
"Dan, tolong handle semua rapat hari ini, pastikan tidak ada yang masuk ke ruangan saya," ucap Jerry ketika berada di dalam ruangan Dani. Asisten pribadinya itu terkejut ketika melihat kedatangan Jerry di ruangannya.
"Baik Pak," ucap Dani sebelum Jerry berlalu pergi.
Jerry segera kembali ke ruangannya dengan membawa dua minuman yang baru saja di ambilnya dari pantry. Ia sengaja mengambil sendiri minuman itu agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangannya dan melihat keadaan Jessica yang kacau.
Pintu ruangan kembali tertutup, Jerry segera menghampiri Jessica yang masih terpuruk disana. Ia memberi Jessica segelas minuman menyegarkan untuk menenangkan jiwanya yang sedang rapuh.
"Tenangkan dirimu dulu," ucap Jerry ketika berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa, ia duduk tepat di sebelah Jessica.
Wanita berparas cantik itu sedang meratapi nasibnya. Ia tidak menyangka jika jalan hidupnya akan seperti ini. Kenapa ia harus kembali bertemu dengan Fery ketika semua kenangan itu berhasil terkubur. Kini bayang-bayang menyakitkan itu kembali menghantui dirinya.
"Sudah lah Je, jangan menangis seperti ini. Aku tidak suka melihatmu seperti ini lagi," ucap Jerry sembari menyelipkan anak rambut Jessica di balik telinganya.
Jerry menghela nafasnya, ia tidak pernah menduga jika Jessica akan kembali seperti ini. Ia sangat tidak suka melihat air mata Jessica kembali terkuras hanya karena seorang pria bernama Fery itu.
"Kenapa semua ini terjadi, Jer? kenapa harus Ezar yang menjadi bagian keluarga ke-pa-rat itu?" tanya Jeje sembari menatap dalam manik hitam yang ada di hadapannya.
"Mungkin ini cara Tuhan untuk menghentikan semua perbuatanmu, Je. Kembalilah Je, kembalilah seperti Jessica yang aku kenal dulu," ucap Jerry dengan tangan kanan yang berada di atas pundak Jessica.
"Tinggalkan Ezar, Je ... biarkan dia kembali kepada istrinya. Jangan sakiti dirimu sendiri dengan tetap menjadi istri kedua Ezar, apalagi dia adalah adik ipar Siva," Jerry memberi saran kepada Jessica, ia pun ikut sedih melihat sahabatnya terpuruk seperti saat ini.
Jessica hanya menggelengkan kepalnya pelan, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Meninggalkan Ezar bukanlah solusi yang tepat untuk dirinya.
"Haruskah aku merebut Ezar dari Bella agar dia menjadi milikku seutuhnya?" tanya Jessica kepada Jerry.
"Tidak! aku tidak setuju. Jangan seperti itu Je, bukankah sangat menyakitkan, jika ada orang yang mengambil secara paksa apa yang kita miliki?" Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Jessica semakin terisak. Ia seperti tenggelam dalam lautan asmara yang mulai di landa badai besar.
Kehancuran, keterpurukan dan kepedihan kini berbaur menjadi satu, membuat kerapuhan kembali di rasakan di hati seorang Jessica.
"Antar aku pulang sekarang, Jer!" ucap Jessica dengan suara seraknya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pulang dalam kondisi seperti ini, kamu mau Fano melihatmu hancur seperti ini?" tanya Jerry sembari mengangkat dagu Jessica dengan jari telunjuknya.
"Istirahatlah sebentar disini, segarkan kembali jiwa rapuhmu, Je!" ucap Jerry dengan manik hitam yang terpaku pada mata sembab di hadapannya.
Jerry berdiri dari tempatnya, ia menarik tangan Jessica agar ikut bersamanya ke ruang istirahat miliknya. Ia menuntun tubuh yang terlihat lemah itu.
"Istirahatlah dulu disini, aku tunggu di luar," ucap Jerry ketika berhasil membuka pintu berkode itu.
Jeje pun akhirnya mengikuti saran yang di berikan Jerry, ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king size bersprei putih itu. Setelah menutup pintu ruang pribadinya, Jerry berjalan menuju kursi kerjanya. Ia termenung disana memikirkan jalan keluar untuk Jessica.
