
Malam semakin larut, keheningan akhirnya datang. Hembusan angin malam perlahan menerpa seorang wanita yang sedang asyik duduk di tepi kolam renang, dengan kaki yang di ayun di dalam kolam hingga membuat riak kecil disana.
Tugas menjadi seorang ibu telah selesai malam ini, kini Jessica sedang asyik menikmati angin malam yang berhembus mesra setelah menemani Fano sampai ia tertidur pulas di kamar.
Jessica menengadahkan kepalanya untuk menatap bulan yang sedang bersembunyi di balik awan hitam. Pikirannya berkelana jauh entah kemana, kesunyian malam berhasil membuat pikirannya lebih jernih dari biasanya.
"Ezar ...." lirih Jessica ketika bayangan pria berperawakan tinggi itu berkeliaran dalam pikirannya.
Jessica menundukkan pandangannya, kini ia menatap riak air yang ia timbulkan. Jessica kembali mencerna apa saja yang pernah dilakukannya selama ini, sungguh semuanya telah lepas dari kendalinya, ia tak tahu perasaan apa yang tumbuh di hatinya untuk Ezar, entah itu cinta atau hanya sekedar obsesi.
"Kenapa hidupku kacau saat ini? haruskah aku mengikuti saran Jerry, untuk melepas semua duri ini dan kembali menjadi diriku sendiri ...." gumam Jessica dalam hatinya.
Sejak mengetahui Ezar bagian dari keluarga yang ia benci selama ini, hatinya menjadi ragu. Ia seakan kehilangan semangat dalam dirinya. Namun, hatinya terkadang tak rela jika ia harus menjauh dari Ezar. Mungkinkah ini yang dinamakan karma? Hubungan yang berawal untuk bermain-main kini harus menyeret perasaan untuk mengikuti sebuah permainan.
Jessica mengalihkan pandangannya tatkala merasakan sebuah tepukan di pundaknya, senyum tipis terbit dari bibir tanpa warna itu ketika melihat seseorang yang ada di belakangnya.
"Kenapa masih diluar? ini hampir tengah malam," ucap Jerry sembari menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aku belum bisa tidur, disini lebih nyaman daripada di kamar," jawab Jessica dengan kepala yang masih menengadah untuk menatap tubuh jenjang di belakangnya.
Jerry akhirnya duduk di samping Jessica, ia pun mengikuti apa yang di lakukan Jessica, mengayun kaki di dalam kolam renang. Jerry menatap Jessica yang sedang termenung, entah apa yang ia pikirkan saat ini.
__ADS_1
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Jerry tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik yang ada di sampingnya.
Kini pandangan Jessica tertuju kepada sosok yang ada di sampingnya. Ia menghela nafasnya dalam, seakan sedang menahan sebuah beban yang berat di dada.
"Kenapa tuhan memberiku jalan hidup seperti ini, Jer? kenapa aku harus di hadapkan kembali dengan Fery dan keluarga la-k-nat itu?" tanya Jessica dengan mata yang berembun.
"Je, semua ini bukan salah Tuhan ... kamu sendiri yang memilih jalan ini, kamu sendiri yang memutuskan untuk bermain dengan api yang beresiko membakar dirimu sendiri," ucap Jerry dengan kedua manik hitam yang menatap lekat Jessica.
"Jika memang ini jalan yang salah, kenapa Sang Kuasa membiarkan semua ini terjadi, Jer?" tanya Jessica lagi.
"Karena Tuhan bukan milik orang yang benar saja, Tuhan milik semua umat, Je ... semua keputusan ada di tanganmu, Je ... jika kamu ingin hidup yang tenang, segeralah kembali ke jalan yang benar," ucap Jerry dengan tenangnya, disaat seperti ini ia akan berubah menjadi sosok pria dewasa yang bijak.
Jeje tak dapat lagi membantah apa yang baru saja terucap dari bibir Jerry. Ia mencerna apa yang di ucapkan Jerry. Kini pandangannya kembali menatap riak kecil hasil ayunan kakinya.
"Jer, apakah melepas Ezar keputusan yang tepat saat ini?" setelah beberapa menit termenung akhirnya Jessica mengucapkan pertanyaan ini kepada sahabat terbaiknya,
"Tentu saja, menurutku itu adalah keputusan yang baik untukmu. Bukankah kamu sangat membenci Siva dan keluarganya?" tanya Jerry yang di jawab Jessica dengan anggukan.
"Coba bayangkan, Je ... jika kamu menikah dengan Ezar, kamu akan lebih dekat dengan keluarga itu, karena putri Ezar juga darah daging keluarga Bu Lidya. Mau tidak mau kamu harus menerima dia, kamu harus menyayangi dia sama seperti kamu menyayangi Fano," ucap Jerry panjang lebar.
Jeje masih terdiam, ia kembali berpikir agar tidak salah mengambil keputusan. Apa yang baru saja di ucapkan Jerry sangatlah benar, ia tidak bisa mengabaikan Alana begitu saja ketika menikah bersama Ezar nanti.
__ADS_1
Bayang-bayang wajah Bu Lidya kembali mengusik pikirannya, membuat mata indah itu di penuhi air mata yang siap menetes. Entah mengapa setiap mengingat keluarga itu berhasil membuat perasaan Jessica tak karuan, ia harus menitikkan air mata tatkala memori kejahatan keluar Bu Lidya kembali terputar dalam ingatannya.
Tangisnya kembali pecah, rasa sakit itu seakan tak pernah pudar dari hatinya. Jeje menyandarkan kepalanya di pundak kokoh milik Jerry, sebuah tempat ternyaman yang selama ini menjadi sandaran Jessica disaat seperti ini.
"Lepaskan semua bebanmu, Je ... kembalilah ke jalan yang benar, bukankah lebih membahagiakan hidup tanpa bayang-bayang masalalu. Aku suka melihatmu hidup tenang bersama Fano seperti dulu," ucap Jerry sembari mengusap rambut hitam yang di kuncir itu. Ia mencurahkan segala rasa yang ia milik untuk menenangkan jiwa rapuh Jessica.
Sementara itu, di balkon kamar yang menghadap halaman belakang rumah, ada seorang wanita paruh baya yang sedang mengembangkan senyumnya. Nyonya Monik tersenyum bahagia melihat pemandangan indah yang ada di tepi kolam renang.
"Tidak sia-sia aku bangun di tengah malam begini," lirih Nyonya Monik yang sedang berdiri di dekat agar pembatas balkon. Beliau terus mengamati dua insan yang saling mengeratkan diri.
_
_
Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka β₯οΈπ
Nih aku up satu bab lagi untuk kalianππ berikan dukungan untuk othor gemol biar makin semangat upπβ₯οΈπΉπβ
_
_
__ADS_1
π·π·π·π·π·