
Aluna musik rileksasi yang menangkan jiwa terdengar di ruang kerja Jeje, menemaninya untuk menganalisa laporan keuangan yang baru saja di berikan oleh pegawainya. Mata indahnya fokus menatap satu persatu angka yang tertulis di kertas berwarna putih.
Suara pesan masuk berhasil mengalihkan pandangan Jeje, ia menatap sebuah nomor baru yang masuk ke dalam pesannya. Sebuah senyum manis terbit dari bibir merahnya tatkala membaca isi pesan dari pria yang di temuinya seminggu yang lalu di pinggir jalan.
Pandangan Jeje kini beralih pada layar datar yang ada di genggamannya, ia terus berbalas pesan dengan pria bernama Ezar, mangsa barunya. Senyum penuh kemenangan terbit dari bibirnya ketika Ezar mengajaknya makan siang bersama di salah satu restoran di Jakarta.
"Ayo Je, siapkan dirimu!" Gumam Jeje pada dirinya sendiri. Ia segera mengemas dompet dan ponsel yang ada di meja ke dalam tas.
Jeje segera berlalu pergi dari butiknya, ia harus menjemput Fano terlebih dahulu sebelum menjalankan misinya kali ini.
Waktu terus berlalu begitu cepat, kini penunjuk waktu sudah berada di angka dua belas. Setelah mengantar Fano dan pengasuhnya sampai di rumah, Jeje segera berangkat menuju alamat yang di berikan oleh Ezar. Kini ia pun sudah berdiri di depan sebuah resto ternama di Jakarta.
Dengan segenap keanggunan yang di miliki nya, Jeje berjalan menuju tempat VVIP yang telah di pesan oleh Ezar, ia di antar oleh waiters Restoran sampai di depan pintu yang tertutup.
"Hay ..." Sapa Jeje ketika melihat Ezar sudah berada di dalam ruangan. Ia pun duduk di hadapan Ezar.
"Maaf aku telat." Ucap Jeje di iringi senyum manisnya setelah itu.
"Santai saja. Aku juga baru sampai." Jawab Ezar sembari menatap wajah wanita yang beberapa hari ini masuk kedalam mimpi nya.
Keduanya pun memesan makanan yang tersedia di buku menu. Saling melempar senyum, ya itu lah yang dilakukan dua orang dewasa ini setelah waiters keluar dari ruangan.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ezar sembari menatap Jeje.
"Seperti yang kamu lihat saat ini, aku baik-baik saja." Ucap Jeje dengan tatapan yang bisa membuat Ezar menjadi panas dingin.
Belum sempat Jeje berbicara, Dua orang waiters masuk ke dalam ruangan untuk mengantar makanan yang telah di pesan. Keduanya pun menikmati makan siang ini tanpa mengucapkan apapun. Mereka makan dengan tatapan yang saling beradu, mengisyaratkan sebuah pesan lewat sorot mata masing-masing.
__ADS_1
Makanan utama pun telah berpindah ke dalam perut masing-masing, menyisakan makanan penutup yang menemani obrolan mereka berdua.
"Apa aku boleh tau kenapa kita makan siang di tempat yang tertutup seperti ini?" Tanya Jeje sembari menyibakkan rambut panjangnya ke belakang.
"Tentu saja agar tidak ada yang tahu. Ini pertama kalinya aku makan siang berdua dengan wanita lain." Jawab Ezar yang kini menopang dagunya dengan tangan yang ada di atas meja.
Jeje menyunggingkan sudut bibirnya, ia paham jika Ezar bukanlah tipe petualang seperti para mangsa yang pernah bermain-main dengan nya. Jeje terus menatap pria beristri di hadapannya dengan sejuta pesona yang ia miliki.
Suasana di ruang VVIP ini di penuhi banyak bunga asmara yang mulai bermekaran. Ezar bagai sebuah pohon yang lama di biarkan, tanpa di siram air ataupun di beri pupuk.
