisa.
" Semua itu datangnya setelah menikah." Tiba tiba ustad Usman terdiam.
" Astaghfirullah kenapa kita jadi ngobrol begini, ketauan si preman pensiun aku bisa dibabad habis ini" ucap ustad Usman sedikit takut. Iya langsung mengambil ember dan pergi meninggalkan Anisa yang masih setia duduk di sana. Ustad Usman pun membantu kakaknya kembali. Anisa hanya tertawa tawa saja.
" Astaghfirullah, semoga anaknya kelak tidak mirip seperti ustad Usman" batin Anisa berdoa.
-
-
-
-
-
-
Cerita ini dibuat hanya untuk menghibur semata. Jika ada perkataan atau perbuatan yang tidak menyenangkan saya minta maaf, tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk merendahkan atau menyinggung baik tempat, apapun atau siapapun.
Terima kasih.
__ADS_1