Jerat Cinta Jessica

Jerat Cinta Jessica
Kerinduan Jerry,


__ADS_3

Senja terukir indah di cakrawala barat, mengantarkan sang surya kembali ke singgasananya. Perlahan langit jingga berganti gelap seiring dengan suara adzan magrib yang menggema di segala penjuru.


Dua minggu telah berlalu begitu saja, semua keadaan masih sama seperti dahulu. Hubungan terlarang semakin mengobarkan api asmara yang membakar keduanya, tanpa memperdulikan perasaan seorang wanita yang sedang memperbaiki biduk rumah tangganya yang sedang berantakan saat ini.


Sementara itu di tempat lain, suara derap langkah seorang pria berperawakan tinggi dan gagah terdengar di ruang tamu milik Jessica, tanpa permisi, tanpa mengetuk pintu, pria itu dengan bebasnya memasuki rumah seorang janda muda, pria itu tak lain adalah Jerry.


Rasa rindu kepada pangeran kecil yang mengisi hari-harinya selama ini, kini tak dapat lagi di tahan. Setelah hampir tiga minggu tak bertemu, ia menyempatkan diri untuk menjemput putra kesayangannya, Alfano Wongso.


"Tuan Jerry ...." sapa Lila tatkala keluar dari dapur dengan membawa segelas susu untuk Fano.


"Kemana Fano dan Jessica?" tanya Jerry yang sedang berdiri di samping tangga.


"Nyonya Je dan Den Fano ada di kamar, saya baru saja membuatkan susu untuk Den Fano," ucap Lila sembari menunjukkan segelas susu vanila favorit Fano.


"Berikan padaku!" Jerry pun membawa segelas susu untuk Fano ke dalam kamarnya.


Jerry membuka kamar Fano, namun tak ada siapapun disana. Ia berjalan menuju kamar pribadi Jessica. Gelak tawa keduanya terdengar disana tatkala Jerry membuka pintu berwarna putih itu.


Sebuah pemandangan indah terpampang disana, membuat kedua sudut bibir Jerry tertarik kedalam, sebuah senyum tipis pun menghiasi wajah tampannya. Terlihat Jessica sedang menggelitik tubuh kecil Fano, hingga tubuh kecil itu menggeliat di atas ranjang king size itu.


Jerry masih termangu di tempatnya sampai suara Fano berhasil membuyarkan lamunan indahnya, "Papa ...." Fano segera berdiri dari ranjang sang Mama, berlari menuju tempat berdirinya pria yang di sebut sebagai Papa itu.


"Hey ... hey ... awas susunya tumpah, Baby." ucap Jerry tatkala tubuh kecil Fano menghambur ke tubuhnya.


Jeje tersenyum melihat kehadiran Jerry yang ada di ambang pintu, ia merapikan rambut panjangnya yang berantakan, menguncir asal-asalan tanpa mencari sisir terlebih dahulu.


Jerry membawa tubuh Fano ke atas sofa merah yang ada di kamar Jessica. Berkali-kali ia mengecup rambut tipis milik Fano dengan sejuta perasaan yang ia miliki.


"Tumben kamu datang, Jer?" tanya Jessica setelah mendaratkan tubuhnya di samping Fano.

__ADS_1


"Iya, pekerjaan di kantor tak seberapa banyak, jadi aku bisa pulang cepat." ucap Jerry sembari meletakkan gelas kosong di atas meja.


Ketiganya bersendau gurau di dalam kamar bernuansa putih itu, gelak tawa pun menggema di kamar yang luas itu. Raut wajah bahagia terlukis jelas di wajah kecil Fano.


"Fano, ikut Papa pulang yuk!" ucap Jerry sembari mengangkat tubuh Fano ke atas pangkuannya.


"Ayo Pa ... Fano mau ... mau ...." Fano sangat antusias setelah mendengar ucapan Jerry.


Wajah cantik Jessica menjadi tertekuk tatkala mendengar penuturan Jerry, ia mendengus kesal dengan tatapan membunuhnya ke arah Jerry.


"Sekarang Fano ganti baju ke Kak Lila yah, jangan lupa bawa seragam sekolah untuk besok," Jerry mengusap rambut Fano dengan penuh kasih sayang, membuat Fano berlari keluar dari kamar Jessica.


