
Setelah kepergian Aisyah dan ustad Riziq, serta Erika dan Zahira, Anisa dan Elina pun mengucap syukur karna pembukaan pertama butiknya lumayan mendapatkan penghasilan.
" Alhamdulilah ya Lin, kita sudah dapat penghasilan dihari pertama" ucap Anisa.
" Hmmm, alhamdulilah, meskipun tak seramai di Jakarta, tapi aku merasa senang di sini" ucap Elina.
Dari kejauhan ustad Usman bersama Nisa istrinya yang kini sedang hamil 6 bulan, berjalan sedikit cepat sambil menggerutu menuju butiknya Anisa.
" Semua gara gara si Aisyah, pake pamer pamer segala beli baju baru. Sudah tau istriku mudah sekali kebitaan melihat orang lain beli apa apa pasti langsung ikut ikutan pengen, kemarin ka Sarah beli panci baru, Nisa pengen juga. Selalu yang di fitnah calon bayiku. Bayinya yang mau, bayinya yang pengen, alasannya selalu ngidam, padahal ibunya sendiri yang menginginkannya" gerutu ustad Usman panjang lebar sambil berjalan.
" Mas kenapa kau menggerutu terus sedari tadi" ucap Nisa istrinya ustad Usman.
Sesampainya di butiknya Anisa.
" Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Anisa dan Elina pun merasa senang akan kedatangan ustad Usman dan Nisa istrinya.
" Selamat datang ustad Usman dan ka Nisa" sapa Anisa.
" Terima kasih Ani, oh iya si Aisyah tadi beli apa saja?" tanya ustad Usman.
" Ka Aisyah beli 3 gamis beserta kerudungnya" jawab Elina.
"Nisa" panggil ustad Usman.
Anisa dan Nisa pun menyauti.
" Ya" ( Anisa)
" Ya" ( Nisa)
" Aku memanggil Nisa istriku bukan memanggilmu Ani" ucap ustad Usman. Anisa sudah tersenyum malu.
" Maaf ustad saya lupa kalau nama panggilannya sama" ucap Anisa.
" Ustad Usman masa sama istri sendiri manggilnya cuma nama saja" ucap Elina.
" Iya panggil sayang ke, atau panggil bebeb gitu" tambah Anisa. Ustad Usman hanya mengeryitkan keningnya.
" Aku tidak suka manggil manggil kaya gitu. Ya sudah Nis kau boleh beli baju sebanyak yang kau mau. Aku risih mendengar kau merengek terus" ucap ustad Usman.
Nisa istrinya ustad Usman pun memilih milih baju dengan di bantu oleh Anisa.
" Ka Nisa, beli yang banyak mumpung suaminya yang nyuruh" bisik Elina.
Nisa sudah memilih milih, namun entah kenapa tak ada yang nyangkut di hatinya padahal baju baju rancangan Anisa nampak bagus bagus. Sudah hampir satu jam lebih Nisa memilih milih baju namun masih tak ada yang membuatnya tertarik hingga ustad Usman mendengus kesal.
" Nis baju segitu banyaknya masa belum ada yang suka" ucap ustad Usman heran. Nisa hanya diam saja sambil menatap baju baju itu.
" Nis sebenarnya kau mau beli tidak?" tanya ustad Usman pada istrinya. Nisa malah menggeleng.
" Kita jauh jauh jalan dari pesantren ke sini dan kau tidak beli apa apa, sungguh terlalu" gerutu ustad Usman. Nisa malah tersenyum malu.
" Ya sudah kalau kau tidak mau membeli baju, kita pulang saja" pinta ustad Usman. Anisa dan Elina sudah mengerucutkan bibirnya.
" Mas, aku memang tidak mau membeli baju, tapi aku pengen beli ini" tunjuk Nisa pada patung manekin perempuan. Ustad Usman langsung menganga tak percaya.
__ADS_1
" Apa maksudmu Nis, kau jangan macam macam" ucap ustad Usman. Anisa dan Elina sudah cekikikan.
" Bukan aku yang mau mas, tapi bayinya" ucap Nisa. Ustad Usman sudah menghembuskan nafas kasar.
"Selalu saja calon bayiku yang difitnah" batin ustad Usman menggerutu.
" Maaas, pengen ini" ucap Nisa sambil memeluk patung manekin itu.
" Hadeuuuuh, aku sudah tidak mengerti dengan kemauan ibu hamil, disuruh beli baju malah pengen beli patungnya" gerutu ustad Usman.
" Maaaas, yang pengen itu bayinya" ucap Nisa.
" Ani, kita boleh beli patungnya?" tanya ustad Usman.
" Sebenarnya kita tidak jual patungnya, tapi karna istrinya ustad sedang hamil, mau tidak mau kita persilahkan" ucap Anisa.
