
Suasana menegangkan terasa di rumah megah bergaya america. Anggota keluarga wongso dan beberapa orang bertubuh atletis sedang berunding di ruang tamu yang luas itu untuk mencari keberadaan Fano.
Lila dan sopir yang biasa mengantar Fano ke sekolah hanya bisa menundukkan kepalanya karena penculikan Fano kali ini. Mereka berdua sebenarnya juga korban dalam penculikan ini. Lila dan Pak Bambang di ikat di kursi depan dengan mulut yang ditutup lakban oleh beberapa orang yang membawa kabur Fano.
Kemarahan besar terlihat jelas di wajah Tuan muda Wongso itu, ia benar-benar kecewa dengan orang-orang yang di tugaskan untuk mengawasi Fano dan Fery. Tapi Jerry pun menyadari kesalahannya karena terlalu fokus mengawasi gerak-gerik Fery, pengawasan Fano pun sedikit lenggang, ia tidak pernah menyangka jika Fery se cerdik ini.
Menurut kesaksian Lila dan Pak Bambang, mobil yang mereka tumpangi mogok di jalan yang sepi dan ketika Pak Bambang turun dari mobil, tiba-tiba ada yang menyerang mereka. Ada Lima orang yang menghadang mobil mereka dan salah satunya mengambil paksa Fano yang sedang di dekap Lila di jok belakang karena takut.
Setelah di telusuri oleh orang-orang suruhan keluarga Wongso, ternyata dalang dari penculikan itu adalah Fery. Ia membayar mafia yang biasa melakukan penculikan agar keinginannya mengambil Fano terpenuhi.
"Apa kalian sudah menemukan di mana Fery menyembunyikan putraku?" tanya Jerry kepada seorang pria berambut gondrong.
"Dari hasil pencarian anak buat kita, kemungkinan besar Pak Fery menyembunyikan putra anda di salah satu Villa pribadinya yang ada di Bogor," ucap pria gondrong.
"Apa ada bukti yang menguatkan jika Fery berada di sana?" tanya Jerry dengan kedua tangan yang bersedekap.
"Hacker kita berhasil melacak GPS di ponsel Pak Fery, kemungkinan beliau di sana bersama Istrinya," jawab pria gondrong.
Jessica terus menangis setelah mendengar jawaban orang suruhan suaminya itu. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana putranya yang menangis jika bersama orang yang tidak pernah di kenalinya.
"Sayang, aku mohon segera temukan putra kita!" ucap Jessica sambil menatap Jerry penuh harap.
Jerry tak kuasa melihat air mata yang terus membasahi pipi sang istri, ia benar-benar geram dengan Fery kali ini. Pria itu nekad mengambil kebahagiaan sang istri.
"Jangan menangis terus, Fano pasti kembali kepada kita. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil putra kita dari Fery, Tenanglah!" Jerry berlutut di hadapan Jessica yang sedang menangis di dekapan Bu Monik.
Jerry mengusap pipi yang di penuhi air mata itu dengan penuh kasih sayang. Tidak ada maaf lagi untuk Fery, Jerry akan melakukan hal yang sudah lama ia rencanakan jika Fery nekad mengambil Fano dari Jessica.
"Dan, segera persiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan nanti, setelah Fano berhasil aku ambil, lakukanlah tugasmu!" ucap Jerry ketika sudah berada di hadapan Dani.
"Baik Pak, saya akan menghubungi Pak Adrian setelah ini," ucap Dani sebelum menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Jerry kembali menyusun sebuah rencana untuk menjemput Fano di Bogor, kali ini mereka harus benar-benar rapi agar tidak sampai kecolongan. Fery tidak bisa di remehkan begitu saja.
"Kerahkan semua anak buah mu, nanti malam kita akan menyerbu Villa itu, pastikan tidak ada yang terluka apalagi sampai kehilangan nyawa. Aku ingin Fery tetap hidup," ucap Jerry dengan wajah yang terlihat menakutkan.
...🌹🌹🌹🌹...
Udara dingin terasa di salah satu Villa yang ada di Bogor. Villa berlantai dua yang jauh dari pemukiman penduduk. Suasana yang menenangkan terasa di sana.
"Mas, makanan sudah siap, jemput Fano di kamarnya, Mas!" ucap Siva setelah selesai menyiapkan makan malam untuk keluarga kecilnya.
