
"Bersiaplah menerima hukuman dariku, Je!" ucap Jerry sambil menatap Jessica penuh naf-su.
Bagai seekor singa yang kelaparan. Jerry melu-mat begitu saja bibir berwarna merah itu. Merasakan betapa nikmatnya saling menye-sap dan merasakan bibir kenyal milik Jessica.
Jerry menekan remote yang bisa mengunci pintu dengan otomatis lalu ia mulai membuka satu persatu kancing yang ada di dress merah Jessica. Tatapannya terpaku pada pemandangan indah di hadapannya.
"Oh ...." lenguh Jessica tatkala merasakan jari telunjuk Jerry mulai mencari puncak bukit miliknya yang masih tersembunyi di balik kain berenda berwarna merah itu.
Jerry menurunkan tubuh Jessica dari pangkuannya, ia mengangkat tubuh Jessica agar bisa duduk di atas meja kerjanya, tentu saja setelah laptop dan beberapa peralatan yang lain di singkirkan.
"Aku sangat lapar karena satu minggu ini harus menahan semua hasrat yang menggebu, jadi bersiaplah menjadi santapanku siang ini," bisik Jerry di telinga Jessica.
"Aku siap menjadi santapanmu, Sayang," ucap Jessica dengan kedua tangan yang bertautan di tengkuk Jerry.
Jerry mulai melepas dress merah yang melekat di tubuh Jessica, tiga pengait yang ada di punggung Jessica pun berhasil ia buka dan tampaklah bagian atas tubuh Jessica tanpa sehelai benang pun.
Setelah puas melu-mat habis bibir merah sang istri, kini Jerry mulai menyusuri setiap jengkal tubuh sang istri. Lidahnya sedang asyik bermain-main di leher Jessica hingga meninggalkan jejak kepemilikan disana.
Jessica terus melenguh ketika Jerry mulai mengekspos bagian da-da nya yang menantang untuk dinikmati. Jessica terus melenguh tatkala mulai merasakan lidah Jerry bermain-main di puncak bukit miliknya.
"Sa-sayang ...." Jessica mencengkram bahu Jerry dengan erat ketika merasakan glenyer-glenyer aneh mulai membakar dirinya.
Jerry menyeringai ketika tahu bahwa Jessica mulai di kuasi bi-ra-hi yang besar. Ia sengaja memperlambat pemanasannya agar Jessica merasa kesal.
"Sa-sayang!" rengek Jessica dengan mata sayu nya, ia meliuk-liukkan tubuhnya karena menahan sebuah gelombang yang mulai muncul dalam dirinya.
"Bagaimana rasanya hukumanku?" tanya Jerry setelah menghentikan semua aktivitasnya, ia sengaja melakukan ini untuk mengerjai Jessica.
"Ampun Sayang!! jangan siksa aku seperti ini," Jessica menatap Jerry dengan penuh harap.
"I Need you, Honey! Please!" Jessica memohon kepada Jerry agar suaminya itu mau membantu melepaskan gelombang pertama yang akan menghantam tubuhnya.
Jerry tersenyum penuh kemenangan ketika melihat wajah pasrah sang istri. Ia menarik dua tali yang ada di sisi pinggul Jessica agar bagian bawah tubuhnya bisa terekspose dengan jelas.
__ADS_1
"Ohh, Sayang!!" erang Jessica ketika merasakan jari tengah Jerry mulai bermain-main di atas kacang almond yang sudah berlendir itu.
Jessica tersenyum simpul ketika merasakan kedua kakinya terbuka lebar. Kedua tangan Jessica mulai menopang tubuhnya yang tersentak ke belakang karena merasakan lidah sang suami mulai menyesap dan bermain-main di kacang almond yang tertanam di atas rawa-rawa yang basah.
Lenguhan Jessica semakin menggema di ruangan itu ketika gelombang tsunami pertamanya mulai datang. Mengetahui hal itu, Jerry segera mempercepat permainan lidahnya agar Jessica segera mencapai puncak pertamanya.
"Jerry!!!" ucap Jessica di sela-sela lenguhan panjangnya, "ohhh ...." Jessica benar-benar menikmati pelepasan pertamanya di atas meja kerja sang suami.
