
Aroma obat-obatan dan berbagai macam alat medis telah menemani Jessica selama dua hari ini. Beberapa rangkaian pemeriksaan telah ia lalui kemarin, dari pagi hingga menjelang sore ia baru selesai menjalani beberapa pemeriksaan medis, mulai dari USG, Rontgen sampai tes darah pun dilakukan oleh pihak rumah sakit agar mengetahui penyakit yang ada di dalam tubuh Jessica.
Pagi telah tiba, langit gelap telah berganti dengan warna biru. Sang surya pun sudah mulai melakukan tugasnya untuk memberi kehangatan kepada semua yang ada di Bumi. Jerry menyibakkan tirai berwarna putih itu setelah melihat arloji yang melingkar di tangannya, sudah jam delapan pagi tapi Jessica masih terlelap dalam tidurnya.
Perlahan Jessica mengerjapkan kelopak matanya untuk menyesuaikan sinar matahari yang begitu terang, "Kamu tidak ke kantor, Jer?" tanya Jessica ketika melihat Jerry berdiri di samping bednya.
"Tidak, aku akan menemanimu disini seharian sebagai gantinya kemarin malam aku tidak menginap disini," Jerry mendaratkan tubuhnya di kursi tunggal di samping bed.
"Bagaimana pertemuanmu dengan Dara tadi malam?" tanya Jessica dengan tubuh yang berusaha untuk bangun dari bed rawat nya.
"Tidak ada yang spesial, biasa aja." ekspresi datar terlukis di wajah yang mulai muncul jenggot tipis itu.
Jessica menaikkan satu alisnya ketika melihat wajah tak biasa yang di tampilkan Jerry. Ia mencoba untuk menerka apa yang terjadi dengan Jerry dan Dara tadi malam.
Setelah lama menyelami telaga bening itu, Jessica tak menemukan apapun disana. Lalu ia segera turun dari bednya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
"Mau aku bantu?" tanya Jerry. Ia sengaja menggoda Jessica dengan tatapan mata yang nakal.
"Ogah! aku bisa sendiri." Jessica mencebikkan bibirnya.
Sepuluh menit kemudian, Jeje keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Ia tetap terlihat cantik meski tidak ada polesan make up di wajahnya.
Tanpa di minta, Jerry meraih sisir yang tergeletak di nakas. Ia membantu Jessica menguncir rambut hitam yang panjang itu agar terlihat rapi.
"Terima kasih, Jer," ucap Jessica seraya duduk di atas bed.
Jerry benar-benar merawat Jessica dengan perhatian penuh. Seperti saat ini, ia sedang membantu Jessica menikmati sarapan yang baru saja di antar oleh petugas rumah sakit.
"Jer, aku kok jadi takut ya," ucap Jessica setelah menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
"Takut kenapa?" Tanya Jerry seraya memberikan segelas air putih kepada Jessica.
"Aku takut terjadi sesuatu yang serius kepadaku, Jer." Jessica semakin terlihat gelisah ketika mendengar ketukan pintu dari luar.
Dokter spesialis yang menangani Jessica datang untuk melakukan pemeriksaan rutin setiap harinya, seorang Suster menemani dokter itu dengan map besar berwarna coklat di tangannya.
"Selamat pagi Ibu Jessica ...." sapa dokter Maitri dengan di iringi senyumnya yang kalem.
"Selamat pagi dok." Jessica pun menampilkan senyum khas yang ia miliki selama ini.
Pemeriksaan pagi ini dilakukan oleh suster yang ada ikut bersama dokter Maitri, mulai dari tensi darah Jessica hingga keluhan yang masih di rasakan Jessica.
"Mohon Maaf Pak, Bu ... saya akan membacakan hasil pemeriksaan yang dilakukan kemarin." dokter Maitri membuka amplop coklat itu dan mengambil map berwarna kuning yang tersimpan disana.
Jantung Jessica semakin berdegup kencang ketika dokter Maitri membacakan poin-poin hasil yang tertulis disana. Dokter Maitri menjelaskan semua keadaan yang menimpa Jessica saat ini. Setetes air mata tiba-tiba membasahi pipi Jessica ketika dokter Maitri membaca kesimpulan dari semua rangkaian pemeriksaan.
