Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Permintaan berat.


__ADS_3

Rasa panik tengah melanda seorang ibu yang sedang berjalan cepat di lorong rumah sakit. Wajahnya melukiskan gurat-gurat kesedihan, rasa khawatir pun tengah menyelimuti dirinya. Bayangan wajah putranya terus berkeliaran dalam memorinya.


Setelah berjalan beberapa menit, Jeje akhirnya sampai di depan ruang rawat inap putranya. Ia segera masuk untuk memastikan keadaan putranya.


"Mama ...." Teriak Fano ketika melihat Jeje berdiri di depan pintu.


"Baby ...." Jeje segera memeluk putranya yang sudah duduk di atas hospital bed. Ia menangis karena rasa pada punggung tangannya, dimana ada selang infus yang terpasang disana.


Jeje duduk di samping Fano, ia memindahkan tubuh Fano ke atas pangkuannya. "Anak Mama gak boleh nangis ya, Fano kan anak kuat." Ucap Jeje sembari mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Ia pun berkali-kali mengecup kepala Fano dengan segenap perasaan yang membuncah di dadanya.


Lila pun ikut terharu melihat Jeje meneteskan air matanya, ia tahu Jeje sangat mencintai Fano karena ia lah yang membantu Jeje merawat Fano sejak usianya menginjak satu tahun.


"Fano, harus cepet sembuh ya, Nak. Nanti kalau Fano sembuh, Mama akan ngajak Fano jalan-jalan kemanapun Fano mau." Jeje mencoba memberi semangat kepada putra kecilnya.


Fano menengadahkan kepalanya, ia menatap wajah Jeje yang ada di atasnya. "Fano gak mau jalan-jalan Ma, Fano mau tidur sama Papa dan Mama." Ucap Fano dengan wajah polosnya. Ia terus memandang Jeje dengan sorot mata penuh harap.


Oh sungguh, Jeje rasanya ingin menjerit setelah mendengar permintaan Fano, sebuah permintaan yang sangat berat untuknya. Ia pun hanya tersenyum keluh untuk menanggapi permintaan Fano.


Jeje menyadari cepat atau lambat putranya pasti menginginkan semua hal yang terjadi pada umumnya dalam sebuah keluarga yang harmonis. Dan mungkin saja, Fano tengah merindukan Jerry, karena hampir satu bulan ini mereka belum bertemu. Jerry masih sibuk dengan kerajaan bisnisnya.


"Ma, Fano pengen seperti Harsa. Katanya, setiap malam dia tidur sama Papa dan Mama nya. Fano gak boleh ya Ma tidur sama Papa?" Ucap Fano dengan segala kepolosan yang ia miliki. Harsa adalah teman satu kelompok belajar dengan Fano di sekolah.


Jeje harus memutar otak untuk mencari jawaban yang tepat agar putranya tidak lagi merengek ingin tidur di rumah Jerry. Sebuah ide muncul di kepalanya untuk mengalihkan Fano dari permintaannya.


"Bagaimana kalau kita video call Papa?" Tanya Jeje kepada Fano. Hanya ini yang bisa Jeje lakukan untuk mengobati rasa rindu Fano kepada Jerry.


Jeje segera mengeluarkan ponselnya ketika Fano menyetujui ide darinya. Ia pun menekan nama Jerry yang ada dalam kontaknya. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya layar ponsel Jeje menampilkan wajah Pria yang di rindukan oleh putranya selama ini.


Senyum bahagia terbit dari bibir tipis Fano. Ia senang bisa memandang wajah Papa nya dan ngobrol langsung dengan Jerry.

__ADS_1


Jerry mengernyitkan keningnya ketika Fano menceritakan bahwa dia sedang tidur di rumah sakit. Jeje pun akhirnya memberitahu Jerry jika Fano di rawat di rumah sakit.


Gelak tawa Fano terdengar disana ketika ia melihat tingkah lucu Jerry yang ada di layar ponsel.


"Fano, Papa harus kerja dulu ya ... Nanti Papa akan mengunjungi Fano setelah Papa pulang. Fano tidur ya setelah ini." Ucap Jerry sebelum mengakhiri video call bersama Fano hari ini.


