
"Tidurlah, aku akan menjaga Alana," ucap Ezar sembari menatap wajah layu sang istri.
"Tolong pertimbangkan permintaanku, Baby. Setidaknya lakukan semua ini demi Alana." ucap Bella dengan sorot mata penuh harap.
Ezar tak bergeming mendengar permohonan Bella, ia masih diam seribu bahasa di tempatnya. Pandangannya tak lepas dari tubuh kecil dengan tubuh yang terpasang beberapa peralatan medis. Ia tak kuasa melihat putrinya menderita seperti itu.
Hembusan nafas berat mengiringi langkah Bella menuju bed penunggu pasien, hari ini tubuhnya benar-benar lelah, ia butuh istirahat yang cukup agar bisa merawat Alana.
Ezar berjalan menuju kursi yang ada di samping bed pasien, ia menghempaskan tubuhnya disana dengan sejuta rasa yang bercampur aduk di dalam dada. Kedua manik hitamnya tak henti menjelajahi wajah pucat sang putri yang tertidur pulas.
Permintaan Bella beberapa jam yang lalu berhasil membuat hatinya resah. Sebuah permintaan yang sangat berat untuknya, membuat delima besar dalam dirinya.
"Maafkan semua kesalahanku, Baby. Aku sadar semua yang aku lakukan adalah kesalahan besar yang melukai hati dan harga dirimu. Aku janji setelah ini akan berubah, aku janji akan meninggalkan geng sosialitaku demi keluarga kecil kita. Tolong jangan tinggalkan aku dan Alana demi wanita itu, aku mohon kembali lah ke rumah, mari kita membenahi puing-puing cinta yang telah hancur akibat keegoisanku."
Bayangan wajah Jessica yang tersenyum manis seketika terlintas dalam ingatannya. Bagaimana bisa ia meninggalkan Jessica setelah apa yang sudah mereka lalui selama beberapa bulan ini. Rasa cinta telah hadir untuk janda kembang itu.
"Lihatlah, Baby. Karena ego kita Alana harus menjadi korban seperti ini. Aku tidak sanggup melihat putri kita sakit seperti ini. Jika kamu tidak ingin kembali karena rasa cinta kita, setidaknya kembalilah demi Alana, dia terlalu kecil untuk menerima semua ini."
Ezar memijat keningnya, ia benar-benar pusing dengan masalah ini, ia sedang di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit. Melepas Jessica bukanlah penyelesaian yang tepat, ia tidak sanggup jika harus menyakiti hati Jessica apalagi sampai berjauhan dengan single parent itu.
"Ya Tuhan ... apa yang harus hamba lakukan?" lirih Ezar dengan helaian nafas yang berat.
Malam terus merangkak naik. Penunjuk waktu sudah berada di angkat satu dini hari. Perlahan kelopak mata Ezar tertutup karena serangan kantuk yang teramat dahsyat, ia tidur dengan posisi duduk di samping bed Alana.
...π π π ...
Penunjuk waktu masih berada di angka sepuluh pagi. Sang surya tampaknya sedang bersemangat menampakkan sinarnya. Seorang pria muda sedang berdiri di depan lobby sebuah perusahaan besar untuk menunggu tamu dari Atasannya.
"Mari Bu saya antar ke ruangan Tuan Ezar," ucap pria itu dengan sopan ketika Jessica berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Jessica sebelum mengikuti langkah Asisten pribadi Ezar.
Keduanya masuk ke dalam lift khusus untuk sampai di lantai paling atas gedung ini, dimana ruangan Ezar berada. Jessica tidak tahu kenapa Ezar berani mengundangnya datang ke perusahaan.
"Tuan Ezar ada di dalam, silahkan ibu masuk," ucap Asisten pribadi Ezar ketika mereka sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup rapat.
Jessica menganggukkan kepalanya dengan diiringi senyum manis yang mengembang dari kedua sudut bibirnya. Ia pun segera masuk setelah mengetuk pintu ruangan Ezar.
Ezar mengalihkan pandangan dari layar laptop yang ada di hadapannya. Tatapan kagum tersorot dari kedua manik hitamnya ketika melihat penampilan Jessica pagi ini yang terlihat formal, tidak ada penampilan sexy yang menjadi ciri khasnya selama ini.
"Boleh saya duduk disini, Tuan Ezar?" sebuah pertanyaan yang berhasil membuyarkan lamunan Ezar.
"Kita duduk di sana saja!" ucap Ezar sembari menunjuk sofa merah yang tertata rapi di dekat kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung raksasa di Jakarta.
Jeje mengayun langkah di belakang Ezar lalu ia duduk di sofa tunggal berhadapan dengan pria yang menampilkan wajah lelahnya, wajah dengan guratan keresahan disana.
"Baru kali ini aku melihatmu dengan gaya berpakaian seperti ini," Ezar mulai membuka obralan.
"Kenapa? apa aku salah kostum?" tanya Jeje tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah layu itu.
"Tidak, kamu sangat cantik dengan penampilan seperti ini, aku suka," ucap Ezar dengan ekspresi wajah yang berubah serius.
"Jadi ... kamu menyuruhku datang kesini hanya untuk memuji ku saja? tidak ada hal yang lebih penting kah?" Jessica beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju kaca besar yang ada di dekat sofa.
"Tentu saja tidak, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Di kantor sedang banyak pekerjaan jadi aku tidak bisa menemuimu di Apartemen," ucap Ezar.
Kini Ezar pun ikut beranjak dari tempatnya, ia berdiri di samping Jessica dengan pandangan lurus ke depan. Helaian nafas yang berat terdengar disana, terlihat sekali jika saat ini Ezar sedang berada di antara pilihan yang berat.
"Katakan ada apa?" ucap Jeje ketika melihat ekspresi wajah Ezar. Kini ia menghadap pria yang masih diam membisu itu.
__ADS_1
Setelah merangkai kata yang akan di bahas bersama Jessica, kini kedua manik hitam Ezar menatap wajah penasaran Jessica dan detik berikutnya Ezar mulai menceritakan apa yang sedang terjadi dengan putrinya.
Bola mata indah Jessica mulai berembun tatkala mendengar penjelasan Ezar tentang permintaan Bella. Entah kenapa hatinya tiba-tiba merasakan sakit, takut dan perasaan lain yang berhasil mengoyak hatinya. Baru kali ini ada perasaan tidak rela dalam hatinya untuk melepas mangsa yang akan kembali ke istana asalnya.
"Apa itu artinya hubungan kita harus berakhir, Zar?" tanya Jeje setelah Ezar selesai bicara.
"Aku tidak mau melepaskanmu, Je. Menurutmu apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Ezar sembari menatap wajah sendu Jessica.
Jessica memutar bola matanya untuk menghentikan genangan yang siap terjun ke pipi mulusnya. Ia kembali mendaratkan tubuhnya di atas sofa tunggal.
Keadaan menjadi hening, Jeje masih berkelana dalam pikirannya sampai tepukan tangan Ezar mendarat di pundaknya, ia menengadahkan kepala untuk menatap pria yang sedang menampakkan wajah seriusnya itu.
"Bagaimana jika kita menikah saja?" sebuah pertanyaaan yang berhasil membuat Jessica terperangah. Ia tidak menyangka Ezar akan mengatakan hal ini, ia masih syok dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan oleh Ezar.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈπ
Othor sangat berterima kasih jika ada yang memberikan Vote, bunga, kopi, jempol dan komentar sebagai bentuk dukungan untuk karya iniππ
Ada yang bisa menebak, kira-kira Jeje bakal menikah dengan Ezar atau tidak????
_
_
π·π·π·π·π·
__ADS_1