"Bagaimana kabar rumah tanggamu? apa istrimu sudah minta maaf?" Tanya Jeje tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan yang ada di hadapannya.
Ezar menghela nafasnya, ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia tempati sembari mengingat bagaimana sikap istrinya setelah kejadian itu.
"Hubungan kami kurang baik. Kami tidur di kamar yang terpisah, dia masih kesal denganku." Gurat kekecewaan tergambar jelas di wajah Ezar.
Jeje pun mulai melancarkan aksinya, ia mulai mengeluarkan kata-kata indah yang bisa menjerat Ezar dalam perangkapnya. Disaat seperti ini, ia akan menjelma menjadi kucing manis yang membuat siapapun gemas setelah mendengar kata-kata yang terucap dari bibir merahnya. Suara lembutnya pun menggelitik indera pendengaran Ezar.
"Sebenarnya apa yang terjadi dalam rumah tanggamu? kenapa istrimu bisa bersikap memalukan seperti yang terjadi saat itu?" Karena penasaran akhirnya Jeje bertanya kepada Ezar.
Satu persatu masalah rumah tangga nya mulai di ceritakan oleh Ezar. Baru kali ini ia bisa bersikap terbuka kepada seseorang tentang masalah pribadinya, padahal ia baru satu minggu kenal dengan Jessica.
Jeje hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar Ezar menceritakan siapa dirinya. Jeje pun akhirnya mengetahui jika Ezar salah satu crazy rich di Jakarta, tapi semua itu tidak sebanding dengan Sultan Jerry yang mempunyai banyak kerajaan bisnis di berbagai bidang.
"Selama ini semuanya sudah ku berikan kepada dia. Cinta, berlian, uang dan semua yang aku punya telah ku curahkan kepada dia. Tapi semua itu membuatnya semakin bersikap seenaknya kepadaku." Ezar memijat pangkal hidungnya karena kesal dengan sikap istrinya akhir-akhir ini.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kalau dia bisa seenaknya sendiri, kenapa kamu tidak! Lepaskan bebanmu Zar. Lakukan apapun yang bisa membuatmu menjadi bahagia." Ucap Jeje sembari menatap manik hitam di hadapannya yang terlihat redup.
__ADS_1
"Terima kasih Je, sekali lagi kamu mau menjadi pendengar curahan ku." Ucap Ezar. Kini ia mulai berani menggenggam tangan Jeje.
Keduanya saling melempar senyum, tatapan mereka kembali beradu. Jeje bersorak sorai dalam hatinya setelah melihat Ezar perlahan masuk dalam giringannya.
"Ceritakan tentang dirimu Je, apa kamu mempunyai suami?" Tanya Ezar setelah beberapa menit terlarut dalam pandangan mata wanita yang mengulas senyum nya.
"Aku single parent. Aku mempunyai satu putra yang masih berumur lima tahun." Ucap Jeje. Ia pun menceritakan tentang dirinya, tapi tidak semuanya.
Ezar tersenyum simpul setelah mengetahui siapa sosok wanita yang ada di hadapannya. Ia pun tertarik untuk mengenal Jeje lebih jauh lagi. Kelembutan yang di berikan Jeje berhasil meluluhkan pertahanan hatinya, ia mulai goyah untuk tetap setia kepada satu wanita yang di cintai nya selama ini.
Perhatiaan sesaat yang di berikan Jeje berhasil memporak porandakan hati dan pikiran Ezar. Ia mulai suka dengan gaya bicara Jeje yang anggun dan keibuan. Mungkinkah ini sebuah awal dari keretakan rumah tangga Ezar bersama istrinya?
"Je, aku harus kembali ke kantor. Nanti malam aku kan menelfonmu." Ucap Ezar untuk mengakhiri pertemuan mereka.
"Okey, aku pun harus kembali ke butik. Banyak laporan yang harus aku teliti." Ucap Jeje sembari berdiri dari kursinya. Ia pun meraih tas hitamnya sebelum berlalu pergi.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍
_
_
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1