Jeje meletakkan ponselnya di atas nakas, ia membaringkan Fano di atas bed. Ia pun mulai mengusap kaki Fano agar ia cepat terlelap.


"Lila, pulanglah ... biar aku saja yang menjaga Fano sendiri disini." Ucap Jeje sembari menatap Baby sitter yang sejak tadi duduk di sofa.


"Nona Je ingin dibawakan apa? nanti malam biar saya kesini lagi untuk membawakan keperluan Den Fano. Karena tadi saya tidak sempat untuk membawa apa-apa." Ucap Lila yang sedang berdiri di samping Jeje.


"Bawakan baju ganti untukku dan Fano. Oh ya Lil, apa yang di katakan dokter tadi? apa ada sesuatu hal yang darurat?" Tanya Jeje.


"Tidak Non. Den Fano baik-baik saja, dia kejang karena tiba-tiba demam tinggi, kalau di desa saya, kondisi yang tadi dialami Den Fano itu namanya step." Ucap Lila tanpa menutupi apapun dari Jeje.


"Bukan Non." Jawab Lila singkat. Setelah tidak ada lagi yang di bahas, ia akhirnya pamit kepada Jeje untuk kembali ke rumah.


Sepeninggalan Lila, Jeje hanya sendiri di ruang yang sepi ini. Ia terus memandang wajah polos putranya yang sedang terlelap. Bulir bening pun turun dari pelupuk mata indahnya tatkala mengingat permintaan Fano. Ia sedih karena tidak bisa mengabulkan permintaan sederhana Fano. Rasa bersalah terus melanda jiwanya.


"Maafkan Mama, Nak. Mama belum bisa membawa kamu untuk tinggal bersama Papa." Ucap Jeje sembari mengecup punggung tangan Fano.


Rasa sakit kembali menyerang hatinya, luka lama yang sudah tertutup kini harus terbuka lagi. Rekaman masa lalu menyakitkan yang pernah ia terima dari kejahatan Papa dari anaknya kini mulai menari-nari dalam pikirannya.


Rasa sakit yang membuatnya menjadi rapuh dan terpuruk saat itu, kini harus kembali hadir. Jeje menundukkan kepalanya, ia memijat pangkal hidungnya karena tiba-tiba saja kepalanya menjadi berat.


***


Langit gelap telah menggulung warna birunya. Gemerlap bintang bertabur di atas sana untuk menemani sang rembulan yang tengah memancarkan sinar indahnya.

__ADS_1


Tepat pukul tujuh malam, Jerry telah sampai di depan kamar inap Fano. Ia segera masuk untuk melihat kondisi putranya itu.


"Fano ...." Ucap Jerry ketika berhasil masuk ke dalam kamar Fano. Ia melihat Fano sedang di suapi Jeje dengan makanan yang baru saja di belinya lewat online.


"Papa ...." Binar kebahagiaan terlukis jelas di wajah Fano ketika melihat siapa yang hadir di kamarnya.


Jerry pun duduk di depan Fano, ia menatap wajah Fano yang terlihat pucat. Ia tersenyum karena wajah kecil yang sangat antusias menyambut kehadirannya.


Jerry mengangkat tubuh Fano keatas pangkuannya, ia ngobrol bersama Fano dan Jessica. Lagi dan lagi, Fano mengutarakan keinginannya kepada Jerry, hal itu membuat Jeje menghela nafasnya karena tak tahu lagi harus bagaimana.


"Kalau Fano makan yang banyak, terus cepet sembuh, Fano boleh tinggal di rumah Papa." Ucap Jerry yang berhasil membuat Jeje tersentak.


"Papa tidak bohong?" Fano meyakinkan apa yang baru saja di dengar dari bibir Jerry.


"Tidak, papa serius. Fano harus sembuh dulu, oke!" Jerry mengajak Fano untuk tos bersamanya.


Jeje terharu, melihat binar kebahagiaan yang tersirat dari sorot mata putranya, hanya karena sebuah kalimat penenang yang di ucapkan oleh Jerry. Hari ini perasaannya menjadi melow karena Fano, sesaat ia melupakan hubungannya dengan Ezar yang baru di mulai beberapa jam yang lalu.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


_


_


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2