Tanpa banyak bicara Fery segera naik ke lantai dua menuju kamar yang di pakai untuk menyembunyikan Fano. Senyum Fery terbit begitu saja ketika melihat Fano duduk bersandar di ranjangnya tanpa isak tangis seperti tadi. Hampir setengah hari Fano menangis sambil menyebut Mama dan Papa nya.
"Sayang, anaknya Papa ...." ucap Fery setelah duduk di hadapan Fano, "sekarang kita turun Yuk! Mama Siva sudah masak untuk Fano," ucap Fery sambil mengusap kepala Fano.
Fery sangat bahagia karena bisa memeluk putranya sendiri. Tidak sia-sia jika dia membayar mahal seseorang agar menculik Fano. Senyum bahagia terus terpancar dari bibir Fery ketika Fano mulai menegakkan wajahnya.
"Fano gak mau makan! Om bukan papanya Fano!" teriak Fano dengan suara yang bergetar.
"Jerry itu bukan Papanya Fano, Mama Jessica tidak pernah cerita ke Fano ya kalau Papa Jerry bukan Papanya Fano?" tanya Fery sambil menatap manik hitam Fano.
"Fano tidak mau punya Papa Jahat seperti Om! Fano mau pulang! Mama ... Papa!!" teriak Fano dengan suara yang kembali bergetar. Tangis Fano pun kembali menggema di kamar itu.
Fery tidak sabar lagi menghadapi Fano yang keras kepala seperti Jessica. Tanpa banyak bicara, Ia mengangkat tubuh Fano ke dalam gendongannya. Ia tidak perduli lagi walau Fano memberontak dan terus berteriak di dalam dekapannya.
"Duh, berisik banget sih!" gerutu Siva ketika mendengar teriakan Fano. Siva sedang sibuk menyiapkan makanan untuk ketiga putrinya yang sudah duduk rapi di ruang makan.
Siva menghela nafasnya ketika melihat Fano yang memberontak dalam gendongan Fery. Siva sebenarnya keberatan untuk mengikuti keinginan suaminya, ia tidak ingin mengganggu keluarga Jessica lagi.
"Hallo anak tampan, makan dulu ya ...." Siva bersikap se manis mungkin di hadapan Fano.
"Mama suapin ya," ucap Siva.
__ADS_1
Fano mengatupkan bibirnya, ia menggelengkan kepalanya ketika Siva mengarahkan sendok yang berisi makanan ke mulutnya
"Kalau Fano mau makan, nanti Papa antar pulang, bagaimana?" Fery mencoba merayu Fano.
Beberapa rayuan telah di ucapkan oleh Fery dan Siva, akhirnya Fano pun mau membuka mulutnya. Meski dengan wajah yang murung, Fano tetap membuka mulutnya ketika Siva menyuapinya.
"Fano sudah kenyang!" ucap Fano seraya menjauhkan wajahnya dari sendok yang di arahkan Siva ke mulutnya, "Fano mau pulang sekarang! Fano mau ketemu Mama!" ucap Fano sambil menatap Fery dengan mata elangnya.
Fery hanya menyunggingkan bibirnya ketika melihat sikap sang putra. Perasaan hangat menjalar ke dalam hatinya ketika melihat sorot mata Fano untuknya.
"Sekarang kita ke kamar dulu, oke!" Fery kembali mengangkat tubuh Fano ke dalam gendongannya.
Fery terus memandang wajah Fano yang terlihat lelah karena seharian ini menangis dan berteriak. Dalam hatinya yang paling dalam, Fery sebenarnya kasihan melihat kerinduan Fano kepada Jessica, hal itu bisa di lihat dari sorot mata yang semakin sayup itu.
"Fano harus istirahat dulu ya, biar tidak lelah kalau mau pulang ke rumah Mama," ucap Fery seraya membaringkan tubuh Fano di ranjang.
Dua puluh menit kemudian, Fano mulai menutup kelopak matanya, ia memeluk guling yang sangat nyaman itu, sesekali ia bergumam pelan, menyebut kata 'mama' dalam tidurnya.
Fery memutuskan untuk keluar dari kamar yang di tempati Fano saat ini. Ia ingin menemani ketiga putrinya seperti yang biasa ia lakukan setiap malam. Namun, baru saja ia menghempaskan diri di sofa yang ada di ruang keluarga, Fery di kejutkan dengan ketukan pintu yang sangat keras.
Tok ... tok .... tok ... tok ....
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini , semoga suka ♥️😍
_
_
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