"Aku tidak akan membiarkan Jessica depresi lagi," lirih Jerry sembari menatap layar laptop yang masih menyala itu.
...🌹🌹🌹...
Seorang dokter wanita baru saja keluar dari ruang rawat inap VIP, tempat dimana Alana tertidur pulas pasca operasi. Beberapa jam yang lalu Alana sudah di pindahkan ke ruang inapnya setelah pemulihan di ruang ICU.
Bella terus berada di samping putrinya, rasa sedih terus menggerogoti hatinya ketika memandang wajah pucat sang putri. Rasa sesal terus menghantui dirinya karena sering meninggalkan putrinya di rumah demi bersenang-senang bersama teman-temannya.
Bella segera menghapus sisa air matanya ketika pintu kamar Alana terbuka. Ezar datang dengan membawa makanan untuk istrinya itu.
"Ayo kita makan dulu," ucap Ezar sembari duduk di sofa yang ada di belakang Bella.
Makan malam berdua di rumah sakit, dengan aroma obat yang ikut berbaur dengan makanan yang di bawa oleh Ezar. Keheningan terasa dalam ruangan itu, sesekali Bella melirik Ezar yang sedang menikmati makanannya.
"Haruskah aku membahas masalah pernikahan disini? apakah ini waktu yang tepat untuk berbicara dengan Ezar?" gumam Bella dalam hatinya, kebimbangan tengah dirasakan oleh Bella saat ini.
Makan malam telah usai, keduanya sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing. Ezar terus menatap bed tempat Alana terbaring, ia sedang memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti.
"Ada yang harus kita bicarakan, Bel," ucap Ezar tiba-tiba.
"Aku tahu apa yang akan kamu katakan," ucap Bella sembari menatap intens wajah tampan Ezar.
__ADS_1
Ezar menaikkan satu alisnya ketika mendengar kalimat yang terucap dari bibir Bella, hatinya di penuhi rasa penasaran yang begitu besar.
"Wanita itu datang menemuiku kemarin, dia sudah menyampaikan rencana kalian," ucap Bella ketika mengerti ekspresi yang tersirat dari wajah Ezar.
"Baguslah kalau kamu sudah tahu, aku tidak perlu lagi menjelaskan semuanya," sungguh, ucapan Ezar berhasil membuat Bella membelalakkan matanya.
Bella menarik nafasnya dalam sebelum berbicara dari hati ke hati bersama Ezar, ia meredam emosi yang sudah berkobar dalam hatinya, ia harus tenang dalam menghadapi masalah ini, seperti yang di sarankan oleh Kakaknya kemarin.
"Kamu harus tenang, berbicaralah dengan kepala dingin. Jangan sampai terbawa emosi di hadapan suamimu karena pria seperti Ezar tak suka melihat wanita kasar," Bella terus mengingat nasihat dari Siva untuknya.
Obrolan serius terdengar di ruangan itu, Bella mencoba merayu Ezar agar membatalkan niatnya. Ia ingin Ezar benar-benar meninggalkan wanita itu dan kembali ke dalam pelukannya.
Bella sepertinya harus berusaha lebih keras lagi karena Ezar masih tetap pada pendiriannya. Rupanya menikahi Jessica adalah obsesi terbesarnya saat ini.
"Aku harus mencari cara lain untuk membatalkan semua ini, aku harus bertemu dengan wanita itu lagi," gumam Bella dalam hatinya.
Bella meraih tangan kanan Ezar, ia menggenggam tangan itu dengan pandangan mata yang tak beralih dari wajah tampan di sampingnya. Matanya terpejam, hembusan nafas berat terdengar disana.
"Baiklah jika memang itu keputusanmu, aku akan mengizinkan kamu menikahi wanita itu, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Aku mohon kepadamu, untuk saat ini tolong jangan temui wanita itu dulu, aku ingin kamu fokus kepada Alana dan keluarga kecil kita," ucap Bella yang di setujui langsung oleh Ezar.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
Uh aku tuh jadi bingung, mau sedih atau geram sama mereka semua😂
Jangan lupa Follow akun media sosial othor yakk😂
FB: Titik Pujiningdyah | IG: @tie_tik
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