"Biarkan Fano ikut bersamaku, Je. Aku kangen dengan dia. Kamu gak usah ikut!" Ucap Jerry dengan ekspresi wajah yang menyebalkan di hadapan Jessica.


"Lalu bagaimana kamu mengurus keperluan sekolah Fano besok, Jer? kamu harus bekerja, sedangkan aku dan Lila tidak ikut bersama Fano kerumahmu." ucap Jessica


"Jangan khawatir, aku bisa menghandlenya ... aku adalah Papa terbaik di Negara ini," Kelakar Jerry dengan diiringi senyum yang membuat Jessica semakin kesal.


Keduanya pun berbincang sambil menunggu Fano yang bersiap di kamarnya. Jerry meminta Jeje untuk mengakhiri hubungannya bersama Ezar sebelum melangkah lebih jauh lagi, ia tidak mau terjadi sesuatu kepada Jeje yang akan berimbas kepada Fano.


"Bagaimana caranya berhenti, Jer? aku sudah melangkah jauh bersama Ezar." ucap Jeje dengan helaian nafas yang berat.


"Aku pun tak tahu, Je. Aku hanya menyarankan saja. Sebelum kamu ketahuan istri sahnya Ezar, dan mendapat masalah yang akan menyakiti hatimu." lirih Jerry dengan pandangan lurus ke depan.


"Stop Jer ... stop! aku jadi takut setelah mendengar ucapanmu, karena sebelum aku menerima tamparan dari istrinya Seno, kamu berkata seperti ini kan?? Aku harap malaikat tidak mencatat apa yang baru saja kamu katakan Jer," Jeje menatap lekat wajah pria keturunan Mexico ini.


Jerry tergelak setelah mendengar penuturan Jessica, ia tidak menyangka jika Jessica akan bereaksi seperti itu. Keduanya melanjutkan obrolan dengan topik yang lain, tidak ada pembahasan Ezar dan istrinya lagi sampai Fano datang ke kamar Jessica.


"Ayo Pa kita pulang sekarang!" ucap Fano dengan antusiasnya.

__ADS_1


Jerry pun beranjak dari tempatnya di ikuti oleh Jessica. Ia mengantar Fano dan Jerry sampai di teras rumah. Ada rasa tidak rela melihat Fano berlalu pergi bersama Jerry. Perlahan mobil itu pun menghilang dari pandangan Jessica.


"Apa yang harus aku lakukan di rumah yang sepi ini?" gumam Jeje dalam hatinya.


Keheningan terasa di teras rumah Jessica, ia menatap gemerlap bintang yang menghiasi langit malam bersama sinar bulan yang begitu indah di mata.


Jeje segera beranjak dari tempatnya tatkala sebuah ide muncul dari pikirannya, ia pun mengayun langkah menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang ada di laci meja rias.


Kedua jempol Jessica menari dengan indahnya di atas layar datar itu, ia mengirim pesan kepada seseorang yang ada di sebrang sana. Seulas senyum manisnya pun terlukis di wajah cantiknya tatkala ia membaca sebuah balasan pesan dari seseorang.


Sepuluh menit, waktu yang cukup untuk Jessica bersiap sebelum berangkat menemui seseorang itu, tak lupa ia menambah warna merah di bibir sensualnya, membuat penampilannya malam ini lebih menggoda dari biasanya.


Sebuah dress malam yang sexy dengan model lengan yang terbuka menambah keindahan tubuh Jessica, high heels senada pun terlihat cocok di kaki mulusnya.


"Jangan lupa kunci semua pintu, karena saya tidak pulang malam ini," ucap Jessica kepada Lila dan asisten rumah tangganya sebelum ia berjalan keluar dari rumah.


Jeje segera masuk ke dalam mobil pemberian Ezar, kini mobil mewah itu berjalan membelah kepadatan ibukota di malam hari. Alunan musik yang menenangkan, menemani perjalanan Jessica menuju rumah keduanya, Apartemen.


_


_


Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍


Jangan lupa Follow akun sosial media othor yakk😂


IG: @tie_tik || FB: Titik Pujiningdyah


_

__ADS_1


_


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2