
Semua berkas yang berisi surat perjanjian dan kesepakatan bersama telah di tanda tangani kedua belah pihak. Mau tidak mau Fery harus menerima keputusan Jerry atas kelangsungan hidupnya setelah ini.
Di pulau Karakelang tidak ada perusahaan seperti di Jakarta. Menurut Jerry, mengirim Fery dan keluarganya adalah keputusan yang terbaik. Fery akan mulai dari nol hidup di sana. Jauh dari kehidupan ibu kota yang biasa mereka lalui.
"Fano, sini!" Jerry menepuk pahanya, sebuah kode untuk Fano agar duduk di pangkuannya.
Fano meletakkan ipad yang sejak tadi ia gunakan untuk bermain game. Fano pun akhirnya duduk di pangkuan Jerry sambil menatap Fery dengan tatapan tak suka.
"Fano, Papa ingin memberitahu Fano, kalau Om Fery adalah ayahnya Fano--" Jerry menghentikan ucapannya ketika Jessica terhenyak dari tempat duduknya.
"Sayang!" Jessica melebarkan matanya ketika Jerry mengatakan hal keramat itu.
Jerry memberikan sebuah isyarat lewat sorot matanya agar Jessica tetap tenang. Ia hanya ingin mengungkap kebenaran yang selama ini sengaja di sembunyikan.
"Fano, dengarkan Papa ...." Jerry kembali Fokus kepada putranya itu, "Om Fery adalah ayahnya Fano, kira-kira Fano mau bersalaman dengan Om Fery?" tanya Jerry sambil menatap wajah Fano yang sedang menahan tangis.
"Ayahnya Fano cuma Papa Jerry! Fano gak mau punya ayah Om itu!" Fano mulai terisak di atas pangkuan Jerry, ia membalikkan tubuhnya agar bisa menangis di dada Jerry.
Pengakuan yang keluar langsung dari bibir kecil Fano berhasil membuat hati Fery seperti tertusuk ribuan belati. Darah dagingnya sendiri tidak mau mengakui dirinya sebagai ayah. Mungkin kah ini balasan atas perbuatannya di masa lalu? membiarkan Jessica berjuang sendiri di masa-masa sulit ketika melahirkan, bahkan Fery pun tidak pernah mencari tahu bagaimana nasib mantan istrinya yang terbuang itu.
"Ya Tuhan ... kenapa rasanya lebih sakit mendengarkan pernyataan yang keluar dari bibir anakku daripada melihat perusahaan ku hancur dalam waktu semalam," gumam Fery dalam hatinya.
Siva sekilas menatap reaksi Fery lewat ekor matanya. Ia tahu jika saat ini hatinya Fery sedang terkoyak karena ucapan Fano. Siva merasa iba melihat keadaan Fery saat ini, menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh di hadapan Jerry dan Jessica.
"Kamu mendengar sendiri 'kan jika Fano tidak mau mengakui dirimu sebagai Ayah? mungkin dengan mendengar pengakuan Fano, kamu bisa hidup tenang di tempat tinggalmu yang baru," ucap Jerry sambil menatap Fery dengan mata elangnya.
__ADS_1
"Fano gak mau punya Papa Om itu pa!! Fano gak suka sama Om itu!" teriak Fano dengan wajah yang masih bersembunyi di dada Jerry.
Jessica mengangkat tubuh Fano dari pangkuan Jerry, ia tidak tega melihat Fano menangis seperti itu, "Aku tunggu di ruanganmu saja," pamit Jessica sebelum pergi dari ruangan itu.
Setelah Jessica dan Fano berlalu pergi, Jerry kembali membahas masalah Fano dengan Fery. Ia terus mengingatkan Fery agar menjauh dari keluarga Wongso. Ia benar-benar tidak suka jika Fery sampai mengusik ketenangan keluarganya.
"Kami mau pamit pulang," ucap Fery setelah pembahasan masalahnya dengan Jerry telah selesai.
Semua yang ada di ruangan itu berdiri untuk mengantarkan Fery keluar dari ruangan. Tak lupa Fery menjabat tangan Jerry sebelum pergi dari tempat ini.
