Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Alhamdulillah,


__ADS_3

Flashback on


Aroma obat-obatan menelusup ke indera penciuman Bella hampir tiga minggu ini. Setiap hari ia harus menemani Bu Lidya yang tak sadarkan diri di atas bed rumah sakit. Hampir satu minggu Bu Lidya berada di ruang ICU dan kini wanita paruh baya itu sudah di pindahkan di ruang rawat inap.


Bella menggenggam tangan Bu Lidya, sesekali ia mengecup penggung tangan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya merasakan kesedihan yang teramat dalam karena kondisi Bu Lidya terus seperti ini, tidak ada perubahan apapun.


Bella mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Kedua sudut bibirnya tertarik ke dalam karena melihat kehadiran Siva, Fery dan seorang ustad di depan pintu.


Seorang ustad sengaja di panggil Fery dan Siva untuk membantu mendoakan Bu Lidya. Tentu saja semua itu atas saran dari salah satu dokter yang menangani Bu Lidya.


"Assalamualaikum ...." ucap Pak Ustad.


"Waalaikumsalam ...." jawab serentak Bella, Siva dan Fery.


Setelah membahas sedikit riwayat penyakit yang di derita Bu Lidya. Pak Ustadz itu pun menyentuh tangan Bu Lidya serta membuka kelopak matanya untuk melihat mata Bu Lidya.


"Saya mohon maaf sebelumnya, apa ada sesorang yang di tunggu Bu Lidya? mungkin anak atau saudara jauh?" tanya Pak Ustadz sambil menatap Bella dan Siva.


"Sepertinya tidak ada Tadz, Mama hanya mempunyai dua putri," ucap Siva tanpa berpikir panjang.


Pak Ustadz pun kembali menatap Bu Lidya. Beliau menekan pangkal ibu jari Bu Lidya sebentar untuk memastikan sesuatu hal.


"Jessica," gumam Bella dengan suara yang lirih.


Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Bella karena tiba-tiba saja ia menyebut sebuah nama yang membuat Fery salah tingkah.


"Bisakah Ibu memanggilnya ke rumah sakit ini? karena menurut praduga saya, Ibu Lidya sepertinya sedang menunggu kedatangan seseorang," ucap Pak Ustadz dengan sorot mata penuh arti.


"Kami usahakan Tadz, kami mau keluar sebentar untuk berunding, mohon bantuan doa untuk Mama kami Tadz," ucap Bella sebelum berlalu dari hadapan Pak Ustadz.


Mereka bertiga kini sedang berdiri di depan ruangan Bu Lidya. Mereka sedang membahas rencana bagaimana agar Jessica mau datang menemui Bu Lidya.


"Emmm ... kalau menurutku jangan kalian yang menemui suaminya Jessica. Bagaimana kalau aku dan Ezar saja yang datang kesana?" usul Bella setelah mendengar ide yang di ucapkan Siva.

__ADS_1


Bola mata Siva bergerak tak beraturan karena memikirkan saran dari adiknya itu, kali ini tidak ada salahnya jika dirinya menyutujui saran dari Bella.


"Oke, kalau begitu aku yang akan menjaga Mama di sini. Semoga kamu berhasil, Bel." Siva menatap Bella penuh harap.


Bella segera membuka ponsel yang sejak tadi ada di genggamannya untuk menelfon Ezar, Meski ia sendiri belum tau bagaimana hasilnya nanti. Apakah suaminya mau mendampingi dirinya menemui Jerry di kantornya atau tidak.


***


Rapat bersama petinggi perusahaan telah selesai tepat sebelum jam makan siang. Jerry segera keluar dari ruang rapat menuju ruangannya sendiri untuk memeriksa beberapa berkas laporan yang di siapkan sekretaris nya tadi pagi.


"Maaf pak, di bawah ada tamu yang sedang menunggu Bapak. Sepertinya ada hal yang sangat penting," ucap Dani setelah menerima telfon dari resepsionis lobby.


"Tempatkan mereka di ruang tamu, saya akan menemuinya," ucap Jerry seraya membenarkan kancing jasnya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, akhirnya Jerry sampai di depan ruangan yang biasa di pakai untuk menerima tamu. Jerry tertegun ketika melihat dua orang yang sedang duduk di dalam sana.


"Selamat siang," ucap Jerry seraya duduk di sofa tunggal yang ada di hadapan sepasang suami istri yang pernah hadir di masa lalu Jessica.


"Selamat siang, Pak," ucap Ezar dan Bella secara bersamaan.


"Apa yang membawa kalian datang menemuiku di sini?" tanya Jerry.


"Kami ingin meminta bantuan Bapak untuk membawa Jessica menemui Mama," ucap Bella dengan mata yang sudah berembun.


Jerry menaikkan satu alisnya ketika mendengar permintaan Bella. Namun, tatapannya seketika berubah menjadi sendu ketika mendengar bagaimana kondisi Bu Lidya saat ini dari Bella.


"Kami sangat berharap kepada anda agar membantu kami, Pak," ucap Ezar dengan sorot mata penuh harap.


Suasana menjadi hening karena Jerry hanya diam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di tebak. Entah apa yang sedang di pikirkan nya saat ini hingga wajahnya terlihat sangat serius.


"Baiklah, saya akan membantu kalian, saya akan membawa Jessica nanti tapi ada syaratnya," ucap Jerry yang berhasil membuat Ezar dan Bella saling tatap.


"Apa syarat yang anda minta, Pak?" tanya Bella.

__ADS_1


"Jangan biarkan Fery dan istrinya berada di sana. Saya tidak mau Jessica bertemu dengan mereka karena sulit untuk mengendalikan Jessica jika sudah di kuasai amarah," ucap Jerry sambil menatap Ezar dan Bella bergantian.


Tidak ada pilihan lagi untuk Bella dan Ezar dan pada akhirnya mereka pun menyetujui permintaan dari Jerry. Syarat yang di berikan Jerry sangat lah mudah, Bella tinggal menyembunyikan Siva di ruangan lain agar tak bertemu dengan Jessica.


"Alhamdulillah ...." gumam Bella dengan suara yang lirih. Ia merasa sedikit lega karena Jerry mau membantunya.


Flashback Off


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน...


Siva dan Fery berjalan beriringan setelah keadaan aman. Mereka berdua berjalan menuju ruangan Bu Lidya untuk mengetahui kondisi Bu Lidya setelah di temui Jessica.


"Mas, perawatnya itu kenapa sih? sepertinya ada yang parah ya Mas." Siva berceloteh di samping Fery tapi tidak ada respon apapun dari suaminya itu.


Fery sedang sibuk membayangkan Jessica dalam pikirannya. Rasanya ia ingin mere-mas dua bongkahan padat yang ada di balik tubuh Jessica. Mungkin bisa di katakan jika Fery sudah tidak waras lagi saat ini


"Mas, Mama Mas!" ucap Siva sambil meraih lengan Fery ketika melihat seorang perawat mendorong peralatan medis menuju ruangan Bu Lidya.


Perasaan cemas dan pikiran buruk kini bercampur menjadi satu dalam diri Siva. Ia menarik tangan Fery agar berjalan lebih cepat lagi.


Brakk!! Suara pintu yang di buka Siva dengan keras. Ia tercengang ketika melihat semua orang yang ada di dalam ruangan Bu Lidya.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โ™ฅ๏ธ๐Ÿ˜


Maaf ya kemarin othor gk sempat up, biasanya lah kalau minggu othor suka oleng๐Ÿ˜‚


mumpung hari senin, yuk vote mbak Jessica๐Ÿ™๐Ÿ™


_

__ADS_1


_


๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท


__ADS_2