" Kalau beli baju diskon 50%, kalau beli patung harganya naik 50%" tutur Elina. Hingga ustad Usman mengeryitkan keningnya.
" Kalian memanfaatkan situasi dan kondisi" gerutu ustad Usman.
" Dari pada bayinya ntar ileran kalau tidak diturutin kemauannya" ucap Elina.
" Ya sudah berapa harganya?" tanya ustad Usman.
" Patungnya doang apa sama bajunya?" tanya Anisa.
" Patungnya doang"
" Harganya * * * * * * $"
" Aku tidak punya dolar" ucap ustad Usman.
" Bercanda ustad Usman, harganya 800.000 tanpa pakaian alias telanjang" ucap Elina.
" Hmmm"
" Kalau ustad ingin yang lebih murah ada, beserta pakaiannya juga, bisa di suruh suruh pula" ucap Elina.
" Mana??"
" Zahira, tadi kakaknya nawarin kalau butuh patung manekin boleh pake Ira buat jadi patung"
" Siberondong kebanyakan godain istrinya, otaknya jadi miring miring" ucap ustad Usman.
Ustad Usman pun membayar 800.000 pada Anisa dan Elina. Sebelum patung di bawa, baju di patung itu pun di buka terlebih dahulu hingga telanjang.
" Astaghfirullah, meskipun itu cuma patung tapi kalau di telanjangin seperti itu nanti yang lihat langsung berhasrat" ucap ustad Usman. Anisa pun mengambil kain untuk menutup patung itu dari dada hingga lutut.
" Sudah tidak telanjang lagi" ucap Anisa.
" Ya sudah kita pulang dulu. Kalau ada yang lihat aku bawa patung beginian ke pesantren, bisa heboooh satu pesantren. Masa aku yang lulusan terbaik Kairo, harus menggendong gendong patung manekin, bisa jatuh ambruk harga diriku" gerutu ustad Usman. Anisa dan Elina sudah tertawa tawa. Saat ustad Usman mau mengangkat patung itu.
" Astaghfirullah berat juga"
Ustad Usman langsung berjalan ke arah kaca untuk melihat toko di sebrang jalan.
" Cari apa mas?" tanya Nisa.
" Cari si ustad preman, siapa tau dia ada di tokonya, kalau ada kan aku bisa minta tolong untuk bawain patungnya ke pesantren, badan diakan tinggi besar, pasti kuat bawa patungnya" ucap ustad Usman.
__ADS_1
" Ustad preman???, ustad Ibrahim maksudnya?" tanya Anisa dan Elina.
" Hmmm"
" Emangnya dia punya toko apa di sini?" tanya Anisa penasaran.
" Itu toko buku disebrang jalan" tunjuk ustad Usman. Anisa pun terdiam.
" Pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan toko itu, ternyata toko buku itu punya Ibra. Duuuh kalau Ibra buka toko di sebrang jalan itu artinya kita akan bertemu setiap hari, bukankah itu sangat menakutkan, bisa saja dia menagih janjiku" batin Anisa.
" Ani kita pulang dulu asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
Meskipun berat, mau tidak mau ustad Usman pun membawa patung manekin itu.
Sesampainya di pesantren, ustad Usman dan Nisa pun bertemu dengan ustad Soleh.
"Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Man kenapa kau bawa bawa patung telanjang begitu?, keningmu anget ya?" tanya ustad Soleh.
" Bukan anget lagi, otaku mulai setres ngadepin perempuan hamil" gerutu ustad Usman.
" Apa maksudmu?" tanya ustad Soleh.
" Ini Nisa ngidam pengen beli patung manekin, ini semua gara gara si Aisyah. Dia pamer pamer beli baju baru hingga aku dan Nisa pergi ke butiknya si Ani, sampai sana bukannya beli baju malah beli patung" gerutu ustad Usman. Ustad Soleh sudah tertawa.
" Nikmati saja dengan keinginannya istrimu yang hamil itu takutnya nanti bayimu ileran"
" Nasibku memang selalu ngenes kalau berhubungan dengan ibu hamil"
" Istrimu hamilkan semua karna ulahmu Man" ucap ustad Soleh.
" Haaah sudahlah aku mau pulang dulu. Asalamualaikum"
" Waalaikum salam"
" Nis kalau sampai rumah, kau kompres kening suamimu itu, tapi ngompresnya jangan pake air hangat, tapi pake air mendidih, biar otaknya tidak miring miring begitu" ucap ustad Soleh.
Nisa pun mengangguk sambil tertawa.
-
-
-
-
-
**Cerita ini dibuat hanya untuk menghibur semata, jika ada perkataan atau perbuatan yang menyinggung atau tidak sesuai kenyataan, harap jangan ditiru.
Tidak ada sedikitpun niat dalam hati untuk merendahkan apapun, siapapun.
Terima kasih**.
__ADS_1