"Titip anakku, perlakukan dia dengan baik! aku harap kamu tidak membeda-bedakan Fano dan anak kandungmu nanti," ucap Fery sambil menatap Jerry.
"Kamu tidak usah khawatir, Fano adalah anakku sejak dulu, atau lebih tepatnya sejak ia berada di dalam kandungan!" sarkas Jerry yang berhasil membuat hati Fery mencolos.
Akhirnya, satu persatu masalah telah mereka lalui. Hukuman dengan strategi yang bagus akan lebih baik daripada harus memakai kekerasan yang akan berimbas pada diri sendiri.
"Sayang," ucap Jerry setelah masuk ke dalam ruangannya. Ia menatap Jessica yang sedang duduk di sofa panjang, Jessica sedang mengusap kepala Fano yang berada di atas pahanya.
Jerry menghela nafasnya ketika melihat istrinya menampilkan wajah tertekuk dengan sorot mata yang menakutkan, bisa di pastikan jika nanti malam tidak ada olahraga malam seperti biasanya.
"Jangan marah, Sayang. Biarkan aku menjelaskan alasan di balik semua yang aku ucapkan tadi." Jerry menghempaskan diri di samping Jessica.
Jessica hanya diam, tak sedikit pun menatap wajah Jerry yang sedang menampilkan senyum manis tanpa pemanis buatan. Ia sangat kesal kepada Jerry karena sebelumnya Jerry tidak mengatakan rencana nya.
"Aku mengatakan semua itu di hadapan Fano hanya untuk menggugurkan kewajiban kita, Sayang. Aku tidak mau menutupi ini terus menerus dari Fano."
__ADS_1
"Setelah ini aku tidak akan membahas masalah ini lagi di depan Fano, karena dia sendiri sudah menjawab jika tidak mau mempunyai ayah seperti Fery. Bagaimana respon Fano yang kita lihat tadi, pasti membuat Fery semakin hancur." Jerry menjelaskan sesuatu yang belum di ketahui Jessica.
Sedikit demi sedikit pikiran Jessica mulai terbuka, ia berusaha mencerna penjelasan yang baru saja di jabarkan oleh suaminya itu. Setelah beberapa menit, Jessica berhasil menemukan tujuan terselubung sang suami dalam memancing Fano dengan pertanyaan yang membuat hatinya ketar-ketir.
"Sudah paham?" tanya Jerry setelah melihat perubahan ekspresi di wajah Jessica.
Jessica menyandarkan kepalanya di bahu bergelombang sang suami. Ia menelusupkan wajahnya di dada bidang Jerry yang sangat nyaman itu.
"Maafkan aku karena tidak memahami maksudmu, aku hanya takut Fano lebih memilih Fery daripada aku," ucap Jessica dengan suara yang lirih. Jari telunjuknya bermain-main di kancing kemeja Jerry.
Ya, sebelumnya Jerry sudah memprediksi bagaimana reaksi Fano ketika ia mengungkap sedikit kebenaran tentang siapa ayah kandungnya. Kini kewajibannya telah gugur, ia tidak lagi mempunyai beban karena menyembunyikan status hubungan Fano dan Fery.
Cara ini harus di lakukan Jerry agar Fery tahu bagaimana rasanya tidak di akui oleh darah dagingnya. Meski Fano masih tergolong anak kecil, setidaknya ia bisa memahami apa yang di ucapkan oleh Jerry.
"Aku melakukan semua ini demi kamu dan Fano, Sayang. Aku ingin keluarga kita hidup tenang tanpa ada siapapun yang mengusik kebahagiaan kita." Jerry mendekap tubuh Jessica. Ia bisa bernafas lega karena semua rencananya berjalan tanpa ada kendala.
"Terima kasih atas semua yang sudah kamu lakukan, aku semakin mencintaimu, Suamiku ...." Jessica mengusap rahang kokoh sang suami yang di tumbuhi jenggot tipis.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍♥️
_
__ADS_1
_
🌷🌷🌷🌷🌷