"Kista yang ada di ovarium kanan Ibu telah tumbuh besar, ukurannya sudah mencapai 12 cm Bu. Kista tersebut sangat berpotensi menjadi kanker jika tidak di angkat Bu, jadi saya sarankan kepada Ibu Jessica agar segera melakukan operasi pengangkatan kista beserta ovarium sebelah kanan." penjelasan panjang yang terucap dari bibir dokter Maitri.
"Kista sudah merusak sel-sel dari ovarium Ibu. Jadi, kista tersebut harus diangkat beserta ovariumnya sebelum infeksi menyebar ke bagian yang lain dan akibat dari pengangkatan satu ovarium, kemungkinan akan mempengaruhi kesuburan Ibu," ucap dokter Maitri, hal itu berhasil membuat Jessica berkali-kali meneteskan air matanya.
Jessica mengingat kondisinya beberapa tahun yang lalu saat ia masih menjadi istri sah Fery. Karena kista yang tumbuh di dalam ovarium kanannya, ia harus menunggu beberapa tahun untuk bisa hamil, ia harus menjalani program hamil di dokter spesialis kandungan agar bisa mendapat keturunan walau jalannya agak terjal. Saat itu kista yang ada dalam ovarium Jessica masih berukuran 5 cm. Oleh sebab itu, Fery menyebutnya mandul karena tak kunjung hamil.
"Dok, apa kami bisa minta waktu terlebih dahulu untuk memutuskan semua ini?" tanya Jerry ketika melihat Jessica hanya diam.
"Tentu saja pak, semua keputusan ada di tangan ibu Jessica, kami sangat menghormati apapun keputusan yang di ambil pasien. Kalau begitu kami permisi dulu Pak," ucap dokter Maitri dengan suaranya yang lembut.
Sepeninggalan dokter Maitri, keadaan di ruangan inap jessica terasa sunyi. Jessica masih termenung memikirkan dampak dari operasi yang baru saja di sampaikan oleh dokter Maitri. Ia belum bisa menerima jika setelah ini ia sulit memiliki keturunan lagi.
"Apa yang kamu pikirkan, Je?" tanya Jerry sambil menggenggam tangan kiri Jessica.
__ADS_1
"Haruskah aku melakukan operasi ini, Jer? aku tidak siap dengan dampaknya Jer," wajah frustasi tergambar jelas di wajah polos itu.
"Kalau saranku lebih baik kamu melakukan operasi, Je ... bukankah dokter Maitri mengatakan jika kamu masih bisa hamil meski tak mudah." Jerry mencoba membujuk Jessica, ia tak mau melihat Jessica yang harus menahan rasa sakitnya jika penyakit ini tidak di angkat.
Helaian nafas berat berhembus dari kedua lubang kecil yang ada di atas bibir. Banyak hal yang membuat Jessica takut untuk melakukan pengangkatan kista dari ovariumnya.
"Mama ...." Jessica mengalihkan pandangannya ketika melihat kehadiran Fano, membuat bibir polos tanpa make up itu tertarik kedalam untuk menampilkan sebuah senyum terindah.
Fano dan Lila berjalan menuju bed tempat Jessica terbaring. Jerry mengangkat tubuh Fano agar bisa duduk disamping Jessica.
"Fano hari ini tidak sekolah?" tanya Jessica yang dijawab Fano dengan gelengan, tak lupa ia menampilkan senyum manis agar Jessica tak marah kepadanya.
"Fano kangen sama Mama ... Mama harus cepat sembuh ya biar bisa bobok dirumah sama Fano," ucap Fano dengan polosnya. Tanpa banyak bicara lagi Fano memeluk tubuh Jessica, ia seakan takut kehilangan sang Mama.
Jessica menghujani Fano dengan kecupan penuh cinta. Tangannya tak henti membelai rambut tipis yang dimiliki Fano, ia kembali memikirkan semua penjelasan dokter Maitri.
"Aku harus sembuh! ya, aku harus melakukan operasi ini. Aku harus sembuh demi kebahagiaan Fano." Jessica bermonolog dalam hatinya.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈ
Jangan khawatir ini adalah masalah kecil, setelah 1/2 episode nanti, akan ada cerita yang kalian ingin kan selama iniπ
_
_
__ADS_1
π·π·π·π·