Jerry mengusap bibirnya dari sisa lahar panas yang baru saja di semburkan dari rawa Jessica. Ia mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jari nya. Ia pun membiarkan Jessica menikmati sisa-sisa kenik-matan yang baru saja di dapatkannya.
Jessica terlentang di atas meja kerja Jerry, ia seperti hidangan makan siang yang sangat menggiurkan, tubuh molek tersuguh disana, menanti sang pemilik agar segera menikmatinya.
"Kamu yakin ingin melakukan penyatuan disini?" tanya Jessica ketika melihat Jerry mulai melepas satu persatu pakaian kerjanya.
"Why not?" ucap Jerry tanpa menatap Jessica.
Jessica terkekeh melihat sikap tak acuh Jerry. Ia semakin gemas ketika melihat tubuh polos sang suami dengan bagian bawah yang sudah berdiri tegak, siap untuk mengoyak lorong gua garba miliknya.
Jerry membantu Jessica bangkit dari meja, lalu ia memposisikan tubuh Jessica agar membelakanginya, Jerry pun sedikit membungkukkan tubuh sang istri agar dirinya lebih leluasa bermain dari belakang.
Hentakan demi hentakan terus di lakukan oleh Jerry dengan keras, nafasnya mulai memburu karena adegan panas yang sedang ia lakukan saat ini.
Waktu terus berlalu, berbagai gaya pun sudah di lakukan Jerry di ruang kerjanya. Kini pria keturunan Mexico itu mengangkat tubuh sang istri menuju ruang pribadi yang biasa ia pakai untuk istirahat.
"Bersiaplah!" ucap Jerry setelah membaringkan tubuh Jessica di atas ranjang empuk bersprei abu-abu itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jerry segera menyatukan tubuhnya dengan Jessica. Hentakan demi hentakan terus di rasakan oleh Jessica hingga ia merasakan kli-maks beberapa kali dalam satu kali permainan.
Jessica mencengkram sprei berwarna abu-abu itu ketika merasakan tubuh sang suami yang semakin menegang seiring dengan datangnya gelombang yang mulai datang menghantam tubuhnya.
"Jerry!!!"
"Aaahhh!!"
__ADS_1
Keduanya sama-sama berteriak ketika merasakan gelombang tsunami bersama-sama. Jerry mengungkung tubuh Jessica dengan bagian tubuh bawah yang masih menyatu, ia menghujani wajah Jessica dengan kecupan penuh masih sayang.
***
Jarum jam yang ada di ruang pribadi Jerry berada di angka dua siang. Sepasang suami istri itu baru saja selesai mandi bersama dan tentunya dengan bermain untuk sesi kedua sebelum mereka benar-benar mandi yang sesungguhnya.
"Sayang, aku mau membersihkan meja kerjamu dulu," pamit Jessica setelah selesai memakai pakaian dan memoles sedikit wajahnya dengan make-up.
Bibir Jessica melengkung ketika melihat kondisi meja kerja sang suami yang berantakan. Kini Jessica mulai membersihkan sisa-sisa lendir yang menetes di atas meja kerja dengan tissu yang tersedia di ruangan itu.
"Akhirnya, Jerry sudah tidak ngambek lagi," gumam Jessica sambil menata kembali pernak-pernik yang ada di meja kerja sang suami.
Selang beberapa menit, akhirnya meja kerja itu kembali rapi seperti sebelumnya. Suara ponsel yang bergetar membuat Jessica terkesiap dari tempatnya saat ini.
"Hallo Lil," sapa Jessica setelah mengangkat telfon dari nomor pengasuh Fano. Ekspresi wajah Jessica pun mendadak berubah menjadi sendu ketika mendengarkan Lila yang berbicara di seberang sana.
Jerry baru saja keluar dari ruang pribadinya dengan pakaian kerja yang kembali rapi seperti semula. Namun, ia terkesiap ketika melihat tubuh sang istri yang duduk di lantai dengan wajah penuh dengan air mata.
"Sayang! ada apa?" tanya Jerry sambil mengangkat dagu Jessica.
"Fano ... Fano, Sayang!" ucap Jessica di sela-sela isak tangisnya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈ
Ada apa nih??? othor jadi penasaranπππ
_
_
__ADS_1
π·π·π·π·π·